Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 1 CITRA


__ADS_3

Sepulang kerja, suamiku meminta dibelikan obat masuk angin. Katanya perutnya mual-mual juga pusing. Tak lama, iapun berbaring sambil memijit-mijit kepala. Selanjutnya pembicaraannya tak terdengar jelas karena aku sudah melangkah ke luar rumah untuk pergi ke warung tetangga yang hanya terhalang satu rumah dari rumahku.


Sesampainya di sana, terlihat si Ibu - begitu biasa ia ku panggil - sedang menjemur pakaian di halaman samping rumahnya.


"Beli apa Teh?" Tanyanya setelah beres walau masih dengan menjinjing ember.


Setelah ku sebutkan, ia pun mengambil apa-apa yang ku perlukan lalu memasukkannya ke dalam kresek hitam kecil.


"Semuanya jadi 11.500, " katanya lagi kemudiam menyerahkan barang belanjaanku. Aku memberinya uang pecahan 50 ribu. Sambil menghitung kembalian, si ibu bercerita..


"Teh, ibu mah ke Teteh aja mau cerita.." berhenti sejenak seperti ada yang dipendam. Euhh kebiasaan, aku merutuk dalam hati. Setiap kali belanja ke sini, pasti saja harus ada 'mukadimah' dulu, namun dengan 'penutup' yang entah. Tadinya mau langsung pulang, namun mendadak tak enak hati. Ditambah kembalian yang belum diberikan, terpaksa aku tetap tinggal dulu seperti biasa.


"Gimana yah pemikirannya si Teh Mira itu? , " si Ibu bisik-bisik "Arisan udah beberapa bulan belum dibayar. Terus aja ibu yang nalangin. Kalau harus nalangin terus mah, males ibu juga. Mau ditagih, takut jadi masalah. Soalnya suaminya mah gak tau Teh Mira ikut arisan" .


Yang disebut Teh Mira itu adalah tetangga juga. Rumahnya berada di tengah-tengah antara rumahku dan rumah si ibu.

__ADS_1


"Belum tiap hari ke warung. Suaminya rokok sama kopi. Teh Miranya beras, daging sama sayuran. Anak-anaknya ngambil jajanan. Gak pernah ngomong, gak pernah apa. Pusing ibu mah."


Berhenti sejenak..


"Tapi setiap sore ibu lihat suka belanja ke warung bawah. Tadi juga baru pulang dari Borm*, anak-anaknya bawa susu masing-masing satu, beli ayam geprek coba. Ibu juga manusia Teh, punya perasaan. Lihat Teh Mira kayak gitu mah tetep aja sakit hati."


Yee siapa juga yang bilang situ kodok Zuma, umpatku dalam hati. Kesal, kenapa harus terjebak dalam situasi seperti ini.


"Waktu hari apa coba si A iwan nya berhentiin motor di depan rumah. Teh Miranya loncat, taunya keresek belanjaannya jatuh. Pas dilihat isinya beras sama bayam. Disangkanya ibu gak tau. Padahal dipikir, buat apa juga sembunyi-sembunyi belanja ke warung lain, kalo mau juga hutang ke ibu beresin dulu. Kan nanti kalo mau ngutang lagi gampang. Bayangin Teh, keselnya ibu kayak gimana?"


"Apalagi bulan kemarin teh, dianya nangis-nangis ke rumah ibu, katanya si Tita mau beli tablet, yang satu lagi belum bayar SPP. Kepaksa uang modal warung Ibu kasihin. Giliran sekarang dia pegang uang, kok gak mentingin bayar hutang?"


Aku masih saja diam mendengarkan.


Terbayang lagi 9 bulan ke belakang ketika baru saja pindah ke sini, Teh Mira dan suaminya lah orang yang pertama kali datang bertamu. Sebagai pribumi, mereka menyambut kami yang perantauan ini dengan hangat. Sungguh suami istri yang serasi, Teh Miranya cantik A iwannya ganteng, sama-sama pula dikaruniai sifat ramah dan terbuka. Bahkan saking terbukanya, segala urusan dia ceritakan semua. Dari mulai urusan umum sampai urusan pribadi tidak ada yang terlewat. Pada mulanya sih risih, namun lama-lama terbiasa juga. Mungkin karakternya memang seperti itu.

__ADS_1


Sampai suatu ketika, suaminya datang bertamu. Awalnya mau pinjam palu, lama-lama jadi pinjam uang tanpa sungkan. Padahal kami baru saja kenal. Waktu itu dia minta tempo dua hari. Ya ku kasih saja tanpa pikir panjang, hitung-hitung menitipkan diri yang tak punya siapa-siapa di sini. Tapi yang tadinya janji dua hari itu, molor jadi tiga bulan berikut bayarnya dicicil tak sesuai perjanjian.


Selanjutnya pinjam uang jadi kebiasaan. Bahkan sampai sekarang masih ada sisa uangku yang belum terbayarkan. Makin ke sini jadi makin berani. Gak istrinya gak suaminya, sama saja. Bukan hanya uang yang mereka pinjam. Perabotan kecil semacam piring, sendok, mangkuk, gelas statusnya sudah pada tahap harus diikhlaskan. Ketika ditanyakan, jawaban yang hampir pasti belum dicuci atau masih dipakai itu hanya isyarat bahwa barang-barangku takkan pernah kembali pulang.


Makanan jangan ditanya lagi. Tak terhitung berapa kali anak-anaknya bawa piring kosong untuk minta makan. Terkadang malah hanya bawa perut doang. Pada awalnya, aku tak pernah keberatan. Dari pada dibuang, ya mending diberikan. Tapi lama-lama jadi muak juga, apalagi ketika anak-anaknya berani geratakin kulkas lalu seenaknya mengambil apapun tanpa bilang-bilang.


Baru kemarin saat sedang beres-beres bekas makan suami, datang Teh Mira sambil bawa penggorengan, katanya mau ikut masak karena gas di rumahnya habis. Sudah pesan, tapi belum juga diantar. Beres masak Teh mira minta kerupuk yang tadi pagi ku goreng, ya aku persilakan. Kirain mau ngambil sebagian, ternyata dibawa sama toples-toplesnya. Pulang-pulang, alhamdulillah tak tersisa. Ludes bahkan sampai remah-remahnya. Bukan pelit, cuma sebal aja. Yang tadinya ridho ikhlas, lama-lama jadi berasa dimanfaatkan. Mau ngomong gak berani. Gak ngomong kok makin gak tahu diri, serba salah jadinya.


Tapi sebagaimanapun kesalnya aku, aku tak pernah bercerita apapun mengenai keluarga Teh mira pada tetanggaku yang lain. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Cukup aku saja yang tahu. Suami saja baru ku curhati kalau kesalku sudah tak bisa ditahan lagi. Namun seperti biasa, suamiku cukup bilang; "Yang sabar aja" .


Selanjutnya obrolan si Ibu tak lagi bisa ku simak dengan benar. Kepala mendadak pusing, diiringi rasa tak enak di hati karena yang kami - lebih tepatnya si Ibu - bicarakan itu cuma terhalang tembok. Celingak-celinguk tak tenang takut Teh Mira tiba-tiba datang. Walaupun aku tak menimpali dan cuma duduk diam sambil mendengarkan, tapi tetap saja judulnya ghibah-ghibah juga. Tak ada beda. Dipikir-pikir rasanya munafik sekali hidupku ini, bagai memerankan lakon sebagai tokoh abu-abu. Putih tidak, hitam juga tidak. Katanya sebal, merasa Teh Mira dan keluarganya itu sangat merepotkan. Tapi ketika minta tolong pinjam uang atau apapun, malah dikasih lagi-dikasih lagi meski harus mengumpat dalam hati. Tapi Entahlah..


"Gak dikasih ngutang, kasihan. Tapi kalo dikasih, keenakan gak pernah mau bayar, " kata si Ibu lagi sambil menyerahkan kembalian. Lega, akhirnya kalimat penutup itupun datang juga. Tak menunggu lama aku pun langsung pamitan, takut si Ibu berubah pikiran.


Sesampainya di rumah, terlihat suami sudah tertidur lelap berselimut rapat sambil mendengkur. Mungkin Ia kesal menunggu istrinya yang beli obat sama seperti slogan Choki-Choki; panjang dan laaamaaaa banget.

__ADS_1


__ADS_2