
Dulu Herry bekerja kepada keluarganya sebagai bodyguard untuk melindung dirinya ketika kedua orang tuanya bepergian jauh dengan meninggalkannya sendiri di rumah.
Herry yang selalu menemani kesunyiannya saat itu. Namun setelah kedua orang tuanya meninggal, Herry kembali menggantikan kedua orangtuanya untuk merawat dirinya dan membantu mengurus perusahaan keluarganya. Bahkan Herry selalu setia menjaganya tanpa menginginkan jabatan tinggi.
Herry memang sudah begitu lama bekerja untuk keluarganya sehingga semua orang yang bekerja di rumahnya menganggap Herry sudah seperti majikan mereka. Apalagi selama ini gaji mereka Herry yang bertanggung jawab.
Selain itu, Herry juga yang selalu mendukung Ika pada saat kedua orang tuanya meninggal. Dirinyalah menjadi sosok penyemangat di balik kesuksesan yang Ika miliki saat ini. Ika sempat bertanya padanya kenapa dia begitu menyayangi dirinya.
Namun sayang, Herry tidak menjawab apalagi menjelaskannya padanya. Bahkan Ika sudah menganggap Herry sebagai abang angkatnya karna dari dia kecil sudah bersama dengannya tapi Herry tetap saja Herry menutupi masalah pribadinya malahan Herry lebih memfokuskan dirinya untuk mengurusi Ika.
Apapun yang menyangkut dengan urusan Ika maka akan menjadi urusannya. Herry sendiri sekarang sudah memasuki usia ke-30 tahun tapi Ika tetap tidak berencana menyebut abang untuknya. Dia menolak memanggilnya abang bukan apa, menyangkut urusan pekerjaannya, Ika takut kurang profesional di depan karyawannya di kantor jika memanggil Herry dengan sebutan abang.
"Tolong jangan pergi jika aku belum memberimu izin apalagi kamu pergi sendiri secara diam-diam tanpa memberi tahu siapa-siapa, syukur kamu pulang dengan selamat," Herry begitu sabar menghadapi sikap Ika yang selalu membangkangnya bahkan dia dengan kepala dingin menanggapinya. "Aku baik-baik aja, cuma kakiku sempat tergelincir, sekarang sudah tidak apa-apa."
"Coba aku lihat kakimu, apa ada yang serius biar aku oleskan obat," sedikit saja Ika terluka, Herry pasti akan langsung mengkhawatirkannya, Herry selalu cemas jika menyangkut dengan keadaannya. "Nanti aja, kamu pakai baju dulu aku geli melihatmu seperti ini," Ika dari tadi malah merasa risih dengan keadaannya yang masih telanjang dada di depan Ika.
"Oh, aku sampai lupa belum memakai baju tadi setelah mandi aku mendengar suara kamu jadi aku langsung keluar, setelah seharian aku mencari kamu begitu mendengar suara kamu, aku melupakan pakaianku." Herry langsung bergegas ke kamarnya.
__ADS_1
Sebenarnya Herry mempunyai apartemen sendiri tapi dia lebih sering tinggal di kediaman Ika dengan alasan biar bisa melindunginya, Herry juga mempunyai kamar sendiri di mansion tempatnya.
"Non!" panggil bik Hanum dari ruang tamu dengan suara sedikit keras. "I-ya, ada apa bibi?" sahut Ika dari atas. "Ini minumnya non, bibi letakkan di atas meja ya jangan lupa di minum selagi hangat," suara bik Hanum tanpa jauh. "Iya bibi tapi Ika ke kamar dulu mau ganti baju," sahut Ika lagi. "Baiklah non."
Setelah menggantikan pakaiannya dan membersihkan wajahnya, Ika langsung menuju ke ruang tamu untuk mengambil minuman yang bibi buat untuknya. "Kenapa belum tidur?" Ika malah berpapasan dengan Herry yang sama-sama menuju ke ruang tamu. "lni juga mau tidur."
Ketika Ika hendak menuju ke kamarnya justru Herry menarik dirinya dan menyuruh duduk di sofa bersamanya. "Aku akan memeriksa kaki kamu dari tadi aku perhatikan kamu kesusahan untuk berjalan." Ika justru merasa keadaannya sudah lumayan baik. "Tidak perlu aku sudah memeriksanya rumah sakit dan tidak ada yang serius."
"Apa ada yang sudah melukaimu?" Herry terus-terusan mencemaskan dirinya setelah tau kakinya terluka, dia seakan tidak bisa tenang dengan keadaan Ika yang terluka. "Tidak, aku baik-baik aja," Ika malah cuek ."Oke, kamu harus istirahat, masuklah ke kamar sekarang," pinta Herry. "I-ya."
***
"Kamu belum berangkat ini sudah siang kenapa masih di rumah?" biasanya Herry paling rajin ke kantor. "Aku lagi menunggu kamu mau menumpang jadi sopir kamu hari ini, kakimu kan masih terluka kamu tidak bisa nyetir sendiri."
"Kamu lupa aku punya supir sendiri, kamu tidak perlu menungguku seperti ini nanti kamu bisa telat ke kantor," Ika biasanya selalu menyetir sendiri tapi kalau dirinya lagi malas dia akan meminta pak Bram supirnya untuk menggantikan dirinya menyetir. Apalagi jika keadaannya sakit, tentu saja pak Bram yang harus menghantarkan dirinya.
"Aku sengaja menunggu kamu dan supir kamu sudah aku kasih cuti selama satu minggu ke depan," Herry tanpa bersalah selalu mengambil keputusan sepihak. "Kenapa kamu kasih cuti seharusnya kamu bertanya dulu, bagaimana aku bisa pergi bekerja nanti jika pak bram libur."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir aku akan menjadi supir pengganti pak Bram, aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi dan ini juga sebagai hukuman karna kamu pergi tanpa seizin dari aku."
Sebetulnya Ika tidak ingin dihantarkan oleh Herry bisa-bisa seharian Herry akan mengawalnya terus tapi mau gimana lagi, Herry malah telah meliburkan sopirnya tanpa sepengetahuannya. "Hari ini aku tidak mau ke kantor aku mau menemui Hetty."
"Baiklah tuan putri aku dengan senang hati siap menemanimu kemana aja kalau perlu selama seharian ini," sejak kapan Herry pandai menggombal seperti itu biasanya juga dia paling anti jika ada yang merayunya, batinnya. "Kenapa kamu malah menggombal, bukannya kamu paling benci ketika di rayu?"
"Itu dirayu aku tidak suka kalau merayu aku termasuk ahli," sahut Herry.b"Oh, kalau begitu aku akan mencoba mengatur waktu biar kamu bisa cuti setiap bulan mulai dari bulan depan."
"Untuk apa?" tanya Herry heran. "Biar kamu bisa merayu banyak wanita di hari libur nanti, supaya kamu bisa cepat laku tidak jomblo terus," sahut Ika dengan polos dan menggemaskan. "Hahaha," Herry malah tertawa. "Kamu itu ya ada-ada aja, aku tidak perlu cuti jika aku cuti siapa yang akan mengurus kamu."
"Kamu itu aneh seharusnya senang di kasih cuti ini malah nggak mau, aku juga tidak ingin kamu mengorbankan masa depan kamu untuk menjagaku terus."
"Kamu tidak perlu memikirkannya, aku hanya ingin kamu cepat menyelesaikan pendidikan kamu terus fokus di perusahaan," Herry tanpa serius menanggapinya. "Iya-iya, aku tahu tapi kamu yakin tidak mau cuti," Ika malah menyakinkan Herry untuk cuti.
"Jika kamu memaksa aku akan ambil cuti tapi kamu yang menemaniku selama aku cuti, bagaimana apa kamu setuju jika kamu setuju aku akan mengatur waktunya sendiri." nggak ah, sama aja bohong jika aku yang menemaninya, untuk apa juga dia harus cuti, batinnya.
Stop..stop..stop...
__ADS_1
Selanjutnya...