
Kruk! Suara gemuruh dari dalam perut yang tiba-tiba tersentak saat Ika mulai tertidur kembali datang membangunkannya. Meskipun mata masih terasa sangat ngantuk, Ika memaksakan diri turun dari ranjang karna rasa lapar itu menyerangnya. Dengan langkah berat, dia mulai keluar dari kamar menuju ke lantai bawah.
Sejenak Ika melupakan kejadian menyakitkan itu. Demi perut yang terus mengeluarkan bunyi krucuk-krucuk. Ketika sampai di bawah, dia mendapati seluruh ruangan tanpa terasa sepi seperti tidak ada kegiatan yang berlangsung, biasanya bibi yang selalu mondar-mandir untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dengan mengacuhkan keadaan di sekitar, Ika langsung menuju ke ruang makan tapi lagi-lagi dia tanpa bingung mendapati makanan yang masih tersusun rapi di atas meja, sama sekali belum ada yang menyentuhnya.
Padahal tadi bibi memanggilnya dan mengatakan Herry menunggunya meminta sarapan bersama tapi kenapa sekarang makanannya masih utuh. Tanpa ingin membingungkan diri, Ika mulai sarapan dengan segelas susu dan sepotong sandwich yang berisi keju.
Setelah selesai sarapan, dia menuju ke belakang menemui bibi untuk meminta bibi membantunya membereskan meja makan. Tapi lagi-lagi Ika tidak menemukan bibi di sana.
Dengan wajah tanpa lelah dan mata masih dalam keadaan ngantuk berat Ika langsung membereskan sendiri. Kemudian kembali ke kamar melanjutkan tidur.
Kring! Tiba-tiba hape bunyi, kembali mengejutkan dirinya setelah berjam-jam menghempaskan tubuh di kasur. Ika langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa memerhatikan layar yang tertera.
(Halo) Ika tanpa tenang menerima panggilan itu meskipun dia baru terbangun dari tidur.
(Sayang, cepat turun) terdengar suara dari hapenya.
(Siapa?) Ika sedikit bingung mendengar suara itu yang terasa tidak asing di telinganya.
(Memang ada berapa kekasihmu sekarang).
(Mika) Ika tanpa kaget saat tahu Mika yang menelponnya.
Dia langsung mematikan panggilan tersebut. Kemudian dia langsung bergegas keluar menuju gerbang utama mansion dengan berlari karna lumayan jauh dengan halamannya yang luas.
"Non, kenapa berlari-lari?" pak Johan yang sedang berjaga di pos tanpa bingung dengan bosnya yang tiba-tiba berlari-lari menuju ke gerbang. "Pak, tolong buka gerbangnya." Ika tanpa mengabaikan pak Johan. "Baik non."
"Siapa tamunya non? Apa tamunya sangat penting sampai non harus keluar sendiri padahal non bisa menelpon bapak untuk membukakan gerbangnya?"
"Oh iya juga ya pak." Ika baru teringat, ngapain dia harus capek-capek berlari keluar menjemput Mika sampai ke gerbang. Seharusnya Mika langsung saja dia persilakan masuk ke dalam mansion. Biasanya dia juga tidak pernah menjemput tamu sampai ke gerbang.
Ini pasti pengaruh tidurku yang terlalu lama sampai pikiranku plong bahkan badanku menjadi terlalu segar tanpa sadar langsung berlari keluar seperti anak kecil aja, batinnya.
"Ayo!" ucap Mika dari dalam mobil setelah pak Johan membukakan gerbangnya. "Kemana." Ika malah heran menatapnya. "Ikut bersamaku, keluar."
"Hah! yang bener saja, bagaimana bisa aku ikut denganmu dalam keadaanku kacau begini." Ika tanpa terkejut dengan permintaan Mika dengan keadaannya masih berantakan selepas baru tidur. "Kamu terlihat sangat seksi."
__ADS_1
"Non tamunya tidak di ajak masuk," ucap pak Johan yang memperhatikan Ika terus bicara dengan posisi berdiri di depan pintu gerbang. "Oh iya pak." Ika sampai lupa mempersilakan Mika masuk. "Yok! Kamu masuk dulu." Ajaknya.
Mika langsung mengarahkan mobilnya menuju ke dalam mansion tanpa ingin membantahnya sedangkan dia tidak langsung mengikutinya. Ika malah kepikiran dengan bibi yang tidak terlihat sama sekali, apalagi dengan adanya Mika seharusnya bibi paling suka mencari tahu siapa yang datang.
"Oh ya pak bibi Hanum kemana ya, Alika tidak menemukan bibi di belakang."
"Apa bibi Hanum tidak mengatakan apapun sama non?"
"Tidak, memang bibi ke mana?"
"Bibi Hanum pergi ke apartemen tuan Herry bersama pak Bram."
"Untuk apa ke sana?"
"Bapak kurang tahu non, lebih baik non telpon tuan Herry langsung."
Jelas saja Ika tidak mungkin menelpon Herry, dia sendiri yang meminta Herry menjaga jarak darinya. Apalagi menanyakan padanya kenapa menyuruh bibi ke apartemennya.
Tak ingin memusingkan diri, Ika malah meminta pak Johan menelpon mereka untuk mengantarkan bibi kembali ke mansion. Dia tidak berani berdua saja dengan Mika di dalam mansion, mengingat kejadian semalam dengan Herry membuatnya sedikit trauma.
***
"Kamu duduk aja dulu, aku akan mengambilkan minuman untukmu."
Ika langsung menyuruhnya duduk di depan mansion karna cuma itu solusi yang dapat dia lakukan. Ika tidak mungkin menyuruh Mika masuk tanpa bibi.
"Kamu tidak memintaku masuk."
"Di dalam sepi."
"Tidak masalah, lagian aku cuma mau duduk aja." Tanpa menghiraukan perkataannya, Mika langsung melangkahkan kaki ke arah pintu dan membukakan pintu kemudian mempersilahkan Ika masuk.
Kenapa dia bisa keras kepala begini, aku kan takut dia macam-macam. Lagian dia apa-apaan sich, dia yang tamu kenapa aku yang di persilakan masuk, batinnya.
"Aku harap kamu tidak lupa statusmu sekarang." Ika hampir saja melupakannya, tentu saja Mika melotot nekat masuk ke dalam tanpa ingin menunggu persetujuannya. Ika aja yang kurang peka karna terlalu takut hingga menganggapnya seperti orang asing.
"Kamu mau minum apa?"
__ADS_1
"Alika, kamu tidak usah membuatkan minuman untukku, aku datang kesini untuk menjemputmu."
"Kenapa mendadak seperti itu?"
"Apa kamu tidak melihat hapemu dari semalam aku menelpon kamu, baru tadi kamu mengangkatnya setelah aku datang ke rumahmu."
"Apa yang kamu lakukan semalam sampai hapemu berdering tidak kamu angkat?"
Deg! pertanyaaan Mika mengagetkannya, dia tidak menyangka Mika akan bertanya padanya seperti itu. Ika tidak mungkin menjelaskan padanya, sama saja dia memintanya untuk mencekik lehernya jika dia memberitahunya.
"Kenapa bingung."
"Mungkin ketiduran."
"Ohh, lain kali hapenya tarok di dekatmu."
"Iya."
"Sekarang bersiap-siaplah, ikut bersamaku."
"Tapi...," Sebenarnya Ika berniat tidak ingin pergi bersamanya karna pikirannya masih diliputi bayangan Herry yang begitu jelas terpampang dalam memori. Tapi dia juga tidak tega menolaknya karna rasa bersalah itu tiba-tiba datang menyerang.
"Tapi apa? Apa kita langsung berangkat terus, penampilanmu juga tidak terlihat buruk."
"Apa kamu sedang mengejekku?"
"Tidak, penampilanmu memang sangat menarik, kamu hampir saja menggodaku dengan penampilanmu itu."
Sontak saja Ika sedikit bergetar meresponnya. Padahal jelas-jelas matanya bengkak gara-gara semalam menangis terus, baju juga tanpa kusut setelah lama berguling di tempat tidur.
Bagaimana bisa penampilanku bisa menarik? Mungkin saja matanya lagi rabun, pikirnya.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap."
Dengan langkah cepat Ika langsung menaiki tangga menuju ke kamar. Saat di kamar, dia tidak langsung menggantikan pakaian, Ika malah memilih membersihkan tubuh terlebih dulu di kamar mandi.
Selesai mandi langsung memakai pakaian santai dengan blues berwarna putih di padu blazer abu-abu pudar dan celana jeans abu-abu gelap.
__ADS_1
Selanjutnya.