
Selama beberapa hari, Vivian dan Adam jarang bertemu, Adam benar-benar mencari Diva, Tapi ... meskipun Diva belum di temukan, Sidang untuk Mama Renata dan Alexa akan segera di lakukan.
Menurut kuasa hukum Renata, Mama dan Alexa akan di hukum maksimal 15 sampai 20 tahun.
"Aku hanya ingin mereka mengakuinya,Paman. Agar jiwa Renata di sana tenang, hanya saja ... aku belum puas jika Diva belum tertangkap," ucap Vivian
"Dia sudah masuk daftar DPO, keberadaan nya juga tidak akan tenang, kau tenang lah. Kau mengatakan padaku, jika setelah kedua manusia itu di hukum, kau ingin pergi dari Adam, Apakah ku sudah memikirkan semua itu,?" tanya Pengacara Renata
"Saya sudah memikirkan itu secara berulang kali, Paman. di dalam hubunganku dengan Tuan Adam hanya ada rasa kebencian dan amarah. Aku tidak ingin kebencian itu semakin menjadi saat ia tidak bisa menemukan Diva dan menyerahkan Diva ke pengadilan," ucap Vivian
"Bukankah ini adalah permintaan Renata?tidakkah kau ingin memikirkan sekali saja,Bagaimana jika Renata di sana kecewa dengan keputusanmu" ucap pengacara Renata, terlihat Vivian yang tersenyum pada pengacara itu.
"Seberapa kecewanya Renata padaku tapi lebih kecewa lagi saat dia tahu bahwa dalang dari pembunuhannya adalah kekasih dari tunangannya, Aku benci Tuan Adam, Paman, dan aku tidak ingin hari-hariku terlewati dengan rasa kebencian itu, lebih baik aku pergi dan membuatku tidak lagi menatap wajah Tuan Adam, mungkin inilah keputusan yang terbaik buatku dan juga tuan Adam" ucap Vivian
"Vivian, kau sudah ku anggap sebagai Renata, aku tahu ... kau jauh lebih dewasa dari Renata, paman hanya berharap, kau bahagia setelah ini, sangat jarang sahabat melakukan hal ini untuk sahabat lainnya," ucap Pengacara Renata
"Karena Renata bagiku bukan hanya sekedar sahabat, tapi dia adalah saudara bagiku, Paman" ucap Vivian yang tak lagi bisa menahan air matanya. Sekuat apapun Vivian bertahan, tapi dia tetap lah seorang wanita.
Yang mana hanya tangisan yang bisa membuat hatinya lega.
"Renata pasti bahagia dan bangga padamu, " ucap pengacara itu.
"Tapi aku masih yakin, Kalau Renata masih hidup, Paman," ucap Vivian
"Paman juga berharap seperti itu, Baiklah ... apakah kau sudah makan, ?" tanya Pengacara Renata
"Aku sudah ada janji dengan Tuan Mario,paman. Kalau begitu ... sampai berjumpa besok, Paman" ucap Vivian seraya berdiri dari duduknya dan berjabat Tangan dengan pengacara Renata.
__ADS_1
"Hati-hati lah, dan sampai berjumpa besok" ucap pengacara itu tersenyum pada arah Vivian.
Vivian sengaja izin untuk istirahat lebih awal karena ada kepentingan dengan pengacara Renata, dan dengan segera ia kembali ke tempatnya bekerja. Sesampainya di tempat kerja, Vivian sudah di tunggu oleh Mario dan juga Adnan.
"Tuan Mario, Tuan Adnan," ucap Vivian
"Bunda, maafkan Vivi ... karena_"
"Tidak apa-apa, malah Bunda bangga denganmu, di tengah kesibukan mu bekerja, kau masih memikirkan keadilan untuk sahabatmu, makanlah! Bunda sudah menyiapkan ini untuk kalian," ucap pemilik toko kue tempat Vivian bekerja.
"Terimakasih Bunda, terimakasih banyak," ucap Vivian dengan sopan.
"Sama-sama sayang, Tuan ... silahkan di nikmati," ucap Bunda pemilik toko kue
"Terimakasih, Bunda" ucap Mario dan Adnan secara bersamaan.
Sesekali mereka membahas Sidang besok, sudah di pastikan Mama tirinya Renata dan Alexa akan mendapatkan hukuman sangat lama.
"Kau masih yakin jika Renata masih hidup, kami sudah mencarinya hingga ke dasar jurang, tapi tidak ada tanda-tanda Renata hidup, kami juga sudah menanyakan pada semua warga yang ada di sekitar, tapi mereka juga tidak ada yang menemukan siapapun di sana," ucap Adnan seraya menyesap minuman di gelasnya
"Aku masih dengan keyakinan ku, hanya saja ... mau hidup pun Renata, mereka tetap harus di hukum," ucap Vivian
"Jadi,kau ingin fokus dalam hukuman mereka dulu,?" tanya Mario
"Tentu, setelah itu ... barulah aku ingin mencari Renata," ucap Vivian.
*****
__ADS_1
"Terakhir kami melihat Nona Diva ke kampung Sinden Ratih, Tuan, hanya saja ... saat kami kesana, Nona Diva sudah meninggal kan tempatnya," ucap anak buah Adam
"Aku tidak mau tahu, temukan wanita itu ... !" ucap Adam yang hampir frustasi
Diva membuang ponselnya dan menonaktifkan semua kartu identitas nya, terutama saldo di akun nya. Semua saldonya sudah ia pindahkan pada rekening yang Adam tidak pernah tahu.
"Diva ... pergilah sejauh mungkin, tapi aku akan terus mencarimu," ucap Adam menekan kan giginya pada gigi yang lain
Semua orang terlihat sibuk, Mamanya Alexa dan Alexa yang kini terduduk di lantai tahanan, terlihat melamun.
"kau yakin Kalau Adam akan membantu kita untuk segera bebas dari sini,?" tanya Mamanya Alexa.
"Yakin,Ma. meskipun bukan bebas, hanya keringanan saja, kita sudah membunuh,Ma. tidak bisa bebas begitu saja, kecuali kak Renata masih hidup dan mau membebaskan kita," ucap Alexa
"Mama tidak mau disini,Lexa" ucap mamanya Renata
"Ma, sekarang masih mending, besok saat hakim sudah memutuskan kita bersalah, Mam tahu tempat mana yang akan kita tinggali,? tuh disana ... di bagian wanita - wanita pembunuh itu," ucap Lexa yang semakin membuat Mamanya Lexa cemas.
Di tengah - tengah kecemasan Mamanya Alexa dan Lexa, Vivian bisa hidup nyenyak untuk malam ini. ia benar-benar kelelahan.
Tanpa Vivian sadari, Adam datang dan memeluk tubuh nya Vivian dari belakang.
Entah karena lelah, atau karena bahagia, Vivian tidak merasakan tangan Adam yang sudah melingkar dari belakang nya.
*****
"Dengan ini, pengadilan memutuskan bahwa Nyonya dan Nona di nyatakan bersalah, dan Kalian di hukum sesuai undang-undang, bahwa_
__ADS_1