TERPESONA BOSS MUDA

TERPESONA BOSS MUDA
Pria itu.


__ADS_3

Entah kenapa otaknya tidak dapat berfungsi dengan baik, belum lagi mulutnya saat berhadapan dengan pria itu suara mendadak hemat.


"Permisi, saya akan memeriksa dulu kakinya." Tiba-tiba dokter datang bersama pria itu dan langsung memeriksa kakinya. Entah dari mana dokter itu tau bahwa kakinya yang sakit. Mungkin saja tadi sudah di beritahu sama pria yang berada di sampingnya, pikirnya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" terdengar suara pria itu tanpa khawatir. "Hanya tergelincir biasa tidak ada yang serius setelah minum obat nyerinya akan reda." Dokter itu langsung menjelaskan padanya. "Tapi lebih baik istirahat dulu di rumah jangan banyak berjalan supaya cepat sembuh."


"Siapa namanya?" Dokter itu langsung meresepkan obat untuknya. "Alika."


Setelah selesai pemeriksaan Ika hendak pergi tapi lagi-lagi pria itu kembali datang kemudian mengangkat tubuhnya menuju ke mobil. Setelah mendudukkannya di samping kursi pengemudi dia langsung menancap gas.


Ika meliriknya sekilas sebetulnya dia ingin berterima kasih padanya tapi saat di pikir-pikir bukan dia yang salah, Ika mengurungkan niatnya untuk berterima kasih padanya apalagi pria itu terus saja menggendongnya tiba-tiba.


Apa dia menganggap aku itu bayi? Kemudian menggendong aku seenaknya tanpa menanyakan terlebih dahulu supaya aku tidak terus-terusan terkejut meskipun aku memang mengaguminya, batinnya.


"Eem, eem." Ika langsung menoleh pandangannya ke arah samping. "Jangan melamun terus nanti kamu kerasukan."


"Apa di mobil ini banyak penghuninya?" tanya Ika yang sedikit merasa ngeri. "I-ya." Seluruh tubuh Ika langsung merinding ketakutan padahal jelas-jelas masih di siang bolong. Sekilas Ika menatapnya ternyata pria itu lagi tersenyum ke arahnya.


Pasti dia mengira aku ketakutan, emang iya sih aku lagi takut banget bagaimana tidak, berdua di mobil seperti ini apalagi ada penghuni lain yang kasat mata tentu saja nyaliku ciut. Coba kalau muncul tiba-tiba pasti aku akan langsung memeluknya. Bisa mati harga diriku sampai tujuh keturunan, jika itu terjadi. Meskipun aku tidak mengenalnya, tetap saja dia seorang pria normal, batinnya.

__ADS_1


Tanpa terasa matanya sudah mulai mengantuk mungkin dia terlalu capek hari ini karena kegiatannya yang sangat padat tadi pagi, belum lagi Ika harus kuliah. "Kalau mengantuk tidur saja nanti akan aku bangunkan."


"Aku tidak mengantuk." Tapi sayang, mulut dan matanya tidak seiring dengan ucapannya meskipun dia mengelak. Tanpa pikir panjang matanya sudah mulai gelap dan akhirnya entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


Perlahan Ika membuka matanya setelah merasa ada yang merapikan selimut di tubuhnya. Deg! Hampir saja jantungnya copot, siapa yang yang tidak terkejut? Tiba-tiba ada seorang pria asing di dekat tempat tidurnya ketika dia terbangun. "A-pa yang kamu lakukan di kamarku?" Ika tanpa begitu terkejut.


Setelah selesai menyelimuti tubuhnya pria itu pergi begitu saja dengan mengacuhkannya. Sejenak matanya memandang di sekelilingnya tanpa peduli dengan pria itu lagi.


Tapi kenapa kamarku berbeda? Sejak kapan aku mengubahnya? Apa bibi yang mengubahnya? Setahu aku waktu berangkat kekantor pagi tadi, semua isi kamarku berwarna pink. Nah, ini kok sudah berubah menjadi biru sudah kayak lautan aja, apa bibi punya kekuatan Ibracadabra? Kayak cerita dongeng-dongeng, bisa mengubah kamarku dalam sehari menjadi sebuah lautan karena seluruh isi kamar ini bernuansa biru laut. lni seperti bukan kamarku tapi kamar siapa juga ya? Perasaan tadi aku masuk ke mobil bukan kamar, kok bisa ada di kamar, batinnya.


"Tadi kamu ketiduran di mobil terpaksa aku membawa kamu ke apartemenku karena aku tidak tau alamat rumahmu." Tiba-tiba pria itu kembali mengagetkannya bahkan pria itu seperti tau isi pikirannya.


Jika aku ketiduran di mobil bagaimana bisa dia langsung membawaku ke apartemennya. Sepertinya aku harus cepat pergi dari sini lama-lama dekat pria ini, bisa- bisa aku harus ke rumah sakit lagi. Kali ini mungkin rumah sakit jiwa, omelnya dengan suara pelan.


"Kenapa, apa kamu sedang bicara padaku?" Ika malah tidak menanggapinya dia masih asyik dengan pikirannya yang masih menerawang kemana-mana memenuhi otaknya. "Obat itu untuk di minum bukan di buat diskusi." Sontak saja Ika terkejut dan kembali tersadar setelah pria itu meninggalkannya.


***


Seharusnya dia membangunkan aku bukannya mengangkat tubuhku, apalagi aku bukan orang yang susah-susah amat dibangunin. Biasanya di rumah bibi cukup mengetuk pintu kamar aku beberapa kali, aku langsung terbangun. Apa dia sengaja nggak mau bangunin aku? Tapi untuk apa melakukan itu? Tambah pusing aja, kesel Ika menggerutu.

__ADS_1


Sebaiknya aku telepon Herry asistenku untuk menjemput aku, ucapnya sambil memasukkan tangan ke dalam saku celananya untuk mengambil hape tapi kunci mobil yang ada bukannya hape. Apa hapeku juga ikut tinggal di dalam mobil? Bisa-bisanya aku melupakan barang penting itu yang hampir setengah dari nyawaku, pantesan saja Herry tidak ada kabar sama sekali, duh nomornya juga aku nggak ingat, keselnya kemudian.


Kalau begini bagaimana bisa aku pulang, belum lagi uang sama sekali tidak ada bersamaku. Sebaiknya aku meminjamkan uangnya dulu, mau bagaimana lagi habis terpaksa harus aku lakukan daripada aku tidur disini terus. Apalagi aku belum kenal dengan manusia itu, bisa jadi dia itu penjahat tapi tidak mungkin juga ada penjahat sekeren dia, apa mungkin dia penjahat wanita?" batinnya.


"Alika, mau kemana kamu?" seingatnya belum pernah dia menyebut namanya di depan pria itu, darimana dia tau? Baru juga keluar dari kamar sudah di interogasi, pikirnya. "Siapa?" Ika belum yakin dirinya yang di sebut. "Nama kamu Alika kan?"


"Darimana kamu tau namaku?" tanya Ika bingung. "Di rumah sakit," sahut pria itu yang terus mengaduk-aduk sesuatu sepertinya dia lagi memasak di dapur.


"Oh." Ika baru teringat tadi di rumah sakit ketika selesai diperiksa dia sempat menyebut namanya saat perawat itu mengatakan ingin meresepkan obat untuknya. "Aku tanya kamu mau kemana Alika, kok malah bingung disitu."


"Mau pulanglah," sahut Ika dengan sedikit bingung menempati dirinya tanpa bekal apapun di tangannya untuk bisa pergi dari apartemennya. "Istirahatlah dulu kakimu masih sakit, kamu belum boleh banyak berjalan nanti aku akan mengantarkan kamu pulang."


"Tidak usah sok perhatian kenal aja nggak," ucap Ika asal. "Aku tidak menghawatirkan kamu tapi hanya ingin bertanggung jawab karena kesalahanku," sahutnya dengan suara lembut. "Kamu tidak perlu takut aku bukan orang jahat kok, ayo kesini aku baru membuatkan bubur untukmu makanlah selagi masih panas."


Ika masih terdiam di depan pintu kamarnya, kebetulan apartemen yang dihuni pria itu, memiliki dua kamar tidur. Kebetulan dapurnya terletak bersebelahan dengan kamar tidur yang dia tempati. Selain itu, terdapat ruang tamu dan ruang makan yang terlihat mewah dan nyaman yang berhadapan dengan kamar Ika.


Dengan sedikit ragu Ika melangkah menuju ke meja makan. Sejenak dia melihat pria itu yang sedang...


Selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2