
Vivian berusaha menanamkan kepercayaan pada ketua polisi itu, Iya berharap polisi yang menangani kasus Renata bisa melakukan keadilan terhadapnya, meskipun Vivian bisa saja membayar mahal pada mereka yang menyelidiki kasus nenek tak hanya saja Vivian ingin melihat kesungguhan dan pekerjaan seorang polisi.
"Terima kasih Pak Adnan, saya sangat berhutang nudi pada anda" ucap Vivi
"ini memang sudah pekerjaan kami Nona, Terima kasih juga karena Nona sudah mau terjun langsung mencari banyak bukti tentang kasus Nona Renata, ucap Pak Adnan
"Sama-sama, kalau begitu ... saya permisi," ucap Vivian Seraya keluar dari ruangan Pak Adnan.
sedikit demi sedikit perasaan Vivian mulai merasa lega ia juga bisa tersenyum puas melihat kedua wanita yang selama ini sudah membuat Renata menderita ini berada dalam introgasi polisi.
"sekarang aku harus menemui pria b*jing*n itu,"ucap Vivian pada diri sendiri
*****
tanpa terasa waktu semakin berlalu Vivian kini sudah sampai di depan rumah Adamshon, Iya berusaha menetralkan perasaannya, menahan segala amarah dan kekecewaannya tentang apa yang Alexa katakan, Benarkah ada makan melindungi Diva atas apa yang sudah Diva lakukan pada Renata. Jika benar Adam akan melakukan itu Vivian bersumpah akan membawa Diva dengan tangannya sendiri.
"Vivian, kau sudah datang? bagaimana pekerjaan mu,?" tanya Kakeknya Adam
"Seperti hari biasanya, Kek." ucap Vivian seraya duduk di samping kakeknya Adam.
"Kakek sudah minum obat ?" Tanya Vivian
"Sudah, itu gelasnya belum di pindahkan," ucap sang kakek seraya mengelus kepala Vivian.
"Jangan terlalu lelah, Kakek tahu, kakek tidak memiliki hak untuk menahan mu, tapi nak ... itu sudah ada tugasnya masing-masing, serahkan sama pihak yang berwajib," ucap Kakeknya Adam
"Aku tahu itu, kek. aku akan berhenti jika mereka sudah masuk kedalam penjara, dan aku akan tersenyum lepas melihat kejadian itu, mungkin masuk dalam penjara bukanlah hukuman yang setimpal untuk mereka, andai saja ... di Negara ini tidak ada hukum, aku lebih memilih mereka menyusul Renata," ucap Vivian dengan sorot mata yang menatap lurus dan amarah yang kentara.
*****
__ADS_1
"Nona Vivian sempat datang ke kantor polisi, dan ia sudah tahu kalau ternyata orang ketiga itu adalah Nona Diva," ucap anak buah Adam
"Lalu apa reaksinya?" tanya Adam
"Nona dan Pak Adnan juga akan membuat interogasi pada anda, mengingat anda adalah kekasih Nona Diva," ucap Anak buah Adam
"ckkkk, bahkan ia mencurigai ku," umpat Adam
"Tentu aku mencurigai mu, Tuan Adamshon," ucap tiba-tiba Vivian dari arah pintu, tubuhnya ia sandarkan ke tiang pintu dengan tangan yang menyendekap di depan dada, kepalanya ia miringkan sehingga tersentuh tiang pintu.
"Bukan hanya saya, tapi ... semua yang tahu akan sikap anda pada Renata,mereka juga pasti akan mencurigai anda, Apalagi dengan pelaku utamanya adalah kekasih anda, tidak menutup kemungkinan, kalian merencanakan kecelakaan Renata agar kalian bisa menikah, ckkkk ... dan kau pura-pura marah, emosi bahkan menuduh ku, tanpa bukti, tapi sekarang ... ! bukti sudah banyak mengarah pada anda juga, kan?" ucap Vivian yang masih berdiri ditempat yang sama.
"Kemarilah," ucap Adam seraya mengulurkan tangannya pada Vivian, Vivian tersenyum meremehkan dan mengabaikan uluran tangan Adam.
"Vivian, aku tahu ... kamu membenci ku_"
"Aku tahu, tapi percayalah ... bukan aku pelaku nya, dan juga ... aku tidak tahu tentang rencana pembunuhan ini," ucap Adam seraya membalas tatapan Vivian.
Lama tatapan itu terkunci dengan begitu lama, sehingga membuat Adam kalah dan memalingkan wajahnya, Entah kenapa berhadapan dengan Vivian, gelora jiwanya bangkit, hasr*t nya ingin segera ia salurkan. Menatap wajah Vivian dengan lama malah semakin membuat jiwanya tersiksa.
Vivian tersenyum kecut saat mendapatkan wajah Adamshon yang memerah.
"Kau pengecut, Tuan Adamshon Rajipta," ucap Vivian seraya meninggalkan Adamshon dan masuk kedalam kamar mandi. Adam yang menyadari bahwa di ruangan itu masih ada anak buahnya Iya langsung mengubah wajahnya yang memerah karena g*irah menjadi tegas dan menyeramkan.
"Pergilah jika ada sesuatu segera kabarin aku," ucap Adam seraya mengibas kan tangannya.
"Baik, Tuan" ucap anak buahnya Adam. setelah mengucapkan itu ia pun berlalu dari ruang atau kamar adamson.
Adam lagi dan lagi mengusap kasar pada rambutnya. ia selalu merasakan perubahan pada dirinya saat bersama Vivian, Sedang kan,pada Diva ia hanya merasakan cinta tanpa ada gair*h sama sekali.
__ADS_1
'Hak istimewa apa yang ia miliki, Kemarahannya, sikap pemberani ya, atau ... karena dia satu-satunya yang menolak ku, bahkan terang-terangan mengatakan kalau ia sangat membenciku, Aku tahu ... aku hanya penasaran padanya, tapi apakah harus menyiksa diri sendiri seperti ini,' bathin Adam seraya terus menatap pemandangan luar dari jendela kamarnya.
Sedangkan Vivian bersenandung di guyuran air shower, Ia menikmati kebahagiaan nya di hari ini, ini adalah satu titik kemenangan baginya, perlahan orang yang melakukan ketidak Adilan pada sahabat nya sudah terungkap, hanya menunggu hukuman bagi mereka lalu, Cuss ... Vivian akan pergi jauh dari kehidupan Adamshon .
"Adnan, kau sangat tahu kan, bagaimana Adam, ia tidak mungkin akan memberikan Diva pada kita, kecuali kita yang bergerak sendiri," ucap Mario
"Apa yang kau katakan sama persis dengan apa yang Vivian katakan," ucap Adnan
"Karena Diva adalah cintanya Adamshon, Nan" ucap Mario menahan kesal.
Ia tidak menyangka bahwa Diva lah dalang dari semua ini, pasti kemarahan Vivian akan bertambah.
"Mario, kau tenanglah, kami pasti akan segera menangkap Diva, tapi ... sesuai permintaan Vivian, kedua wanita itu harus kami tahan, agar tidak merencanakan hal yang lainnya bersama pelaku yang belum tertangkap," ucap Adnan.
"Setuju," ucap Mario dengan cepat.
"Seperti nya Vivian sangat cocok di jadikan polisi wanita, aku lihat ketegasan dan kekuatan pada dirinya m, sangat keren," puji Adnan
"Sayang nya dia tidak mungkin akan menjadi polwan, hahahah" ucap Mario dengan tawanya.
"Ckkkk, coba saja kalau belum nikah, udah aku jadikan dia istri ku," ucap Adnan tanpa sengaja
"Mau kau sama wanita garang macam dia,?" tanya Mario
"Dia galak dan pemarah pada seseorang yang ia benci, itu wajar lah, tapi aku bisa melihat, dia baik dan penuh kasih sayang, coba kau pikirkan, dia hanyalah sahabat Renata tapi Iya berani mengambil langkah yang berbahaya ini sedangkan Papanya Renata, Adamshon yang sebagai tunangannya, apa yang mereka lakukan untuk Renata? tidak ada, Vivian yang melakukan semuanya sehingga perlahan bukti itu terlihat dan para pelaku tertangkap," puji Adnan, Mario membenarkan semua yang Adnan katakan. Tidak ada yang merasa kehilangan akan Renata kecuali Vivian.
*****
"Kalian tidak bisa menahan kami, lepaskan kami, jangan kurung kami disini ... " teriak Mama tirinya Renata.
__ADS_1