
Di saat Vivian sedang mengemasi barang-barangnya untuk pulang, seseorang datang untuk bertemu dengan nya.
"Nona Vivian, kan ...?" tanya orang berjas hitam itu.
"Iya, Pak ..." jawab Vivian dengan heran
"Duduklah dulu Nona ... ada hal yang harus saya bicarakan dengan Nona, saya adalah pengacara Nona Renata" ucap Orang itu yang langsung membuat jantung Vivian berdegup kencang.
Ia selalu begitu jika mendengar nama Renata.
Dengan cepat, Vivian duduk di hadapan orang itu.
"Pak, apakah ada kabar dari Renata ...? apakah dia baik-baik saja ... ?" Vivian terlihat begitu antusias
Pengacara itu tersenyum dan membelai kepala Vivian layaknya seorang ayah pada anaknya.
"Renata sudah aku anggap seperti anakku sendiri, tidak salah jika ia begitu menyayangi mu sebagai saudara, tidak ada kabar apapun tentang Renata, semuanya seperti sudah usai" ucap pengacara itu dengan nada sedih.
"Saya kesini ... untuk memberi tahu mu satu hal, Renata memiliki sebuah Ruko berlantai dua, ia beli sekitar tiga bulan yang lalu, tapi beberapa Minggu yang lalu, dia membalikkan nama Ruko itu atas namamu, sekarang ... terima lah surat-surat ini" ucap pengacara itu pada Vivian. .
"Tidak, tidak pak, saya tidak bisa menerima apapun dari Renata" ucap Vivian dengan derai air mata.
"Terimalah, demi melancarkan balas dendam mu pada orang yang telah menyakiti Renata, aku ... aku akan berdiri di belakang mu" pengacara itu menatap Vivian penuh harapan.
"Apakah ... Bapak juga berfikir seperti ku ...?" tanya ragu Vivian
"Ya, kecelakaan ini ... sudah di rencanakan, sayang nya keluarganya sudah menutup kasus ini, dengan alasan agar Renata tenang di alam nya, Nak ... kau adalah sahabat sekaligus orang yang begitu Renata sayangi, saya banyak berharap padamu" Mata pengacara itu berkaca saat menatap Vivian.
"Secepat nya ... secepatnya saya akan mengungkapkan siapa pelaku nya Pak, saya akan membuat orang yang mencelakai Renata membusuk di penjara" ucap Vivian dengan yakin.
"Baiklah ... simpan lah surat-surat ini, kau butuh ini untuk mendukung mu" ucap Pengacara itu.
Ia pun berpamitan untuk pergi, begitupun dengan Vivian, ia memasukkan berkas itu kedalam Ranselnya.
Lalu ia juga pergi dari tempat nya bekerja.
__ADS_1
Ia mengendarai motornya dengan pikiran yang tidak menentu, ia baru teringat bahwa Mario masih menunggu nya untuk mencari bukti bersama setelah ini.
Dengan cepat, Vivian kembali ke kediaman Adam.
Di saat Vivian baru sampai, mobil Adam juga sudah sampai.
Namun ... Vivian memilih untuk mengabaikan nya dan segera berlalu masuk ke kamarnya terlebih dahulu.
Dan itu berhasil membuat Adam geram sendiri, kaena merasa di abaikan.
"Adam,apa yang kau lakukan ... ?" tanya sang kakek saat melihat Adam terburu-buru berjalan menuju ke kamarnya.
"Eh, kakek. Tidak Adam, hanya ingin segera istirahat, ya .. istirahat kek" jawab gugup Adam.
"Kau jangan menyalahkan istrimu atas apa yang kau rasakan semalam, kau tentu tahu jelas siapa yang melakukan nya" ucap sang kakek seraya berlalu meninggalkan Adam.
Tentu adam tertegun mendengar ucapan Kakeknya, berarti ia juga salah telah berfikir itu adalah jebakan dari Vivian.
'Sial ...' rutuk Adam
Adam pun melangkahkan kakinya dengan pelan, ia merasa malu sendiri atas apa yang ia lakukan semalam.
Tatapan mereka terhenti sejenak, namun ... beberapa saat Vivian memilih abai pada keberadaan Adam.
Vivian lebih memilih meninggalkan kamarnya saat ia sudah menyisir rambutnya.
Adam menatap kepergian Vivian, ia bisa menangkap raut wajah kebencian dalam dirinya.
'Apakah aku salah faham sama dia ... ? ah sial ... apa yang di katakan Tante ... apakah itu salah ... ?' Adam ingat hari itu, Mama tiri Renata mendatanginya, ia menangis menceritakan perihal persahabatan putrinya, ia bilang kalau Vivian hanyalah baik di depan, namun ... di belakang Vivian menginginkan kehidupan Renata.
Adam semakin kesal saat mengingat itu, karena kenyataannya semuanya jauh dari prediksi nya.
Adam segera membersihkan dirinya lalu segera mencari Vivian, namun ... ia melihat ia sedang mengobrol dengan Mario di taman belakang.
"Aku sudah membaca semua buku kecil itu, ada 2 orang yang aku curigai, tentu kau bisa menebak siapa orang itu, tapi... kita butuh bukti nyata, jika hanya karena tulisan ini ... semua orang bisa mengelak nya" ucap Mario
__ADS_1
"Mamanya dan adiknya, apakah kau juga berfikir demikian ...?" ucap Vivian dengan tatapan lurus kedepan.
"Kau sangat tepat, lalu apa rencana mu ...?" tanya Mario
"Apakah kau dan Alexa pernah bertemu ...?" tanya balik Vivian
"Tidak, tidak pernah kenapa ...?" tanya Mario
"Dekati dia, dia orangnya mudah di pancing, aku akan mencari bukti melalui Mamanya" ucap Vivian.
"Bisa tidak, kalau bicara dengan ku jangan kaku begitu, menyeramkan tau ...! apakah kau ada keturunan Mafia sebelumnya, kenapa Aura mu menakutkan ... ?" ucap Mario yang berniat untuk bercanda, Namun Vivian tidak ingin bercanda akan hal ini, ia secepatnya harus bisa mengungkapkan semua ini, agar dia bisa segera pergi dari rumah yang dia anggap sebagai neraka kedua.
"Tuan Mario ... terima kasih, karena anda sudah mau membantu saya untuk mendapatkan keadilan pada sahabat saya, jika sudah tidak ada yang bisa kita bicarakan, aku pergi dulu" Vivian berkata sambil berlalu, mengambil buku kecil yang masih di pegang Mario.
'Benar-benar wanita yang serem' bathin Mario sambil menatap Vivian yang sudah menjauh.
Adam yang melihat Kepergian Vivian, langsung menghampiri Mario yang masih menatap arah Vivian.
"Jangan bilang, kalau kau naksir dia ...?" Adam menepuk pundak Mario yang masih melamun.
"Kau bicara apa, Dam ... dia istrimu, mana boleh aku menyukai nya" Mario tersenyum melihat kearah Adam.
"Tapi, dia keren loh ... Aura nya sangat kuat, sepertinya ia menyimpan rasa dendam dan amarah yang besar, yang mana semuanya akan meluap suatu saat nanti" ucap Mario.
Tatapan Adam dan Mario saling beradu.
"Kau masih sama, jiwa sok tahu kamu ini memang tidak bisa hilang" ucap Adam
"Beneran loh Dam, dia tidak ada senyum-senyum sama sekali, kau tahu ... ia akan balas dendam pada ... pada ... " Mario menghentikan ucapannya kala mengingat kalau itu adalah rahasia antara dirinya dan juga Vivian, hampir saja keceplosan.
"Balas dendam pada siapa ...hah?" tanya Adam
"Balas dendam ... balas dendam padamu ... ya ... padamu, dia terlihat begitu marah padamu" ucap gugup Mario
"Benarkah ...? akan aku tunggu,balas dendam yang bagaimana yang akan ia lakukan padaku" Adam seolah meremehkan amarah Vivian.
__ADS_1
Sedangkan Vivian sudah ada di dalam kamarnya, ia menatap ponselnya, ia menatap sebuah foto yang selalu aktif di sosial media nya.
"Tunggu sebentar lagi ... sebentar lagi kalian akan hancur dalam tangan ku" ucap Vivian.