Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
Bab 15 Tunik Dusty Pink


__ADS_3

by Puji Nirwana


Terlihat gadis berhijab pashmina soft pink keluar gerbang pondok Pesantren tahfidz. Dia keluar disusul Marsha untuk pergi ke pasar membeli kebutuhan harian. Mereka berencana membeli peralatan mandi dan baju ganti.


"Deandra kamu nanti mau beli apa?"


"Aku mau beli peralatan mandi dan baju."


"kamu mau beli apa, Marsha?"


"Aku mau beli celak sama cemilan."


"Kamu makanan mulu."


"Enggak juga. kan aku mau beli celak juga."


Mereka pergi ke toko baju untuk membeli baju kaos untuk ujung kaki Diandra mau memberi membeli kaos sedangkan Marsha mau membeli rok. mereka mampir di toko dekat parkiran parkiran mobil. sebuah toko yang lumayan besar untuk pasar induk. mereka memilah dan memilih baju yang mereka inginkan. diandra's ikut memilih kaos. Marsha siput memilih rok.


"Marsha, ini cocok gak?" tanya Deandra.


Sebuah baju kaos berwarna hijau tua dia tunjukkan kepada Marsha. Marsha menggelengkan kepala. Tangannya masih sibuk membolak-balik rok yang di gantung berjajar.


"Marsha kalau yang ini gimana?"


Diandra melekatkan kaos lengan panjang berwarna baby pink ke depan dadanya.


"bagus."


suara laki-laki terdengar ikut menjawab pertanyaan Diandra. Mereka pun menoleh bersamaan. suasana tiba-tiba agak canggung dengan kehadiran lelaki berjaket bomber dan celana jogger. Dia memakai kacamata hitam dan memakai topi abu.


"Eh?!"


"Ustad Raka? Beneran ini ustadz Raka?" Bisik Marsha ke telinga Deandra.


Deandra membalik tubuh dan melihat ke belakang.


"bagus."


"Iih aku gak minta pendapatmu."


"Beneran. Memang bagus kok."


Marsya akhirnya mendapatkan rok yang dia inginkan. Sebuah rok panjang berwarna krem.


"Ustaz sama siapa kok ada di sini?" tanya Marsha.


"sama umi mengantar belanja."


"kalian bawa barang yang kalian suka ke kasir nanti biar aku yang bayar sekalian."


Raka mengambil tunik dusty pink di dekat Deandra. lalu membawanya ke kasir.


"Tunik ini buat siapa ustadz?"


"Buat adik perempuanku."


"Oh."


Deandra hanya diam melihat mereka asyik mengobrol. Mereka berdiri di belakang Deandra terpisah oleh segerombolan baju-baju tunik.


"Modelnya cantik. warnanya juga cantik. yang pakai juga pasti cantik." Jawab Marsha sambil memilin ujung jilbabnya.


"Memang adikku satu ini cantik dan ...."


"Apa ustadz?"


"Manis."


Raka mengucap kata manis sambil melihat Deandra. Sesekali dia mencuri pandang gadis yang masih sibuk memilah baju di dekat etalase.


"Wah jadi pengen tahu adiknya ustadz. Pasti

__ADS_1


hidungnya mancung seperti ustad Raka. Ups maaf ustaz."


"Gak apa-apa. Tolong nanti kasih ini ke Diandra ya."


Raka menyerahkan tunik dusty pink ke tangan Marsya.


"Maksud ustadz." Tanya Marsha bingung.


"berapa semuanya mbak?"


"semua belanjaan yang sudah dibayar dek."


"siapa yang bayar?"


"mas-mas yang bertopi abu tadi." jawab kasir toko.


"Nggak ah. Aku gak mau ngutang. ayo dibayarin. Gua ogaaah."


Deandra meninggalkan semua belanjaannya di meja kasir. Dengan wajah kesal dia mengambil gelas air mineral dan menandaskannya ke tenggorokan.


"De, Deandraaa." teriak Marsya.


"Kok malah ditinggal. Deandra. Duh gimana ini?"


Marsha bingung antara barang belanjaan dan sahabatnya. Tak tega dengan itu dia pun mengambil semua barang belanjaan yang sudah terbayar. 'kan sayang?


***


di kamar pesantren


Deandra masih menyisakan kekesalan akan tetapi dia sudah sedikit melupakan kejadian tadi pagi dengan cara menulis. dengan menulis di buku merah favoritnya. Dia menulis tokoh pria yang menjengkelkan. Dia memberi nama Ralex. Alias Raka jelex.


hihi


Deandra tersenyum puas saya gambar pria berambut botak bertuliskan Ralex. kumisnya panjang sampai kaki. hidung dan telinga panjang seperti kakek sihir. Ralex ini sosok pria tua. di tangan kanannya membawa tongkat ular berkepala ayam.


"De, ini barang-barangmu."


"Yang kita beli tadi pagi."


Hari Jumat adalah hari libur bagi mereka. Mereka, para santri mengambil waktu ini untuk membeli keperluan yang mereka butuhkan selama sepekan.


"Aku kan gak jadi beli." Jawab Deandra ketus.


"Sayang De, kan udah dibayarin."


"kalo sayang pake kamu aja. Aku sih ogah."


"Beneran?"


Marsha membuka lipatan baju tunik dusty pink berenda putih di tepi lengan. Ada hiasan pita nude matang di belahan pinggang. Aih, bikin mata Deandra terpikat sementara.


"Ini warna dan modelnya cantik banget ya De,"


Marsha membentangkan baju tunik itu ke depan sahabatnya. Dia tahu benar warna favorit Deandra.


"Tuh kan? serasi ama pasminamu."


"Ini yang milih dokter Raka lho."


"Iiih dokter. dokter. Dia bukan dokter. Dia itu lebih jahat dari mafia."


"Duh, Deandra sampe segitunya benci sama ustadz Raka. Apa dia pernah salah padamu?"


Pensil di tangan Deandra berhenti seketika. Pensilnya tergeletak di meja. Jemari lentiknya mengambil segelas susu coklat.


"Ini kaos yang kamu pilih tadi pagi. Dan ini tunik dusty pink."


Marsha meletakkan dua potong baju itu dipangkuan Deandra. Deandra bergidik.


"Marsha, ambil gak?"

__ADS_1


"Itu kan buatmu."


"Sekali gak. ya gak."


"Duh, sewot bener. Iya iya. kuambil ya. kupakai nih, beneran gak mau?"


***


Bayu mencukur rambutnya yang semula panjang sebahu. Dulu dia sering mengikat rambut saat bersama Deandra. Kini dia ingin menampilkan sesuatu yang beda.


"Sayang, ini beneran kamu? Ada angin apa yang mengajakmu cukur rambut?"


"Ingin suasana baru aja ma."


"Suasana baru atau ..." Goda mamanya.


Bayu seperti tahu ucapan mamanya. lalu dia pun seolah menghindar dan mencari jalan aman.


"Sudah telat ini ma. Bayu ke kantor dulu. Takut kena macet."


"Sarapan dulu sayang."


Uhuk


uhuk


Suara batuk papanya Bayu memecah udara pagi. Beliau harus istirahat total usai operasi ginjal.


Bayu mengegas mobil hitam Fortunernya. Di perjalanan dia berencana mampir ke toko bunga. Dia berniat untuk memberikannya kepada seseorang. Bayu memutar lagu milik Lyodra Ginting.


...Berjam-jam aku terdiam...


...Menatap buku catatan...


...Aku sedang berencana...


...Menulis puisi tersendu tentang kamu...


...Semakin ku berusaha...


...Semakin aku tak bisa...


...Pura-pura sedang gundah...


...Bukanlah hal yang mudah...


...Ternyata aku tak bisa...


...Sembunyikan bahagia...


...Dan bila ada orang bertanya-tanya...


...Siapakah dia yang membuatku bahagia?...


...Kamulah orangnya...


Benar, Bayu mampir ke toko bunga. Dia memilih bunga anggrek putih. Anggrek putih beserta potnya. Tak tahu apa yang ada dalam pikiran Bayu. Mengapa dia beli bunga dengan potnya? Mengapa dia tak membeli bunga cantik seperti mawar atau lili mungkin.


Sesampai di kantor perusahaan milik papanya, Bayu menaruh pot bunga itu di meja kerja. beralaskan piring plastik putih. Apa maksudnya coba?


Di saat yang sama, datang seorang wanita


anggun memakai atasan kemeja putih dan rok hitam.


"Maaf bisa bertemu dengan Pak Herman?"


"Maaf anda siapa? Papa sedang sakit."


"Saya diminta Pak Herman untuk menjadi sekretaris baru Pak Bayu."


to be continued

__ADS_1


Dear readers, jangan lupa dukung aku ya dengan like, coment, rate. favorit juga ya gaes. makasih.


__ADS_2