
Tak pernah Adam bayangkan bahwa Vivian akan pergi setelah dirinya ingin membuktikan bahwa ia bisa berubah dan ingin membuka hatinya untuk pernikahan ini. Tapi ... yang Adam tidak tahu, bahwa Vivian dari awal memang tidak menginginkan pernikahan ini, bahkan dari awal Vivian sangat membenci Adam.
"Tuan, bisakah aku minta tolong padamu, untuk menghubungi nomor ini?" tanya Renata pada Khai. Renata menyerah kan nomor yang sudah ia tulis, Nomor kedua yang di miliki Vivian. hanya saja ... Ternyata nomor itu sudah tidak aktif juga.
"Apa ada nomor lain yang bisa di hubungi ?" tanya Khai yang di balas gelengan kepala oleh Renata
"Terimakasih, Tuan " ucap Renata
Renata tidak menyangka bahwa Vivian akan pergi meninggalkan Adam, padahal ... Renata melakukan ini demi Adam, Renata tidak ingin Adam jatuh pada tangan wanita lain, meskipun Adam tidak baik padanya, tapi Renata tahu, Adam adalah sosok yang tulus dan baik, Hanya saja ... Adam tidak jatuh hati padanya .
'Vi ... Apakah kak Adam sangat menyiksamu? Sehingga kau pergi tanpa menunggu ku?' bathin Renata
'Dia pendiam, dia kasar, tapi dia baik, Vi. Dia tidak boleh jatuh pada wanita jahat itu, karena itulah aku meminta mu untuk menikah dengannya,' bathin lagi Renata
"Kalau begitu, kau istirahat lah, aku ada diluar, kau bisa memanggilku jika kau butuh sesuatu," ucap Khai.
"Terimakasih, Tuan. Kau sangat membantuku dan pak Mamang, " ucap Renata
__ADS_1
"Sudah kewajiban bagiku, Nona" ucap Khai
*****
Pagi telah menyapa, Vivian sudah bangun dari tidur nya yang ia rasa paling nyenyak.
Ia menggeliat kan tubuhnya dan bangun seraya menatap kuat jendela.
Ia mengingat semua kejadian semalam, betapa malunya ia saat mengingat akan permintaan nya pada Daniel. Tapi ... emang begitu yang ia rasakan, Ia tidak ingin hamil anak Adam,, tapi kenyataannya begitu ... ia berharap ... Semoga dokter yang memeriksa nya saat itu tidak membocorkan keadaannya pada siapapun. .
Biarlah anak ini besar dengan dirinya dan Daniel sebagai ayahnya
"Tapi bagaimana jika Daniel nanti menikah ? Lalu anakku memanggil nya Ayah, bukankah itu akan menjadi masalah pada Daniel?" gumam Vivian
"Ah ... udahlah, itu urusan nanti, Vivian ... sekarang kamu fokus happy, oke!" ucap Vivian pada diri sendiri, Lalu Vivian beranjak bangun dari ranjang nya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Vivian tak habis pikir, bahwa ... ia akan mengalami kenyataan ini.
Tok ...Tok ... tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, Namun ... Vivian sudah terlanjur membuka bajunya.
Vivian mengabaikan ketukan pintu itu, sehingga ia selesai membersihkan tubuhnya.
Vivian meraih ponselnya dan melihat ternyata banyak pesan dari Daniel.
[Vi ... aku berangkat kerja dulu ya, makanan mu ada di depan pintu, Maaf aku tidak bisa menunggu mu] pesan dari Daniel
[ Jangan terlalu sedih, kau jangan pikirkan apapun, masih ada aku, oke ! semangat,] pesan Daniel lagi
[Kau menginginkan apa nanti? Biar pulang kerja aku belikan] pesan Daniel
Semua pesan yang Daniel kirimkan membuat Vivian tersenyum. Iya tidak menyangka bahwa dalil masih penuh perhatian seperti masa mereka menjalin hubungan.
meskipun kini hubungan Vivian dan Daniel tidak bisa sedekat dulu, tapi Vivian akan meyakinkan bahwa mereka akan tetap hidup bersama setelah anak yang Vivian lahirkan Vivian berjanji akan menjadikan Daniel lelaki yang paling berjasa dalam hidupnya.
Hanya saja ... Vivian sadar, bahwa ia sudah tidak pantas untuk seorang Daniel yang sangatlah baik dan sempurna.
__ADS_1