TERPESONA BOSS MUDA

TERPESONA BOSS MUDA
Salah paham.


__ADS_3

Darimana dia tau ukurannya? Jangan-jangan waktu aku tertidur tadi dia melihat semua. Bagaimana ini, Ika panik tanpa pikir panjang dia langsung keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.


"Kenapa belum mandi?" tanpa menjawab Ika langsung menendangnya. "Aduh," Mika terkejut dengan tingkah Ika yang tiba-tiba padanya. Kiki langsung menjauh dari samping Mika, dia takut Ika akan menendangnya juga.


"Kamu itu kenapa, kerasukan?" Mika bingung dengan sikap Ika yang langsung menendangnya tanpa mengatakan apa-apa hingga harus merelakan tangannya mengelus-mengelus pahanya yang masih sakit, Ika terlalu kuat menendangnya.


"Untung kaki kiri yang sakit bukan kaki kanan jadi aku masih bisa menendang kamu," sahut Ika tanpa menghiraukan keadaannya. "Alika, apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan barusan?" Kiki tanpa heran juga. "I-ya, aku masih sadar."


"Kenapa kamu tiba-tiba datang langsung menendangnya? Syukurlah asetnya masih selamat," Kiki tanpa panik. "Apa itu aset?" Ika malah terlihat cuek.


Kiki tanpa sadar menunjukkan jarinya kearah aset temannya itu sambil setengah tersenyum. Mika langsung menatap Kiki dengan tatapan ngeri seakan-akan ingin memangsanya sedang Ika justru melotot kearah mereka berdua, heran.


"Ah, lupakan itu! Lebih baik kamu jelaskan Alika ada apa?" Kiki dengan terpaksa mengalihkan suasana dengan mengeliminasinya. "Dia membelikan pakaian lengkap dengan satu set dalaman untukku semua pas di badanku darimana dia tau ukurannya kalau tidak melihatnya."


"Hahaha," Kiki langsung ketawa terbahak-bahak mendengar Ika dengan ceplos-ceplos menjelaskannya. "Hey bro! Apa aku tidak salah dengar?" tanya Kiki yang merasa lucu dengan temannya itu yang tidak seperti biasa. Tapi Mika hanya diam dia seperti tidak ingin menjelaskan apapun.


"Alika, kamu tenang dulu tidak perlu khawatir Mika itu mengurusi berbagai bidang pakaian termasuk pakaian dalam wanita. Dia cukup mengatakan berat dan tinggi kamu kepada karyawannya maka mereka akan tau sendiri ukuran itu tidak harus melihatnya untuk mengukur," Kiki mencoba menjelaskan padanya.


Tentu saja wajah Ika langsung memerah menahan malu, bodohnya lagi Ika tidak memikirkan hal itu padahal dia juga punya butik sendiri yang bernama Beauty brand tapi malah melupakan masalah itu. Ika langsung membalikkan tubuhnya hendak berlalu dari hadapan mereka menuju ke kamar yang dia tempati dengan menahan malu.

__ADS_1


"Alika, mau kemana?" tubuhnya langsung mematung sesaat tanpa berani menatap kearahnya. Mika berinisiatif membeli pakaian untuknya tapi dia malah salah paham dengannya. "Maaf," suara tanpa lemah. "Apa masih sakit biar aku bantu obati?" Ika terlihat menyesal telah bertindak gegabah.


"Hehehe," Kiki kembali tertawa melihat wajah temannya itu sudah berubah aneh sambil melotot tajam ke arah Ika. "Bro, biar aku saja yang di obati sama Alika sekalian ke kamar jangan disini," Mika langsung melemparkan bantal yang ada di atas sofa ke arahnya. Kiki dengan sigap menangkap bantal itu sambil memangsa wajah cemberut.


"Kamu sakit juga, apa tadi aku juga melukaimu?" Kiki hanya tersenyum melihat Ika begitu polos menanggapinya tapi tidak dengan Mika yang sudah memasang wajah mengerikan. Mika terus menatap ke arahnya hingga membuat tubuh Ika bergetar dengannya.


"Alika, kamu mandi sendiri atau aku yang akan memandikan kamu," Ika langsung kabur ke kamar dengan sedikit berlari karna kakinya masih sakit kemudian mengunci pintu kamarnya, melihat Mika betul-betul serius dengannya. "Sabar bro," Kiki menimpalinya.


***


Setelah selesai mandi Ika langsung mengarahkan wajahnya menghadap cermin karna di dalam paperbag itu juga ada kosmetiknya. Mika seperti sangat paham dengan kebutuhan wanita. Setelah itu dia langsung keluar dari kamar tapi Ika tidak menemukan temannya lagi, hanya ada Mika di ruang tamu yang masih setia duduk di atas sofa. "Kiki kemana?"


"Aku sudah selesai, ayo hantarkan aku sekarang," Mika langsung mengalihkan pandangannya, suara Ika mengejutkan lamunannya. "Kamu shalat magrib disini aja aku juga sudah memesan makan malam untuk kita di meja."


Setelah itu Mika langsung beranjak dari sofa menuju ke kamarnya sedangkan Ika malah menggantikan posisinya duduk di atas sofa dengan wajah cemberut. Bisa-bisanya aku lupa waktu jika aku tau mending aku pulang terus ke rumah sekalian mandi di sana, Mika juga untuk apa memesan makanan malam untuk aku segala aku bisa makan sendiri nanti di rumah, ngomelnya


"Apa hobi kamu melamun?" tiba-tiba terdengar suara yang lagi mengatainya, lebih tepatnya sedang mengejeknya saat dia hampir aja tertidur di atas sofa setelah lama menunggu. "Hobi kamu juga kayaknya seperti gentayangan selalu muncul tiba-tiba dan terus menghantui imajinasi aku" sahutnya tanpa sadar. "Hehehe," Mika tertawa melihat Ika malah meresponnya, kembali mengejek dirinya.


"Teori darimana kamu menemukan kalimat seperti itu bukan aku yang muncul tiba-tiba tapi kamu aja keseringan melamun ketika aku datang tapi aku ikut senang bisa datang ke dalam imajinasi kamu," Ika langsung menunduk malu setelah membeberkan isi pikirannya tanpa sadar.

__ADS_1


"Kamu sudah shalat belum?" Ika hanya menggeleng kepala, dia memang lagi tidak bisa menunaikan kewajiban itu sekarang karna tamu bulanannya hadir. "Kamu tidur disini malam ini besok aja pulangnya" Mika seakan tidak rela membiarkannya pergi.


Ika menatap ke arah sejenak, buat apa coba Mika memintaku tidur di apartemen ini bersama dengannya, apa Mika kurang waras hari ini bahkan aku merasa waktunya sudah terbuang sia-sia karna ide gilanya membawa aku ke apartemennya sekarang menyuruh aku menginap disini, pikirnya. "Tidak, aku bisa pulang sendiri."


"Aku tetap akan mengantarku pulang tidak baik seorang gadis berkeliaran di malam hari banyak yang minat apalagi berkeluyuran sendiri ke tempat pembangunan proyek itu, jam segini mana ada lagi manusia sana," setelah mengatakan itu, Mika langsung menarik tangannya menuju ke meja makan soalnya Ika terus menolaknya untuk makan malam bersama dengannya. Ika cuma tidak ingin terlalu larut sampai di rumah.


Ketika sampai di meja makan, dia langsung menarik kursi untuknya setelah itu Mika ikut duduk berhadapan dengannya. "Alika ayo makanlah dulu" setelah meletakkan piring di depannya. "Iya."


Ika dengan terpaksa langsung meletakkan nasi ke dalam piringnya lengkap dengan lauk serta sayurnya dan memakannya, dia tidak ingin lagi berlama-lama di tempat ini bersamanya.


"Sebetulnya aku lagi mencari sekertaris untuk bekerja di kantorku," Ika terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya dengan setengah merespon ke arahnya. "Terus."


"Apa kamu mau menjadi sekretaris aku?" Ika yang baru memasukkan nasi ke mulut langsung tersedak. "Ahuk, Ahuk," Mika langsung menyerahkan segelas air putih padanya. "Makan pelan-pelan dong tidak ada yang mengambil makananmu."


"Bagaimana aku tidak tersedak jika bicaramu ngawur seperti itu, di mana-mana kalau cari sekertaris itu di interview dulu setelah di nyatakan cocok baru diterima jadi sekertaris," sahut Ika emosi. "Anggap aja tadi aku lagi interview kamu."


Mana ada interview diruang makan lebih tepatnya lagi sambil makan, Mika betul-betul membuatnya...


Selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2