
Hening, Senja makan dengan sendiri. Tak ada satu katapun yang keluar, tak ada candaan dan juga tawaan yang biasanya hadir di ruang makan ini. Senja kembali menangis, rasanya semua ini hanya mimpi buruk yang ingin segera Senja akhiri. "Mom, aku makan sendiri. Tak ada yang menemani aku seperti dulu, apakah Mommy tidak ingin menemani ku?." Ucap Senja lirih, tersirat rasa sakit dan kepedihan di sana.
Senja yang terlalu lelah menangis, ia tertidur di meja makan dengan kedua tangan sebagai sandarannya. Hanya ada dirinya di sini, miris sekali melihat hidupnya sekarang. Penuh dengan rasa Sakit, Pederitaan, dan juga Kekecewaan yang begitu besar.
'Apa aku berhak mendapatkannya?.' Batin Senja sebelum benar-benar masuk ke dalam alam mimpinya yang berharap bermimpi begitu indah setelah menjalani kenyataan hidup yang pahit.
Kini berbeda dengan Dapa, ia termenung di balkon yang memperlihatkan suasana malam yang indah dan penuh kecerahan. Berbanding bali dengan keadaannya saat ini yang kacau dan di penuhi dengan kegelapan karena hilang sosok Wanita yang begitu berarti di hidupnya.
GLEK! GLEK!
Dapa meminum Alkohol yang mampu membuat suasana hatinya yang kacau menjadi tenang, ia benar-benar sangat butuh ketenangan saat ini.
"Mengapa kamu menitipkan pesan itu kepada gadis yang sudah mencelakai kamu? Apakah kamu benar-benar yakin?." Gumam Dapa lirih, ia menghabiskan sebotol minuman itu malam ini.
Dapa yang sudah tenang, berniat turun ke bawah memastikan bahwa gadis 'itu' sudah benar-benar masuk ke dalam kamar. Karena hari sudah hampir larut malam, dirinya benar-benar tidak menyadari itu karena asik dengan aktivitasnya.
Pertama kali yang ia lihat adalah tubuh seorang gadis yang kini tertidur di meja makan dengan tenang seperti tak terusik dengan suara-suara apapun. "Dia tertidur di sini?." Gumam Dapa, dengan hati-hati dirinya menghampiri nya untuk memastikan kebenarannya.
__ADS_1
Wajah cantiknya begitu sangat terlihat lelah, tak ada yang tahu bahwa di baliknya tersimpan rasa sakit yang begitu membatin di hatinya. Dapa hanya diam sembari menatap wajah Senja dengan dengan jarak dekat.
HAP!
Dapa dengan sekali gerakan mengangkat Senja untuk di bawanya ke dalam kamarnya, meskipun rasa dendam itu ada, tapi setidaknya ia masih memiliki rasa kasihani kepada seorang pembunuh istrinya, bukan?.
Dengan hati-hati Dapa menggendong Senja untuk di baringkan di dalam kamarnya. Ia masih tidak sudi untuk tidur bersama meski status sekarang adalah Suami Istri.
CUP!
Entah keberanian dari mana Dapa mengecup singkat kening Senja yang kini sang empu sudah terlelap tidur. "Kenapa kau tidak mati saja? Aku benar-benar benci melihat kau. Aku awalnya tidak mau menerima kenyataan bahwa kau lah dalang dari semua ini, tapi perkataanmu mampu membuat dendam dan juga rasa perih menyeruak di dalam hati ku. Aku tidak tega melakukan ini, tapi dendam dan benci ku terlalu dalam." Ucap Dapa lirih, ia dengan hati-hati menyelimuti tubuh Senja kecil. Setelah itu dengan gontai meninggalkan kamar Senja tanpa mengucapkan apapun lagi.
***
Udara subuh mampu membuat Senja yang kini terlelap tidur terbangung dengan hati dan juga pikirannya yang sudah lebih membaik dari pada kemarin. "Selamat pagi Dunia, seharusnya hari ini bahagia bukan? Setelah kemarin penuh dengan penderitaan?." Gumam Senja kecil di iringi senyum kecil yang terlihat begitu menyedihkan.
Karena tak ingin menunda-nunda waktu, Senja dengan cepat mandi dan berganti menggunakan pakaian olahraga. Kini dirinya berniat untuk berolahraga pagi supaya pikirannya negatif nya bisa cepat menghilang, setidaknya itu tidak membuat dirinya memirkan terus.
__ADS_1
Setelah selesai, Senja dengan cepat turun ke bawah. Ia harus menyiapkan sarapannya untuk Dapa yang mungkin saat ini masih berada di kamarnya, kini ingatan tadi malam masih teringat jelas di pikirannya. Dirinya harus melupakan kejadian itu bukan? Meski menyakitkan, tak salahnya untuk memaafkannya kan?.
Senja dengan santai memasak sarapan untuk Dapa, mungkin menu nya akan sederhana tapi enak untuk santap. Sebenarnya Senja tidak usah melakukan pekerjaan ini, karena para pembantu sudah datang. Tapi Senja tidak mau mengandalkan mereka, ia ingin Suaminya memakan sarapan buatan dirinya.
"Nona, seharus nya Nona tidak perlu memasak seperti ini." Ucap salah satu pembantu yang sepertinya ketua dari pembantu yang lain.
"Tidak apa-apa, Bi. Saya senang melakukannya, Bibi bisa mengerjakan tugas yang lain. Owh iya, setelah saya selesai, saya akan pergi keluar, Bi. Jadi saya meminta tolong Bibi untuk menjaga rumah." Ucap Senja yang langsung di jawab anggukkan oleh ketua pembantu.
Tak lama, makan pagi sudah siap. Jam menunjukkan pukul 05.30 yang pas untuk Senja pergi berolahraga pagi. "Udah selesai, dan aku bisa dengan tenang olaharaga." Gumam Senja seraya tersenyum sembari menyiapkan semua keperluan Dapa, di iringi secarik kertas yang tertempel rapih di piring yang biasa Dapa gunakan.
-
Dapa kini sudah bangun beberapa menit yang lalu, jam menunjukkan pukul 06.00 yang mengartikan bahwa dirinya harus segera pergi ke membersihkan diri. "Apakah gadis itu sudah bangun?." Gumam Dapa seraya bangun dari ranjangnya dan berlalu pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai, Dapa dengan santai turun ke bawah. Matanya di sajikan dengan pemandangan hidangan yang sudah tertata rapih di meja makan, sungguh menggiurkan lidahnya.
Sesaat Dapa ingin mengambil nasi, secarik kertas mampu mengalihkan atensinya. Ia mengambil nya dan membaca isinya. "Selamat Pagi!. Semoga hari ini penuh dengan kegembiraan, selamat menikmati sarapan paginya. Maafkan aku tidak bisa makan bersama, tetapi mungkin kabar bahagia untuk mu. Aku pergi keluar, kau tidak usah susah-susah untuk menghindari ku, karena aku tahu keinginan mu. Sampaii Nantii!." Mungkin itu lah kata-kata di secarik kertas yang mungkin di tulis oleh Senja.
__ADS_1
Dapa termenung sejenak, ia kembali ke dalam kesadarannya. "Bi! Bibi!." Teriak Dapa yang seketika ketua pembantu datang menghampiri Tuannya.
"Iya Pak? Ada yang perlu saya kerjakan?." Tanya pembantu tersebut sembari menunduk hormat. "Siapa yang memasak sarapan ini?." Tanya Dapa sembari menatap intens pembantu di depannya yang sudah lama bekerja di rumahnya, "yang mengerjakannya Nona, Pak. Saya sudah memperingatinya, tapi Nona bersikeras mengerjakannya. Maafkan saya, Pak." Jawabnya seraya menunduk takut, ia.