
Benar saja malam ini, setelah melakukan pelepasan di rahim Vivian, Adam melakukan penebangan ke tempat dimana sang kekasih tinggal.
Ada rasa amarah, namun egonya selalu berkata bahwa, Diva bukanlah gadis yang berkhianat. ia sudah menjalin hubungan dengan nya sudah lama, dan Adam sangat yakin dengan cintanya itu.
Sedang kan Vivian yang mengetahui kepergian Adam merasa lega, setidaknya ia merasa aman tidak bertemu dengan Adam selama beberapa jam,ia berdoa semoga Adam lama juga pergi ya, atau bisa sangat lama, sampai misinya selesai dan ia akan pergi tanpa jejak.
"Tuan, kita sudah sampai " ucap Asisten nya Adam saat pesawat sudah mendarat.
Adam membuka matanya yang masih terasa lelah.
Mengingat lagi foto itu, kantuknya tiba-tiba hilang. Amarahnya tiba-tiba terlihat jelas saat ia melihat pesan dari nomor yang sama.
"Tuan tidak kah Tuan akan istirahat dulu di hotel ?" tanya sang Asisten
"Langsung ketempat Diva" perintah Adam yang langsung berjalan meninggalkan Asisten nya.
Adam mengepal kan tangannya. ia tidak menyangka bahwa Diva bisa melakukan hal serendah itu di belakang nya.
Dan yang semakin membuat nya penasaran adalah, siapa pengirim pesan itu.
"Kau cari tau siapa pemilik kontak ini " Adam menyerahkan ponsel nya pada Asisten nya yang sedang menyetir mobil.
"Baik Tuan, sesampainya di sana saya akan mencari tahu pemilik nya" ucap Asisten itu.
Malam semakin larut namun kemarahan Adam belum juga reda, ia sudah sampai di depan kamar dimana Diva menginap selama ini.
Ya hotel mewah yang masih ada dalam naungan keluarga Adamson
Tangan Adam mengangkat, bertanda ia minta kunci cadangan kamar itu, tentu kepala hotel itu langsung memberikan nya.
"kalian pergilah, ini akan menjadi hal yang harus kalian rahasiakan, tutup mata dan telinga kalian, mengerti ... !" ucap Adam
"Mengerti Tuan"
Kepala hotel dan beberapa pelayan pun pergi hanya tersisa Asisten nya.
Adam pun membuka kamar itu, perlahan ia masuk, ada rasa yang tak bisa Adam gambarkan, semoga kabar itu adalah kebohongan belaka, ia hanya ingin membuktikan bahwa Diva bukanlah wanita yang ada di gambar itu, iya hanya ingin memastikan bahwa, Diva wanita baik-baik.
Namun ... semua prasangka itu hilang saat ia mendengar suara des*h*n dari arah balkon.
Detak jantung Adam semakin berpacu cepat, ia ingin menutup telinga nya saat suara itu semakin jelas terdengar di telinga nya.
__ADS_1
Candaan dengan nafas yang tersengal-sengal semakin membuat amarah Adam naik, Iya sangat hafal dengan suara itu.
Suara yang selalu membuat ia tenang kala hatinya sedang marah.
Namun, kini ... suara itulah yang membuat nya semakin marah
di ruangan yang gelap, ia melihat cahaya samar benar itu adalah arah balkon.
Di sana ia melihat dua manusia yang sedang memadu kasih, Sang wanita menduduki sang pria yang duduk di sebuah kursi.
Tubuhnya tidak ada kain penutup, rambutnya sudah basah dengan peluh.
Suara irama yang merdu semakin terdengar jelas, tentu ... Adam langsung menyambar Vas bunga yang ada di atas meja membawanya dengan penuh amarah.
Sesampainya di dekat dua manusia itu, Adam langsung melempar Vas bunga itu yang niatnya ingin Adam lempar kan pada sang pria, namun nyatanya, dahi Diva yang terkena.
Aaaa ...
Teriak Diva kala melihat dahinya sudah berdarah, betapa terkejutnya pria dan wanita itu, mereka langsung berdiri dan menutup barang berharga mereka.
"A .. adam ...." ucap gugup Diva.
Adam langsung mendekati mereka menghajar sang pria, sedangkan tangan satunya menarik rambut Diva.
"Murahan kau ... !" teriak Adam seraya menyeret rambut Diva sambil menghajar sang pria
"Adam ... adam lepaskan aku, kau tidak ada hak untuk melakukan ini padaku ... !" teriak Diva dengan begitu lantang.
Seketika Adam berhenti menghajar lelaki itu dan beralih menatap Diva yang masih tel*anjg bulat.
"Tidak punya hak, aku tidak punya hak untukmu, hebat kau Diva ... hebat "ucap Adam
"Lalu bagaimana denganmu ... ! kau di sana bersenang-senang dengan istrimu lalu aku ... apakah kau berfikir aku wanita bodoh, kau bilang aku murahan kan ... ? lalu bagaimana dengan istrimu ... ? dia jauh lebih murahan dariku? demi naik keranjang mu ia melakukan hal rendahan dan membunuh wanita lain ... "
Plak ...
Tamparan keras mengenai pipi Diva.
"Bahkan mulutmu saja tidak pantas untuk menyebut tentang nya, dia jauh lebih terhormat darimu, setidaknya ia menyerahkan dirinya pada orang yang sudah menjadi suaminya. Diva, mulai sekarang semua akses milikmu yang aku berikan, sudah tidak bisa kau pakai lagi, dan .... ingatlah jika malam ini kalian masih disini, kau harus bayar uang kamar nya juga, sekalian kau jual tubuhmu di rumah bordil" ucap Adam yang langsung menghempaskan rambut Diva.
Aaa ...
__ADS_1
Teriak Diva yang masih terdengar jelas oleh Adam, Diva menjatuhkan tubuhnya di lantai sedangkan sang pria menahan sakit di bagian pipi dan bibir bawahnya.
"Bajing*n kau Adam, Aku hanya bersenang-senang, dan kau keterlaluan begini padaku!" teriak Diva
*****
"Tuan ... !" ucap sang Asisten
"Kita kembali malam ini juga" ucap Adam
"Tapi kita tidak bisa kembali malam ini tuan,, Tuan Fedli ingin bertemu dengan anda mumpung anda ada di sini" ucap sang Asisten
"Baiklah," Adam langsung meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamar yang sudah menjadi kamarnya saat ia berkunjung.
Rasanya sangat lelah sekali malam ini.
'Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaan di sini, setelah itu ... aku akan menemui nya, aku akan meluruskan kesalahpahaman ini, dan aku juga ingin minta maaf padanya' bathin Adam seraya membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.
Tangannya terasa panas karena memukul tadi.
Tapi hatinya merasa lega.
Rasa lelahnya telah membawanya kedalam mimpi, Ia tertidur dengan posisi tengkurap.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari, sehingga saat jam sidah menunjukkan pukul 10 siang, Adam masih belum bangun juga.
*****
"Adam pergi ... ?" tanya sang kakek
"Iya kek, semalam ia bilang ada urusan pekerjaan yang sangat penting" ucap Vivian seraya menikmati sarapan paginya.
"Adam sebenarnya adalah anak yang baik, kakek juga tahu, kalau dia memiliki kekasih, tapi Kakek tidak menyukai nya, kakek sangat menyukai Renata, kau adalah pilihannya, tentu kau sama dengan Renata, Nak ... sabarlah dalam menghadapinya" ucap sang kakek.
Vivian hanya tersenyum kala mendengar ucapan sang kakek.
Vivian bukanlah membenci Adam karena sifat dan sikap nya, tapi karena Vivian tidak cinta pada Adam, di tambah lagi dengan sikap Adam yang menurut nya sudah sangat keterlaluan, menuduhnya sebagai pembunuh sahabatnya, menuduhnya menjebak dirinya agar bisa naik keatas ranjang, serta kata murah*n yang selalu ia lontarkan pada Vivian.
Vivian marah karena Adam telah mengabaikan perasaan sahabat nya selama ini.
Vivian menarik nafas nya dalam-dalam, ia sudah ada janji dengan seseorang, kasus Renata sudah di buka lagi berkat bantuan pengacara Vivian.
__ADS_1