TERPESONA BOSS MUDA

TERPESONA BOSS MUDA
Pemilik kampus.


__ADS_3

Tok..tok..tok...


"Masuk," terdengar suara seseorang dari ruang pak Kiki. Saat Ika masuk ke ruang pak Kiki, dia justru terkejut mendapati Mika juga berada di dalam ruangan tersebut.


"Alika, kamu kuliah disini," Mika tampak terkejut melihatnya. "I-ya," Ika juga terkejut tiba-tiba Mika berada di kampusnya. "Bro, kenapa tidak memberitahu aku, kamu mengajar di kelasnya?"


"Aku juga baru tau Alika ikut mata kuliah ini juga, tadi aku sengaja menyuruh Alika ke ruangan ini biar bisa ngobrol dengannya," Ika menatap Kiki sejenak.


Ternyata ada udang di balik batu hanya untuk sebuah alasan dia menyuruhku menghantarkan tugas ini ke ruangnya, menyebalkan sekali Kiki, batinnya.


"kayaknya kita berjodoh, ini pertemuan yang kita ke tiga tanpa sengaja kalau berjodoh memang tak akan kemana, pasti akan datang sendiri tidak perlu mengejar sampai ke pelosok dunia."


Kiki tersenyum mendengar pelantunan sahabatnya itu tapi Ika malah tidak mengatakan apa-apa, dia masih bingung dengan mereka berdua kenapa bisa berada di kampusnya dan Kiki juga kenapa tidak mengatakan padanya Mika ada di ruangnya.


"Kenapa aku tidak pernah melihat kamu di kampus ini?" tanya Mika. "Bro, bagaimana kamu bisa tau semua mahasiswa di sini jika kamu sendiri hanya sekali hadir dalam sebulan, itu juga bukan kamu sendiri yang mengisi mata kuliahnya," Kiki langsung menyahut saat melihat Ika tidak meresponnya. "Iya tapi aku tetap hadir."


"Kamu hadir untuk mengecek saja bagaimana kamu bisa kenal dengan mahasiswa di sini dan aku yakin mereka juga belum pernah melihatmu," sahut Kiki lagi. "Iya juga sih tapi masak iya mereka tidak mengenaliku."


"Maaf pak, ini tugas dan absen yang bapak suruh bawa ke ruang bapak," tiba-tiba Ika menyahut setelah lama berdiri tegak di depan meja Kiki yang sudah lelah mendengar perdebatan keduanya sedangkan dia sendiri tidak mengerti dengan perdebatan mereka.


"Kenapa menyebut bapak untukku, aku hanya dosen pengganti kamu panggil nama saja, aku hanya mengganti temanku itu yang belum sempat mengajar mata kuliah ini," sahut Kiki sambil menunjukkan jarinya ke arah Mika yang masih duduk sofa. "Kamu panggil pak untuk Mika aja dia yang memegang mata kuliah ini."

__ADS_1


Ika baru paham rupanya Mika dosen mata pembelajaran manajemen bisnis itu berarti dia juga pemilik universitas ini. Ika tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-temannya. Jika mereka tau bahwa pemilik kampus ini seorang lelaki muda yang tampan. Dia aja sampai terpesona dengannya apalagi kalau temannya tau dia mengenal dua manusia ganteng itu, habislah riwayatnya. Ika tidak yakin mereka akan membiarkannya merasa tenang selama berada di kampus.


"Maaf pak Kiki tapi Mika belum pernah masuk di kelas saya, saya merasa tidak perlu memangilnya bapak," Ika tanpa tegas menanggapinya.


Bahkan Ika selalu berbicara dengan kalimat yang sopan pada Kiki untuk menghargainya sebagai dosen yang sudah membimbingnya tapi tidak dengan Mika.


Ika masih menganggap Mika sebagai temannya hingga bicara aja ceplos-ceplos dengannya dan Mika hanya tersenyum menanggapinya. "Pertemuan selanjutnya aku akan mengisi sendiri pada mata pelajaran ini."


"Tumben secepat itu, apa karna Alika?" tanya Kiki. "Ahuk, ahuk," Ika langsung batuk-batuk mendengar pertanyaan Kiki yang sangat lancang di depannya.


Mereka berdua menoleh ke arahnya sejenak, setelah itu Mika langsung mengambil minuman di dekat tempat duduknya dan menyerahkan padanya tanpa beranjak dari sofa. "Apa ada yang salah denganmu?" tanya Mika saat menyodorkan air putih padanya. "Tidak."


***


"Jika kamu mau pingsan juga tidak apa-apa, aku akan mengangkat kamu dan akan membawa kamu ke apartemen aku lagi," sahut Mika yang tidak menunggu jawaban dari Kiki. "Jadi waktu itu kamu sengaja membawa Alika ke apartemen kamu," ujar Kiki. "Kebetulan," Mika malah membuat Kiki makin penasaran dengan jawabannya yang begitu singkat.


"Kamu juga kenapa masih berdiri disitu bukankah di dekatku sudah di sediakan tempat duduk, tugas itu juga kenapa tidak kamu letakkan di atas meja dia terus," Ika malah bingung, Mika malah memintanya duduk di sofa sampingnya. "Alika, letakkan tugas itu di sini,"


"Bro, bagaimana jika kita makan di luar," ajak Kiki. "Boleh, Alika kamu harus ikut juga," sahut Mika. "Terima kasih tapi temanku sudah menungguku di kantin."


"Ajak sekalian," ucap Mika. "Tidak usah, aku akan makan di kantin bersama mereka," Ika langsung menolaknya, tentu saja dia tidak berani mengajak teman-temannya dengan tiba-tiba seperti itu. "Maaf pak, saya permisi," baru juga dia ingin berputar badan, Mika langsung menariknya untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa buru-buru," Mika tanpa santai aja dengan tingkahnya. "Apa yang kamu lakukan untuk apa menarik aku kesini. Kamu jangan seperti ini, ini kampus bukan hotel," Ika tanpa canggung. "Emang kalau di hotel kamu mau temenin aku biar aku booking nanti."


"Kamu apaan sih," Ika nggak habis pikir dengan Mika yang sangat lancang mengajaknya ke hotel. "Beneran, jika kamu mau sekarang juga boleh check ini hotel, aku juga mau ke sana setelah ini."


"Aku tidak mau kamu pikir aku wanita bayaran kalau mau ajak aja teman kamu itu suruh sekalian cari wanita yang ingin bermalam denganmu di hotel."


"Hahaha," Kiki yang sedang memeriksa tugas tidak bisa menahan tawa mendengarnya membentak temannya. "Ditolak bro makanya ngomong itu jangan langsung the points pasti ngamuk Alika kalau kamu bicara kayak gitu."


"Bro, sepertinya pikiran kamu sudah mulai ngawur mungkin jomblo kamu lagi meronta-meronta, kamu harus cepat menemukan perangsang," sahut Mika.


"Aku mengajaknya ke hotel untuk menemani aku mengontrol proses pengecekan hotel yang baru aku resmikan jika aku datang sebagai pemiliknya bagian team work di hotel itu akan mempersiapkan dengan sempurna, bagaimana aku bisa tau kualitas pelayanan mereka."


Bukan Kiki aja, Ika juga sempat mengira Mika menyuruhnya melayani dirinya di hotel. Ika merasa malu sendiri telah berpikir kotor, salah dia juga kenapa harus mengatakan seperti itu. "Tapi kenapa harus aku," keluh Ika bingung. "Karna kamu akan menjadi sekretaris aku."


"Bro, aku mau kamu mengatur jadwal Alika di kantorku, jadwalkan jam siang, aku tidak mau bentrok dengan jadwal kuliahnya."


"Alika, ini masih ada waktu, apa kamu ingin menolaknya" sahut Kiki saat melihat Ika masih belum merespon apa-apa. "Aku tidak menerima penolakan," sambung Mika. "Bro, kamu harus langsung ke kantor sekarang biar aku periksa sendiri tugas itu," ucap Mika. "Apa kamu mengusirku?"


"Apa kamu masih betah disini?" sahut Mika balik pada Kiki dengan tatapan yang sulit Ika mengerti. "Alika, aku harus pergi kamu temenin Mika sebentar ya," ucap Kiki berpamitan. "Aku juga mau pergi," sahut Ika. "Kamu tetap disini jika masih mau nilai kamu bagus."


Kiki langsung pergi meninggalkan mereka berdua, Ika cuma bisa pasrah Mika sangat menjengkelkan. Dia tidak bisa...

__ADS_1


Selanjutnya...


__ADS_2