Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
Bab 20 Birthday Gifts 2


__ADS_3

Hai dear readers, makasih ya udah ikutin cerita aku. Jangan lupa dukung author dan tinggalkan jejak kalian ya! Dengan meninggalkan like, coment, vote n rate 5. Terimakasih. Selamat membaca. 💖💖💖💋


Apa yang terlihat belum tentu benar. Pun yang kita dengar. Sejauh mana tombol scanner dalam dirimu lebih cerdas mendeteksi kebenaran?


Orang suruhan Amanda memberikan informasi di mana Deandra sekarang. Segera dia meluncurkan pesan ke seseorang dan ...


"Aha." Mata gadis seksi itu berbinar.


Sampai di pondok pesantren, Deandra bersama kawannya jalan menuju kamar. Marsha membantu membawaka tas ransel merah. Rosi membantu menggandeng lengan Deandra. Sedangkan ada sepasang mata yang mengintai di belakang mereka dari pohon rambutan.


"Gimana kabar kamu Deandra? Selama di klinik maaf ya, aku gak bisa nengokin kamu," ucap Marsha.


"Nggak pa--pa kok Marsha, aku baik-baik saja. Lagian emangnya kamu bisa membantuku apa?"


"aku kan bisa bantu kamu memijit kaki atau hidung kamu seperti ini."


Marsha mengapit hidung Deandra dengan kedua jarinya. Deandra pura-pura kesakitan. seperti orang kena ayan.


"Deandra kamu kenapa?" tanya Marsha agak cemas.


"kayak gak tahu Deandra aja sih Marsha, dia kan cuma pura-pura."


"Hihi. Tahu aja kamu, Rossi."


"Deandra kamu tuh ya bikin Aku jantungan tahuk." ucap Marsha sambil mengelus dada.


"Lagian serius amat sih hidup kamu. sekali-kali bercanda biar makin glowing, Marsha." jawab Deandra asal.


"Iya, serius amat bawaannya." timpal Rossi.


"Oh ya, aku nggak lihat ujung rambut Cila." tanya Deandra.


"Belakangan ini dia lebih sering menyendiri daripada ikut dengan kami."


Langkah kaki semakin mendekati kamar tempat tidur mereka. Delapan langkah menuju kamar, seseorang berbaju abu keluar dengan wajah celingukan.


"Deandra, kakak kamu keren ya," ucap Rossi.


"Iya cakep bingit," timpal Marsha.


"Sejak kapan kamu berani ngomong cowok." tanya Rosi ke Marsha.


"Sssst. sudah-sudah kalian ini bicara apa sih? kalian kangen hukuman?" Deandra mengingat kan.


"Iiih ogah."


"Males."


"Kalian mau lihat kado aku lagi gak?"


"Mau dong mau dong."


Jawab mereka kompak.


"Ya udah sana shalat dulu."


Usai melaksanakan salat dhuhur, tak lupa mereka berzikir dan berdoa. Seperti halnya Deandra, dia menyelipkan doa spesial dipenghujung doa-doa yang lain. Tak lupa dia bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang yang hangat dan sangat baik kepadanya. Hingga tiba-tiba linangan air mata bahagia membasahi pipi. Mereka salat berjamaah dengan Marsha sebagai imam, karena hari ini adalah hari Jumat. Biasanya mereka jamaah di masjid Pondok Pesantren.


"Deandra, sini!"

__ADS_1


"Apaan sih?" Deandra masih menikmati minuman sodanya.


"Ini lihat kadomu besar sekali. Bikin iri tahuk."


"Waduh, ayo buruan buka. Aku pengen lihat. kira-kira isinya apa ya?" Tanya Rosi penasaran.


"Tahan dulu, ada karcisnya. Bayar karcis dulu," goda Deandra.


"Deandra apaan sih nakal." celetuk Rossi.


Deandra mengambil kotak kado berwarna merah marun. sebuah kotak persegi panjang terikat pita kaca berwarna gold. Lalu dia menyingkir mengambil minuman soda yang ada di meja. Soda itu diberikan Bayu. Karena Bayu tahu betul minuman kesukaanya.


"Apaan ini, Deandra?" Dahi Marsha mengerut.


"apa?" tanya Deandra balik.


Rossi dan Marsha terbelalak menyaksikan sebuah baju tipis merah dengan renda hitam semacam baju tidur seksi atau lingeri.


"Gak salah nih?" tanya Marsha sambil mengangkat baju seksi itu.


Deandra mengatupkan jemari kanan ke mulut kecilnya. kedua matanya membulat. Oh my God.


"Bayuuuu."


Teriak Deandra geregetan. Ekspresi mukanya menyempit. mulut Deandra menciut kecil sekali.


"Kakakmu kasih hadiah kayak gini?"


"Astagfirullah."


"Deandra kamu ...."


Rossi dan Marsha saling berpandangan. seolah tahu sesuatu. Tatapan mereka bagai tatapan mata elang yang siap menerkam.


"Maaf Pak Bayu, kotak kado yang kami kirimkan telah tertukar."


"Kok bisa sih?"


"Maaf pak ini kecerobohan pegawai kami."


"karena nama pemesan sama-sama bernama Bayu. juga kertas pembungkus nya sama. sama-sama baju juga. tapi...."


"tapi apa?"


"baju yang tertukar itu adalah sebuah lingerie."


Chiiit.


Bayu spontan menginjakkan rem. Bagaimana mereka begitu ceroboh.


"Astagfirullah, "


Bayu seakan menelan ribuan kerikil di kerongkongan.


"Maaf Pak, sekali lagi kami mohon maaf. Kami juga akan ganti rugi."


"Pokoknya saya nggak mau tahu kalian sendiri yang harus menjelaskan kepada sahabat saya nanti."


"Iya maaf pak. Ini kelalaian pegawai kami. saya sudah memecatnya."

__ADS_1


"Bagus."


Bayu memutar balik laju mobil. Genderang perasaan berkecamuk. Ditabuh rasa lelah, cemas dan amarah.


Mudah-mudahan Deandra belum membuka kadonya. gimana kalau dia sudah membuka kado itu? dia pasti salah sangka. kok bisa ketukar sih?


Bayu menambah laju gas mobilnya lebih kencang. Di depannya melaju sebuah truk gandengan dan begitu besar . Siapa pun tak sabar ingin mendahului truk besar itu.


***


"Hei, ini tidak seperti yang kalian pikirkan?" Deandra mencoba menjelaskan.


"Emang kamu tahu apa yang di pikiran kami?"


"Dari bentuk wajah kalian aku pun bisa menebak."


"Aku sedang malas berdebat. Dan main tebakan. Apa yang kalian pikirkan tentang aku dan Bayu?"


"Bukannya kalian kakak adik?" selidik Marsha.


"Iya nih." timpal Rosi.


"Jujur deh kamu suka ya sama kakak mu sendiri? yang benar saja Deandra itu tidak boleh. Apa mungkin kakakmu yang menaruh hati sama kamu?"


Marsha mencoba menasehati sahabatnya itu. Menurut sudut pandangnya. Dan iya Marsha benar. Dari kacamata hitamnya.


"Kalian ngomong apa sih? kami nggak ada apa-apa. Aku akan jujur tapi kalian jangan ngomong siapa-siapa ya?"


Sepasang mata melihat pembicaraan mereka dari balik jendela bertirai biru muda.


"Sudah sudah. Sekarang bawa sini itu bajunya."


"Mau kamu pakai Deandra?" Ledek Rosi.


Deandra enggan dan malas menanggapi celetuk Rossi. dalam pikirannya hanya nggak habis pikir dia akan mendapat kado seperti itu dari Bayu.


Apa-apaan sih kamu, Bayu? Aku gak habis pikir kamu tega ya, permalukan aku di hadapan teman-temanku. Sepertinya kamu sudah berubah. Protes batin Deandra.


Selama ini Deandra tidak pernah tersinggung oleh apapun. Dia adalah gadis yang selalu ceria. Apapun beban perasaannya selalu dia tangguhkan. Dia jarang memikirkan ataupun memasukkannya ke dalam hati. Akan tetapi sepertinya berbeda dengan hari ini. Seseorang yang sangat dekat dengannya telah melukai perasaan dan harga dirinya.


***


TETT


bunyi klakson mobil Bayu mencoba menyingkirkan sebuah truk besar di depannya. namun truk itu seakan tuli tak mau mendengarkan langsung mobil yang ada di belakangnya. itupun dengan santainya melaju lebih lambat. Apa dia sengaja?


Akhirnya Bayu berhasil melaju meninggalkan truk menyebalkan itu. sepertinya truk itu sengaja menghalangi jalan karena sopirnya tidak mau didahului.


***


isak tangis Diandra tak terbendung. bahan dengan respon beberapa temannya dia pun berlari meninggalkan mereka dan membuang baju itu itu ke tong sampah. Setelah dia membungkus rapat dengan plastik merah.


Setelah Deandra meninggalkan tong sampah itu. Sepasang mata tadi mengambil bungkusan plastik merah. Dia pun berjalan dan menyerahkannya kepada ketua asrama putri, Bening.


Setelah salat ashar semua santri putri pergi mengaji. Tak terkecuali Diandra. Meski dia sedih dengan apa yang terjadi hari ini, dia lebih memilih melupakannya dan kembali dengan rutinitas. Belum selesai gadis itu melipat mukena, seseorang menarik lengannya sedikit lebih keras. Mulut Deandra meringis tipis.


"Aww."


"Deandra, ikut saya sekarang."

__ADS_1


Bersambung


\=\=\=\=\=


__ADS_2