
Senja diam, ia tidak mengatakan sepatah kata apapun. Mulutnya terasa keluh untuk berbicara, hatinya serasa sesak dan sakit untuk kesekian kalinya. Rasanya Senja ingin menghilang saja dunia ini, ia benar-benar tak sanggup.
"Lepasin Mas!." Ucap Senja lirih karena air matanya yang sedari tadi sudah berhamburan jatuh di pipi mulusnya.
"Saya jelaskan yang terjadi." Ucap Dapa yang semakin erat memeluk Senja, banyak pasang mata yang menatap Dapa, atasannya memeluk seorang gadis hingga sampai ada yang memotretnya. Karena siapa yang tidak tahu Dapa? Pengusaha serta pemilik Perusahaan terbesar dan terkaya di negara itu.
Senja mencoba melepaskan pelukan Dapa, ia tidak ingin memperpanjang masalah yang terjadi hari ini. Kekuatan Senja tidak sebesar kekuatan Dapa, ia sulit untuk lepas dari pelukan Dapa.
"Tolong,Mas. Lepasin." Ucap Senja lirih, ia saat ini benar-benar sedang lemas. Tidak ada pikiran yang harus ia lakukan, bahkan dirinya saat ini tak sanggup untuk menompang tubuhnya sendiri.
"Tidak, saya akan lepaskan jika kamu mau mendengar penjelasannya." Ucap Dapa yang masih dengan erat memeluk Senja dari belakang, mereka berdua sudah menjadi tontonan karyawan Dapa yang terkejut karena perlakuan Dapa terang-terangan.
"Tolong,Mas. Aku sudah sakit sebelum aku masuk ke dalam ruangan kamu, aku sudah melakukan semuanya supaya apa yang aku lakukan selama ini bisa berharga dan tak sia-sia. Aku mencoba bertahan bersama kamu, Mas. Aku mencoba menerima segala sakit dan juga pedih yang aku rasakan saat bersama kamu, aku tidak ingin egois, memikirkan aku saja tanpa memikirkan kamu." Ucap Senja lirih, sangat lirih hingga nyaris Dapa yang mendengarnya saja.
Dapa diam, ia tidak bisa mengatakan apapun. Mulutnya serasa keluh untuk mengucapkan satu katapun, ia merasa sakit saat mendengar penuturan Senja.
"Maaf." Hanya kata itu yang Dapa ucapkan setelah mendengar perkataan Senja.
__ADS_1
Sesaat Dapa lengah, Senja dengan cekatan melepaskan diri dari pelukan Dapa, dan itu berhasil. Senja menatap Dapa lekat, ia juga menatap sekeliling yang sudah banyak orang menatap dirinya dan juga Dapa dengan tatapan yang tak bisa di artikan. "Mas Dapa, untuk kali ini aku mengakui bahwa aku mencintai mu! Aku akan bertahan meski terluka, aku tahu kamu begitu dendam dan juga benci kepada ku, tapi aku akan mencoba bertahan." Ucap Senja semakin lirih sembari mengusap wajah Dapa dengan lembut, ia tersenyum tipis, sangat tipis.
"Lari dari yang menyakitiku akan semakin menyakitiku, aku tidak akan lari tapi akan terluka hingga aku sembuh kembali." Bisik Senja lirih, ia kembali tersenyum tipis kemudian memberhentikan taksi yang kebetulan lewat.
Senja langsung masuk, ia tak kuat menahan air matanya yang kini selalu terjatuh di pipinya. "Aku terlalu terluka untuk semua masalah ini, bertahan untuk terluka? Apa aku bisa, aku masih lemah seperti ini." Ucap Senja sembari terisak menangis, ia menatap ke belakang kaca yang memperlihatkan Dapa diam terpaku sembari menatap taksi yang dirinya taiki.
Kini Dapa mematung, entah mengapa sangat sakit mendengar perkataan Senja barusan. Ia seperti di tikam beribu-ribu belati tepat di hatinya. 'Mengapa sesakit ini?.' Batin Dapa yang masih diam terpaku di sana, ia menyadari bahwa dirinya menjadi tontonan karyawannya.
"TIDAK ADA YANG DISINI! BEKERJAA!." Teriak Dapa menggelegar yang mampu membuat semua karyawan segera berlarian masuk ke dalam kantor setelah mendapatkan amukan dari sang atasannya.
Saat memasuki ruangan Sekretarisnya, ia membukanya dengan kasar. "Apa kau puas melihatnya?." Tanya Dapa dingin seperti ada gairah ingin membunuh orang di hadapannya jika bukan wanita.
Clara seketika berdiri, ia menatap Dapa mengerutkan dahinya. "Maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja. Lagi pula gadis yang kemari adalah asisten Bapak bukan?." Ucap Clara yang seperti tidak ada tanda-tanda merasa bersalah.
"Dia bukan asisten saya! Dia ISTRI SAYA." Ucap Dapa sembari menekan kata 'Istri saya'. Sedangkan Clara seketika membeku, bukankah atasannya saat ini adalah seorang Duda? Mengapa sekarang mendadak sudah mempunyai Istri.
"Kamu membuat masalah besar dengan saya!." Ucap Dapa setelah itu pergi dari ruangan Clara sembari berlari kecil menuju luar kantor, ia ingin mencari keberadaan Senja.
__ADS_1
Kini berita tentang Dapa yang memeluk seorang gadis, yang tak lain dan tak bukan adalah Senja sudah menyebar luas di internet. Bahkan para wartawan sudah siap siaga untuk mendatangi pengusaha kaya itu untuk mencari informasi yang akurat. Sedangkan Dapa, ia tidak berniat memikirkan itu. Yang ia pikirkan adalah tentang Senja, dimana dia berada?.
-
"Hallo Kak! Kangen aku ga? Kenapa harus Kakak yang pergi? Aku masih nyaman ketika menjadi anak Mommy yang sangat baik hati ini. Aku menderita ketika kau pergi, kenapa tidak kembali? Aku ikhlas jika aku yang menggantikan posisi Kakak. Aku menyerah, Kak. Aku tidak sanggup menjalaninya, Mas Dapa terlalu sulit untuk aku dapatkan. Aku lemah, aku terlalu takut untuk terluka. Aku ingin bertahan dengan segala luka, tapi jiwaku tak menginginkan itu terjadi." Ucap Senja yang kini masih berderai air mata tepat di hadapan makam Anjani.
Senja menangis sejadi-jadinya di sana, menumpahkan segala rasa sakit yang ia rasakan hari ini. Belum genap tadi malam ia merasakan beribu-ribu tikaman, kini harus merasakan kembali ribuan tikaman itu. Rasanya ia muak, sangat muak seperti ini terus.
"Apa Kakak gak kasihan sama aku? Aku sedih, terluka dan juga sakit saat ini. Kakak yang menjadi Mommy tidak ingin memelukku? Tidak ingin memberiku support kah? Aku sedang membutuhkan sandaran dan pelukan Kakak." Ucap Senja kembali, rasa hampa kini ia rasakan. Mengapa dunia begitu sangat mahir mempermainkan kehidupan nya saat ini.
"Kakak menyayangi mu..." seperti ada angin lewat di iringi suara yang sangat lirih mirip seperti Laila.. Senja membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri, ia tidak mendapati apapun. Hanya ada beberapa keluarga yang sepertinya berniat untuk berziarah.
Senja tersenyum tipis, ia mengelus nisan yang kini tertuliskan nama 'Anjani' disana. "Aku tahu, Kak Anjani merasakan apa yang ku rasakan, mengapa Kakak harus pergi begitu cepat? Aku bahkan belum siap dan tidak akan pernah siap. Tunggu aku di sana, Kak! Aku menyayangi mu." Ucap Senja sembari mencium nisan itu saat ini tempat yang membuatnya tenang hanya ada 2 yaitu disini dan juga...
Senja segera berlalu pergi, ia hanya meninggalkan sebuah kecupan singkat dan juga sebuah bunga khusus untuk Anjani. 'Untuk sementara, aku akan kesana. Maafkan aku, Mas!.' Batin Senja yang kini masuk ke dalam taksi yang ia tumpangi, memang dirinya memerintahkan untuk menunggu supaya tidak pergi. Ia akan memberikan bayaran lebih.
Untuk saat ini, Senja tidak pergi ke rumah Arman dan juga Sinta. Ia belum siap untuk menceritakan semuanya, dirinya tak siap untuk menceritakan runtuyan sakit yang ia rasakan saat ini. Terlalu banyak luka yang harus ia tutupi saat ini juga, biarlah dirinya memendamnya terlebih.
__ADS_1