
"Karena ganteng, jadi aku lihatin." Ucap Senja sembari tersenyum manis, ia sangat-sangat suka momen ini dan tidak akan melupakannya. Sejenak, rasa sakit itu sedikit terobati.
AWW!
Senja meringis kecil, ia tahu bahwa Dapa denga sengaja menekan lukanya. "Kamu tidak usah gombal! Saya tidak akan terpengaruh." Ucap Dapa yang mampu membuat senyum manis Senja terbit kembali, sangat manis dan benar-benar manis.
"Aku gak gombal, tapi emang benar ganteng." Ucap Senja yang serasa sangat bahagia bisa bercanda dengan Suaminya, meski masih terlihat dingin. "Terserah! Saya mau berangkat kerja, dan saya lupa! Bahwa orang tua saya dan orang tua wanita Cinta Pertama saya akan datang malam ini." Ucap Dapa yang dengan sengaja menekankan kata 'Cinta Pertama' untuk mengetahui reaksi Senja.
Senja hanya mengangguk kecil, ia tersenyum manis. "Aku akan menyiapkan semua dengan sempurna, tak perlu khawatir! Aku akan bahagia di depan mereka meski kondisi aku sedang terluka sekalipun." Ucap Senja sembari mengalihkan pandangannya, mata nya benar-benar tak bisa di kondisikan. Rasa Sesak dan juga Sakit menyeruak di dalam hatinya tak kala dirinya mengatakan hal tersebut.
Dapa hanya diam, ia seperti tercubit hatinya kala mendengar perkataan Senja yang menurutnya sangat menjurus kepada dirinya. "Terserah!." Ucap Dapa yang setelah itu berlalu pergi meninggalkan Senja untuk berniat berangkat bekerja.
"Mas! Mas!." Teriak Senja kecil yang melupakan sesuatu kebiasaan Suami Istri. "Ada apa lagi?." Tanya Dapa sembari menghela nafasnya pelan yang menunggu jawaban dari Gadis di depannya ini.
CUP!.
Senja mengecup sebelah tangan Dapa sembari tersenyum manis, sangat-sangat manis. "Aku lupa ini, Mas." Ucap Senja yang membuat Dapa tercengang sebentar sebelum meneltralkan kembali rasa nya itu.
Dapa hanya berdehem setelah itu pergi begitu saja, ia tidak sama sekali melakukan aktivitas seorang Suami kepada Istri. 'Perasaan apa ini?.' Batin Dapa sembari melajukan mobilnya menuju kantor.
Setelah kepergian Dapa, Senja bergegas naik ke atas. Ia butuh istirahat untuk menghilangkan segala pikiran negatif yang memenuhi isi kepalanya, masih panjang perjalanan hidupnya yang harus ia lalui.
__ADS_1
-
Kini Dapa sudah sampai di Kantor nya. "Bagaskara Company" adalah Perusahaan yang bekerja dalam bidang material, perusahaan ini di bangun sudah sedari dahulu maka dari itu sudah sebesar dan sesukses ini.
Banyak pasang mata yang melihat Dapa turun dati mobil, security yang bekerja di sana juga sudah memberi hormat kepada Dapa. Dapa segera masuk ke dalam kantor, semua karyawan yang bertemu Dapa menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Selamat pagi, Pak. Hari ini ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani." Ucap Clara, Sekretaris Dapa membuat Dapa mengerutkan dahinya.
"Kamu Sekretaris baru saya?." Tanya Dapa, sedangkan Clara mengangguk cepat. Memang Sekretaris Dapa yang dahulu resign karena tak kuat dengan segala pekerjaan dan juga tekanan dari Dapa.
Perlu kalian tahu! Dapa sudah di cap di kantor sebagai "Bos Kejam" oleh seluruh karyawannya. Sedangkan Dapa tahu tentang itu, ia tak peduli selama tidak mengganggu pikirannya.
Clara hanya mengangguk, ia tersenyum manis. Senyuman manis itu seperti bukan senyuman biasa, entahlah! Hanya dirinya dan juga diatas yang mengetahui makna senyuman manis itu.
Di ruangan Dapa, ia sedang berkutat dengan laptop nya. Pekerjaan diri nya benar-benar menumpuk karena insiden Anjani, yang membuatnya tidak bekerja selama beberapa hari.
TOK! TOK!
Suara ketukan pintu mampu membuat fokus Dapa seketika buyar, ia memerintahkannya untuk masuk tanpa menoleh sedikitpun ke pintu ruangannya. "Ini berkas yang harus Bapak tanda tangani." Ucap Clara sembari menyerahkannya kepada Dapa. "Taruh di situ, saya sedang sibuk. Terima kasih! Anda bisa kembali bekerja." Ucap Dapa tanpa menoleh sekalipun, ia memang "Bos Kejam" yang di katakan oleh seluruh karyawannya.
Clara hanya mengangguk sembari mengerucutkan bibirnya, sepertinya ia sedang jatuh cinta kepada atasannya yang terkenal akan kekejamannya. Dirinya saat ini memang membuat Dapa risih, terutama dengan pakaiannya yang cukup terbuka, itu mengusik pandanngannya. "Satu lagi, tolong urus pakaian mu! Saya tidak mau anda menggunakan pakaian itu lagi!." Ucap Dapa yang kali ini benar-benar tidak menoleh sedikit pun kepada Clara.
__ADS_1
"Baik Pak, Maaf." Ucap Clara, ia segera keluar dengan muka yang di tekuk ke bawah karena komentaran dari atasannya. 'Gue pasti bisa dapat Pak Dapa.' Batin Clara yang segera kembali meneruskan pekerjaannya.
"Apakah dendam ku masih ada? Tapi mengapa ada rasa yang seperti bukan dendam. Ada apa dengan diriku?." Gumam Dapa, ia tidak fokus dengan pekerjaannya karena kepikiran dengan perkataan Senja tadi.
'Saya akan pastikan nanti.' Batin Dapa sebelum kembali fokus dengan pekerjaannya, ia harus pulang cepat hari ini karena akan kedatangan orang tua nya dan juga oramg tua Anjani.
Tentang Anjani, Cinta Pertamanya. Setiap malam bahkam dirinya masih memikirkannya, ia benar-benar tidak bisa berhenti memikirkannya. Rasanya ada yang mengganjal di pikirannya, soal perkataan Anjani sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya. Dirinya sangat marah ketika Dapa mengatakan Senja 'gadis murahan' dengan raut wajah yang benar-benar dingin dan datar.
"Mengapa semua serasa runyam? Kapan ini akan berakhir?." Gumam Dapa sembari menghela nafasnya pelan, seharusnya dia bertanya kepada dirinya sendiri kapan ini akan berakhir, ia yang memulai dan seharusnya ia juga yang mengakhiri.
***
"Pah, kita akan datang ke rumah Dapa." Ucap Sinta sembari menatap Arman, Suaminya untuk mengetahui responnya. "Iya,cPapah tahu." Ucap Arman yang terlihat gelisah dan juga khawatir.
"Papah takut Senja menyembunyikan penderitaan yang ia alami bersama Dapa, Papah tahu putri bungsu kita suka sekali menyembunyikannya." Ucap Arman sembari menatap Sinta dengan tatapan khawatir.
Sinta mengangguk keci, "Mamah masih merasa bersalah, Pah. Dahulu kenapa Mamah sangat bodoh dan meninggalkan Senja di depan panti asuhan. Mamah merasa tidak becus menjadi orang tua untuk Senja, ia tidak pernah mendapatkan sedikit kasih sayang dari kita." Ucap Sinta lirih, rasa sakit 21 tahun lalu itu kembali hadir, dan itu sangat menyakiti dirinya.
"Mah, semua sudah takdir. Kita harus kuat seperti anak-anak kita, mereka mampu menjalani hidup mereka dengan segala rintangan yang hampir membuatnya putus asa. Papah sangat bangga dengan mereka, dan Papah sangat bahagia bisa memiliki mereka sebagai Putri-Putri Papah." Ucap Arman seraya menarik sang Istri ke dalam pelukannya.
"Jikapun nanti Senja terluka, Papah akan membawa Senja kepada kita. Kita bisa merawat dan menjaga nya dengan sepenuh hati, ia akan mendapatkan kasih sayang juga dari kita saat itu juga." Ucap Arman sembari mengelus pucuk rambut Sinta. "Percayalah! Kita harus percaya dengan anak kita." Ucap Arman kembali, ia sangat berharap Putrinya bahagia, 'yah, semoga saja.'
__ADS_1