
Jam menunjukkan pada angka 06.30 wib tapi Ika baru terbangun sedangkan hari ini ada mata kuliah pagi yang harus masuk tepat waktu jika telat semenit saja maka tidak di perbolehkan untuk mengikuti pembelajaran itu.
Ika harus bergegas lebih cepat menuju ke kampus. Setelah menghabiskan waktu selama 20 menit untuk bersiap-siap dia langsung menuju ke bawah dari kamar tidurnya yang berada di lantai dua.
"Non, tidak sarapan dulu," terdengar suara bibi yang lagi membersihkan perabot di ruang tamu dekatnya. "Tidak bibi aku takut telat ke kampus."
"Ika, ini masih sangat pagi kenapa kamu tidak sarapan dulu," ternyata Herry juga turun menyusulnya dari belakang dengan pakaian yang sudah rapi, dia langsung menuju ke meja makan. "Nanti aku sarapan di kampus," sahut Ika. "Aku akan menghantarkan kamu ke kampus."
Kemudian Herry meraih segelas susu di atas meja dan menyerahkan padanya, Ika langsung menerimanya dan meminumnya. "Tidak usah, aku bisa pergi sendiri," sahut Ika yang lagi meminum susu tersebut. "Biar aku hantar."
"Aku mau pergi sendiri, aku tidak mau di hantar," Ika tetap bersikeras dengan keinginannya. "Oke tapi pelan-pelan saja nyetir jangan ngebut, kakimu baru sembuh," Herry terpaksa membiarkannya ke kampus sendiri karna Ika sangat keras kepala. "Iya, aku tau."
Setelah mengendarai mobil hampir 5 menit Ika sampai juga pada salah satu universitas swasta yang merupakan fakultas paling elit dan megah yang menjadikan kampus terfavorit bagi semua kalangan siswa yang ingin menempuh masa pendidikan.
Selain itu di kampus tersebut juga bisa mengatur jadwal pembelajaran sendiri, sangat cocok bagi mahasiswa yang memiliki aktivitas lain seperti Ika yang lumayan sibuk. Saat mata pembelajaran di mulai, dia malah di kejutkan dengan dosen yang baru masuk ternyata Kiki yang membimbing mata pembelajaran manajemen bisnis itu.
Sebenarnya mata kuliah manajemen bisnis ini di pegang oleh pemilik kampus disini hingga tidak di izinkan untuk terlambat hadir tapi dia sendiri tidak pernah hadir dan selalu di gantikan oleh dosen-dosen baru.
***
"Alika, tolong kamu bawa semua tugas ini ke ruang saya ya, jangan lupa juga sekalian absen semua mahasiswa yang hadir dalam pelajaran ini," ucap Kiki setelah mereka mengumpulkan tugas yang diberikan olehnya. "Iya pak."
__ADS_1
Setelah pembelajaran berakhir, Ika langsung di gepokan oleh teman-temannya gara-gara Kiki meyebut namanya layaknya sudah kenal betul apalagi setiap pembahasan yang Kiki sampaikan penglihatannya selalu menuju ke arahnya.
"Alika, apa kamu kenal dosen itu?" tanya Sisi teman dekatnya di kampus. "Baru kenal juga," sahut Ika mengelak. "Tapi kelihatannya dosen itu seperti kenal sama kamu," ujar Amel temannya yang paling kepo di kampus.
"Udahlah, aku mau membawa tugas ini dulu ke ruang pak Kiki," Ika tanpa malas ladenin teman-temannya itu. "Aku ikutlah," ucap Sisi. "Aku juga ikut," ucap Amel. "Untuk apa kalian ikut."
Ika memang tidak heran lagi dengan sahabatnya itu. Kalau ada dosen yang ganteng yang mengisi mata kuliah di kelasnya, teman-temannya sangat antusias. Beda dengannya yang sama sekali tidak peduli sampai lelaki di kampus ini aja kapok dengan tingkahnya yang sangat cuek.
"Mau minta nomor dosen itu," sahut Amel. "Sekalian ajak kenalan," ujar Sisi. "Kalian buat malu aja," Ika tanpa kesel dengan tingkah kedua sahabatnya itu. "Ika, kamu payah jelas-jelas dosen ganteng itu memperhatikan kamu terus di kelas pasti kalian saling kenal," sambung Amel.
"Coba aja ada Hetty, Alika pasti tidak akan bisa menolak kita," ujar Amel. Jelas saja dia tidak bisa menolak, Hetty suka sekali memaksa jika ada sesuatu yang dia inginkan sampai Ika kewalahan sendiri menghadapi sifatnya itu selain harus mengancamnya.
Hetty juga kuliah di kampus ini tapi untuk sekedar menemani Ika, sebetulnya Hetty sudah menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu sebagai sarjana akuntansi yang bergelar S.ak.
Hetty merupakan mahasiswa yang lulusan dengan predikat terbaik cumlaude, Ika sengaja tidak memberitahukan Susi dan Amel biar mereka bisa berteman seperti biasa. Hetty kuliah di sini juga atas permintaan Herry untuk ikut serta dalam menyelesaikan pendidikan dirinya.
"Mungkin lagi sibuk," tadi pagi Hetty ngabarin Ika untuk tidak bisa datang ke kampus hari ini karna di kantor pagi-pagi Herry sudah menambahkan pekerjaan untuknya. "Iya, hapenya juga sibuk sama dengan orangnya," sahut Amel kesel.
Herry betul-betul menyiksa Hetty, semua berkas yang harusnya Ika kerjakan tapi Herry malah menyuruh Hetty untuk menyelesaikannya. Herry seperti ingin menghukumnya dengan menambah pekerjaannya, dia mengira gara-gara Hetty meminta Ika menemuinya di cafe itu, Ika sampai terjatuh dan terluka.
"Alika, tolong dong kamu minta nomor hape pak Kiki untuk kami," mohon Sisi. "Iya, tolong dong Alika," mohon Amel juga. "Kalian apaan sih jika mau kenapa tidak kalian minta sendiri."
__ADS_1
"Bagaimana bisa kami meminta padanya, dia hanya menyuruh kamu ke ruangnya bukan kami," sahut Amel. "Tolong dong mungkin besok bukan pak Kiki lagi yang masuk mata kuliah ini," Sisi kembali memohon. "Kalian ini ada-ada aja, aku gengsi meminta nomor hape pak Kiki kalian minta sendiri."
"Alika, please deh bantuin kami," Amel masih juga tidak mau menyerah. "Kenapa tidak minta nomor hape dosen yang sering masuk saja pada mata kuliah lain sih, kenapa harus ribet-ribet minta nomor dosen baru, yang hanya sekali mengisi mata kuliah ini."
"Untuk apa jika tidak menginginkan yang ada penuh kontak hapeku," ujar Sisi. "Udah ah, malas ladenin kalian terus dari tadi tidak selesai-selesai biar nanti akan bilangin sama pak Kiki kalian menginginkan nomor hapenya."
"Jangan bilang untuk kami," ucap Amel. "Untuk kamu aja," sahut Sisi. "Aku tidak butuh kalian yang butuh, kenapa harus bilang untukku, aku tidak mau jika kalian mau ikut saja aku nanti kalian minta sendiri."
"Alika, kamu ini ngeselin banget sih, susah kali di bilangin kami mana berani seperti itu," sahut Amel kesel. "Jika tidak berani kenapa nyuruh aku," habis sudah kesabaran Ika. "Mana ada nyuruh kami hanya minta tolong," Sisi terlihat takut.
"Sama aja, kalau minta tolong kenapa harus memaksa jika kalian terus berdebat seperti ini kapan aku menghantarkan tugas ini ke ruang pak Kiki," Ika benar-benar emosi menghadapi sahabatnya itu. "Iya, kamu pergi aja," Amel akhirnya menyerah juga. "Kalian tidak jadi ikut."
"Aku tidak mau ikut nanti kamu malah mengatakan kami menginginkan nomor hape pak Kiki," sahut Sisi. "Kami tunggu di kantin aja," ucap Amel. "Kenapa, bukannya tadi semangat kali minta ikut ke ruang pak Kiki."
"Tadi aja semangat, sekarang nggak lagi jika kami harus meminta sendiri nomor hapenya," sahut Sisi. "Lebih baik ke kantin lagian perutku dari tadi mengoceh terus minta di isikan," ujar Amel. "Perut kamu cuma mengoceh, perutku sudah demo besar-besaran minta makan," ujar Susi lagi.
Ika hanya tersenyum mendengar sahabatnya bercanda seperti itu. "Oke, aku akan menyusul kalian ke kantin."
Tok...tok...tok.
Selanjutnya...
__ADS_1