Terpaksa Menikahi Anak Adopsi

Terpaksa Menikahi Anak Adopsi
Selalu Terluka


__ADS_3

"Lepasin Mas! Aku mohon, beri aku waktu sendiri." Ucap Senja di dalam dekapan Dapa, air matanya kini tumpah kembali.


Dapa menggeleng-gelengkan kepalanya, "saya tidak akan melepaskan kamu kembali, dan saya tidak akan membiarkan kamu sendiri." Ucap Dapa semakin mengeratkan pelukannya.


Kini hujan deras mengguyur kedua pasangan Suami Istri, biarkan mereka menikmati waktu-waktu yang tak bisa mereka lalui bersama seperti ini. Hanya keheningan yang ada di antara mereka, pikiran mereka yang berkecamuk.


Senja mendorong Dapa kuat hingga sang empu terdorong cukup jauh, "Mas! Aku sudah memberikan kalian waktu, aku sudah memberikam kamu kebebasan untuk kamu mencoba mencari wanita yang kamu inginkan. Aku tidak ingin kamu terkekang, aku tidak ingin kamu tersakiti. Apa masih kurang, Mas? Aku sabar, aku tidak mempermasalahkan kamu tidak menganggap aku sebagai Istri kamu. Aku tidak peduli bagaimana sakit yang aku rasakan, apa masih kurang, Mas?. Masih kurang pende--"


Dapa memotong perkataan Senja dengan sebuah ciuman, ciuman yang tergerak dari dalam hatinya. Sedangkan Senja, ia terkejut bukan main. Senja mencoba mendorong Dapa, tetapi rasanya susah sekali, dekapannya terlalu kuat.


Di bawah guyuran hujan, Senja kini membiarkan Dapa mempermainkan bibirnya yang kini sudah membekak. Senja memejamkan matanya, rasanya ia hanya bermimpi. Jikapun memang mimpi, Senja berharap untuk tidak di bangunkan. Bahkan dirinya ingin selamanya seperti ini, ia tidak ingin bangun dari mimpi ini.


Beberapa menit berlalu, Dapa melepaskan pangutannya. Ia menatap Senja lekat yang kini juga menatap Dapa lekat, keduanya sama-sama saling menatap satu sama lain. "Maafkan saya." Ucap Dapa lirih, ia kembali memeluk Senja erat.


"Kenapa, mas? Kenapa kamu selalu menggoyahkan keyakinan aku? Kamu selalu membuat aku terlena, antara rasa sakit dan juga rasa nyaman." Ucap Senja di dalam pelukan Aldebaran, ia benar-benar di buat bingung dengan perlakuan Dapa yang terkadang membuatnya sakit dan terkadang membuatnya nyaman.


"Maaf! Maafkan saya!." Ucap Dapa, ia semakin mengeratkan pelukannya. 'Akhirnya saya menemukan kamu, Senja. Maafkan saya!.' Batin Dapa yang tanpa sadar mengecup berkali-kali pucuk rambut Senja.


***


Kini Dapa dan Senja terduduk di bangku yang berada di dekat Panti Asuhan, mereka berdua hanya diam tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan.

__ADS_1


Hujan kini sudah berhenti, menjadi sebuah sinar bulan yang menyinari mereka. Senja sudah di baluti oleh jas milik Dapa sedangkan Dapa masih menggunakan kemeja yang terkena guyuran hujan tadi sore.


"Maafkan saya!." Ucap Dapa kembali, entah sudah berapa kali Dapa mengucapkan kata 'maaf' kepada Senja.


"Sudah! Aku sudah memaafkan, Mas." Ucap Senja tanpa menatap wajah Dapa di sebelahnya. "Ada apa? Kenapa kesini?." Tanya Senja yang masih menatap lurus ke depan.


"Kenapa kesini?." Ulang kembali Dapa. "Saya kesini karena mencari kamu. Saya tahu kamu disini karena kamu pernah mengatakan bahwa tempat favoritmu di sini, bukan?." Tanya Dapa yang kini menatap Senja lekat.


Senja menatap Dapa, "seharusnya aku tidak mengatakan itu, aku pasti tidak akan di temukan bukan?." Ucap Senja sembari tersenyum tipis, ia lupa jika pernah mengatakan hal itu kepada Dapa.


"Walaupun kamu tidak mengatakannya kepada saya, saya akan tetap mencari kamu sampai ketemu." Ucap Dapa tegas. "Saya ingin menjelaskan kejadian tadi siang." Ucap Dapa yang merasa hawa dingin semakin membuat dirinya dan juga Senja menggigil kedinginan.


"Saya tidak ada hubungan apapun dengan dia, dia adalah Sekretaris baru di perusahaan saya. Tadi dia hampir terjatuh, saya tahu dia sengaja melakukannya. Entah apa motif nya dia melakukan seperti itu, saya benar-benar tidak tahu." Ucap Dapa mencoba menjelaskan hal yang terjadi siang tadi, ia tidak ingin Senja salah paham kepadanya.


"Dan saya tahu, kamu pasti berada di sini. Saya sudah berbicara dengan Ibu Ayu mengenai permasalahan saya dan kamu. Sebelum kesini, saya sudah menemuinya terlebih dahulu." Ucap Dapa kembali, untuk kesekian kalinya tak ada jawaban dari Senja.


"Setelah menemukan aku, kamu mau apa Mas? Tanya Senja yang kini menatap lekat Dapa. "Saya akan membawa kamu pulang bersama saya." Ucap Dapa tegas seperti tidak ingin di bantah sama sekali.


"Aku gak mau, Mas. Aku masih pingin di sini!." Ucap Senja yakin, ia ingin memikirkan hal selanjutnya akan seperti apa. "Tidak! Kamu akan tetap ikut saya pulang." Ucap Dapa tegas, "saya tidak terima bantahan." Imbuhnya.


"Saya akan mencoba untuk mencintai kamu." Ucap Dapa yang mampu membuat Senja menatap Dapa lekat. "Saya akan mencoba menerima kamu menjadi Istri saya, lagi pula berita tentang kamu dan saya sudah menyebar di internet. Para wartawan sedang mencari saya untuk mencari kebenaran yang terjadi diantara kita." Ucap Dapa yang sudah di beritahukan oleh orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Kenapa mencoba mencintai aku, Mas? Tanya Senja, ia berharap jawaban yang Dapa ungkapkan mampu membuat hati Senja bisa menerima kembali Dapa.


"Karena Anjani, saya ingin memenuhi keinginan dam pesannya. Dia meminta saya untuk mencintai kamu, menerima kamu, dan menjaga kamu." Ucap Dapa, dan bisakah kalian bayangkan keadaan Senja sekarang?.


Senja kini mematung mendengar jawaban Dapa, ia salah menebak jawaban yang di ungkapkannya. 'Baru beberapa menit yang lalu kamu membuat aku nyaman, Mas. Tapi sekarang, kamu membuat aku sakit kembali. Aku kira, kamu mencoba mencintai aku karena keinginan kamu sendiri, ternyata salah! Kamu mencoba mencintai aku karena pesan dari Kak Anjani.' Batin Senja yang tanpa sadar air matanya jatuh, kembali terluka adalah hal biasa untuk Senja. Ia hanya perlu menikmati rasa sakit itu, kemudian sembuh untuk kesekian kalinya.


Senja berdiri dari posisi duduknya, ia menatap Dapa lekat yang kini posisinya masih duduk memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Senja. "Jangan mencoba mencintai aku jika membuat mu tersiksa, aku tidak akan memaksa untuk kamu mencintai aku, Mas." Ucap Senja yang melepas jas milik Dapa kemudian memberikannya kepada sang pemilik.


"Jemput aku besok, Mas. Untuk malam ini, biarkan aku sendiri. Aku tidak mau kamu menunggu aku karena seseorang. Terima kasih." Ucap Senja kemudian berlalu dari hadapan Dapa, ia tidak sama sekali berbalik ke arah belakang.


'Mencintai aku karena orang lain? Apa mencium ku juga karena perintah juga, mas?.' Batin Senja sembari tertawa hambar yang serasa keseimbangannya hampir tumbang tapi mencoba ia tahan.


Senja kini sudah berada di depan pintu Panti Asuhan, dirinya mencoba menahan rasa pusing di kepalanya yang semakin menjadi. Senja tidak boleh sakit, ia harus kuat.


Tiba-tiba pintu terbuka, memperlihatkan Ibu Ayu yang kini menatap Senja terkejut karena pakaiannya yang basah. "Senja, kenapa bisa seperti ini." Ucap Ibu Ayu yang terlihat jelas rasa khawatirnya.


Senja hanya tersenyum tipis, "Bu, aku ingin disini bersama Ibu. Aku belum mau pulang, Bu." Ucap Senja lirih yang kini berniat melangkah mendekati Ibu Ayu.


BRUK!


"SENJAAA!." Teriak Ibu Ayu kala melihat Senja terkulai pingsan di hadapannya, segera Ibu Ayu menghampiri Senja yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ya Allah, Senja . Ada apa sama kamu?." Ucap Ibu Ayu yang kini sudah berlinang air mata melihat keadaan Senja yang memprihatinkan.


"Biarkan saya yang mengangkatnya." Ucap seseorang yang tersirat sedikit rasa khawatir di balik matanya. Sedangkan Ibu Ayu menatap seseorang tersebut dengan pandangan tajam, "Anda?."


__ADS_2