Terpaksa Menikahi Anak Adopsi

Terpaksa Menikahi Anak Adopsi
Mencari Kebenaran


__ADS_3

"Senja!." Tegur Arman yang kini menatap sang Putri dengan khawatir, ia sangat tahu bahwa suasana hatinya sedang kacau.


"Senja disini, bertahan dan juga menjalani nya hanya karena pesan dari Mommy. Ia hanya ingin semua berjalan dengan baik tanpa ada yang menderita sekalipun, tak ada yang ingin Mommy inginkan selain kebahagiaan disaat dirinya tidak ada." Ucap Senja dengan mata yang sudah berkaca-kaca, hancur lah semua pertahanan Senja kini.


Lagi dan lagi semua hanya diam, tak ada yang mampu menjawab kembali pernyataan Senja. Semua seperti tahu bagaimana perasaan Senja yang sebenarnya kecuali Suami, garis bawahi itu!. "Senja akan tetap menjalani semuanya." Ucap Senja yang mencoba mengukir senyum di wajahnya.


"Maafkan Senja yang bersikap seperti ini, Senja izin ke kamar sebentar." Ucap Senja yang tanpa menunggu jawaban dari semua segera berlari kecil ke atas, tempat yang saat ini ia ingin datangi adalah kamarnya.


"Saya dan istri izin menemui Senja dulu, permisi!." Ucap Arman seraya membawa Sinta untuk menemui Senja yang mungkin saat ini butuh pelukan dari mereka.


Kini hanya tersisa Romi, Maya dan Dapa di ruang tamu. "Dap! Papah tidak ingin rumah tangga kamu seperti ini, perbaiki dan jangan biarkan sampai hancur." Ucap Romi penuh penekanan di setiap katanya.


"Pah! Dapa tidak bisa, dia sudah mencelakai bahkan membuat Anjani meninggal. Lagi pula kenapa Papah dan Mamah Anjani sangat menyayangi dan menjaga Senja dengan ketat, seharusnya mereka mengusir nya! Dia adalah gadis yang tak punya malu, seharusnya benar-benar pergi dari kehidupan kita! Bukan Anjani yang pergi, dia yang pergi." Ucap Dapa yang kini matanya sudah tajam, ia rasa dendam dan bencinya menyatu di dalam dirinya saat ini.


"Dapa! Papah tidak pernah mendidik kamu untuk mencaci maki orang lain! Dan satu lagi, cari kebenarannya yang benar, kalaupun perlu kamu panggil semua pesuruh kamu yang sudah kamu usir untuk menjadi saksi kejadian itu! Kamu akan tahu kebenaran yang sesungguhnya, jangan sampai menyesal! Jika itu terjadi, Papah tidak akan membantu bahkan berbuat apapun." Ucap Romi yang kini sudah terlanjur kecewa dengan perubahan sikap dan juga sifat putra tunggalnya.

__ADS_1


Dapa hanya diam setelah mendengar perkataan Romi, Papahnya yang kini terlihat jelas raut kecewanya. Apakah dirinya salah berucap kata yang sebenarnya ada di dalam lubuk hatinya? Mungkin ia akan mencari pesuruh dirinya yang bertugas menjaga Senja dan juga Anjani saat itu supaya semua pertanyaan besar segera terjawab.


Di lain sisi, kini Senja sedang termenung sembari memandangi wajah Anjani di bingkai foto yang selalu ia pajang di dalam kamarnya. Senja hingga tak memyadari bahwa Arman dan juga Sinta sudah berada di kamarnya, "tenang, sayang! Papah dan Mamah disini." Ucap Arman sembari merentangan tangannya, ia tah sang Putri saat ini butuh pelukan agar suasana hatinya jauh lebih baik.


Senja yang tak bisa menolaknya, dengan cepat berhambur ke pelukan Arman di iringi Sinta yang juga masuk ke dalam pelukan itu. "Semua akan baik-baik saja, jikapun ada sesuatu yang membuat kamu ingin berpisah, Papah tidak sama sekali keberatan. Papah dan Mamah akan selalu menjaga dan menyayangi kamu lebih dari pada nyawa kami." Ucap Arman sembari mengelus pucuk rambut Senja yang kini sudah terisak di dalam pelukan Arman.


Senja hanya menggelengkan kepalanya, "Senja hanya lelah saja, Pah Mah. Seharusnya Senja yang pergi bukan? Jangan Kak Anjani, itu pasti menyakitkan untuk Mas Dapa." Ucap Senja yang semakin terisak, ia benar-benar butuh sandaran untuk meluapkan segala rasa dan bebannya.


"Kamu tidak boleh seperti itu, sayang! Kamu di beri izin untuk menikmati dunia dan kehidupan yang lama. Anjani tidak pernah meminta kamu untuk berucap seperti itu, kamu harus bisa membangun kebahagiaan untuk diri kamu agar Anjani tahu bahwa apa yang ia berikan kepada kamu, tidak akan sia-sia." Ucap Sinta, ia sedih sekali mendengar putri nya berkata seperti itu, rasanya hatinya hancur.


Dapa pergi setelah itu, ia akan memerintahkan pesuruh nya untuk mencari beberapa anak buahnya yang ia pecat karena kelalaian mereka saat itu. "Cari mereka sampai ketemu! Bawah ke tiga nya utuh tanpa ada luka sekalipun." Ucap Dapa disaat telfon nya terangkat oleh orang di sebrang sana yang entah tahu siapa dia.


'Sakit sekali, ini benar-benar menyakitkan yang tak pernah aku duga. Pernyataan tentang Mas Dapa yang masih mencintai Kak Anjani membuat aku sakit, seharusnya aku menerimanya karena memang itu lah faktanya.' Batin Senja, kini dirinya sudah mulai tenang setelah puas menangis untuk meluapkan segala rasa yang ia pendam.


"Putri Papah dan Mamah tidak cantik lagi jika menangis, Papah ingin lihat senyuman kamu yang manis itu." Ucap Arman yang langsung di buahi senyuman manis yang di inginkan oleh Arman dari Senja.

__ADS_1


"Kami sangat menyayangi dan mencintai kamu." Ucap Sinta untuk keberapa kali lagi. Mereka menghabiskan waktunya bertiga untuk berbicara mengenai semua hal, hingga jam menunjukkan pukul 21.30 bahwa hampir larut malam yang menandakan mereka harus pulang.


Kini semua sudah berkumpul semula seperti tadi, suasana nya masih sangat canggung karena perbincangan mereka tadi yang mampu membuat suasana hampir kacau.


"Baiklah! Kami akan pulang, Papah berharap kepada kalian bahwa hubungan rumah tangga kalian akan harmonis dan rukun. Jika kami datang kesini kembali, kalian sudah memberi kami kabar bahagia." Ucap Romi yang di angguki oleh seluruhnya. Tak ada perkataan lagi yang akhirnya mereka semua bubar karena waktunya.


Dapa dan Senja kini menatap kepergian kedua orang tua mereka, tak ada senyuman di bibir Senja ketika semua orang sudah pergi. Dan setelah di rasa benar-benar pergi, Senja berniat untuk langsung beristirahat tanpa berbicara apapun bersama Dapa.


Tapi sebuah tangan mencekal Senja untuk pergi dari sana, seperti ada pertanyaan yang akan di lontarkan oleh Dapa kepada Senja. "Maksud 'Kak Anjani, itu apa?." Tanya Dapa to the point.


Senja diam, ia baru teringat kala memnggil Anjani dengan sebutan 'Kakak' yang mungkin terdengar oleh Dapa, ia seharusnya mengontrol ucapannya. "Itu tidak penting, aku mau istirahat. Selamat malam." Ucap Senja seraya dengan cepat menghempaskan tangan Dapa yang mencekal lengannya, setelah itu berlalu pergi dari sana.


Dapa hanya menatap kepergian Senja, ada rasa menyesal sedikit tak kala berbicara yang tadi mengenai perasannya langsung di depan Senja. Itu pasti menyakitkan, tapi entah mengapa dirinya hanya ingin mengatakan itu. "Maaf."


'Aku akan pergi jika semua sudah selesai, aku hanya ingin merasakan kebahagiaan saja sebentar. Jika pun itu akan terjadi, aku akan bahagia karena sebelum itu aku sudah merasakan yang namanya 'bahagia.' ~ Mutiara Senja.

__ADS_1


__ADS_2