Terpaksa Cinta Om-om

Terpaksa Cinta Om-om
BAB 14 Kak Fitri


__ADS_3

by Puji Nirwana


Deandra murojaah hafalan Alquran. terbata-bata awalnya berusaha menghafal surat-surat pendek. juz 30 adalah Quran surat pertama yang dia hafalkan. Duduk di kursi panjang di bawah pohon rambutan adalah tempat favoritnya.


"Deandra,"


"Kak Fit. Kangen nih, Kak Fit ke mana aja?"


Deandra menghentikan bacaan surat Al Fajr. Dia menutup kitab suci Alquran warna merah muda dan refleks memeluk gadis bergamis hijau tosca di depannya.


"Ini aku bawakan jenang Kudus dan keripik talas."


Fitri pulang menemui keluarganya di Kudus. Keluarga Fitri memiliki 5 perusahaan besar. Perusahaan Kretek yang hari ini tengah meroket.


"Duh, makasi ya Kak. Kamu baik deh."


"Sama-sama."


Fitri merogoh sebuah amplop coklat dari dalam perut tas hijau tosca.


"Ini untuk uang jajan."


"Hiks, huwaaaa."


"De, kamu kenapa? Kamu tak suka ya?"


Deandra menggeleng. Ekspresi muka lebih tebal dari biasa. Iya, dia terharu dengan sikap orang yang baru dikenalnya itu. Fitri yang baik sopan dan tidak sombong. Satu lagi suka menolong. Andai aku pria pasti aku sudah jatuh hati padanya.


"Kak Fit," ucap Deandra.


"Heem."


"Makasih ya kak."


"Iya. Santai aja."


"Budi baikmu takkan kulupakan." Imbuh Deandra lagi.


Deandra memegang tangan Fitri. Merapatkan ke depan dadanya. Fitri mengimbangi dan menepuk punggung tangan Deandra.


"Budi baik apa? Aku gak lakuin apa-apa."


"Kamu harus belajar giat dan menjadi santriwati yang cerdas solehah, ya sayang."


Fitri menyentuh belahan dagu gadis di depannya. Deandra bahagia sambil meneteskan air mata. Lalu mereka pun berpelukan di bawah pohon rambutan.


"Pakai terus jilbabnya ya jangan kau lepas. apa pun kondisimu."


Deandra menggangguk perlahan. Dia mengambil bungkusan hitam yang dibawa oleh Fitri.


"Heem lezat kak rasanya. manis. Seperti dodol ya?"


"Iya ini jajanan khas kota kami. Jenang Kudus."


Fitri pun mengupas bungkusan plastik jenang itu. Menikmatinya di bawah pohon rambutan yang sudah mulai memerah gerombolan buahnya.


"Rambutan ini boleh diambil enggak sih, kak?"


"Napa, kamu pengen?"


Deandra menjilati sisa-sisa jenang ditangannya. Fitri juga mulai mengupas sebungkus jenang Kudus.


"Jangan De, Enggak baik. Ntar kita beli aja di ujung jalan sana. Ada banyak."


Tiap bulan Deandra mendapatkan uang saku dari Fitri dan Bayu. Fitri adalah anak bos perusahaan Kretek terbesar skala nasional. Dia juga pewaris tunggal. Tapi kita lebih sorot Deandra saja ya sekarang. Gimana kabar si Bayu?


"Bayu Apa kabar ya Kak celana ketangga udah lama kita nggak pernah jumpa. Ponsel kami juga disita."

__ADS_1


"Iya De, kamu sabar ya. Bayu kabarnya baik kok. Sekarang dia lagi fokus ngurusin perusahaan papanya makanya dia sibuk sekarang. Dia juga pindah rumah sekarang. sekarang dia tinggal di Bogor sama mama papanya."


Fitri menggigit ujung jenang. gigitan kedua dia kunyah dalam dalam. sambil melirik Kiandra dia meluncurkan kata-kata.


"Terakhir dia bilang rumahnya kebakaran." Jawab Deandra sambil makan keripik talas berwarna kuning keemasan.


"Gimana belajarmu senang?" tanya Fitri.


Deandra melihat pesona langit biru sambil mengunyah keripik talas. Matahari bersinar begitu terik. Jam tangan sporty biru Deandra, menunjukkan angka 11.11. Akan tetapi angin sepoi-sepoi di bawah pohon rambutan menghadang panas terik sinar mentari. bahkan terasa hangat sekali.


"ya begitulah."


gadis itu menghela nafas panjang. membuka kancing baju lengannya.


"tadinya sih sudah mulai mau betah tapi...."


"tapi apa?"


Fitri merubah posisi duduknya. wajah ayunya dia dekatkan.


"selera dan semangat belajarku hilang."


"Kok bisa kenapa? Apa kamu ada masalah sama temanmu?" Selidik Fitri.


Gadis berpipi cabi itu menggeleng.


"Apa kamu sering kena hukuman?"


Dia pun menggeleng untuk kedua kalinya.


"Apa kamu rindu sama Bayu?"


pertanyaan yang terakhir membuat Fitri tertawa terpingkal.


"Apaan sih Kak Fit. bukan?"


"Kak Fitri tahu ustaz Raka?"


"Iya aku tahu. dia putra Abah. Pemilik pesantren ini. selain mengajar di sini di hari tertentu, dia juga seorang dokter."


"Tapi dia jahat."


"Husss. Hati-hati kalo ngomong."


Fitri mendekatkan ujung telunjuk ke bibir. sambil berbisik untuk menghentikan ucapan Deandra.


"Apa yang pernah dia perbuat padamu?"


"Dulu sekali, kami pernah bertemu secara- tidak sengaja saat aku kabur dari rumah."


"Lalu?"


"Saat itu. Malam-malam aku kabur dari rumah. Aku berhasil kabur dari kejaran dua pengawal dariku ibu tiriku."


"Bentar dulu, kenapa kamu kabur?"


"Aku dipaksa nikah sama om-om."


Mata Fitri membulat. Telinganya mendadak gatal dengan apa yang dia dengar barusan. aliran darah akan berhenti sesaat ikut mendengarkan. Dia pun memutar botol minuman dingin dari kantong plastik yang dia bawa untuk mengguyur badannya yang panas tiba-tiba.


"Malang sekali kamu sayang."


Fitri memeluk tubuh Deandra dan mengelus punggungnya.


"Sabar ya sayang. Pasti ada hikmah dibalik semua ini." ucap Fitri.


"terus bagaimana cerita tentang ustad Raka? kenapa kamu sampai benci kepadanya?"

__ADS_1


tiba-tiba ada suara seorang santriwati memanggil nama Fitri.


"Kak Fitri, kamu dicari Kak Bening."


"Ah iya. nanti kita sambung lagi ya. Aku mau nemui Kak Bening dulu."


***


Di rumah Bayu.


Pria berbadan tinggi atletis itu sedang memainkan harbel. Nampak sekali otot-ototnya berdesakan bahkan bersahutan. Apa kalian mendengarnya?


"Deandra ...."


Dia tersenyum simpul mengucap nama itu.


Kamu sedang apa sekarang?


Senyum Bayu lebih cool kali ini. Ditambah kaos singlet hitam dan celana hitam longgar melekat di tubuhnya. Dia makin macho aja. Usai bermain harbel. Dia lanjutkan treadmill selama 15 menit. Keringat antri bercucuran. Segera dia seka dengan handuk kecil yang melingkar di leher.


langkah Bayu menuju kamar besar berwarna biru miliknya. ia menjatuhkan pantatnya di sofa putih panjang di bawah jendela. Jemarinya menggeser beberapa foto kenangan yang ada di galeri gawai berlogo apel.


Slap!


Bayu teringat saat dia meminta Deandra untuk tetap di kos-an saja.


"Nanti jangan kemana-mana nona manis. Di rumah aja."


Muka Deandra yang semula kecut berubah kayak nastar glowing anti kerut.


"Kalo aku bosan?"


"Nonton TV atau masak apa gitu."


"Aku gak bisa masak."


"Terus kamu bisanya apa?"


"Nungguin kamu pulang sambil rebahan dan malas-malasan."


Bayu berlalu sambil mengulum senyum dan memakai topi putiih di kepalanya.


Slap!


"Cicaaaak. Bayu tolongin."


Terlihat jelas muka Deandra yang bergidik saat melihat cicak. Drama kenangan di atas meja pun terlukis seperti film layar lebar. Gadis manis itu terpeleset tapi beruntung Bayu sigap menangkapnya.


Bluuurpp!


"Bayu!"


Suara Bu Ratna membuyarkan memori Bayu.


"Sarapan dulu sayang. Apa nama penyakit di bawah ya."


"Iyaa Ma, bentar nanti Bayu turun."


"Mumpung hari libur, sekalian nanti antar Mama ke mall ya! Mau belanja bulanan." Pinta Bu Ratna.


Bu Ratna menutup pintu kamar bayu. dan melangkah menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Deandra tunggu kejutan dariku


to be continued


Dear readers, jangan lupa dukung aku ya dengan like, coment, rate. favorit juga ya gaes. makasih.

__ADS_1


__ADS_2