
Untuk saat ini, Senja tidak pergi ke rumah Arman dan juga Sinta. Ia belum siap untuk menceritakan semuanya, dirinya tak siap untuk menceritakan runtuyan sakit yang ia rasakan saat ini. Terlalu banyak luka yang harus ia tutupi saat ini juga, biarlah dirinya memendamnya terlebih dahulu.
Senja segera memerintahkan supir untuk segera melajukan mobilnya, yang akan membawa dia ke suatu tempat yang saat ini dirinya inginkan. Ada satu rumah yang tidak akan ia lupakan sampai kapanpun, Panti Asuhan!.
Berbeda dengan Senja, kini Dapa sedang bingung untuk mencari Senja kemana. Ingatannya serasa sirna saat keadaan genting seperti ini, ia sulit untuk menemukan tempat yang biasa Senja kunjungi selain, Makam Anjani. Yah! Dia pasti ada di sana, Dapa segera melajukan mobilnya ke sana.
Sesampainya disana, Dapa tidak menemukan Senja di sana. Tapi kini matanya tertuju ke arah bunga yang seperti nya baru saja di sini, Dapa yakin bahwa Senja sebelum dirinya. Ia ternyata terlambat, rasanya Dapa ingin berteriak keras untuk menemukan keberadaan Senja. 'Dimana kamu? Saya sulit menemukan kamu!.' Batin Dapa frustasi, ia berjongkok di depan nisan Anjani. Cinta pertama yang pernah singgah di hidupnya.
"Maafkan aku, sayang. Aku belum bisa memenuhi keinginan kamu untuk bisa membahagiakan Senja, aku terus menyakiti dan menyakitinya. Rasa benci dan juga dendam terlalu memenuhi raga dan jiwaku, maafkan aku!." Ucap Dapa lirih, ada rasa bersalah yang begitu besar saat ini. Ia tidak menginginkan ini terjadi, percayalah!.
Setelah itu, Dapa mengecup nisan yang bertuliskan nama Anjani. Mereka sama-sama melakukan hal yang sama, mereka sangat mencintai Anjani dengan sepenuh hati.
"Cintai Senjaaa mass..." suaraa itu seketika muncul di telinga Dapa, suara persis seperti Anjani dan benar-benar mirip. Dapa seketika diam sejenak, ia sangat rindu dengan suara itu, sangat-sangat rindu. 'Akan aku coba, sayang.' Batin Dapa yang kini sudah siap untuk pergi dari sana, mencari keberadaan Istri kecilnya. Istri kecil nya?.
"Saya akan menemukan kamu, Senja. Saya akan cari sampai dapat, tidak akan saya biarkan kamu lolos." Gumam Dapa kecil, ia bertekad dengan ucapannya.
__ADS_1
***
Senja berdiri tepat di Panti Asuhan yang selama ini merawatnya di saat kecil mula hingga ia besar sampai sekarang. "Aku kembali, bu. Aku butuh sandaran Ibu." Ucap Senja kecil yang mencoba menetralkan suasana hatinya yang masih hancur.
Setelah di rasa sudah tenang, Senja segera mengetuk pintu Panti Asuhan. Tak lama pintu tersebut terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang sudah tidak tua lagi umurnya, ia sangat terpaku dengan kedatangan Senja yang begitu mendadak. "Senja" Lirih nya.
Melihat itu, Senja berhambur ke dalam pelukan wanita tersebut yang tak lain adalah Ibu Ayu. "Aku rindu dengan Ibu, maafkan Senja yang baru datang menjenguk Ibu." Ucap Senja yang kembali menangis, ia tangis bahagia sekaligus tangis sakit. Entahlah! Ia tidak bisa membedakannya, mana tangis bahagia dan tangis terluka.
"Ibu juga rindu sama kamu, Senja. Ibu serasa kehilangan sosok anak yang ibu selalu rawat setiap hari, tapi Ibu tahu! Kamu sudah mempunyai keluarga baru yang begitu menyayangi kamu." Ucap Ibu Ayu sembari meneteskan air matanya, sedangkan Senja yang mendengar itu semakin menangis. Keluarga yang ia impikan saat itu serasa hancur, keluarga yang penuh dengan kehangatan dan juga kelembutan secara langsung sirna karena kejadian beberapa minggu lalu.
Ibu Ayu membawa Senja masuk ke dalam untuk beristirahat sejenak, ia tahu anak yang ia sayangi lelah karena perjalanannya. "Kamu mau minum, Senja? Ibu akan menyiapkannya." Ucap Ibu Ayu yang berniat bangkit untuk membawa minum.
Ibu Ayu tahu, putri kesayangannya saat ini sedang dalam masalah. Dengan sigap Ibu Ayu kembali duduk, ia bisa menatap wajah Senja yang begitu sangat sembab hingga terlihat bengkak. "Ada apa, Senja? Ceitakan kepada ibu! Jangan ada yang di tutupi, Ibu sangat khawatir." Ucap Ibu Ayu sembari mengelus punggung Senja dengan lembut, kasih sayang nya seperti kepada seorang anak kandung.
"Senja terluka, Bu. Senja sakit, kapan semua ini akan berakhir, Bu?. Senja tidak kuat menjalani hidup ini, Bu, jika bisa Senja ingin pergi bersama orang yang Senja sayangi." Ucap Senja yang menunduk, ia sudah terlalu lelah menangis hingga mengakibatkan air matanya tidak keluar lagi.
__ADS_1
"Terluka? Sakit? Berakhir? Maksud kamu apa, Senja? Kamu tenang, kontrol emosi kamu. Tarik nafas, setelah di rasa tenang kamu bisa bicara dengan baik-baik." Ucap Ibu Ayu yang kebingungan dengan sifat Senja yang begitu berubah sekarang, terlihat ada luka yang dalam di hatinya.
"Senja sudah menikah, bu." Ucap Senja yang memberi jeda sejenak, ia bisa melihat raut wajah Ibu Ayu yang sangat-sangat terkejut. "Dengan seorang lelaki yang tidak Senja sangka." Ucap Senja, ia sebenarnya sedih harus mengungkit rasa perih ini. Dimana sang Kakak sekaligus Mommy baginya harus pergi meninggalkan dirinya.
"Ibu Anjani meninggal, Bu." Ucap Senja lirih, ia bisa melihat raut wajah Ibu Ayu terkejut bukan main. Mungkin menurut Ibu Ayu itu serasa mimpi, dirinya baru bertemu dengan Anjani beberapa minggu yang lalu.
"Ibu Anjani meninggal karena hampir tertabrak mobil, beruntungnya Senja menyelamatkannya. Tapi tak di sangka, Senja mendorong terlalu keras Ibu Anjani hingga ia terbentur mengenai trotoar yang mengakibatkan pendarahan sangat banyak di kepalanya." Ucap Senja yang kini suaranya sudah serak, rasanya tenggorokannya tercekat karena sulit untuk mengatakan kejadian ini kembali.
"Ibu Anjani di larikan ke Rumah sakit milik Pak Dapa, ia berada di sana selama tiga hari. Ibu Anjani sadar setelah 2 hari koma, dirinya memberitahukan sebuah kejutan yang membuat Senja sangat terkejut bukan main." Ucap Senja kembali, ia menatap wajah Ibu Ayu yang begitu sangat lantip mendengarkan dirnya bercerita.
"Senja juga sudah menemukan orang tua Senja yang selama Senja cari, Senja sudah bertemu dengan mereka. Dan orang tua yang selama Senja cari adalah orang tua Ibu Anjani, yang bisa diartikan bahwa Ibu Anjani adalah Kakak Senja, bu." Ucap Senja, di saat itu dirinya bis merasakan rasa bahagia sekaligus sedih bercampur aduk disana.
"Orang tua Ibu Anjani, orang tua kamu, Senja? Senja hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Ibu Ayu, ia bisa melihat raut wajah keterkejutan Ibu Ayu yang begitu sangat dalam.
"Disaat Senja mengetahui berita itu, Senja sangat bahagia karena bisa dengan mudah mempertemukan Senja dengan orang tua kandung Senja yang selama ini di cari. Tapi di lain sisi, Senja sangat-sangat sedih karena di kabarkan bahwa Ibu Anjani meninggal. Hati Senja sangat hancur mendengar itu, Senja tidak menyangka ini semua terjadi."
__ADS_1
"Senja merasa bahwa kematian Ibu Anjani karena Senja, ia terbentur hingga menghilangkan darah yang begitu banyak. Apa benar Bu, ini salah Senja? Tanya Senja yang kini matanya sudah berkaca-kaca kembali. Ibu Ayu bisa melihat di matanya, tersirat luka batin yang Senja rasakan.
"Dan lelaki yang Senja nikahi adalah Pak Dapa, Suami Ibu Anjani sekaligus Kakak Senja Bu."