
Alika Fadhilla Johanna selain cantik dan pintar, Ika begitu sapaannya termaksud gadis yang sangat mandiri. Terbukti di usianya yang menginjak ke-20 tahun, Ika sudah mampu mengolah semua usaha peninggalan kedua orangtuanya meskipun tidak luput dari campur tangan asistennya.
Ika terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sukses, ayahnya seorang penguasa Batubara terkenal di kotanya. Selain itu, dia merupakan anak satu-satu dari kedua orangtuanya. Meskipun dia hidup dengan gemilang harta kekayaan yang di miliki keluarganya yang kini telah diwariskannya.
Namun semua itu tidak menjadikan dirinya sombong. Bahkan Ika suka berpenampilan sederhana dengan tetap mempertahankan gayanya yang modis. Walaupun dari warisan keluarganya itu memfasilitasi semua kebutuhannya tapi sama sekali tidak menjadikan dia manja, justru Ika lebih memilih berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya dengan membuka berbagai macam bisnisnya.
Ketika kedua orang tuanya meninggal, kala itu dia masih menduduki bangku sekolah menengah pertama. Kedua orang tuanya meninggal setelah sebuah kecelakaan tragis menimpa keduanya. Mobil yang membawa mereka terbakar saat tabrakan beruntun itu terjadi, keduanya meninggal di tempat kejadian tersebut.
Kejadian naas itu sempat membuat Ika terpukul, setiap tetesan air mata yang lolos dari bola matanya. Sungguh tiada mampu mengartikan kepedihan di hatinya. Dia tidak kuasa menahan kesedihan itu, kala itu takdir begitu kejam mempermainkannya.
Namun dalam kesedihan itu Ika mencoba berjuang, sekeras apapun tetap dia lakukan. Akhirnya perlahan Ika mampu mengikhlaskan dan menerima semua musibah itu.
Setelah kejadian itu, kini Ika tumbuh menjadi sosok pribadi yang tangguh, lantas tak sedikitpun membuatnya merasa lelah. Meskipun dia harus menjalani hidup seorang diri dengan berbagai aktifitas yang dia miliki saat ini yang mampu menjadikannya wanita yang super-buper sibuk.
Hari ini merupakan hari pertama baginya mengontrol proyek pembangunan restoran, kebetulan semua bahan bangunan di ambil dari pabrik perusahaan yang dia kelola. Ika tidak mau ada kesalahan dalam pengiriman bahan tersebut. Biasanya Herry asistennya yang mengontrol semua proyek, namun hari ini dia ingin mengontrol sendiri. Sengaja Ika tidak mengabari Herry asistennya itu.
***
__ADS_1
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya Ika sampai juga ditempat itu, dia langsung memarkir kendaraannya di area parkiran terdekat kemudian menuju ke lokasi tersebut. Memang lokasi itu tidak terlalu jauh dari perusahaannya, hanya membutuhkan waktu lima menit perjalanan.
"Aduh." Namun tiba-tiba ada yang menabrak tubuhnya hingga Ika jatuh terbanting dan kakinya tergelincir. "Maaf buk, aku tidak sengaja."
"Hah!" Ika tanpa terkejut mendengar dirinya di panggil ibu, dia tidak langsung menoleh ke atas karena masih terasa shock tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke tanah.
Aku nggak salah dengar setelah menabrak tubuhku, dia panggil aku ibu. Emang aku mamanya apa? Atau mungkin wajahku sudah nampak tua. Padahal umurku masih baru menginjak ke-20 tahun, baru kali ini juga ada yang berani memanggilku dengan sebutan ibu. Kalau seperti ini nggak bisa di biarin, batinnya terus menggerutu.
"Heh!" suara itu kembali terdengar hingga mengagetkannya. Di saat dia mendongak wajahnya ke atas, Ika sedikit terpana melihat seorang pria yang sangat tampan berada tepat di depannya. Belum lagi badan pria itu yang bisa di bilang sangat perfek, hidungnya yang mancung dan rahangnya tanpa begitu kokoh seketika membuat Ika terpesona.
Meskipun banyak pria tampan lainnya yang sering dia temui, bahkan terang-terangan selalu mengejar-ngejarnya untuk sekedar berkenalan dengannya. Namun dia cuekin, tak ada yang istimewa baginya tapi pria ini betul-betul membuatnya hampir mati kutu.
"Apa ada yang sakit?" Ika langsung menggeleng kepala pertanda tidak sakit. Entah kenapa tiba-tiba mulutnya susah mengeluarkan suaranya, belum lagi menyusun kata-kata. Biasanya kalau lagi kesal suaranya suka nggak bisa ngerem, ini malahan ngerem sendiri. Mungkin karena penyakit barunya itu yang begitu terpesona dengan pria yang berada di depannya. Duh! Jantungnya langsung bergerak tak menentu saat tiba-tiba pria itu menarik tangannya dengan lembut untuk membantu dia berdiri.
"Aw.....," Ika merintih kesakitan ternyata kakinya terasa sakit akibat tergelincir. "Tadi katanya tidak ada yang sakit." Tanpa ingin menjawab Ika langsung pergi begitu saja terlanjur malu dengannya walaupun dengan sedikit sulit bergerak karena kaki kirinya terasa sakit akibat tergelincir.
Belum satu langkahnya hendak pergi tanpa Ika sadari, dia sudah di dalam gendongnya. Siapa yang tak terkejut, tiba-tiba pria itu mengangkat tubuhnya tanpa permisi. Tentu saja Ika meronta, minta di turunin. Namun apa daya, kekuatannya lebih dahsyat dari tenaganya.
__ADS_1
"Diam! Jangan banyak bergerak nanti kamu bisa jatuh apalagi kamu terus meronta." Seketika tubuhnya terdiam pasrah ketika mendengar suara itu yang menurutnya begitu lembut dan tenang. Padahal jelas-jelas terdengar sedikit keras, Ika seperti terhipnotis dengannya.
"Untung badan kamu lumayan ringan tidak terlalu berat walaupun kamu terus meronta, aku masih bisa menahan dan juga tidak terlalu menguras tenagaku." keluhan pria itu sedikit mengusik emosinya. "Sejak kapan aku minta di gendong." Akhirnya keluar juga suara dari mulutnya yang entah sejak kapan bungkam tapi pria itu malah tidak meresponnya, dia terus berjalan menuju ke tempat parkir.
"Kita akan pergi ke rumah sakit untuk periksa kaki kamu mungkin kaki kamu ada yang cedera."
"Aku bisa pergi sendiri," balas Ika. "Jangan membantah!"
"Aku tidak mau diperiksa." Ika tetap bersikeras menolaknya tapi pria itu tidak menanggapinya, dia malah menatap tajam dirinya dengan kedua bola matanya, mau tak mau Ika terpaksa diam.
Coba saja kakiku tidak sakit mungkin aku akan menendangnya duluan ke rumah sakit, sangking keselnya pada pria itu, batinnya.
Saat tiba di dalam mobilnya Ika sedikit terkesima melihat interior mobil itu yang super mewah dan elegan. Selama dalam perjalanan tidak ada percakapan sama sekali mungkin pria itu lagi malah berdebat dengan dirinya apalagi dia. Hanya membutuhkan waktu lima menit, akhirnya mereka sampai juga ke rumah sakit.
Ika langsung di bawa ke IGD untuk di periksa oleh pria itu dengan terus menggendongnya seperti tadi bahkan semua orang menatap mereka, termasuk perawat di situ. Ika merasa sedikit risih dengan keadaan itu.
Padahal kakiku tergelincir buka patah, kenapa harus digendong? Bodohnya aku baru sadar sekarang. Dia saja belum aku kenal sama sekali, bagaimana bisa aku membiarkan tubuhku di gendongnya. Apalagi kalau di pikir-pikir aku masih bisa berjalan sendiri dengan satu kaki lagi meskipun sedikit agak susah, sesalnya kemudian.
__ADS_1
Entah kenapa otaknya tidak dapat berfungsi dengan baik, belum lagi...
Selanjutnya...