
Percuma juga Ika bersikap tegas padanya selain di kantor Herry tidak akan pernah mendengarkannya. Terkadang Ika yang harus mematuhinya. Herry sangat tegas jika menyangkut masalah pekerjaan, Ika bahkan kesulitan menghadapinya.
"Istirahatlah! Jangan ajak berdebat terus kamu butuh istirahat. Aku mau ke kamar dulu untuk membersihkan tubuhku, setelah itu akan aku buatkan bubur untuk kamu."
"Iya, terserah kamu," sahut Ika dengan wajah bete setelah lelah berdebat dengannya yang pada akhirnya dia juga yang harus menyerah. Padahal Ika sangat kesel dengan tingkahnya yang seperti ingin mengurungnya saja meskipun Herry mencoba melindunginya.
Apapun keputusan pasti akan berpihak padanya, Herry tidak akan mudah menurutinya begitu saja. Jangankan untuk pacaran, baru kenal cowok saja Herry terus-terusan menginterogasi dirinya. Hingga Ika malas sendiri berdebat dengannya terus-terusan gara-gara masalah sepele.
Bahkan pergaulannya juga tidak terlalu luas akibat Herry super aktif mengontrolnya. Herry mampu membuat dirinya bersikap cuek dengan semua cowok yang berada di sekitarnya. Mereka merasa kapok berkenalan dengannya yang tanpa terlalu cuek.
Karna terlalu lelah, akhirnya Ika tertidur juga dengan pikirannya yang masih menerawang hingga sore hari jam 06.00 WIB dia baru terbangun namun saat matanya terbuka, pandangannya pertama kali langsung tertuju pada Hery yang terlelap di atas sofa dekat tempat tidurnya dengan posisi duduk.
Ika kemudian beranjak dari tempat tidur untuk menyelimutinya namun satu tangannya malah menarik Ika sampai terjatuh ke atas pangkuannya tapi kedua matanya masih tertutup dengan rapi bahkan badan Herry sama sekali tidak bergerak, hanya tangannya yang aktif hingga kini kedua tangannya sudah memeluk pinggang Ika seperti guling.
Ika mencoba melepaskan tangan Herry dari pinggangnya tapi terlalu erat hingga terpaksa dia mengigit tangan itu. "Aw, apa yang kamu lakukan?"
"Kamu aneh, kenapa menarik aku keatas pangkuanmu, terus memeluk tubuhku dengan keras hingga sesak," sahut Ika. "Bagaimana aku bisa menarik kamu sedangkan aku tertidur jika bukan kamu sendiri yang datang padaku."
"Aku tidak melakukan itu, aku mencoba memberikan selimut ini padamu," Ika langsung memperlihatkan selimut di tangannya, dia betul-betul tidak sadar dengan santainya masih duduk di atas pangkuannya.
"Jika kamu inginkan pun, aku tidak apa-apa," bisikan Herry di telinganya saat tubuhnya masih di atas pangkuan Herry bahkan bulu kuduknya sampai naik namun Ika masih belum sadar juga posisinya.
__ADS_1
"Apa kamu merasa nyaman berada di atas pangkuanku jika kamu merasa nyaman maka aku relakan?" sontak saja Ika terperanjat darinya dengan langkah cepat dia kembali ke tempat tidurnya dengan perasan malu.
Herry hanya tersenyum melihat tingkahnya tapi tidak dengannya yang sudah tidak mampu memperlihatkan wajahnya lagi. "Sepertinya kaki kamu sudah sembuh."
Ika tidak menghiraukan perkataannya lagi, dia terus menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga selimut itu sudah membungkus tubuhnya seperti mayat.
"Ika, jangan tidur lagi kamu sama sekali belum makan, aku sudah membuatkan bubur untukmu mungkin sekarang sudah dingin. Akan aku panaskan kembali, kamu tunggu di kamar aja, nanti akan aku membawakan buburnya ke sini," Herry langsung meninggalkannya menuju ke dapur.
***
Setelah Herry meninggalkan kamarnya, Ika malah duduk termenung sendiri di atas kasur memikirkan kejadian tadi yang jelas-jelas Herry yang menarik tubuhnya ke atasnya tapi Herry malah menyalahkannya ingin duduk di atas pangkuannya.
Apa tadi dia bermimpi makanya bersikap seperti itu hingga tidak sadar menarik tubuhku, tapi mimpi apa dia sampai tidak sadar dan menunduk aku yang melakukan hal bodoh itu. Gara-gara dia bermimpi aneh, aku yang menjadi sasarannya untuk menahan malu karenanya, batinnya.
"Tadi aku kesini ingin bangunin kamu untuk makan tapi kamu tertidur nyenyak, aku jadi tidak tega bangunin kamu, terpaksa aku tunggu kamu di sofa tapi aku malah ketiduran disitu."
"Ayo makan, aku akan menyuapi kamu," tawar Herry dengan gaya paksa. "Tidak, aku bisa makan sendiri," tolak Ika dengan kesel. "Kamu lagi sakit biarkan aku saja yang suap."
"Tidak perlu, kakiku yang sakit bukan tanganku, aku masih bisa makan...," belum selesai Ika mengatakannya, Herry sudah duluan memasukkan bubur itu ke mulutnya. "Jangan bicara terus, kunyah bubur di mulutmu itu."
"Apa yang harus di kunyah lagi, bubur itu sudah hancur," sahut Ika cemberut, Herry malah tersenyum melihat wajahnya cemberut. "Kenapa cemberut gitu?" Herry langsung mencubit hidungnya dengan gemes karna tidak tahan melihat Ika sangat mengemeskan. "Kenapa kamu mencubit hidungku nanti hidungku bisa rusak karna ulah kamu itu."
__ADS_1
"Kamu itu gemesin banget sih kalau lagi cemberut gitu, aku sampai ingin mencubit pipimu juga," seketika Ika langsung memangsa wajah monster. "Jangan coba-coba, jika berani menarik pipiku maka aku tidak segan-segan untuk memecat."
Tapi Herry tidak merasa takut sama sekali kalau Ika mengancamnya karna dia tau Ika hanya berani mengancamnya saja tanpa berani bertindak jika menyangkut dengannya."Iya, aku tidak akan melakukan itu," Herry justru mencium keningnya.
Setelah itu dia keluar dari kamar Ika kayak biasa seperti tidak terjadi apa-apa sedang Ika jangan di tanya lagi, dia terkejut sampai tidak mampu berkata lagi.
Kalau aku tau Herry akan melakukan hal konyol itu, lebih baik aku ikhlaskan pipiku di cubit-cubit olehnya sampai merah dari pada merelakan keningku, batinnya.
Sebetulnya Herry sangat menjaganya, Herry sedikitpun tidak akan menyentuhnya bahkan sikapnya sangat dinginnya dengannya. Dia tidak pernah bersikap aneh padanya tapi setelah ulang tahunnya yang ke-20, tindakan Herry kian aneh dengannya. "Kenapa terdiam?"
"Kenapa ke sini lagi?" Herry malah kembali lagi ke kamarnya. "Membawakan minum untukmu," sahut Herry tanpa santai. "Kenapa kamu menodai keningku?"
"Siapa yang menodai keningku?" tanya Herry heran. "Itu tadi kamu mencium keningku," Ika tanpa malu-malu mengatakannya. "Aku hanya mengecup bukan mencium," Herry terlihat santai menanggapinya. "Aku merasa kamu makin hari makin aneh padaku,"
"Tidak aku seperti biasa, aksimu saja yang sangat berlebihan. Jika bibirmu yang aku cium, entah apa yang kamu lakukan padaku," Ika kembali memangsa wajah mengerikan. "Ini sudah mau magrib, kamu harus mandi."
"Iya, aku akan pergi mandi," sahut Ika dengan malas. "Apa perlu aku membantumu?" tanya Herry dengan usik. "Tidak, aku bisa sendiri, kamu keluar aja," Ika langsung berdiri meraih handuk. "Oke, jika butuh sesuatu, kamu panggil aku di kamar ya."
"Tidak perlu, ada bibi aku akan memanggil bibi aja," Ika tidak ingin menerima bantuannya lagi, lebih baik dia memanggil bibi saja walaupun sedikit susah untuk memanggilnya yang berada di lantai bawah dari pada menghadapinya sikapnya yang makin menjadi-jadi seperti bukan dirinya yang begitu tegas padanya. "Oke, terserah kamu."
Setelah menjahilinya, Herry langsung ke luar meninggalkannya dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Selanjutnya...