TERPESONA BOSS MUDA

TERPESONA BOSS MUDA
Mencoba menolong.


__ADS_3

Kring...kring...kring...


Bunyi hape Ika tiba-tiba, terlihat panggilan masuk dari nomor tak di kenal. Saat dia hendak mengangkat, panggilan itu terputus mungkin cuma ingin promosi nomor doang, pikirnya.


"Siapa yang menelpon?" Herry dari tadi terus memperhatikan gerak-geriknya. "Orang iseng," sahut Ika terlihat cuek dengannya. "Ohh."


Ting...ting..ting...


"Itu ada chat yang masuk," kebetulan Ika meletakkan hapenya di depan Hetty . "I-ya," Ika langsung membuka chat itu. (Apa lelaki itu datang menjemput kalian?) bunyi pesan chat yang masuk ke hapenya. (Maaf, siapa ini?) balasnya mengirim pesan. (Ini aku MIKA, save nomornya) balas chat itu.


Setelah membaca pesan terakhir, Ika langsung mengacuhkan begitu saja chat itu tanpa ingin membalasnya lagi dengan meletakkan kembali hapenya. "Siapa yang chat?" Hetty tanpa penasaran. "Tidak penting bukan siapa-siapa."


"Permisi, ini pesanannya," tiba-tiba salah satu karyawan datang menghampiri meja mereka, kemudian langsung menyusun makanan dan minuman yang di bawa olehnya ke atas meja yang mereka tempati. "Apa kamu yang memesan semua ini?" Ika tanpa bingung, makanan yang datang sangat banyak bukan lagi seperti nongkrong tapi lebih tepatnya seperti makan bersama. "Tidak," sahut Herry. "Apalagi kita sama sekali belum memesannya," sambung Hetty. "Maaf mbak, kami tidak memesan semua ini."


"Iya Mbak, semua ini bos kami yang memesannya untuk meja ini," sahut karyawan itu. "Oh begitu ya tapi maaf kami tidak makan sebanyak ini, tolong bungkus dan kirim kembali untuk bos kalian," Herry dan Hetty terlihat biasa aja dengan kelakuan Ika.


"Tapi mbak," tapi karyawan itu terlihat ketakutan dengan tingkah Ika. "Kenapa?" Ika kembali menyahutnya dengan galak. "Baiklah mbak," karyawan itu tak lagi membantah dan langsung membawa makanan itu kembali.

__ADS_1


"Kamu tidak kasihan sama karyawan tadi nampaknya dia ketakutan, kalau di pecat gara-gara kamu kembalikan makanan itu bagaimana," Hetty seperti menakutinya. "Ah terserah, aku tidak peduli, lagian kenapa tidak memberitahu dulu sebelum meletakkan makanan itu di meja kita, kalau misal ada racun terus kita makan, bagaimana," Ika malah kembali menakutinya.


Sesaat setelah kepergian karyawan itu, pesanan mereka datang. Herry ternyata memesan capuccino dan cupcake untuk mereka. Ika dan Hetty langsung menikmatinya dengan saling mengobrol mengenai keseharian mereka. Herry malah santai dengan kopinya, dia terus menikmatinya dengan hape di tangannya.


"Ika, coba lihat! Bukankah itu karyawan yang tadi," ternyata arah pandang Hetty terus menunjuk ke ruang VIP tempat Mika nongkrong dengan temannya. "I-ya, kenapa?" Ika melirik sekilas. "Apa bungkusan yang dia bawa itu pesanan di meja kita? Apa abang ganteng itu yang memesan makanan untuk kita? Kalau aku tau makanan itu darinya pasti akan aku habiskan semua," Hetty tanpa heboh.


"Ehem, ehem" Ika mencoba membuat Hetty berhenti mengoceh tentang Mika di depan Herry, dia takut Herry tidak akan mengizinkannya keluar sendiri lagi jika ketahuan dia bergaul dengan pria yang belum baik di kenalnya.


"Ika, coba lihat dia menatap ke arah kita," Hetty malah semakin heboh seperti tidak bisa di ajak kompromi, dia belum paham juga. "Aduh, Ika apa yang kamu lakukan?" Hetty langsung terkejut saat Ika menendang kakinya tiba-tiba di bawa meja. "Maaf, kakiku kan lagi sakit, jika bergerak kakiku suka nyasar jauh," sahut Ika dengan memberi alasan yang jelas asal-asalan.


"Apa kalian mengenal pria yang di ruang itu?" Herry tanpa heran melihat tingkah mereka berdua. "Itu....," sahut Hetty yang ingin menjelaskan namun dengan cepat Ika memotong ucapannya "Tidak, kami tidak mengenalnya, i-ya kan Hetty", Hetty langsung mengangguk kepalanya. "Oh."


***


"Apakah selama ini Herry manjadi singel dad untuk kamu? Aku perhatikan dia sangat peduli terhadapmu seperti seorang ayah untuk anaknya," ucap Hetty sesaat setelah Herry meninggalkan mereka, dia seperti merasa Herry sangat mementingkan Ika.


"Ha-ha-ha," Ika langsung tertawa ucapan Hetty seperti terdengar lucu di telinganya. "Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana bisa Herry menjadi sosok ayah untukku? Apa kamu lupa banyak wanita yang mau mendekat dengannya di tolak mentah-mentah apalagi mau menjadikan aku anaknya bisa ribet hidupnya dengan tingkahku," sahut Ika kemudian. "Itu beda Ika," Hetty seperti tidak terima dengan kata-katanya. "Apa yang beda?" Ika malah bingung dengannya. "Kalau itu wanita tapi ini anak."

__ADS_1


"I-ya tapi sama-sama membutuhkan cinta, kasih sayang dan perhatian, menurutku itu yang Herry belum mampu Herry berikan," Ika mencoba mengeluarkan pendapatnya. "Bukan belum mampu mungkin belum ada yang cocok," Hetty malah membela Herry. "Ah terserah kamu, ayo kita pulang," Ika menjadi malas terus berdebat dengannya. "Kenapa buru-buru? Bukan masih mau nongkrong."


"Tadi aku cuma alasan aja dengan Herry supaya dia tidak melihat kakiku terluka kalau dia tau aku mana boleh pergi tanpa di temenin."


"Oh, aku bantu kamu berdiri ya," Hetty mencoba membopongnya. "Aduh, kenapa badan kamu berat sekali aku tidak sanggup mengangkat kamu," Hetty tanpa lemah menahannya. "Hahaha," Ika malah merasa lucu melihat perjuangan Hetty menolongnya. "Eits, kok ketawa."


"Kamu itu ada-ada aja sih sudah tau tubuh kamu tubuhmu kecil kenapa malah membopongku, jelas tidak sanggup."


"Biar aku saja yang mengangkat Alika kamu tolong bawa tasnya saja," tiba-tiba terdengar suara Mika, entah sejak kapan sudah berada di samping mereka. "Tidak usah, aku bisa sendiri," Ika malah menolaknya. "Ika, bagaimana kamu bisa berjalan sendiri kedua kakimu terluka lebih baik biar dia mengendong kamu ke mobil."


Ika tidak peduli dengan mereka, dia langsung duduk di lantai dan mulai berjalan sambil gesot di lantai. Mereka berdua terkejut dengan tingkahnya yang sangat lucu dan menggemaskan."Hahaha," Hetty tidak bisa menahan tawanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Hetty setengah menahan tawa. "Berjalan sambil gesot di lantai," sahutnya santai.


"Alika, ini masih sore kamu tidak perlu gesot kalau kamu mau nanti malam aku temenin kamu gesot," Mika justru meledeknya dan langsung mengangkat tubuhnya yang kemudian di ikuti Hetty di belakangnya.


"Aku tidak mau kamu menolong aku kemudian kamu melukai aku lagi," Mika tersenyum mendengar ucapannya. "Aku tidak sengaja jika aku sengaja melukaimu, aku akan melukaimu setelah di KUA."

__ADS_1


Ika langsung terdiam dia tidak berani mengeluarkan suaranya lagi. Dia takut Mika betul-betul...


Selanjutnya...


__ADS_2