Terpaksa Menikahi Anak Adopsi

Terpaksa Menikahi Anak Adopsi
Menemukan


__ADS_3

Kini Senja berada di kamar yang biasa ia gunakan di Panti Asuhan, ia sudah menceritakan semuanya kepada Ibu Ayu. Mendengar semua cerita Senja, tersirat rasa sedih dan bahagia campur aduk di dalam diri Ibu Ayu.


Senja termenung, ia seperti sudah tidak ada gairah hidup di dalam dirinya. Rasanya ia ingin memgakhiri hidupnya, ia tidak akan ada beban jika ia tidak ada di dunia kejam ini. Tapi, pesan yang di sampaikan Anjani, masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Ibu Ayu yang tanpa sengaja melintas di depan kamar Senja, melihat putri kesayangannya itu sedang termenung. Banyak luka dan kesedihan yang di rasakan dalam dirinya, Ibu Ayu tidak menyangka jika kehidupannya bisa sesakit dan sesedih ini. "Berapa banyak luka yang kamu tutupi, Senja?." Gumam Ibu Ayu sembari menitihkan air matanya yang merasa kasihan kepada Senja, ia tidak pernah menyangka akan seperti ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 yang berarti menandakan bahwa sudah pukul 4 sore, langit yang tadinya biru kini sudah menjadi malam. Senja tidak sama sekali bangkit dari posisinya, ia terlalu nyaman berada di sana. Terlihat seperti cuaca yang kini sudah berganti menjadi abu-abu yang menandakan hujan akan segera tiba.


DUAR!


Suara petir bergemuruh tak membuat Senja takut, ia masih menikmati suasana di depan jendela kamarnya. Ia terlalu larut dengan masalah hidup yang ia rasakan ini, tak ada yang bisa membuatnya berhenti memikirkannya.


Kini hujan deras sudah mengguyur kota yang Senja tempati, banyak sebagian penduduk disana bahagia karena hujan datang. Dan sebagian juga ada yang bersedih karena hujan datang, tapi kini Senja tergolong orang yang merasa bahagia karena hujan kini tiba. Ia bisa menikmati suasana hujan yang membuat hatinya serasa terobati sedikit, ia mengisyaratkan bahwa hujan menandakan bahwa bumi juga menangis melihat ada beberapa penghuninya yang saat ini sedang merasa sedih.


Senja bangkit dari posisinya, ia berjalan keluar kamar. Ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk menemukan Ibu Ayu, merasa tidak ada, Senja segera berjalan keluar dari Panti Asuhan. Ada satu tempat yang selalu Senja datangi jika sedang bersedih seperti ini, ia benar-benar membutuhkan tempat tersebut. Pakaian Senja kini sudah berganti dengan pakaian biasa, Ibu Ayu memerintahkan untuk mengganti bajunya karena melihat Senja yang serasa tidak nyaman.


Dilain sisi, Dapa sekarang sedang kelimpunan mencari Senja. Hujan yang deras tidak menyurutkan Dapa untuk berhenti mencari Senja, ia tidak akan menyerah hingga menemukannya. Di dalam hati Dapa, ia merasa kehilangan sosok gadis yang selalu memenuhi harinya, ia seperti tak sanggup jika kehilangannya.

__ADS_1


Dapa memarkir mobilnya sebentar, ia mencoba mengingat-ngingat tempat yang selalu Senja kunjungi. Ia lupa tempat favorit yang selalu Senja datangi, Dapa teringat kala ia berbincang dengan Senja 2 hari setelah Senja pindah ke rumahnya.


"Tempat favoritmu apa?." Tanya Dapa yang kini sedang duduk berdua dengan Senja, ia ingin tahu lebih jelas tentang anak angkatnya ini.


"Tempat favorit ku? Aku suka danau, aku suka hujan dan aku selalu .... " Dapa seketika teringat dengan pembicaraan waktu itu, sekarang ia tahu keberadaan Senja. "Saat sedang hujan seperti ini, pasti kamu sedang berada di sana." Gumam Dapa yang langsung melajukan mobilnya ke suatu tempat yang Senja katakan dulu.


Ia tersenyum tipis, berharap jika tempat yang ia datangi bisa menemukan Senja. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu, ia tidak akan pernah bisa. Dapa tidak akan melepaskan bahkan merelakan Senja bersama orang lain, dia akan bersama dirinya sampai kapanpun.


-


-


Dalam deras nya hujan, Senja menangis di sana. Ia menikmati hujan sembari menumpahkan segala rasa sakit yang selalu ia pendam, tak pernah ia menginginkan ini semua terjadi. Senja tetap tak bergeming untuk bangkit di sana, ia saat ini tetap duduk di sana. 'Aku sangat takut untuk kembali.' Batin Senja sembari menangis tak kuasa untuk menahannya.


Senja kini menatap langit yang saat ini di guyur oleh beribu-ribu hujan yang mengenai wajahnya. 'Mengapa aku lemah? Bahkan hujan saja tidak pernah takut untuk jatuh ke bumi meski ia akan hancur karena bertubrukan dengan aspal.' Batin Senja, ia menikmati suasana ini. Sudah lama ia tidak menikmatinya, terlalu banyak rasa sakit yang ia rasakan hingga mampu membuat dirinya lupa akan sesuatu yang selama ini membuatnya bahagia.


Ia diam di posisi duduknya, "aku lelah! Aku ingin melupakan sejenak semua masalah yang terjadi." Ucap Senja pelan, ia sama sekali tidak menyadari sekelilingnya, ia terlalu asik dengan dunia nya sendiri.

__ADS_1


"Aku takut kehilangannya, tapi aku juga tak sanggup jika harus bertahan bersama dirinya. Aku benar-benar takut kehilangannya, aku ingin bahagia bersamanya bukan menderita bersamanya." Gumam Senja kecil, ia menundukkan kepalanya sembari tersenyum miris.


Beberapa menit berlalu, Senja tidak merasakan air hujan mengguyurnya padahal hujan masih mengguyur kota tempat ia tinggal. Senja mengangkat kepalanya, sebuah payung yang kini melindungi tubuhnya agar tidak terkena deras nya hujan. 'Siapa?.' Batin Senja tanda tanya.


Senja seketika menatap ke arah bekalang, ia melihat wajah pria yang begitu sangat Senja hindari. Pria yang begitu membuat hatinya hancur kini berada tepat di hadapannya, ia seperti sedang bermimpi. "Mass.." lirih Senja yang seketika berdiri dari posisi duduknya.


"Akhirnya saya menemukan kamu!." Ucapnya yang tak lain adalah Dapa, ia kini terkena guyuran hujan karena payung yang ia bawa, ia pakai untuk melindungi Senja.


Senja tersadar dari lamunannya, dengan sigap Senja berniat melangkah pergi. Ia tidak mau bertemu dengan Dapa untuk waktu dekat ini, rasa sakit yang tadi ia rasakan muncul kembali. 'Aku harus pergi, aku belum siap.' Batin Senja yamg berniat berlari kecil.


Belum genap Senja berlari, Dapa dengan sigap mencekal lengannya. Payung yang Dapa gunakan untuk melindungi Senja dari hujan terjatuh, ia tidak memperdulikan itu. Dapa tidak akan membiarkan Senja untuk kembali hilang di dalam jangkaunnya, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Lepasin Mas! Kamu kenapa bisa ada di sini?." Ucap Senja, ia mencoba melepaskan cekalan tangan Dapa. Sekuat apapun Senja berusaha, itu akan sia-sia saja. Karena kekuatan Dapa dan dirinya jauh berbeda, ia tidak akan bisa lepas.


Dapa menarik Senja masuk ke dalam dekapannya, "saya akhirnya menemukan kamu." Ucap Dapa lirih, ia mendekap Senja begitu erat seakan tidak membiarkan Senja untuk pergi darinya kembali.


"Lepasin Mas! Aku mohon, beri aku waktu sendiri." Ucap Senja di dalam dekapan Dapa, air matanya kini tumpah kembali.

__ADS_1


Dapa menggeleng-gelengkan kepalanya, "saya tidak akan melepaskan kamu kembali, dan saya tidak akan membiarkan kamu sendiri." Ucap Dapa semakin mengeratkan pelukannya.


Kini hujan deras mengguyur kedua pasangan Suami Istri, biarkan mereka menikmati waktu-waktu yang tak bisa mereka lalui bersama seperti ini. Hanya keheningan yang ada di antara mereka, pikiran mereka yang berkecamuk.


__ADS_2