TERPESONA BOSS MUDA

TERPESONA BOSS MUDA
Mengguncangkan hati.


__ADS_3

Padahal Herry ingin Ika melaksanakan pendidikannya tanpa pengawasan darinya, dia menginginkan pendidikan Ika riil dengan kemauannya.


Dia mengirim Hetty untuk sekedar menemaninya bukan menyuruh Hetty menjadi agen rahasianya untuk memantau dirinya di kampus. Tapi Ika malah mengkhianatinya dengan menjalin kasih dalam masa pendidikannya.


Hatinya diliputi kegelisahan yang semakin menjadi-jadi, Ika terus memikirkannya yang pergi meninggalkan rumah secara tiba-tiba. Dia tidak yakin Herry pulang ke apartemennya, dia sangat jarang tidur di apartemen itu.


Kalaupun Herry mau menginap di sana, dia tidak akan lupa mengabari Ika, sesibuk apapun keadaannya menomor satukan dirinya. Bahkan Herry belum pernah membuat Ika merasa cemas tapi sekarang sudah tengah malam begini, dia tidak mendapatkan kabar darinya.


Apa aku mencarinya saja mungkin Herry pergi karna ucapan aku tadi di ruang makan tapi tidak mungkin juga Herry bersikap kekanakan kayak gitu, pikirnya.


Ika juga tidak percaya dia akan meninggalkan rumah karna masalah itu, biasanya dia akan menginterogasi dia terlebih dulu, kini kepalanya betul-betul sakit memikirkannya. Herry pergi meninggalkan ribuan eneg-eneg yang menyela di dalam otaknya.


Berkali-kali Ika mencoba menelponnya tapi nomornya sama sekali tidak dapat di hubungin. Bahkan dia sudah mengelilingi setiap sudut ruang kediamannya dengan berputar sana-kemari karna gelisah, bayangannya terus menyelimuti pikirannya.


Kreek! Tiba-tiba Ika mendengar suara pintu terbuka, ketika dia mengeceknya ternyata Herry yang datang dalam keadaan sempoyong dengan kedua tangannya berpegangan di dinding dekatnya.


Dia berjalan terhuyung-hyung hendak jatuh menuju ke dalam rumah, sesekali memegang kepalanya. Ika langsung menghampiri Herry saat melihatnya hendak terjatuh. Saat Ika menopang tubuhnya, di mulutnya tercium bau alkohol yang sangat menyengat.


"Herry apa kamu sedang mabuk?"


"I-ya," Ucapnya dengan senyumannya yang kaku. "Kenapa kamu mabuk?"


Selama Ika bersamanya, dia belum pernah melihat Herry mabuk-mabukan seperti ini. Herry sangat membenci yang namanya alkohol tapi malam ini dia sendiri pulang dalam keadaan mabuk seperti telah menghabiskan perbotol-botol minuman beralkohol.


"Karna ada kamu, aku mabuk," Ika tidak mengerti dengan ucapan Herry.


Dia bicara seperti tidak nyambung, percuma juga aku menanyakan pada orang yang sedang mabuk, jawabannya pasti tidak akan pernah tepat. Sekarang aja dia malah menyalahkan aku dengan keadaannya yang sedang mabuk, pikirnya.


Ika mencoba membopongnya menuju ke kamar dengan susah payah dia terus mencoba membawanya melalui pintu lift yang telah tersambung ke lantai dua.

__ADS_1


Lift itu hanya akan di gunakan olehnya jika dalam keadaan darurat saja. Ika lebih suka melewati tangga menuju ke kamar, sekalian dia pikir untuk olahraga juga yang terkadang tidak sempat di lakukan sendiri.


Di dalam lift, Herry terus menempelkan dirinya pada tubuhnya. Ika mencoba menariknya sedikit menjauh darinya tapi Herry malah lengket seperti permen karet.


"Alika, aku mau...kamu...itu...," ucapnya terputus-putus.


Herry terus membuat Ika penasaran dengan kalimatnya yang tergantung-gantung. Tapi dia juga tidak mungkin memaksanya berbicara yang jelas dengan keadaannya yang sedang mabuk berat, Herry pasti akan terus ngaco.


Mungkin Ika harus menunggunya tersadar, setelah itu baru dia akan menginterogasi Herry karna dia sudah berani pulang larut malam dengan meminum minuman beralkohol sampai mabuk kayak gini.


"Herry ayo istirahat di kamarmu," setelah pintu lift terbuka. "Aku mau kamu."


Apa dia betul-betul tidak waras? Apa pikirannya sudah tenggelam dalam minuman itu? Kenapa ngomongnya ngaco terus? Belum lagi dari tadi dia lengket terus padaku, pikirnya.


"Ayolah Herry cepat berdiri yang bagus."


Herry membuat Ika kesel, Herry terus memeluk pinggangnya seperti anak kecil yang lagi merengek minta di gendong ibunya hingga dia kesusahan membopong tubuhnya.


"Aku tidak ingin kamu meninggalkanku."


Ika semakin kesel dengannya, Herry tidak mau bergerak sama sekali. Dia terus merengek padanya. Percuma juga dia berdebat dengan orang yang sedang mabuk, tetap saja dia tidak akan mematuhinya.


***


Akhirnya terpaksa Ika membopong Hery dengan penuh kesabaran menuju ke kamarnya. Ketika sampai di kamarnya, Herry langsung mengunci pintunya dari dalam kemudian menghampiri Ika dengan mendorong tubuhnya ke arah pintu.


Ika sampai tercengang dengan tingkahnya yang tiba-tiba agresif dengannya. Herry dengan ganasnya ******* bibirnya tanpa peduli dengan keadaannya yang sudah ketakutan. Dia terus memainkan lidahnya.


Dengan tubuh gemetaran, Ika mencoba mendorong Herry dan memukul dadanya dengan kedua tangan. Herry sama sekali tidak bergerak bahkan dia tidak menghiraukan Ika yang terus berontak padanya dengan air mata yang sudah membasahi bajunya.

__ADS_1


Herry seperti kesetanan, gairahnya sudah mengebul-ngebul memasuki tubuhnya. Ika terus berusaha melepaskan dirinya darinya tapi tetap saja kekuatannya tidak sekuat tenaganya.


Hingga Ika kehabisan nafas, Herry baru menghentikan kegilaannya itu. Tubuh Ika langsung terkulai lemas di lantai. Dengan sisa tenaga ya ada, dia berusaha bangkit dan meninggalkannya yang masih berdiri di hadapannya dengan penampilannya yang sudah acak-acakan seperti dirinya.


Ketika tangannya hendak meraih gagang pintu, Herry langsung menarik kunci yang tergantung di pintu itu dan melemparnya ke seberang arah. Dia tanpa seperti bukan orang yang sedang mabuk lagi malah seperti orang kesetanan. Bahkan dia tidak membiarkan Ika keluar dari kamarnya.


"Temenin aku malam ini."


Ika merasa jijik dengan sikapnya yang tidak tau sopan santun, bagaimana bisa dia menyuruh dai menemaninya. Apa dia lupa dengan apa yang telah dia perbuat padanya. Air matanya saja belum kering, bagaimana bisa dia melupakan perbuatannya secepat itu.


Herry bahkan telah mengguncangkan semua kepercayaannya yang sempat tertoreh dalam dirinya. Jangankan untuk menemaninya, melihatnya saja Ika sudah tak ingin, dia sangat membencinya.


"Tidurlah di sampingku."


"Tidak, aku sangat membencimu."


Kemudian Herry langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ika masih terduduk lemas dengan melingkupi kedua lutut di depan pintu kamarnya menggunakan kedua tangannya.


Dia tidak akan mudah untuk dapat memaafkannya, air matanya terus keluar tanpa berhenti. Tindakan Herry telah menyisakan luka terdalam yang sangat membekas dalam ingatannya.


Hasratnya meninggalkan goresan yang melilit dalam hatinya. Keadaannya sangat kacau membayangkan perlakuan Herry yang tidak memiliki perasaan padanya.


Selang dua menit Ika mendengarkan dengkul halus memenuhi isi ruangan kamar itu, ternyata Herry sudah terlelap di atas tempat tidurnya dengan tubuh telentang, terlihat tidurnya sangat nyenyak seperti tidak pernah terjadi masalah apa-apa.


Sedangkan Ika masih dalam keadaan terduduk dengan posisi punggungnya bersandar di pintu kamar seperti masih dalam keadaan semula. Ika sama sekali tidak berniat untuk membaringkan tubuhnya di atas sofa dekat tempat tidurnya.


Ika merasa tidak membutuhkan semua itu apalagi harus tidur di sampingnya. Sekarang yang dia butuhkan hanyalah menenangkan pikirannya yang kacau balau.


Ika mencoba menghapuskan air mata yang tidak berhenti mengalir di wajahnya. Perlahan dia mencoba...

__ADS_1


Selanjutnya...


__ADS_2