
Dapa termenung dengan semua perkataan Ibu Ayu tadi, dirinya seperti orang bodoh yang tidak tahu menahu soal identitas Senja terlebih dahulu. Seharusnya ia menyadari saat di Rumah sakit kemarin hingga orang tua Anjani yang sangat melindungi dan menyayangi Senja seperti seorang anak pada masanya.
"Dan saya belum mengetahui soal identitas kamu? Kenapa baru saat ini terungkap? Ini semua adalah kesalahan besar." Gumam Dapa sembari menundukkan kepalanya, ingatannya berputar-putar saat mengingat perlakuannya kepada Senja kemarin-kemarin.
Dapa menegakkan pandangannya, ia menatap langit malam yang terasa begitu indah di temani bulan dan bintang-bintang gemerlap-gemerlip indah. "Seharusnya saya mengetahui hal ini, mengapa baru saat ini? Mengapa? Maafkan saya untuk kesekian kalinya, maaf! Saya benar-benar minta maaf." Gumam Dapa lirih, tersirat rasa bersalah dan juga sedih di manik mata Dapa. Tanpa persetujuan, air mata Dapa jatuh di pipinya. "Maafkan saya Anjani yang sudah membuat adikmu menderita, saya benar-benar minta maaf." Gumam Dapa yang tak terasa air matanya kembali jatuh.
Dapa berada di luar hingga hari hampir tengah malam, pikirannya belum sepenuhnya tenang dari segala kebenaran yang malam ini baru terungkap. 'Apakah besok juga, kebenaran akan terungkap? Batin Dapa yang kini sendiri dalam keheningan.
Dilain sisi, kini Senja sedang berada di hamparan padang yang sangat luas dengan di tumbuhi bunga-bunga yang sangat indah. 'Dimana aku? Apa aku sudah menyusul Kak Anjani? Ucap Senja sembari tersenyum kecil, ia tidak akan kembali ke dunia kejam itu bukan?
"Hallo sayang! Apa rindu? Tanya seorang wanita yang kini sumber suaranya berada di belakang Senja. Seketika, Senja membalikkan badannya dan menatap wanita tersebut dengan pandangan berbinar.
"Mommy sangat merindukan kamu, mau kamu peluk Mommy? Tanya nya yang langsung di jawab anggukkan oleh Senja. Dengan cepat, Senja berhambur ke pelukannya, pelukan seorang Mommy serta Kakak bagi Senja. "Aku kangen, Mom." Ucap Senja serak yang kini sudah banjir air matanya menjatuhi pipinya yang mulus.
Anjani tersenyum kecil, ia mengeratkan pelukannya agar Senja mampu merasakan pelukan yang begitu ia inginkan selama ini. "Maafkan Mommy ya sayang, maaf karena penderitaan kamu selama ini." Ucap Anjani yang mampu membuat Senja menggelengkan kepalanya cepat, "gak Mom, aku saja yang lemah. Maaf ya Mom!." Ucap Senja sembari terisak menangis.
"Untuk sekarang dan seterusnya, Mommy tidak akan meminta kamu menjaganya. Kamu boleh melepaskannya tanpa mengingat pesan dari Mommy, jangan biarkan hidup mu penuh dengan penderitaan, Mommy tidak mengharapkan itu terjadi." Ucap Anjani yang kini nyaman mengelus pucuk rambut Senja pelan.
Anjani dengan hati-hati melepaskan pelukannya, ia mengusap wajah Senja dengan sangat lembut. "Kamu harta Mommy yang paling berharga, tak ada satupun yang bisa menggantikan kamu. Kamu gadis yang sangat lemah lembut dan kuat, Mommy percaya itu. Sekarang, hiduplah dengan damai! Mommy akan selalu ada di samping kamu meski tak terlihat, dan Mommy senantiasa menyayangi dan menjaga kamu." Ucap Anjani sembari tersenyum manis sebelum secara tiba-tiba tubuh Anjani menghilang di iringi angin yang begitu besar.
Senja menatap kanan dan kiri, ia tidak menemukan sosok Anjani yang sangat begitu ia rindukan. "Kak! Mom! Jangan pergi, aku masih rindu! Teriak Senja yang mencari Anjani di iringi air mata yang sudah mengalir deras di pipi cantiknya.
__ADS_1
"MOMMY!! Teriak Senja yang langsung terbangun dari mimpi indahnya, ia tidak ingin bangun. Tidurkan lah Senja, ia sangat berharap seperti itu.
"Heii! Tenang." Suara bariton yang Senja kenal mampu membuat Senja mengalihkan wajahnya ke sebelah kiri yang ternyata memperlihatkan Dapa yang kini terlihat khawatir.
"Mas? Kenapa disini? Tanya Senja lirih yang masih lemah karena tenaga nya yang terkuras habis. "Saya memang disini, kamu tadi pingsan." Jawab Dapa yang kini menatap Senja lembut seperti rasa benci dan dendam yang dirasakannya seakan sirna.
"Eughhh." Ringis Senja yang merasa kepalanya pusing, ia ingin bangun tapi di tahan oleh Dapa. "Tetap tidur, lihatlah! Ini masih jam setengah 2 dini." Ucap Dapa yang membuat Senja mengurungkan niatnya untuk bangkit.
"Istirahat! Saya ada sini menemani kamu." Ucap Dapa sembari mengelus lembut pucuk rambut Senja, sedangkan sang empu yang di lakukan seperti itu mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa sikap Dala kembali berubah, selalu seperti ini.
"Kenapa?. Kenapa seperti ini? Jangan lakukan jika terpaksa." Ucap Senja lirih yang masih terdengar oleh Dapa, dirinya yang mendengar itu tersenyum tipis. Ia berdiri dari posisi jongkok nya, kini dirinya mendudukkan dirinya di samping Senja yang kini merasa terkejut.
Senja hanya diam, tak ada tenaga untuk ia melepaskan diri dari dekapan Dapa. Ia hanya pasrah dengan apa yang di lakukan Dapa kepada nya, percuma saja jika ia melawan. "Tidurlah! Saya akan menjaga kamu, bukan karena orang lain, melainkan keinginan saya." Ucap Dapa sembari mengelus pucuk rambut Senja yang terasa nyaman baginya, kini dirinya memiliki aktivitas lain selain duduk di meja kerjanya dan membaca berkas-berkas.
Bohong jika Senja tidak merasa nyaman, ia benar-benar nyaman dengan posisi seperti ini. Dengan hati-hati, Senja memeluk peluk Dapa erat. Ia ingin tahu reaksi dari Suaminya, ternyata nihil! Dirinya membiarkan Senja melakukan posisi tersebut.
"Mimpi buruk? Tanya Dapa yang baru mengingat kejadian Senja terbangung sembari memanggil 'Mommy' yang tak lain adalah Anjani.
"Aku mimpi bertemu dengan Kak-emm Mommy maksudnya." Ucap Senja yang hampir mengungkapkan rahasia yang ia pendam selama ini, untuk saat ini ia tidak akan memberitahu Dapa dahulu.
Dapa hanya tersenyum tipis, ia tahu Senja menyembunyikan tentang ha itu kepada dirinya. Dan beruntung, Dapa sudah mengetahui hal tersebut. "Terus?."
__ADS_1
"Dia merindukan aku, sama seperti aku yang merindukannya. Aku kira aku sudah tidak ada di dunia ini, ternyata salah! Aku masih berada di sini dan kejadian itu hanya mimpi. Mommy memelukku sangat erat, aku bahkan begitu nyaman dengan pelukan Mommy." Ucap Senja yang memberi jeda di dalam ceritanya.
"Mommy mengatakan jika aku tidak perlu memgikuti pesannya untuk menjaga kamu, Mas. Dia membiarkan aku untuk menjalani kehidupan dengan bebas tanpa mengekangnya, dan Mommy memperbolehkan aku untuk melepaskan kamu." Ucap Senja yang kini terlihat jelas wajah tak rela dari Dapa.
"Jadi aku bisa menggugat ce--."
"Tidak! Saya tidak akan membiarkan kamu melakukan hal itu. Kamu hanya milik saya dan tetap saya selamanya." Ucap Dapa tegas, ia mengeratkan dekapannya, sedangkan Senja bagaimana? Ia tercengang mendengar perkataan Dapa, apakah Suaminya sedang mabuk?.
"Tanda dari mimpi itu, seorang Kakak merindukan Adiknya." Ucap Dapa yang mampu membuat Senja terkejut bukan main, bagaimana bisa Dapa tahu soal ini?.
"Salah! Dia Mommy ku, bukan Kakakku." Ucap
Senja yang mencoba menyakinkan Dapa bahwa itu tidak benar. "Kamu menutupinya sangat rapat hingga saya tidak mengetahui hal itu, tapi sekarang, saya sudah mengetahuinya." Ucap Dapa yang kini menatap manik mata Senja lekat.
CUP.
CUP.
Dua kecupan di daratkan ke kening dan bibir Senja ulah Dapa, sedangkan sang empu diam mematung karena perlakuan Dapa yang mendadak. "Tidurr! Sudah malam." Bisik Dapa yang kembali mendekap Senja erat, ia akan mencoba mencintai Senja dengan keinginan hatinya.
'Terima kasih Istri kecil saya, kamu telah bertahan hingga sampai kini. Maafkan saya yang tidak tahu menahu tentang hal ini, terima kasih.' Batin Dapa kemudian memejamkan matanya ikut menyusul Senja yang sudah terpejam lebih dahulu.
__ADS_1