
Ika mencoba menghapuskan air mata yang tidak berhenti mengalir di wajahnya. Kemudian perlahan mencoba memejamkan kedua matanya meskipun sangat berat namun dia terus memaksanya.
Sinar mentari pagi yang cerah masuk menerobos jendela kamar, cahayanya datang mengusik tidurnya. Kilaunya membangunkan dia dari tidur panjangnya. Pandangannya langsung bergerak mengitari suasana yang terasa asing di matanya meskipun pikiran dan penglihatannya belum menyatu keduanya.
Sesaat kemudian matanya kembali terpejam karna terasa berat untuk membukanya namun sesuatu yang menarik tubuhnya kembali menganggu tidurnya dengan kesadaran penuh Ika mencoba membuka matanya kembali.
"Aw....," teriaknya, Ika begitu terkejut saat mendapati tubuhnya sudah bergulung di antara ke dua tangan yang kekar. Tubuh Ika seakan guling penghangat yang menemani seseorang di sampingnya.
Wajahnya terasa menempel pada dada bidang sang pemilik tubuh hangat itu. Sejenak kesadaran Ika teralihkan oleh aroma maskulin khas Herry yang begitu menggoda menusuk ke dalam hidungnya.
"Kenapa berteriak?"
Spontan suara itu mengagetkannya dan kembali menyadarkan dirinya yang sempat tenggelam di balik aroma tubuh itu yang begitu memanjakan hidungnya. Dengan gerak cepat Ika langsung melonjak dari samping Herry.
Tapi Herry malah seperti tidak terganggu dengan kehadiran Ika di sampingnya. Gerakan Ika bahkan tidak mempengaruhi tidurnya. Herry kembali tertidur setelah setengah sadar merespon teriakannya.
Ketika sesuatu terbit dari lubuk hatinya. Ika justru tidak menyangka Herry malah mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur bersamanya.
Bahkan rasa kecewa itu masih menyelimuti dirinya, Herry dengan berani menempati dia tidur di sampingnya. Padahal semalam dirinya baru saja menjadi titik pelampiasannya.
Pagi yang cerah tapi tidak secerah hati dirinya yang kembali terngiang-giang dalam ingatannya tentang kejadian semalam. Seakan rasa kecewa itu sudah tersimpan rapi di dalam relung hatinya terdalam. Mengingatnya orang terdekatnya yang selalu melindungi dirinya tapi dia sendiri yang tega menyakiti dirinya.
Air matanya yang mengering masih membekas di wajahnya. Mengingat perbuatan Herry padanya, Ika seperti tidak merelakan matanya sekedar memandangnya, bayangan itu seakan ikut melintasi untuk mengusik benaknya.
Terkadang rasa kecewa itu yang di sebabkan dari orang-orang terdekat kita lebih menyakitkan di banding dengan orang yang singgah sementara waktu, seperti yang Ika rasakan saat ini. Kenaifan itu sangat menyala dalam bayangannya yang kerap kali mengingatkannya.
Meskipun baru semalam Ika melihat kekosongan dalam dirinya, Herry begitu membara membakar apa yang ingin di lahapnya. Dengan mengenang sepercik noda dalam seribu langkah belum tentu Ika dapat melupakan kejadian itu.
Sekarang Ika hanya bisa duduk termenung, percuma juga ingin keluar dari kamar Herry lantaran masih terkunci. Karna keonaran Herry semalam membuang kuncinya sebarang, dia terpaksa harus berada di kamar itu hingga pagi menjelang.
Dengan kemarahan yang masih tertahan Ika mencoba membangunkannya menggunakan bantal untuk memukul tubuhnya. Meskipun keadaannya masih di bawah sadar karna Herry masih tertidur nyenyak.
__ADS_1
Dengan mengabaikan rasa pedulinya, Ika terus memukulnya dengan brutal hingga menyadarkannya. Saat mendapati aksi Ika yang tiba-tiba menyerangnya yang lagi tertidur lelap, Herry hanya mampu menatap heran ke arahnya.
"Alika, hentikan! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin membunuhku?"
Ika tidak menghiraukannya tanpa mengarahkan pandangannya ke padanya, dia terus saja memukul tubuh Herry tanpa ampun seperti orang kesurupan hingga kapas berterbangan menghiasi tempat tidurnya.
"Alika, hentikan!"
Ika tetap saja tidak menghentikan aksinya, justru dia memilih memasang telinga tebal untuk menutupi suara Herry yang memintanya untuk berhenti memukul. Bahkan bantal di tangannya hampir menipis sebagian kapas sudah berterbangan di mana-mana.
"Alika, cukup!" Herry langsung memegang kedua tangannya untuk menghentikannya. "Aku sangat benci denganmu."
"Maafkan aku, semalam aku mabuk berat sampai tidak sanggup mengontrol diriku."
"Tapi kamu sudah sangat keterlaluan Herry."
Iya aku tau, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku."
Percuma juga Ika berdebat, Herry sama sekali tidak bisa mengubah apapun kecuali membiarkan waktu yang berlalu datang menghapusnya.
Sekarang Ika hanya mampu berharap bahwa dengan seiring waktu yang berlalu, setidaknya sedikit menepi rasa kecewa itu. Sebanyak apapun dia memendam kemarahannya, tetap saja Herry tidak bisa mengembalikan keadaan semula.
"Menjauh dariku, aku tidak ingin kamu menemui aku untuk sementara."
Seandainya Herry bukan abangnya mungkin Ika tidak perlu meminta menjauh darinya. Cukup Ika saja yang menghindarinya tapi nyatanya Herry abangnya yang pasti akan selalu berada di dekatnya meskipun dia menjauhinya, Herry akan selalu ada di dekatnya.
"Apa tidak ada cara lain?"
"Tidak, jika merasa ada yang penting temui aku di kantor selain itu aku tidak ingin kamu berada di sekitarku, sekarang buka pintunya aku mau keluar."
Ika tidak ingin Herry kembali melakukan kesalahan yang sama mengingatnya bukan ini kali pertamanya melakukan kesalahan itu. Apalagi Hery tanpa tenang menghadapi masalah serumit ini, tentu saja sangat melukai perasaannya.
__ADS_1
"Kuncinya di atas nakas sampingmu."
Setelah meraih kuncinya, Ika langsung meninggalkannya tanpa mengatakan apapun lagi. Ika tidak ingin membuang-buang waktu yang kemudian malah mempengaruhinya yang tidak kuasa jauh darinya. Bagaimanapun Herry satu-satu orang yang selalu dia butuhkan.
Herry seperti telah menyatu dalam dirinya, sejahat apapun perbuatannya seakan Ika tidak memiliki kekuatan untuk menghukumnya. Dengan cara apapun dia membencinya tetap saja tak ada dendam yang tersimpan meskipun perbuatannya meninggalkan bekas yang menyakitkan.
Ika tidak mengerti mengapa saat Herry berada di dekatnya, dia begitu mengharapkan Herry menjauh darinya. Tapi ketika Herry jauh darinya, dia sangat mencemaskan keadaan Herry.
Ketika sudah sampai ke kamarnya, Ika langsung berlari ke kamar mandi kemudian berendam dengan air panas untuk mengobati rasa penatnya serta memenangkan pikirannya. Selesai berendam perasaannya menjadi sedikit lega.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi, dai langsung memakai pakaiannya dan kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidurnya kembali. Matanya masih sangat mengantuk jika dia harus menuruti untuk memulai mengikuti kegiatannya.
"Non."
Baru juga beberapa menit matanya terpejam, kini bibi datang kembali mengganggu tidurnya dengan panggilannya yang keras. Tubuhnya kembali kusut berulang kali harus terbangun dalam kondisi mengantuk.
"Iya bibi, ada apa?"
"Non, sarapan dulu."
"Nanti aja bibi, Alika masih ngantuk."
"Tapi tuan Herry meminta non untuk sarapan bersamanya."
Apa sich maunya? Baru beberapa jam yang lalu sudah aku katakan untuk tidak menemui aku tapi sekarang malah meminta bibi memanggilku untuk sarapan bersama dengannya, apa pikirannya sedang bermasalah? Mana mungkin aku akan berselera, melihatnya aja perutku sudah kenyang, batinnya.
"Bibi tolong bilangin padanya, Alika lagi tidak ingin sarapan."
"Iya non."
Kemudian bibi meninggalkannya, Ika kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu dengan suara bibi yang memanggilnya terlalu keras.
__ADS_1
Kruk! Suara gemuruh dari dalam perutnya yang tiba-tiba tersentak saat Ika mulai tertidur kembali datang membangunkannya. Meskipun...
Selanjutnya...