Terpaksa Menikahi Anak Adopsi

Terpaksa Menikahi Anak Adopsi
Hal Yang Mengejutkan


__ADS_3

Setelah Dapa masuk, Sinta menghampiri Senja yang kini duduk terdiam sembari termenung. Entah apa yang saat ini Senja pikirkan, tentang kondisi Mamah nya atau karena perkataan Mamahnya?.


"Siapa nama kamu, Cantik?." Tanya Sinta dengan lembut, ia merasa begitu nyaman dan juga tenang melihat wajah Senja yang terasa begitu membuat hatinya tentram.


"Nama aku? Mutiara Senja." Jawab Senja dengan senyum kecil yang sangat cantik dan juga menawan.


Deg.


Nama itu, nama yang mampu membuat Sinta diam seribu kata. Ia tak mungkin salah mendengar bukan? Mutiara Senja? Apakah itu namanya?.


" m-mutiara s-senja, iyaa?." Tanya Sinta sekali lagi yang langsung di balas dengan anggukkan kepala oleh Senja.


"K-kamu sangat cantik." Ucap Sinta dengan lirih, rasanya ia sudah sesak sekali bernafas. 'Apakah kamu Senja, sayang?.'


Senja tersenyum manis, "terima kasih, anda juga sangat cantik, baik dan lembut seperti Mamah Anjani." Ucap Senja yang mengucapkan pendapatnya.


Sinta tersenyum kecil, ia berdiri dari duduknya dan menghampiri sang Suami yang kini menatapnya dengan tatapam sendu. "Pah, aku ingin membicarakan sesuatu." Bisik Sinta lirih, rasanya ia belum siap jika sewaktu-waktu mengetahui bahwa apa yang ia pikirkan benar terjadi.


Arman mengangguk mengerti,mereka meminta izin kepada Maya dan juga Romi untuk pergi sebentar beralasan membeli sesuatu, mereka mengangguk dan mempersilahkannya.


Senja yang menatap itu hanya tersenyum, ia merasa sangat nyaman bahkan tentram ketika ibu dari sang Mamah berbicara dan mendekat ke arahnya.


"Sayang, kamu gak mau bangun? Aku kangen loh, padahal baru beberapa jam kita gak ketemu." Ucap Dapa seraya menggenggam tangan Anjani yang kini masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Aku mau, kamu cepat sembuh. Aku pingin kamu selalu mendampingiku bagaimana pun keadaannya kedepannya, janga tinggalin aku yaa!." Ucap Dapa kembali, ia tak henti-hentinya berbicara kepada Anjani berharap dirinya bangun dan tersenyum ke arah dirinya.


Dari jendela besar, Senja menatap sedih kondisi Anjani yang saat ini masih terbaring lemah dengan balutan perban di kepalanya. "Mom, aku pingin Mommy sadar. Aku pingin tahu kejelasannya tentang perkataan Mommy." Suara kecil Senja, ia merasa orang linglung yang tak tahu arah untuk mencari suatu kebenaran.


***


2 Hari berlalu...


Kini sudah hari kedua Anjani berbaring di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda dirinya untuk sadar. Kini bagian Senja yang menjaga Anjani, Dapa sedang ada urusan yang mengharuskan dirinya untuk menghandle sendiri.


"Mom, apa Mommy gak kangen sama aku? Aku nunggu dari kemarin untuk Mommy sadar, Mommy gak mau peluk dam cium aku?." Suara serak Senja mampu membuat orang yang mendengarnya akan merasakan kesedihannya.


Air mata Senja jatuh di pipi mulusnya, ia merasa tidak bisa menjaga amanah sang Daddy untuk menjaga Mommy nya. "Ja-ngan me-na-ngis sayang." Suara serak Anjani mampu membuat Senja yang awalnya menunduk kini menegakkan kepalanya.


"Ha-us." Ucap Anjani serak, Senja yang mendengar itu buru-buru mengambil gelas yang berada di atas nakas. Dirinya membantu Anjani untuk memposisikan nya menjadi duduk sembari bersandar di ranjang.


Setelah itu, Senja izin untuk keluar yang berniat memberitahukan hal ini kepada orang tua dari sang Mommy. "Pak, Bu. Mama Anjani udah sadar." Ucap Senja yang langsung mendapatkan senyuman bahagia dari Sinta dan Arman.


"Sayang, kamu gimana keadaannya? Mamah sangat khawatir." Ucap Sinta sembari terisak menangis, ia bahagia bahwa sang anak sudah siuman.


"Aku baik-baik aja, Mah." Ucap Anjani tersenyum tipis. "Ada yang ingin aku bicarain Mah, Pah." Ucap Anjani yang kini menatap serius sang Mamah dan Papah.


"Mom, aku di luar aja ya!." Ucap Senja yang berniat pergi tapi tangannya lebih dahulu di cekal oleh Anjani, "kamu tetap di sini, sayang. Ini bersangkutan dengan kamu." Ucap Anjani seraya tersenyum manis.

__ADS_1


Senja hanya diam, ia tidak tahu menahu perihal yang ingin Anjani bicarakan. "Mah ,Pah. Senja masih hidup." Ucap Anjani yang membuat Sinta dan juga Arman terkejut bukan main.


"Apa benar sayang? Kamu tahu dari mana?,sekarang Senja dimana? Dia tinggal dimana?." Tanya Sinta bertubi-tubi yang merasa bahagia dengan kabar ini.


Anjani tersenyum manis, "dia dekat sama kita, Ma. Bahkan Anjani sangat dekat dengannya Mah, Anjani senang bisa selalu ada buat Senja." Ucap Anjani, "Senja ada di depan kalian, Pah, Mah. Dia ada di samping aku." Ucap Anjani yang mampu membuat Senja dia seribu bahasa, 'Senja? Siapa senja?.' apa itu aku? Itulah yang mungkin menjadi pikiran Senja sekarang.


Sinta dan Arman menatap nanar Senja, terlintas rasa penyeselan yang begitu kuat di dalam diri Sinta. "Senja, anak Mamah. Sini sayang?." Ucap Sinta yang merentangkan tangannya agar Senja masuk ke dalam pelukannya.


"Aku? Anak kalian?." Beo Senja yang merasa masih terasa mustahil, ia memang berniat mencari orang tua nya setelah dirinya keluar dari Panti Asuhan, tapi, ternyata takdir lebih berpihak pada dirinya dan mempertemukannya begitu cepat.


Senja melangkah mendekat, ia tidak berani memeluk Sinta. Dirinya takut jika ini hanya mimpi dan bukan kenyataan, tapi Sinta lebih cepat menarik Senja ke dalam dekapannya.


"Senja, maafkan Mamah. Mamah menyesal telah membiarkan kamu pergi sesaat di hidup Mamah, Mamah minta maaf sayang." Ucap Sinta yang kini tangisnya buyar, Arman hanya bisa menatap sang Putri yang kini sudah tumbuh besar.


"Sayang, Putri Papah, sini peluk Papah sayang! Apa kamu tidak rindu?." Tanya Arman sembari merentangkan kedua tangannya, berharap sang Putri yang dirinya cari selama 21 tahun menghampirinya dan memeluknya erat.


Senja melepaskan pelukan Sinta, ia berjalan mendekat dan masuk ke dalam dekapannya Arman, yang 'katanya' adalah Papah kandungnya. Bohong jika Senja tidak merasa bahagia karena hari ini ia bisa bertemu dengan Papah dan Mamah serta Kakak nya yang notabane nya Mommy dirinya.


Cup,Cup,Cup.


Arman mengecup pucuk rambut Senja berulang kali, sebuah kecupan dari sosok orang tua kandung kini Senja dapatkan. "Maafkan Papah dan Mamah sayang." Ucap Arman dengan lirih, ia sangat ingat kejadian 21 tahun dahulu.


Anjani yang melihat itu tersenyum bahagia, ia benar-benar bisa menatap wajah sang Adik yang kini sudah sangat besar dan cantik. 'Dek, Kakak sudah tidak bisa bertahan. Kamu yang akan menggantikan Kakak nanti, Kakak sangat menyayangi mu.' Batin Senja sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2