
Kepergian seseorang adalah hal yang akan menyadarkan kita, apa arti dari keberadaan nya, Kehilangan nya akan menyadarkan kita akan arti dari kehangatan nya.
*****
"Saya ada dimana, Apakah saya sudah lama ada disini," tanya wanita yang wajahnya masih di balut perban
"Kau sudah lama disini, dan juga .. kemaren adalah sidang dimana orang yang melakukan hal ini padamu sudah resmi di tahan," ucap Khai
"Iya, Nona. Awalnya bapak ingin datang sebagai saksi,, Tapi bukti yang Nona Vivian miliki sudah sangat kuat, jadi bapak tidak muncul agar, keselamatan Nona terjaga, masih ada satu orang yang terlibat dan sekarang masih dalam pencarian," terang sopir mobil wanita itu. Ya ... dia adalah Renata, mereka selamat, hanya saja ... Renta mengalami koma sementara.
"Pak, siapa pelaku itu, kenapa mereka jahat sama aku, apa salah aku, Pak?" tanya Renata
" Mereka, Nyonya dan Nona Alexa, Non. dan tersangka utama nya adalah Nona Diva, kekasih Tuan Adam," ucap pak sopir itu yang berhasil membuat air mata Renata lolos
"Lalu bagaimana dengan Vivian saat ini, Apakah dia benar-benar menggantikan ku menjadi pengantin kak Adam?" tanya Renata
"Iya, Nona. Dalam Persidangan kemaren, Nona Vivian di panggil dengan sebutan Nyonya Adamshon," terang sopir Renata
Terlihat Renata yang mengusap air matanya.
"Tuan Khai, saya benar-benar sangat berterima kasih pada Tuan, atas bantuannya," ucap Renata
"Tidak masalah,Nona. itu sudah kewajiban saya, Tapi dokter menyarankan untuk operasi di bagian wajah yang terluka, takutnya akan membekas," ucap Khai
"Apakah harus?" tanya Renata
"Harus, Nona. anda harus kembali cantik seperti dulu," ucap pak sopir yang setia pada Renata
__ADS_1
"Bisakah aku bertemu dengan Vivian?" tanya Renata, seketika sopir itu terdiam, mulutnya seakan terkunci, bahkan ia terlihat begitu kebingungan. Dari informasi yang ia dapat, Vivian sudah pergi semalam dari kediaman Adamshon. Sungguh keputusan yang sangat di sayangkan oleh semu wanita.
Tapi bagi Vivian, itu adalah keputusan yang paling tepat selama ia hidup.
...*****...
"Sial! dia benar-benar pergi dari rumah, aku tidak ingin tahu, kalian harus menemukan istriku, bawa dia kembali,!" perintah itu begitu tegas, ada raut kemarahan di wajah Adam.
"Tuan lalu bagaimana dengan, Nona Diva?" tanya anak buahnya
"Seret dia ke hadapanku sebelum ku serahkan ke polisi," titah Adam dengan raut wajah yang penuh emosi.
'Vivian, kau adalah milikku, kau tidak akan bisa lari dariku, dimanapun kau berada, aku pasti akan mendapatkan mu,' bathin Adam dengan penuh keyakinan.
...*****...
"Terimakasih banyak, kakak masih mau membantuku," ucap Vivian pada Daniel.
"Aku ingin bercerai dengannya, tapi ... dengan aku kabur seperti ini, Apakah itu bisa, kak?" tanya Vivian
"Kau jangan resah, duduklah! oh iya ... ini apartemen yang aku pilih untukmu, semoga kau suka," ucap Daniel pada Vivian
Seketika Vivian menyadari tempat yang baru saja Daniel tunjukkan, kamarku ada di sebelah, jadi ... kalau kau butuh apapun, kau tinggal panggil aku saja," ucap Daniel
"Bagus, bahkan sangat bagus kak, Aku masih memegang kartu debit Renata, kartu yang terakhir kali ia berikan padaku, hanya saja ... aku masih ragu menggunakan nya," ucap Vivian dengan wajah menunduk sedih.
"Itu sudah menjadi hak mu, Renata memberikanmu dalam keadaan sehat dan sadar, jadi ... gunakanlah kalau kau benar-benar membutuhkan nya," ucap Daniel seraya memegang pundak Vivian.
__ADS_1
"Kakak kerja dimana sekarang?" tanya Vivian
"Aku kerja di sebuah perusahaan ternama disini, kebetulan anak pemilik perusahaan temanku dulu," ucap Daniel
"Wah, beruntung sekali," ucap Vivian
"Karena itulah aku membawamu kesini, setidaknya ... kita bisa aman, aku yakin Tuan Adam pasti tidak akan tinggal diam, dia pasti mengerahkan anak buahnya untuk mencarimu," ucap Daniel yang kini sudah duduk di samping Vivian.
"Aku benci dengannya kak, sangat benci. Tapi ... semakin aku membencinya ... " kini Vivian malah menangis
"Hei, kenapa menangis, sudah ... dia sudah tidak ada di sini, kau jangan menangis lagi, hanya kita berdua sekarang, tidak akan ada lagi Adam diantara kita,"ucap Daniel seraya mengusap air mata Vivian
"Tapi disini, ada benihnya kak," ucapan itu bersamaan dengan pecahnya tangisan Vivian, seketika Daniel terdiam mematung. Seharusnya ia sudah tahu, kalau ini akan terjadi, tapi kenapa ... rasanya masih sangat terasa sakit.
"Aku di nyatakan hamil 7 Minggu kak, aku harus bagaimana ... ?" hiks ... hiks ... hiks ...
Daniel menghela nafasnya dalam-dalam, Ia berusaha meredam luka hatinya yang kini terbuka kembali.
"Sudah jangan menangis, nanti cantiknya hilang, bukankah seorang Vivian, wanita yang kuat dan tegar," ucap Daniel seraya mengusap air matanya sendiri, lalu menarik tubuh Vivian dalam pelukannya.
"Jaga anak itu baik-baik, dia tidak salah apapun, kita akan merawat nya bersama-sama, aku janji akan menganggap nya seperti anak ku sendiri, meskipun kita bukan pasangan suami-istri, tapi aku akan menyayanginya," ucap Daniel seraya mengelus kepala Vivian.
"Kakak masih mencintaiku kan? kalau begitu ... ayo kita lakukan hubungan badan kak, hapus semua jejak tentangnya, bisakah Kakak melakukan hubungan itu denganku, agar aku bisa menganggap anak ini adalah anak kakak," ucap Vivian penuh permohonan, tangannya memegang dada bidang Daniel, air matanya menetes begitu deras.
"Vivian, tenanglah,! tenangkan dirimu ... " ucap Daniel memegang kedua tangan Vivian yang berada di dadanya.
"Lakukan hubungan itu dengan ku kak, agar aku tidak membenci anak ini," ucap Vivian dengan lemas, kepalanya sudah bersandar di dada Daniel. Daniel semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Lakukan itu dengan ku kak, aku mohon," ucapan itu melemah, bersamaan dengan terpejam nya mata Vivian. mungkin karena lelah vivian terlelap dalam dekapan Daniel. Daniel meletakkan dagunya di atas kepala Vivian, iya mengusap punggung Vivian dengan penuh kelembutan, Ia tidak menyangka bahwa cintanya yang selama ini iya jaga harus berakhir seperti ini dan Daniel menggendong tubuh Vivian dan meletakkannya di atas ranjang, iya menatap lekat wajah wanita yang selama ini gilai.
"Aku bisa saja melakukan hal itu saat ini, Vi. Tapi aku ragu ... aku ragu melakukan hal itu dalam keadaan mu yang seperti saat ini, Mari kita hidup bersama setelah ini, sebagai pasangan suami dan istri. Meski itu hanyalah bohongan. Di kota ini, kita akan aman meski tinggal satu atap tanpa ikatan, tapi aku tetap menghormati mu sebagai wanita baik-baik, Vi. jaga anak itu dengan baik, aku akan menjadikan nya anakku juga, meskipun Ayahnya sangat kita benci,' bathin Daniel seraya menatap lekat wajah Vivian