
"Aku kan berharap lagian untuk apa aku kasihan sama kamu, cuma kaki kamu doang yang terluka nanti juga Herry akan merawat kamu sampai sembuh," Ika langsung menyetak keningnya lagi. "Aw, kenapa kamu menyetak keningku terus, sakit tau," keluh Hetty.
"Kamu dari tadi ngomongnya ngeselin banget, aku itu lagi musibah kakiku terluka sampai tidak dapat di gunakan lagi. Gara-gara bertemu dengannya terus kamu bilang beruntung, apanya yang beruntung?"
Ika benar-benar ngamuk dengan terpaksa Hetty langsung mengunci mulut rapat-rapat, dia tidak ingin meladeni bosnya lagi. Hetty takut bosnya kembali menyetak keningnya sebagai sasaran kemarahannya.
Setelah keduanya saling membisu dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di mansion tempat kediaman Ika. Baru juga mobil mereka berhenti, Herry langsung membukakan pintu mobil itu dan langsung mengangkat Ika tanpa menghiraukan Hetty yang berada di sampingnya.
"Apa yang terjadi? Apa kamu terjatuh lagi?" Herry tanpa begitu mencemaskan dirinya. "Iya, aku terjatuh," Ika justru santai menanggapinya. "Kenapa bisa terjatuh terus-terusan, apa kamu tidak bisa menjaga dirimu sedikit saja?"
"Bukan rencana aku, ini fatal kecelakaan bukan aku yang mau," sahut Ika. "Iya aku tau mana mungkin kamu berencana melukai dirimu," Herry tanpa frustrasi meladeninya.
"Ah, sudahlah aku lagi malas berdebat, tolong bawa aku ke kamar. Aku mau istirahat, rasanya tubuhku remuk semua gara-gara terjatuh tadi," ternyata Ika sama frustrasi dengannya. "Baiklah," Herry langsung membawa Ika ke kamarnya. "Kamu istirahat dulu aku akan menelpon dokter Andi untuk memeriksa kamu."
Setelah membaringkan Ika di atas kasur Herry langsung menelpon dokter Andi, salah satu dokter pribadi keluarga Ika. Sesaat kemudian dokter Andi datang dan langsung memeriksanya.
Setelah selesai pemeriksaan, Herry langsung menghantarkan dokter Andi ke depan pintu. Dia kembali menemui Ika dan langsung memperingatinya setelah mendengarkan penjelasan dari dokter Andi bahwa kaki Ika sedikit membengkak.
"Ika jika kamu tetap masih ingin keluar maka aku akan mengikat tubuhmu di pinggir tempat tidur ini. Apa kamu mengerti? Dan satu lagi, kamu tidak perlu datang menemui Hetty lagi biar dia datang menemui kamu di kantor."
__ADS_1
"Aku tidak mau kamu sudah keterlaluan Herry, aku menemui Hetty di sana untuk mengobrol bukan bekerja kalau aku menemuinya di kantor, itu untuk bekerja. Aku bukan anak kecil lagi seperti dulu yang selalu harus di jaga terus sama kamu, sekarang aku sudah dewasa aku bisa menjaga diriku sendiri, kamu tidak perlu bersikap terlalu berlebihan padaku."
"Jika kamu bisa menjaga dirimu kenapa sampai terluka seperti ini, aku tidak ingin kamu terus membantah. Selama ini aku sudah memberi kebebasan untuk kamu tapi kamu tidak bisa menjaga dirimu dengan baik. Aku tidak bisa melihat kamu terus terluka, jika aku tau seperti ini aku akan mengurung saja kamu di rumah."
"Sekarang Luruskan kakimu aku akan memijit kamu," walau bagaimanapun Herry tidak bisa tidak mengkhawatirkannya. "Aku tidak mau kamu memijit aku," Ika tanpa resah dengan permintaannya.
"Kenapa?" tapi Herry malah heran dengannya. "Aku bisa memijit sendiri," dengan terpaksa Ika menolaknya. "Ika jangan membantah terus cepat lurus kakimu."
"Apa yang kamu lakukan Herry?" Ika tanpa terkejut tiba-tiba Herry langsung mengangkat kedua kakinya ke atas pahanya. "Aku sudah meminta kamu meluruskan kakimu tapi kamu tidak mau, terpaksa aku sendiri yang mengangkat kakimu ke atas pahaku biar mudah memijitnya."
"Tapi ini sudah sangat berlebihan Herry," wajahnya tanpa memerah menahan malu. "Kenapa, kamu malu? Padahal dulu aku yang memakai seragam sekolah kamu ketika bibi kewalahan karna tidak sanggup mengejar kamu yang terus berlari ke sana-sini. Kamu tidak mau memakai bajumu kalau bukan mamamu yang memakainya padahal kamu tau waktu itu mamamu tidak ada di rumah," Herry malah mencandainya. "Itu aku masih kecil sekarang aku sudah besar."
***
"Tidak perlu aku bisa sendiri," sahut Ika. "Kaki kamu sakit biarkan aku menyelimuti kamu supaya kamu bisa lebih mudah meluruskan kakinya." Herry begitu sabar menanggapinya.
"Apa aku banyak merepotkan kamu?" tanya Ika tiba-tiba. "Tidak, aku sendiri yang ingin menjaga kamu, aku tidak ingin kamu terluka lagi. Sudah cukup kamu menderita dulu ketika kedua orang tuamu tiada. Sekarang kamu harus bahagia, itu yang aku inginkan."
"Tapi aku bisa mencari kebahagian aku sendiri kamu tidak perlu melindungi aku terus. Aku juga ingin melihat kamu bahagia, Herry." Ika merasa dirinya sudah cukup dewasa, dia tidak ingin Herry menjaganya terus. Sekarang saatnya Herry menentukan masa depannya.
__ADS_1
"Berapa kali aku katakan padamu untuk tidak mengurus kehidupanku," sahut Herry. "Tapi kamu sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untukku, aku tidak ingin kamu sia-siakan hidupmu untukku."
"Aku lelaki, aku mampu mengurus diriku dan aku bisa menentukan bagai masa depanku sendiri kamu tidak perlu memikirkan aku, cukup aku saja yang memikirkan kamu," sahut Herry. "Sekarang kamu harus belajar mengubah panggilan kamu untukku, panggil aku abang karna aku akan menjadi keluargamu untuk selamanya."
"Aku tidak mau jika aku memanggilmu abang bagaimana bisa aku memimpin kamu di perusahaan nanti. Aku akan malu dengan karyawan aku di kantor karna mereka akan berpikir aku menjadi bos untuk abang aku sendiri. Selama ini yang mereka tau kamu itu asistenku, bukan abang angkat aku."
"Terserah kamu jika kamu terus-terusan menyebut namaku maka aku akan tetap selalu mengawasi kamu sampai panggilan kamu berubah, kamu mengerti!"
"Apa maksud kamu, apa kamu sedang mengancam aku?" Ika bukannya merasa takut, dia malah merasa Herry seakan ingin terus memaksanya memanggilnya abang. "Mana bisa aku mengancam kamu, itu hanya peringatan untuk kamu."
"Sama aja, itu juga mengancam namanya," wajah Ika tanpa murung. "Apa aku sangat mengerikan saat di dekatmu hingga kamu ketakutan?" tanya Herry. "Tidak, kamu seperti mengurungku saja," sahut Ika. "Aku cuma tidak mau kamu bergaul dengan orang yang salah, kamu tidak terlalu paham dunia luar."
Herry terus mengawasi dirinya saat berada di dekatnya, kemana ia pergi Herry mengawalnya terus. Selain itu, Herry juga hanya membiarkannya bepergian di sekitaran kantor dan kampus salain itu dia harus di rumah jikapun dia ingin pergi keluar Herry akan ikut bersamanya.
"Jika kamu terus-terusan seperti ini kapan aku bisa mengerti keadaan di luar, aku juga ingin punya kebebasan sendiri."
"Apa kamu ingin mencari kebebasan dan merusak diri kamu sendiri," tanya Herry. "Bukan itu maksudku, aku ingin merasakan kebebasan sendiri tanpa di batasi oleh kamu."
Aku sepertinya harus lebih tegas dengannya selain di kantor. Herry sudah membuatku harus ikut peraturannya. Seharusnya dia yang harus mengikuti peraturan aku, batinnya.
__ADS_1
Percuma juga Ika bersikap tegas padanya selain di kantor Herry tidak akan pernah mendengarkannya. Terkadang...
Selanjutnya...