
Tetesan embun bergulir di pagi hari. Menetes dari pucuk daun suji. Seindah apa warna pagimu hari ini?
“Gimana tidurmu nyenyak, Deandra?”
Bayu menarik gagang pintu utama kamar kos. Jemarinya lincah menarik pangkal korden berwarna kuning polos. Sang nona duduk di sofa coklat dekat pintu.
“Lumayan. Semalam kamu tidur di mana?”
“Oh saya mah cowok tidur gampang. Bisa di kursi teras bahkan halaman rumah.”
“Duh, maaf jadi gak enak.”
“Kalo mau enak ya mending kamu mandi gih!”
Bayu menyodorkan handuk putih ke tangan gadis belia itu. Beserta kaos dan celana pendek miliknya.
“Tau aja kalo aku butuh baju ganti. Makasih ya.”
Dendra melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Pria muda 20 tahun itu mengangguk. Melanjutkan acara ke dapur. Memutar bulatan kecil kompor dan meracik menu sarapan. Tiga butir telur ayam dilempar memutar ke atas, belakang lanjut ke bawah paha kanan seperti chef handal.
Sehabis mandi, Deandra menyeka rambut yang terurai sepinggang. Sesaat langkah terhenti.
“Wow. Pintar masak juga rupanya."
Dok
Dok
Dok
Bunyi talenan dan pisau beradu. Daun bawang dan bawang Bombay terkikis habis.
“Mau coba, Deandra?”
“Nggak ah. Ntar jariku kepotong.”
“Lah lumayan buat nambah daging cincang.”
Pria berjambang tipis itu melirik gadis di sebelah kanan.
Tuk
Cangkang telur mendarat di kening gadis berkaos abu.
“Aww. Sakit tauk.”
Deandra mengelus kening.
“Ups pinjam keningmu.”
“Gimana kaosnya pas?”
“Ehm, agak longgaran dikit.”
“Celananya?”
“Agak longgar juga. Ada ikat pinggang enggak?”
“Ada ini saya pakai.”
Telunjuk kiri Bayu menunjuk bagian depan perut. Jemari kanannya sibuk mengaduk telur dalam mangkuk agak ciyut.
“Kalo mau nanti saya ambilkan tali raffia mau?”
“Hah?! Enggak nggak.”
“Terus gimana ngatasinya?”
“Kamu yang pakai tali raffia ya. Ya pliiis.”
Kedua tangan Deandra menyatu di depan dada sambil mengedipkan mata.
“Duuh kok jadi aku yang repot.”
“Kali ini aja. Pliis.”
Deandra sibuk membuntuti setiap gerak pria muda itu. Waktu bergeser menunjukkan pukul 07.51. Bayu menyegerakan langkah. Teh manis tersaji di meja makan. Dadar telur dan nasi putih mengepul. Sedangkan Deandra?
“Bisa tolong pegang ini?”
Bayu menyerahkan smartphone silvernya. Kedua tangan sibuk menata deretan menu sarapan. Terlihat sepiring omlet daging, tumis kacang, dan Semangkuk besar nasi putih.
“Hati-hati ya pegangnya.”
__ADS_1
‘Emang ada apaan sih? Hape gitu doang.’
Gadis itu duduk di ruang makan mini yang menyatu dengan dapur. Menaruh amanah itu di tepi meja. Dia mengibaskan rambut basahnya.
PRAAK
Benda pipih persegi itu terjatuh dari atas meja.
“Aaargh. Duh, maaf ….”
“Tuh kan tadi kubilang hati-hati. Gak percaya sih.”
Bayu mengelap tangan sehabis mencuci piring kotor.
“Aku payah ya?” Deandra menunduk dan memegang erat tepi meja. Menggigit bibir pinknya.
“Siapa bilang? Itu hanya anggapanmu saja.”
“Dah isi perutmu dulu. Kau pasti lapar ‘kan?”
Bayu duduk berseberangan meja tepat di depan Deandra. Mengambil piring dan menikmati menu sarapan bersama.
Saat sendok pertama mau melandas ke mulutnya tetiba ...
“Bay, Bayu. Ayo buruan. Aku dah di luar nih ....”
Terdengar suara lelaki di pintu depan. Bayu berlari kecil meraih kunci yang ada di atas almari kamar. Segera dia memasukkan anak kunci dan membuka pintu bercat putih.
"Pagi amat, Ar?"
"Lha kan kita udah janji mau cari tempat wedding kemarin."
"Kamu nyimpen alamat lengkapnya kan?"
"Hari gini mudah kali nyari alamat, sob."
Pemuda berambut poni itu duduk di sudut teras. Duduk di sebuah bangku berplitur biru. Di sela-sela obrolan, Bayu mengendurkan ikat pinggang coklat yang ia kenakan.
"Bay, numpang ke toilet dong."
Arya memegang perutnya yang agak buncit. Wajahnya memerah menampakkan hasrat sembelit.
Bayu yang asyik mengendorkan ikat pinggang, tak lama menyusul kemudian.
"Jangan jangan."
Bayu menahan halus sahabat sekaligus partner kerjanya. Ingatannya kembali masuk setelah bepergian.
"Aku udah gak kuat ini."
Muka Arya kian menegang. Bayu tersentak dan berusaha menghadang. Tangan disilangkan seperti menahan kekasih yang mau pergi. Uh nu.
"Bayu, apa-apain sih."
Lengan Bayu menarik lengan Arya. Bayangkan saja adegan drama Korea. Wkwk.
Bess
Terdengar lembut bunyi soft tembakan peluru bombastis.
"Eeh,"
Bayu menahan napas dan mengeluarkan jurus kibas. Wajah sembelit kini menular ke wajah pria berkuncir itu.
"Maaf. Duuh udah gak nahan Bay."
Ceguk
Perhelatan kedua insan ini tetiba terhenti. Keempat mata terdiam seperti diperempatan lampu merah. Sementara di dalam rumah kos suara cegukan kian menjadi. Ritmenya teratur sekali. Seperti tokek yang memanggil pasangannya yang sedang pergi.
"Seperti ada orang?"
Wajah sembelit Bayu berubah warna.
"Siapa? Cewekmu ya? Pagi-pagi gini?"
Kedua alis Arya naik turun tangga.
"Apaan sih. Kamu banyak nanya kayak emak-emak. Gak ada siapa-siapa."
"Ah yang bener?" Goda Arya dengan senyum dramatisnya.
Dibuai rasa penasaran, si gadis pun mengeluarkan setengah badan. di antara ruang makan yang tersekat tirai kerang.
__ADS_1
"Sudah sana pulang."
"Bay, tapi aku pingin itu."
"Airnya mati."
"Sudah di ujung tanduk ini."
"Kalo kamu rela gak cebok ya silakan."
Arya membalikkan badan menuju rumahnya yang tak jauh dari kosan. Kira-kira 50 meteran.
"Aaargh, Bayu tolongin."
'repot sekali jadi wanita.'
Suara teriakan semakin kencang. Kaki berdecak menghentak di atas kursi ruang makan.
"Bayuuu, tolongiiin."
Tubuh gadis berkaos abu itu bergidik.
"Hiiii."
Kedua bahu gadis itu terangkat sedikit lebih berat. Mata sayu pun membulat lalu terpejam.
"Bayuuu."
"Iya. Iya."
Jejak kaki pemuda berkuncir rapi itu dipercepat. Tangan kiri membawa ikat pinggang coklat.
"Itu. Itu ...."
Telunjuk Deandra mengarah pada seekor cicak yang merayap di meja makan. Cicak abu itu membawa sebutir nasi yang jatuh dari piring.
"Ah, dasar manusia. Aku kan cuma ambil sedikit. Banyakan kalian tauk." Cicak menggerutu.
"Bayu, cicak." Rengek gadis yang rambut basahnya mulai mengering.
"Sama cicak aja takut, De."
Bayu menggelengkan kepala. Mengusir cicak abu itu dengan ikat pinggangnya.
"Kamu mau berdiri terus?"
Dia meggeleng. Mulut membusur. Perlahan mendaratkan kaki ke lantai. Saat hendak turun badannya sedikit terhuyung.
Aaaargh
"Awaas."
Lengan kekar Bayu sigap menangkap tubuh ramping. Entah mengapa laju nadi dan putaran waktu seakan terhenti. Balon-balon merah jambu bergerak berterbangan. Jeda lima menitan. Bayangkan saja.
"Kau ceroboh sekali ya. Lain kali hati-hati." Bayu melepaskan lengannya. Jiwa petualang telah kembali pulang.
"Aku kan gak sengaja. Gak tahu kalo bakal jatuh juga."
Deandra menyipitkan mata. Duduk di kursi dengan bersila.
"Aku gak minta dirimu menangkapku." Jelasnya sambil mengruwes ruwes kaos abu yang melekat di tubuh rampingnya.
"Iya aku yang minta maaf." Bayu melempar senyuman termahal yang ia punya.
"De, nanti saya ada janji sama temen. Kamu di rumah aja. Inget jangan keluyuran. Kamu paham kan maksudku?"
"Apa?"
"Nanti jangan kemana-mana nona manis. Di ru mah aja."
Muka Deandra yang semula kecut berubah kayak nastar glowing anti kerut.
"Kalo aku bosan?"
"Nonton TV atau masak apa gitu."
"Aku gak bisa masak."
"Terus kamu bisanya apa?"
"Nungguin kamu pulang sambil rebahan dan malas-malasan."
Bayu berlalu sambil mengulum senyum dan memakai topi putiih di kepalanya,
__ADS_1