
Waktu berjalan dengan begitu cepat, bangunan pencakar langit terlihat indah di malam hari, semua orang kini menikmati suasana malam dengan begitu bahagia, Ada yang nongkrong di jalan ada pula di sebuah cafe.
Sedangkan Vivian kini lebih memilih menikmati malam dengan sang kakek mertua.
"Kakek sudah mendengar tentang kasus Renata, Vivian, terimakasih karena sudah mau memperjuangkan keadilan untuk Renata," ucap sang kakek
"Kek, Renata adalah keluarga bagiku, sudah banyak kisah yang aku.lalui dengannya, aku sendiri di dunia ini, hanya Renata yang dekat denganku, dia sahabat yang paling aku sayangi, dia berteman denganku tanpa memandang aku ini dari keluarga mana, dan sekarang ... di saat ia mendapat kan hal seperti ini, apakah aku bisa diam? Dia adalah tujuan utamaku setelah ini, entah tujuan apa yang ingin aku gapai, rasanya sudah tak memiliki semangat," ucap Vivian tersenyum hambar pada sang kakek.
"Kau masih punya satu tujuan, Nak. melahirkan cicit untuk kakek," ucap sang kakek yang mana membuat Vivian berhenti tersenyum.
Ia lebih memilih untuk diam, ia juga tidak tahu, dua kali ia melakukan hubungan itu, entah janin itu akan tumbuh atau tidak. Namun ... tekad untuk pergi dari sisi Adam adalah satu-satunya yang menjadi cita-cita bagi Vivian.
Selain rasa bencinya, tidak ada rasa yang lain yang ada di hatinya. Mengingat apa yang sudah Adam lakukan padanya dan juga ada Daniel, orang yang paling ia cintai dalam hidupnya selain sahabatnya itu.
Sikap arogan dan sok berkuasa nya, adalah hal yang ingin Vivian hindari.
"Baiklah, Kek. ini sudah malam, kakek istirahat, kakek baru sampai kan?" ucap Vivian
"Kau benar, rasanya tubuh kakek ini lelah sekali, kau juga istirahat lah, angin malam tak baik untuk kesehatan" ucap sang kakek seraya menyentuh pucuk kepala Vivian.
Vivian tidak ingin hatinya ragu, saat mendapat kan perhatian yang tulus dari kakeknya Adam. ia lebih memilih untuk menutup hatinya pada orang-orang di sekitar Adam.
Rembulan kini telah meninggal kan tempat nya dan di gantikan dengan mentari.
Adam baru tiba di rumahnya saat mentari masih muncul dengan sembunyi-sembunyi. Di kamarnya ia mendapat kan Vivian yang sudah tidak ada.
"Sepagi ini, apakah dia sudah bangun ?" gumam Adam
Lalu ia mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Adam tersenyum tanpa ia sadari.
'Kau pasti sangat membenciku, bencilah aku ... tapi akan aku buat kau tak bisa pergi dariku,' bathin Adam seraya menatap pintu kamar mandi yang mana masih tertutup.
__ADS_1
[Tuan, Jam 8 mereka akan di bawa ke kantor polisi untuk di interogasi] pesan anak buah Adam.
[Baiklah, aku akan datang ke kantor polisi, Kalina selidiki juga siapa orang ketiga, dia dekat denganku atau Renata, tidak ada ciri-ciri nya sama sekali, dan ... kau sadap ponsel Alexa dan Mamanya, aku yakin, mereka akan mendapatkan telfon atau kabar dari orang itu] pesan Adam.lalu melempar kan ponsel nya keatas ranjang.
Adam menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua tangannya menutupi wajahnya. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka, Vivian sedikit terkejut dengan kehadiran Adam, Namun ... ia tak ingin terlihat gugup, ia terus berjalan dan mengambil baju ganti dengan mengabaikan keberadaan Adam.
"Apa kau akan terus memusuhiku,?" pertanyaan itu tiba-tiba saja lolos dari mulut sang Adam, membuat Vivian menghentikan tangannya untuk mengambil pakaiannya.
"Vivian mati berdamai" ucap Adam, namun lagi dan lagi, Vivian mengabaikan Adam.
Kini Adam sudah duduk di tepi ranjang, menatap Vivian yang masih abai padanya.
"Bisakah kau menjawab ku,?" tanya Adam
"Tidak, aku tidak perlu menjawab semua yang kau katakan, Damai apa yang kau inginkan?! menjadi teman? menjadi suami-istri seperti yang lainnya, aku membencimu,Tuan Adamshon, jadi ... tidak ada kata damai di antara kita," ucap Vivian yang membalas tatapan Adam.
Setelah mengucapkan kata itu, Vivian berlalu dan mengganti pakaian nya. membuat Adam menghela nafasnya.
*****
"Hallo, Kak Daniel," ucap Vivian
"Hallo,juga Vi. Bagaimana ... semuanya berjalan dengan baik kan,?" tanya Daniel
"Hari ini Alexa dan Mamanya akan di interogasi, semoga bisa menemukan petunjuk tentang orang ketiga itu, biar cepat selesai, Kak" ucap Vivian
"Semoga saja, Vi. aku sudah bekerja, dan aku juga mendapatkan rumah kontrakan, lumayanlah Vi," ucap Daniel
"Syukurlah kalau begitu, Kak. Jaga diri baik-baik" ucap Vivian
"Aku juga akan membantumu mencari pekerjaan disini, sesuai dengan karakter mu," ucap Daniel
__ADS_1
"Semoga saja bisa cepat selesai kak," ucap Vivian
"Semoga saja, baiklah ... kalau begitu aku berangkat kerja dulu ya," ucap Daniel
"Baik, semangat," Vivian berkata seraya memeragakan dengan tangannya.
*****
"Mama dan Alexa, jika kalian merasa tidak melakukan tuduhan itu, kalian harus berani dan datang ke kantor sesuai panggilan, Jika kalian benar-benar terlibat dalam kecelakaan Renata, jangankan polisi, Papa juga tidak bisa memaafkan kalian," ucap Papa nya Renata saat baru tahu akan perihal surat panggilan itu
"Pa, papa kok bilang begitu? papa percaya dengan tuduhan itu, iya?" ucap Mamanya Alexa
"Papa bukan percaya, Ma. tapi ... setidaknya ... dengan Mama memenuhi panggilan itu, Mama bisa membuktikan kalau Mama dan Alexa tidak bersalah, mau mama menggunakan pengacara manapun, jika mama dan Alexa bersalah, tetap saja yang benar yang akan menang," ucap Papanya Renata
"Aku papa kandung Renata, aku juga ingin tahu siapa pelakunya, Ma" ucap Papanya Renata seraya mengingat bagaimana anak perempuan nya itu telah menjadi anak kebanggaan nya selama ini.
"Tapi Alexa juga anak kamu,Pa! apa iya ... papa tega membiarkan dia ada di penjara,"
"Dia anakmu, bukan anakku, jika dia terbukti tidak bersalah, tentu aku akan mengakui dia sebagai anakku, tapi jika itu benar ... papa akan angkat tangan untuk itu," ucap Papa nya Renata seraya memalingkan wajahnya
"Pergilah, polisi sudah menunggu kalian," ucap lagi Papa nya Renata.
Tentu wajah Mamanya Renata berubah puas, Ini tidak ada dalam perjanjian sebelum kejadian. Orang itu mengatakan bahwa kasus ini tidak akan masuk dalam rana hukum. Tapi apa sekarang, Dia yang menjadi tersangka utamanya.
"Nyonya, mari ikut kami secara baik-baik, agar proses bisa berjalan dengan baik dan cepat, dan juga panggil Nona Alexa," ucap polisi yang sudah tidak sabar menunggu
"Bisa tidak tunggu sebentar lagi," ucap mama nya Alexa
"Hampir satu jam kami menunggu, nyonya. Jangan salah kan kami jika kami harus membawa Nyonya dengan secara paksa," ucap polisi itu.
"Udah! kami ikut, ayo ma," ucap Alexa yang muncul tiba-tiba dengan wajah yang tenang, membuat Mama nya yakin, bahwa orang itu pasti sudah menghubungi Alexa.
__ADS_1