
Teh Mira tetap berdiri di depan pintu meski sudah ku persilakan masuk, mungkin kata-kataku tadi sedikit menyindirnya. Terus terang aku menyesal, karena biasanya aku tak pernah menyindir siapapun sebelumnya. Apapun yang ku rasa, aku akan memendamnya meskipun nantinya aku akan kesal sendiri. Mungkin karena sifat inilah yang akhirnya membuat aku sering kali dimanfaatkan orang lain.
"Ayo Teh, masuk.." aku mengajaknya lagi.
"Oh iya Cit.." jawab Teh Mira yang akhirnya mengikutiku ke dalam, lalu duduk di kursi ruang tamu.
"Tunggu ya Teh, saya mau beresin dulu cuci piring" kataku bergegas pergi ke dapur yang anehnya tanpa diikuti. Biasanya setelah buka pintu sendiri, Teh Mira akan langsung masuk dan mencari keberadaanku.
"Iya Cit, maaf ganggu yah" katanya berbasa-basi. Aku jadi heran sendiri melihat Teh Mira yang anteng duduk di ruang tamu tanpa menyusulku. Biarlah, mungkin mulai sekarang harus dibiasakan seperti ini walapun agak sedikit aneh pada awalnya.
Saat sedang membuat kopi, terdengar Diki dan Diva ribut di depan lalu berlarian masuk ke dapur. Tanpa basa-basi Diki membuka kulkas, aku yang juga berada di sana tak dihiraukannya. Kulkas yang terbuka itu langsung saja ku tutup lagi.
"Diki mau apa?" Tanyaku tetap lembut meski sedikit kesal di hati.
Bukannya menjawab, Diki malah membuka kulkas lagi. Namun tentu saja segera ku tutup lagi "Diki mau apa? Nanti Ateu Citra ambilin" kataku dengan nada tegas. Namun tetap saja Diki bersikap demikian. Akhirnya aku hilang kesabaran, ku pelototi Diki lama sekali. Tapi dasar memang bandel, Ia tak menyerah begitu saja.
"Gak boleh kayak gitu yah, gak sopan itu. Kalo mau apa-apa bilang dulu ke Ateu, nanti Ateu yang ambilin" kataku dengan nada sedikit keras yang membuatnya menangis. Diva hanya bengong menatapku, mungkin dia merasa kaget kenapa aku bersikap demikian. Biasanya kan aku akan bersikap baik, jangankan membentak, aku malah membiarkan apapun yang mereka lakukan di rumahku.
"Kenapa Cit? Diki kenapa?" Tanya Teh Mira yang menyusul ke dapur, mungkin karena mendengar anaknya menangis.
"Itu Teh, Diki buka-buka kulkas, saya tanya mau apa, malah nangis" jawabku.
"Ateu Citranya nakal, melototin Diki. Diki mau ambil eskrim malah ga boleh. Huu huu huuu.." Diki menangis sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai.
__ADS_1
Teh Mira menatapku tak senang. Namun aku pura-pura tak melihat.
"Iya kan gak sopan buka-buka kulkas orang lain" balasku. Mungkin Teh Mira juga heran akan perubahan sikapku, empat hari tak bertemu aku berubah banyak. Tapi kini aku tak peduli walau sedikit merasa tak enak di hati. Diki dan Diva memang harus diajarkan sopan santun walau sedikit terlambat.
"Ya udah Diki mau apa?" Tanya Teh Mira akhirnya.
"Diki mau eskrim" teriaknya.
"Diva juga.." adiknya mulai merengek.
Ku buka kulkas dan mengambil eskrim stik rasa coklat 2 buah lalu menyerahkannya pada Diki dan Diva masing-masing satu.
"Gak mau yang itu.. Diki maunya yang pake wadah" Diki malah melemparkan eskrim yang kuberikan. Aku melotot lagi ke arahnya.
Tak lama kemudian Teh Mira menyusulku sambil menyeret Diki yang masih saja menangis. Sebenarnya dalam hati aku merasa tak tega, mereka berbuat seenaknya kan karena aku juga yang tak tegas sedari awal. Sementara jatah eskrimnya diambil Diva.
"Maafin Diki ya Cit, namanya juga anak-anak. Dikerasin mah bukannya nurut, apalagi mereka taunya kan tadinya Ateu Citra ini baik gak galak kayak sekarang." Kata Teh Mira sambil tersenyum canggung tapi terkesan menyindirku, namun aku memilih tak menanggapinya.
"Sebenernya Teteh kesini mau minta tolong" lanjutnya lagi sambil duduk di kursi yang berhadapan denganku. Hatiku merasa tak enak lagi, pasti mau minjem uang.
"Mau pinjem uang 500 ribu aja, buat Aril mau ujian praktek.."
Aku terdiam sesaat, kali ini dugaanku benar lagi sebab kejadian seperti ini sudah seperti de javu yang terus saja berulang.
__ADS_1
"Gimana Cit, ada enggak? Soalnya Teteh bingung mau pinjem ke mana lagi kalo bukan ke Citra. Nanti uangnya dibayar sekalian sama utang yang kemarin." Lanjutnya lagi.
"Maaf ya Teh, kalo uang segitu mah Citra gak ada" jawabku sambil memikirkan alasan apa lagi yang harus ku berikan untuk menolak.
"Masa gak ada sih Cit?" Serobotnya cepat "Tolong lah Cit, uang segitu mah kecil buat Citra. Teteh percaya lah sama Citra mah.. Kerja di Bank mah pasti gede gajinya"
"Kan saya juga banyak keperluan atuh Teh, bukannya ngurusin keperluan Teteh terus" Aku menjawabnya dengan kesal "Lagian selama ini Kang Doni mah gak tau kalo Teteh sama A Iwan suka pinjem uang, belum dibayar-bayar lagi. Nanti kalo Kang Doni nanyain uang kemana, saya harus bilang apa?"
"Ya udah kamu bilang aja banyak keperluan, atau mau beli tas baru atau apa lah, masa si Doni gak ngerti?" Teh Mira membalas dengan suara yang meninggi. Kemudian Ia mendengkus seraya melipat tangan ke depan.
"Teteh kenapa jadi marah-marah? Kang Doni mah pasti ngerti uangnya mau saya pake buat apa-apa juga, tapi kalo bantuin Teteh terus mah terus terang saya keberatan. Saya juga kalo lagi ada mah gak pernah banyak ngomong.!" Aku membalasnya tak kalah sengit. Biar dia sadar, Citra sekarang bukan lagi Citra yang dulu penurut.
"Kalo uang tunai gak ada, itu aja gelang saya pinjem. Gak lama juga pasti saya bayar lagi kok, kamu gak usah takut" katanya tanpa malu menunjuk gelang yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.
"Astagfirulloh al' adziim..." aku berkata gemas, hampir saja ku cakar bibirnya "Teteh ini bener-bener yah..." Aku tak mampu lagi berkata-kata.
"Kamu yah Cit mentang-mentang udah banyak teman bisa-bisanya melupakan teman lama. Apa kamu gak inget siapa yang nemenin kamu selama ini? Saya minta tolong segitu juga pelit nya minta ampun. Emang mereka itu bilang apa sama kamu?" Kali ini Teh Mira benar-benar marah.
Aku hanya terbengong-bengong melihat tingkahnya yang seperti itu.
"Kamu takut gak dibayar kan? Tenang aja kamu gak usah takut, uang segitu mah kecil buat si Mira mah. Kalo perlu mulut kamu sama mulut ibu-ibu gosip itu saya beli semua.!" Teh Mira berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk mukaku. "Diki.. Diva.. ayo pulang, awas kalian kalo sampai nginjek lagi rumah orang yang gak tau diri ini.!" Katanya lagi sambil bergegas pergi keluar dengan membanting pintu. Harusnya tadi ku patahkan saja telunjuknya itu. Atau ku tarik rambutnya sampai lepas dari kepalanya. Atau ku injak-injak saja mulutnya. Atau.....
Tanganku bergetar menahan marah, namun aku lebih marah pada diriku yang lemah ini. Aku sungguh menyesal mengapa tak bisa melawan? Akhirnya yang bisa kulakukan hanya menangis sampai ketiduran.
__ADS_1