
Mana ada interview diruang makan lebih tepatnya lagi sambil makan. Mika betul-betul membuatnya kesel. "Kamu spesial, beda dengan mereka yang melamar ke kantor."
"Aku tidak menginginkan pekerjaan itu jangan menawarkan pekerjaan untukku lagi, kamu mengerti!" jelas Ika tidak mau dari permintaannya saja sudah aneh. Apalagi pekerjaannya saja sudah banyak. Jangankan dirinya, Herry asistennya saja kewalahan menghadapi semua bisnisnya di mana-mana.
Padahal Ika juga menempati sekertaris selain asisten di setiap bisnis yang dia lakoni tetap aja berkas-berkas itu selalu menumpuk. Bahkan dia berusaha menyelesaikan sebagiannya dengan menyita waktu istirahatnya tapi hasilnya tetap sama, berkas itu terus saja menambah.
Sekarang Mika meminta dia bekerja untuknya sebagai sekretaris. Jangankan untuk istirahat, terkadang waktu untuk tidurnya aja ia harus terpaksa mengorbankan untuk pekerjaannya. Belum lagi, jika pagi sempat terbangun telat Ika pasti akan di buru sendiri dengan aktivitasnya seperti mandi, berdandan, sarapan hingga kuliah serta pekerjaannya.
Tapi jika Mika masih tetap saja bersikeras memaksanya untuk menjadi sekretarisnya mungkin Ika harus mengubah dirinya menjadi zombie untuk menerima pekerjaan itu.
***
Setelah menyelesaikan makan malam bersama, Mika langsung menghantar Ika. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit perjalanan mereka akhirnya sampai pada lokasi proyek restoran tersebut.
"Kamu tidak perlu mengemudi kakimu belum sembuh aku akan menghantarkan kamu sampai ke rumah, mobil kamu nanti dihantarkan oleh sopirku ke alamat kamu," Ika hanya menanggapinya sekilas. Kemudian dia langsung turun menuju ke tempat mobilnya terparkir untuk mengambil tas dan hapenya.
__ADS_1
Sebetulnya Ika lebih nyaman pulang sendiri dari pada numpang di mobil Mika tapi karna kakinya belum sehat, terpaksa dia turuti saja. Setelah hari ini, Ika berniat tidak ingin menjumpainya lagi. Jadi dia merasa tidak perlu terlalu canggung saat bersamanya.
"Ini nomor hape pak Rudi, kamu bisa kirimkan alamatnya pada pak Rudi," Mika memberikan hapenya pada Ika setelah dia kembali masuk ke mobilnya. "Tidak perlu, aku bisa mengurus sendiri," Ika malah menolaknya. "Aku sudah menelpon pak Rudy," Mika kembali memaksanya hingga Ika terpaksa menerima bantuannya dari pada terus berdebat dengannya.
"Sudah sampai," Ika langsung linglung sendiri, setahunya tadi Mika tidak menanyakan alamat padanya dan dia sendiri lupa memberi tahu karna terlalu sibuk dengan hapenya. "Dari mana kamu tahu?" tanya Ika penasaran. "Bukan kamu sendiri yang mengirim alamatnya pada pak Rudy dengan hapeku," sahut Mika. "Terus!" Ika masih saja bingung. "Aku lihat disitu."
"Ohh," Ika baru teringat setelah mengirimkan pesan pada pak Rudy, dia membiarkan pesan itu begitu saja tanpa menghapusnya. "Kamu tidak mau turun, apa kamu masih ingin ikut bersamaku? Aku akan membawa kamu lagi ke apartemen. Aku sangat senang jika kamu mau balik lagi ke sana," mendadak tubuhnya langsung meluncur keluar setelah menyadari tentang dirinya yang masih dengan santainya duduk di mobil Mika tanpa ingin beranjak. Mika hanya tersenyum dan kembali melaju mobilnya ke jalan sesaat setelah itu.
Kemudian Ika langsung berjalan menuju ke pintu pagar rumahnya, sewaktu dia membuka pagar itu, seketika pak Johan satpam yang sudah lama bekerja di rumahnya langsung menghampirinya. "Non Ika dari mana aja seharian tidak ada kabar, pikiran bapak sudah kalang kabut teringat sama dengan non Ika. Takut terjadi sesuatu tapi syukurlah, akhirnya non pulang juga." Ika merasa tersentuh. "Maaf pak, Ika sudah membuat bapak merasa cemas."
Setelah itu Ika segera melangkah ke dalam halaman rumahnya dengan tubuhnya sedikit oleng, baru juga beberapa langkah kakinya bergerak. Bik Hanum yang sedang membukakan pintu langsung berlari dan memeluknya dengan erat, Ika sempat menetes air mata melihat wajah bik Hanum begitu gelisah. "Ayo, non masuk!" ucap bik Hanum setelah melepas pelukannya dari tubuhnya. "Maaf Bibi, Ika tidak menelpon," Ika seketika meras menyesal setelah melihat kecemasan terpampang jelas di wajah bik Hanum.
"Tidak apa-apa yang penting non sudah kembali dengan selamat, bibi cuma tidak ingin sampai terjadi sesuatu, non sudah seperti keluarga bibi," bik Hanum kembali membuatnya terharu. "Non di luar dingin, lebih baik segera masuk ke dalam, bibi mau ke dapur untuk membuat minuman hangat supaya non tidak masuk angin."
Namun ketika Ika masuk ke dalam rumahnya ternyata Herry lebih kacau lagi dengan handuk melilit di pinggangnya langsung menarik tubuhnya ke dalam dekapan dirinya. Ika sedikit risih dengan tindakannya yang tidak biasa seperti itu padanya, dia mencoba melepaskan pelukan itu dari tubuhnya tapi Herry malah tidak membiarkan tubuhnya terlepas darinya.
__ADS_1
"Apa yang lakukan seharian ini? Kenapa mobil kamu biarin di sana? Terus hape kamu kenapa tidak aktif? Kemana kamu pergi?" tanya Herry langsung bertubi-tubi. "Kamu kalau bertanya bisa nggak satu-satu, jika kamu bertanya terus-menerus begini bagaimana aku bisa menjawabnya."
"Maaf, aku sangat khawatir biasanya kamu selalu mengabari aku tapi hari ini bahkan hapemu tidak aktif sama sekali. Aku sudah beberapa kali menuju ke lokasi proyek itu tapi nihil, kamu sama sekali tidak di sana," wajahnya tanpa stress memikirkannya. "Kenapa kamu begitu cemas dengan keadaan aku?" Ika malah heran dengan tingkahnya yang sangat berlebihan menurutnya.
"Ika, kamu jangan bercanda aku sedang serius selama ini aku sudah pernah mengatakan padamu, jangan pernah pergi ke lokasi proyek biarkan aku yang mengurus semua pengecekkan itu, kamu cukup ke kantor dan kuliah," suaranya tanpa begitu tegas. "I-ya, maaf."
"Masalah seperti ini tidak ada kata maaf aku tak ingin terjadi kedua kali, janji jangan mengulangi lagi," Herry tanpa betul-betul serius dengannya. "Iya deh, aku janji lagian kamu selalu bersikap berlebihan seperti ini? Padahal aku bisa menjaga diriku sendiri, aku bukan anak kecil lagi." Ika malah pusing tujuh keliling menghadapinya.
"Kamu harus ingat aku bukan sekedar asisten, aku juga tidak bermaksud ingin membentak kamu tapi aku merasa sangat khawatir denganmu jika terjadi sesuatu dengan kamu, aku pasti tidak bisa memaafkan diriku. Aku betul-betul kacau saat tau kamu tidak ada di mobil, aku bahkan sempat berpikir telah terjadi sesuatu denganmu," Herry begitu gelisah ketika Ika hilang tanpa jejak hingga dia hampir mengumpulkan anak buahnya untuk mencari Ika.
"Iya aku paham tapi kamu juga jangan seperti ini terus dengan aku, sekarang kamu asisten aku bukan lagi bodyguard aku." Ika merasa Herry selalu gelisah jika menyangkut dengan keadaannya terkadang dia merasa Herry terlalu berlebihan padanya.
Dulu Herry bekerja kepada keluarganya sebagai bodyguard untuk melindung dirinya ketika...
Selanjutnya...
__ADS_1