
"Mana berkas yang harus saya tanda tangani?." Tanya Dapa yang masih memasang wajah datar, ia ingin Sekretarisnya segera pergi dari sini.
Clara maju mendekati Dapa dengan cara yang akan membuat dirinya beruntung. Kini posis Clara sudah berada di pinggir Dapa, sedangkan si empu hanya pasrah saja, lagi pula itu tidak merugikam dirinya.
Dapa dengan segera menandatangi berkas tersebut tak kala Clara memberitahu letak di mana ia harus menandatangani nya, "sudah! Kamu bisa keluar." Ucap Dapa dingin, entah mengapa perasaannya tidak enak jika berdekatan dengan Sekretarisnya ini.
"Baik Pak, saya permisi." Ucap Clara yang kini bersiap untuk pergi, tapi ternyata sesuatu hal terjadi. Ini lah yang di inginkkan, 'saya akan mendapatkan anda.' Batin Dapa sembari tersenyum misterius.
BRUK!
Dilain sisi, Senja kini sudah sampai di kantor Dapa. Terpampang jelas nama "BAGASKARA COMPANY" yang kini direkturnya adalah Suaminya sendiri, Dapa.
"Bapak bisa pulang saja, saya akan pulang dengan Suami saya." Ucap Senja yang hanya di balas anggukkan cepat oleh supir yang kini mengantarkan Senja.
Setelah kepergian mobil yang membawa Senja kemari, segera dirinya masuk untuk menanyakan letak ruangan Dapa. Jujur saja, ia benar-benar tak tahu, dirinya hanya ingin memastikan saja supaya tidak salah ruangan apalagi jalan.
"Permisi! Ruangan Pak Dapa dimana yah?." Tanya ramah kepada resepsionis yang kini sedang berjaga, sangat cantik. ppiip.
"Apakah Nona sudah membuat janji dengan beliau?." Tanya sang resepsionis tersebut yang masih ramah kepada Senja.
"Belum, tapi saya Istrinya." Ucap Senja spontan yang langsung di beri kekehan kecil oleh resepsionis yang berjaga itu.
"Apakah Nona sedang melawak? Istri dari Pak Dapa adalah Ibu Anjani, beliau sudah meninggal beberapa minggu yang lalu. Jadi Nona jangan memberi kami identitas palsu, atau saya akan memanggil security untuk mengusir Nona." Ucap resepsionis yang kini tertawa remeh menatap Senja.
__ADS_1
DEG!
Hatinya serasa di pukul batu besar, ia melupakan jika pernikahannya hanya keluarga yang mengetahui. Bodoh sekali Senja mengatakan bahwa dirinya adalah 'Istri' dari direktur nya, sedangkan Dapa saja tidak menganggap dirinya Istri sekalipun. Miris sekali!
"Saya Asisten pribadi nya, saya ditugaskan untuk membawa makan siang kepada Pak Dapa." Ucap Senja yang kini harus berbohong, ada rasa sesak yang saat ini ia rasakan. Sebenci itukah Dapa kepada dirinya?.
"Baiklah, Nona. Ruangan Pak Dapa berada di lantai 15." Ucap resepsionis yang kini menatap Senja jengah, mungkin karena pengakuan pertama Senja yang mengatakan bahwa dirinya adalah 'Istri' dari Dapa.
Senja segera menuju lantai 15 ketika dirinya berterima kasih kepada resepsionis, sedih sekali dirinya yang tidak di kenal oleh semua orang sebagai 'Istri'. Memang benar, saat Senja di angkat menjadi anak angkat Dapa dan Anjani, semua berita itu di privat dan tidak ada yang mengetahui. Dapa memang menutupinya dengan sangat-sangat rapat.
Kini Senja sudah memasuki lift yang biasanya di pakai, ada beberapa karyawan di dalamnya yang kini sedang asik membicarakan atasannya. Mereka tidak mengetahui bahwa Senja yang berstatus sebagai Istri nya berada di situ.
"Tau ga? Pak Dapa di isukan lagi deket sama wanita." Ucap Karyawan A
"Iyakah? Aku baru dengar, tapi kalau iya gapapa lah! Kasihan Pak Dapa yang saat ini Duda, kalau dia ga galak, aku mau jadi Istrinya." Ucap Karyawan B
Senja kini hanya diam, ia tak mampu menyangkal segala perkataan yang di lontarkan oleh karyawan yang bekerja di kantor Dapa. 'Setidak tahu itu ya? Rasanya aku hanya aib bagi Mas Dapa, mengapa dia tidak mengakhiri ini saja? Banyak wanita yang ingin bersamanya, toh dirinya bisa hidup bebas.' Batin Senja yang kini tertawa miris mendengar pembicaraan dua karyawan itu.
Pinti lift terbuka, Senja segera mencari ruangan Dapa. Dirinya ingin membuang jauh-jauh pikiran negatifnya yang sudah bersangkar di kepalanya. Setelah menemukan nama ruangan 'Direktur', Senja segera membuka dengan hati-hati supaya kejutan yang ia rencanakan berhasil.
"Mas--"
DEG!
__ADS_1
Pemandangan di depannya ini tidak bisa membuat Senja bernafas untuk beberapa detik, seakan hati nya hancur saat ini sampai tupperware berisi makan siang yang ia bawa jatuh.
Kini pemandangan yang Senja lihat adalah Dapa sedang bersitatap dengan Clara dengan posisi yang cukup intim rasanya. Senja merasa keseimbangannya tidak bisa ia kontrol, ia ingin jatuh tapi dirinya coba untuk menahannya.
"Senja." Ucap Dapa lirih, ia segera mendorong Clara supaya posisinya kembali seperti semula, sedangkan Clara, ia tersenyum senang di dalam hatinya.
"Sa-saya mengganggu kegiatan kalian ya? Maafkan saya." Ucap Senja serak yang kini mencoba menahan air matanya supaya tidak jatuh, bohong jika matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Itu tidak seperti yang anda lihat, Nona. Jika boleh tahu anda siapa? Dan ada keperluan apa hingga lancang masuk tak mengetuk pintu terlebih dahulu." Tanya Clara yang kini menatap Senja tajam, ia merasa bahwa kehadiran Senja menganggu kegiatan nya tadi.
"Sa-saya Asisten pribadi Pak Dapa, maafkan saya! Saya kemari hanya ingin membawakan makan siang untuk Pak Dapa." Ucap Senja yang langsung mengambil Tupperware yang terjatuh tadi karena terkejut.
Senja meletakkan Tupperware tersebut di meja yang berfungsi untuk menerima tamu. "Saya permisi, terima kasih." Ucap Senja yang langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Dapa dan Clara.
Senja menangis lirih kala memasuki lift yang beruntungnya kosong, rasa sesak dan sakit bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Senja semakin menangis tak kala mengingat jika Dapa tidak berkata-kata apapun bahkan tidak mengejarnya saat dirinya menoleh ke belakang sebelum masuk ke dalam lift.
'Seperti inikah rasa sakit seorang Istri saat mengetahui bahwa sang Suami lebih mesra tehadap wanita selain dirinya? Aku memang masih labil dan belum dewasa seperti Kak Anjani, tapi mengapa rasa sakit nya sesakit ini, seharusnya Mas Dapa tidak melakukan ini.' Batin Senja terisak menangis sembari memukul dadanya yang terasa sakit. Tapi sepertinya, ini adalah kejutan yang sangat berkesan bagi Senja, hal mengejutkan ini mampu membuat Senja mengingatnya selalu.
Sedangkan di sisi lain, Dapa menatap Clara dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Antara marah, kesal menjadi satu. "Urusan saya dan anda belum selesai." Ucap Dapa yang langsung berlari pergi guna mengejar Senja yang tak lupa membawa makan siang yang sengaja Senja bawa.
Ia segera menaiki lift khusus untuk dirinya, beruntung ada lift yang hanya boleh Dapa memakainya. Ia hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi di ruangannya, itu tidak seperti yang Senja pikirkan.
Senja sudah sampai di bawah, ia segera berjalan cepat menuju luar kantor. Dirinya tak bisa berlama-lama disini, ingatan yang tadi sangat terngiang-ngiang di pikirannya. Dirinya hanya cukup menunggu taksi untuk membawa dirinya ke suatu tempat yang akan membuat dirinya tenang dan juga tentram.
__ADS_1
Saat ini Senja masih menunggu taksi yang tak kunjung datang, ia tak menyadari jika Dapa sudah berada di belakang hingga sampai dirinya memeluk Senja dari belakang. Dapa tak peduli dengan pikiran orang lain, yang saat ini ia pikirkan adalah pikiran Senja yang pasti merasa sakit. Mengapa dirinya sangat peduli dengan perasaan Senja?
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Bisik Dapa lirih, ia benar-benar mendekap Senja erat seperti tidak ingin melepaskannya. Entah mengapa ia takut Senja salah paham kepada dirinya, apakah yang terjadi dengan dirinya?.