
Deg! Baru juga dia melangkah ke area parkir, Ika di kejutkan dengan kehadiran Herry yang kayaknya datang ingin menjemputnya. Herry berdiri pas di depan mobilnya dengan melipat kedua tangannya di dada.
Herry terus menatapnya, matanya terus mengarah padanya tanpa ada kedipan sedikitpun meskipun dia tidak bergerak dari tempatnya tapi dapat mengerti dengan tatapan itu.
Ika mulai ragu untuk melangkah kakinya ke area parkir itu. Dia tidak menyangka, Herry akan datang pada waktu yang salah. Mika sama sekali tidak memperdulikan dengan keadaan di sekitarnya bahkan Mika tidak menyadari kehadiran Herry di sebelahnya.
Dengan gayanya yang cool, Mika terus melangkah ke area parkir dengan tetap membiarkan tangan Ika masih berada dalam genggamnya. Ika mencoba melepaskan tangannya darinya tapi Mika kembali memperebutkan tangannya.
Makin dekat dengan Herry, makin sulit Ika mengerakkan langkahnya. Tatapan Herry mempersulit langkahnya Herry membuat kakinya bergetar, Ika sungguh ketakutan. Dia tidak mungkin bisa menghindari Herry lagi.
Ika merasa sungguh hebat hidupnya dalam sehari, dia mampu menciptakan masalah serumit ini. Bahkan dia sendiri tidak sanggup menghadapinya, otaknya betul-betul ingin meledak dengan tingkah ajaibnya.
"Mika maaf, aku tidak bisa ikut bersama denganmu."
"Kenapa?"
"Aku sudah di jemput."
"Siapa yang menjemputnya?"
"Abang aku, itu dia," Ika langsung menunjukkan tangannya ke arah Herry.
"Apa aku harus meminta izin padanya?"
"Jangan," sahut Ika dengan cepat untuk mencegahnya hingga Mika menatap aneh ke arahnya. "Maaf, maksudku tidak perlu."
"Ya udah, kamu hati-hati di jalan."
"Iya."
Dengan sedikit berlari, Ika langsung menuju ke arah mobil yang di parkir Herry. Ternyata Herry memilih masuk terlebih dahulu ke dalam mobil dengan mengacuhkannya seperti bayangan lewat.
Herry sungguh tidak memperdulikannya, dia lebih memilih mengabaikannya dari pada menginterogasinya. Namun tidak baginya, justru itu seperti kesempatan bagus, Herry telah membuat Ika terbebas darinya. Tadi Ika sangat takut Herry akan mempermasalahkan hubungannya dengan Mika.
Setelah kepergian Mika yang sempat membunyikan klaksonnya, dia dan Herry juga meninggalkan kampus itu. Selama dalam perjalanan, Herry sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Herry lebih fokus mengemudi mobilnya dan sekali-sekali menatap setir di tangannya, seolah-olah sangat menarik di bandingkan menatapnya. Herry betul-betul ingin memojokkannya dengan kelakuannya yang super aneh.
__ADS_1
***
Baru satu kakinya melangkah turun dari mobil, setelah Herry memasukkan mobil itu ke dalam bagasi rumah yang mereka tepati. Dengan langkah cepat, Herry menariknya ke dinding di dekatnya dan mengurung tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Jelaskan padaku."
Ika sampai gemetaran menghadangnya, saat mencoba menjelaskan padanya, Ika malah kebingungan sendiri. Dia tidak tau harus mulai dari mana untuk menyusun kata-kata yang tepat padanya. Semua itu, bukan sepenuhnya keinginannya.
"Apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan padaku?"
Ika tidak berani menatapnya, dia memilih menundukkan wajahnya ke bawah. Jangankan untuk menjelaskan padanya, membayangkan saja sangat sulit dia lakukan, hubungannya dengan Mika bagaikan angin yang baru lewat.
"Alika, jika kamu tidak ingin menjelaskan padaku maka jangan salahkan aku jika aku sendiri yang memberimu peringatan untuk itu."
Ika tidak menghiraukan ucapannya, bagaimana bisa dia memberitahunya sedangkan dia sendiri masih belum yakin. Kejadian itu, tidak ada yang melekat dalam memorinya. Saat Mika mengungkapkan isi hatinya padanya, Ika sendiri menganggapnya bercanda. Ketika menerimanya spontan saja, mulutnya yang mengiyakannya.
"Alika, angkat wajahmu jangan menunduk, lihatlah aku!"
Dengan perasaannya yang belum menentu, Ika mencoba meladeninya, perlahan dia mengangkat wajahnya ke atas.
"Apa yang kamu lakukan?"
Plak! Belum sempat Herry menggeluarkan suara khasnya, Ika dengan brutal menamparnya hingga berkali-kali. Tentu saja dia tidak akan mengampuninya. Herry telah mencuri ciuman pertamanya.
"Alika cukup! Apa kamu ingin membunuhku?"
Ika menatap sekilas ke arahnya, baru dia baru menyadari, kedua pipi Herry sudah memerah akibat ulahnya. Tergambar jelas di wajahnya, cap lima jarinya.
"Apa kamu sudah puas?"
Ika mencoba bersikap tenang dengannya, dia tau tingkahnya sangat berlebihan tapi tetap saja tidak sebanding dengan perbuatan Herry padanya
"Aku belum bisa memaafkan kamu."
Ika masih saja tidak membiarkan Herry lolos begitu saja. Hatinya masih belum puas, Herry sudah sangat keterlaluan telah berani menciumnya berarti dia harus siap menerima kemarahannya. Ika menganggap tamparan itu untuk menembus luka di bibirnya. Bukan mudah, dia bersusah payah menjaga bibirnya selama 21 tahun dari keganasan kaum adam.
__ADS_1
"Oke, kita lanjut di dalam."
Herry sama sekali tidak terpengaruh, justru dia yang di buat merinding olehnya, bisikkan Herry sangat mengerikan di telinganya. "Aku tidak mau, kamu telah merampas ciuman pertamaku."
"Itu sebagai peringatan."
"Aku benci padamu," Ika tidak habis pikir, Herry menganggap enteng sedangkan dia hampir setengah waras menghajarnya tapi Herry tidak merasa terganggu sedikitpun.
"Aku tidak mengizinkan kamu dengan membiarkan bekas bibirku di sentuh oleh siapapun."
"Apa maksud dari katamu itu?"
Herry malah tidak menjelaskan padanya, Herry betul-betul membuatnya sangat jengkel. Seluruh isi pikiran Ika berencana ingin mengutuk perbuatan Herry. Ika betul-betul pusing memikirkan kelakuannya. Setahu dirinya Herry tidak tertarik dengan adegan itu.
Ika pernah menantangnya untuk mencoba menyuruhnya berciuman dengan seorang wanita yang sangat mengidolakannya, saat tantangan itu lagi berpihak padanya dengan permainan Truth Or Dare tapi Herry dengan tegas mengatakan dia tidak menyukai hal-hal seperti itu, dan lebih memilih membersihkan toilet.
"Aku tidak mengerti untuk apa kamu melakukan itu padaku."
"Aku suka, bibirmu sangat manis."
Apa dia sedang bergairah?Jika dia mempunyai nafsu, kenapa tidak melakukan dengan wanita yang selalu mengejar-ngejarnya tidak harus mengorbankan diriku. Herry membuat pikirannya pusing tujuh keliling.
Herry bahkan menjadi salah satu pria yang sangat di incar wanita-wanita berkelas karna kepiawaiannya dalam memenangkan setiap tender yang dia inginkan tapi sayang, dia sendiri yang nganggur mereka.
"Apa kamu mencoba merayuku?" tanya Herry tiba-tiba ketika Ika terus menatap kearah. "Tidak."
Herry seakan ingin memancing emosinya, Ika sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Herry yang sangat abal-abal sampai membuat tensinya naik. "Aku bingung menghadapi kamu, lebih baik kamu bicara padaku jangan bertingkah aneh seperti ini."
"Aku sudah memintamu menjelaskan padaku tentang kelakuanmu, kenapa membiarkan tanganmu di gandeng oleh temanmu seperti itu di tempat umum. Kamu tau, tingkah kamu itu sangat berlebihan, aku tidak pernah mengajarimu bertindak kekonyolan. Dan lagi, kenapa berteman dengan lelaki? Apa di kampusmu kehabisan perempuan?"
"Aku tidak berteman dengannya."
"Lalu apa jika bukan temanmu."
Duh! Apa yang harus aku katakan padanya. Belum mengetahui saja, Herry sudah berani bertindak...
__ADS_1
Selanjutnya...