
Ika langsung terdiam dia tidak berani mengeluarkan suara lagi. Dia takut Mika betul-betul menggendongnya menuju penghulu, Ika tidak ingin itu terjadi. "Kenapa malah diam, kamu takut?"
Ika masih saja terdiam sambil menggulung tubuhnya dengan kedua tangannya persis seperti bola kaki tinggal tunggu terguling dari dalam gendongannya. "Apa yang lakukan? Kenapa menggulung tubuhmu seperti ini? Apa kamu tidak takut terjatuh? Cepat lepaskan tanganmu sebelum jatuh," Ika langsung melepaskan kembali tubuhnya. "Kayaknya kamu sudah sekali bermain di dalam gendonganku."
Apa yang dia katakan? Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana aku bisa bermain dalam gendongnya, aku malah merasa malu hingga menggulung tubuhku supaya tidak nampak wajahnya, belum lagi jalannya macam siput kapan mau sampek ke mobil, batinnya.
"Apa belum sampai juga?" Ika tidak tahan lagi mendengarkan kata-kata Mika yang membuat ia terus menahan malu. "Belum, masih jauh."
Mana mau sampek kalau jalannya aja lebih lambat dari siput, perasaan duluan dia jalan dengan Hetty. Sekarang malah dia ketinggalan jauh darinya, apa dia sengaja memperlambat jalannya bisa-bisa jantungku sports terus, Ika terus menggerutunya.
"Apa kamu tidak merasa capek menggendongku," Ika tanpa kesel Mika terus memperlambat jalannya. "I-ya, aku sangat capek nanti kamu harus memijit seluruh badan aku," Ika malah merasa menyesal telah bertanya padanya.
Kalau dia betul-betul menagih janjinya bagaimana caranya aku bisa menempati. Kenapa dia harus menyuruhku memijit badannya, seluruh badannya lagi, permintaannya ada-ada saja, pikirnya.
"Apa yang kamu pikirkan? Apa isi dalam otakmu tentangku? Apa kamu membayangkan tubuhku?" jangankan menjawab mendengarkan saja tubuhnya sudah merinding dan geli. Ika tidak menyangka Mika akan menanyakan apa yang ia pikirkan.
"Apa pikiran kamu selalu mesum?" tanya Ika heran. "I-ya, jika aku sedang di dekatmu," Mika malah menggombal dengannya. "Tau ah kamu," Ika tanpa sebel. "Kamu tambah cantik aja jika sedang ngambek," Ika merasa ngeri mendengarkan Mika menggombal terus tidak seperti wajahnya yang tanpa cool.
"Kenapa mengirim kembali makanan tadi ke mejaku? Apa menunya kurang cocok?" sahut Mika tiba-tiba saat Ika termenung dalam gendongannya. "Makanan apa?" Ika tanpa bingung. "Makanan yang di antar ke mejamu itu."
"Oh itu, mana aku tahu jika makanan itu kamu yang memesan untuk kami, lagian untuk apa kamu pesan makanan sebanyak itu? Kamu pikir kami kelaparan."
__ADS_1
"Tidak, aku memesannya karna aku perhatikan kamu tidak memesan apa-apa makanya aku pesan sekalian untuk kalian," sahut Mika. "Kenapa kamu memperhatikanku?"
"Karna aku ingin melihatmu tapi aku malah kecewa mendapati kamunya membelakangi aku terus."
Apa dia sehat untuk apa memperhatikanku? Aku jadi penasaran, pantesan dia chat aku seperti itu tapi dari mana dia mendapatkan nomorku, pikirnya.
"Apa kamu suka memperhatikan cewek-cewek yang nongkrong di cafe ini juga?" tanya Ika. "Apa kamu menuduhku playboy?" Mika melototi dirinya "Tidak, aku tidak mengatakan itu," Ika tanpa gemetaran. "Jadi apa juga yang ingin kamu katakan," Mika terus memelototinya.
"Tadi ke-napa kamu memperhatikanku," Ika tanpa tergagap karna gemetaran tapi Mika justru tersenyum melihat raut wajahnya yang ketakutan. "Aku memperhatikan kamu sebab kamu sedang terluka aku takut kamu butuh pertolongan."
Ika langsung menunduk setelah Mika menjelaskan padanya. Ika mengira Mika playboy, dia merasa malu ternyata dia berniat baik untuk menolong dirinya tapi dia sempat-sempatnya berpikir jelek tentangnya.
Namun baru juga mereka keluar dari cafe, nampak Herry turun dari mobilnya terburu-buru berlari ke arah mereka dengan wajah yang sangat gelisah.
"Kenapa dengan kamu? Apa kamu terluka lagi?" Herry terlihat sangat mencemaskan dirinya. "Aku tidak apa-apa, ini hanya luka ringan aja tapi kamu kenapa masih ada disini? Bukannya tadi kamu sudah balik," Ika malah bingung.
"Di dalam perjalanan perasaanku tidak bisa tenang meninggalkanmu, aku teringat akan terjadi sesuatu dengan kamu setengah jalan aku balik lagi ke sini ternyata feeling aku benar."
"Ke mana Hetty mengapa dia meninggalkanmu dengan orang ini?" Herry tanpa marah melihat Ika di gendong. "Itu, di dekat mobil lagi nunggu aku," Ika menunjukkan dengan jarinya ke arah Hetty.
"Biarkan aku yang akan menggendongnya," wajah Herry tanpa tidak bersahabat dengan Mika. "Aku akan membawa Alika sampai ke mobil," Mika malah tidak menyerahkannya. "Tidak, serah saja padaku," Ika tanpa pusing melihat mereka malah berdebat tentang dirinya. "Mika cepat bawa aku ke mobil."
__ADS_1
"Ke mobil aku saja," sahut Herry tapi Ika tetap meminta Mika membawanya ke mobil Hetty. "Siapa lelaki itu?" tanya Mika tanpa penasaran. "Keluargaku," sahut Ika asal. "Apa dia itu kakak kamu?" tanya Mika lagi.
"I-ya," sahut Ika sedikit ragu. "Tapi dia tidak terlihat seperti kakak kamu, dia nampak menahan marah ketika melihatku menggendong kamu dan dari wajahnya terlihat sangat khawatir padamu."
"I-ya wajar dong aku kan adiknya, bagaimana dia tidak khawatir," timpal Ika. "Tapi khawatirnya sangat tidak wajar," Mika tanpa tidak yakin. "Apa kamu sedang cemburu?" Ika mencoba mengajaknya bercanda dengan mengejeknya, Ika tidak tau cara menanggapinya lagi.
"I-ya," sahut Mika santai tapi malah hatinya yang getar kemudian Ika malah terdiam. "Apa kamu menginginkan seperti itu?" ternyata Mika ingin mencoba menjebaknya, niatnya ingin mengejek Mika justru dia yang terjebak dengannya. "Tidak," Ika buru-buru mengelak.
"Jangan banyak berjalan dulu tunggu sampai kakimu pulih jika kamu tidak mendengarnya
maka aku yang mengendong kamu terus kemana yang ingin kamu datang," bisik Mika di telinga saat meletakkan tubuhnya ke mobil Hetty. Ika malah tidak mampu meresponnya dengan baik karna terlalu geli dengan bisikkan Mika di telinganya, bulu kuduknya sampai naik dan Hetty cuma meliriknya sebentar.
"Aku kayak merasa kalian sudah kenal lama," ucap Hetty setelah kepergiaan Mika. "Dengan siapa?" tanya Ika bingung. "Kamu sama cowok tampan itu," sahut Hetty lagi. "Apa Mika maksud kamu?" Ika tanpa cuek menanggapinya. "Iya, siapa lagi," tapi Hetty malah kesel dengannya. "Aku jadi menyesal dia hanya menabrak kamu, seharusnya aku ikut ditabraknya."
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Pasti kamu kasihan melihatku menderita sampai kakiku terluka," Ika langsung tersentuh dengan kata-kata Hetty. "Heh! Pede kali kamu siapa yang kasihan sama kamu? Aku itu lagi cemburu karna cowok tampan itu terus menggendong kamu bukan aku, aku pengen juga digendong sama dia," kata-kata Hetty langsung mematahkan hatinya. "Awas ya kamu bulan ini gaji kamu aku potong 50%."
"Kenapa sampai 50%? Kamu tega ya, kita bukan lagi di kantor, aku sekarang teman kamu bukan karyawan kamu, jika kamu memotong gaji aku sebanyak itu, maka aku tidak mau jadi teman kamu lagi mulai besok," Hetty malah memprotesnya. "Habis kamu ngeselin banget."
"Aku kan berharap lagian untuk apa aku kasihan sama kamu cuma...
Selanjutnya...
__ADS_1