
Aku berandai-andai dengan sesuatu yang bahkan tak ingin aku bayangkan,
Mencoba bermain dengan khayal tak terbatas,
Meraba-raba semua yang tak pernah bisa aku jangkau
Kau ada, namun terasa jauh
Saling bicara namun hati sibuk menduga-duga
Sejauh ini kita melangkah, jika lelah maka berhentilah sejenak. Bukan untuk menyerah, namun mensyukuri apa yang telah kita capai.
Bila seharusnya kita di sana, maka
Genggamlah tanganku sekali lagi dengan keyakinan yang selalu sama
Bahwa kita memang diciptakan untuk menghimpun apa yang dulunya terserak.
Aku tulang punggungmu,
Dan kamu tulang rusukku..
..........
"Neng tau gak apa yang bikin Akang jatuh cinta sama Neng?" Doni terlihat seperti menerawang, mencari-cari kenangan yang telah lalu dalam memorinya.
..........
"Neng itu tulus. Mungkin orang lain yang belum mengenal Neng secara dekat, pasti menganggap Neng itu terlalu polos. Atau bahkan bodoh." Doni tertawa kecil, ketika akhirnya ia menemukan satu. Namun merupakan alasan terbesarnya memilih Citra untuk menemani menggenapi separuh jalan.
"Neng mah selalu memperlakukan orang lain dengan baik, meski Neng gak diperlakukan sama..."
Namun, masih juga tak ada jawaban.
Akhirnya hening menguasai. Tak terdengar lagi percakapan, meski hanya percakapan pasif. Sebab hanya Doni, sedangkan Citra tidak menimpali. Kini mereka terkurung senyap. Saling memunggungi pintu yang sama, Citra di dalam kamar sedangkan Doni di luar. Kemudian memilih bersandar pada harap untuk memahami perasaan masing-masing.
Citra memang masih belia, menikah baru seumur jagung namun sudah harus berhadapan dengan masalah pelik tanpa pengalaman. Tergagap Ia ragu akan inginnya sendiri, hatinya begitu mendamba namun otaknya tetap mengingat rasa sakit ketika dikhianati. Baginya tak ada masalah yang berat untuk diselesaikan, semua masih bisa dimaafkan asal jangan soal perempuan lain. Celakanya, suaminya malah melanggar pantangan paling berat itu.
Meski tak ada sentuhan, meski hanya mengantar pulang karena ketidaksengajaan, meski hanya meminjamkan uang dengan alasan iba, namun ia merasa harga dirinya sebagai seorang istri telah dilangkahi.
__ADS_1
"Neng..." suara suaminya terdengar parau. Sementara di dalam sana Citra terpaksa menggigit bibir untuk menyembunyikan isak tertahan. Memaafkan atau memilih melupakan, sama beratnya.
"Neng.. Maafin Akang yah? Akang mohon atuh Neng.." suaminya menghiba lagi, seolah lupa akan kelelakiannya..
"Akang janji gak akan gitu lagi?" Akhirnya Citra bersuara juga setelah membisu dua hari lamanya.
"Sumpah Neng, Akang janji.." ucapnya seraya berdiri dan menempelkan telinga pada daun pintu takut ia salah dengar.
Ketika terdengar suara kunci di buka, hampir saja Doni melonjak kegirangan. Tak sabar ia segera menarik pegangan pintu, bersamaan dengan Citra yang juga menariknya dari dalam. Tak ayal lagi, terjadilah tarik menarik di antara keduanya yang menyebabkan pintu begitu sukar untuk dibuka. Ketika Doni melepaskan, Citra juga sama. Ah, rindu rasanya memang semanis ini.
"Neng... Sayangnya Akang.." kata Doni begitu pintu terbuka. Rasa nyeri menghantam dada ketika mendapati mata Citra yang sembab dan masih berembun.
Citra langsung menghambur ke pelukan suaminya, dan menumpahkan sisa sedu sedan di sana. Doni menyambut hangat dengan tangis yang sama. Tangis bahagia.
Cinta memang absurd bukan? Bagaimana bisa mereka masih saling merindukan meski salah satunya dibalut kekecewaan? Bahkan sekedar membenci yang menjadikan alasan kuat untuk berpalingpun, rasanya tak pernah terlintas sama sekali. Untungnya hati dikaruniai sifat lupa. Meskipun ia digores, dilukai, bahkan dihancurkan berkeping-keping ia tetap setia. Sesuai fitrahnya sebagai tempat semua rasa bermuara, ia akan menemukan cara untuk sembuh meski tak sama lagi. Bukannya lari lalu melupakan, ia malah akan semakin tegar.
****
Malamnya ketika Citra membereskan baju-baju yang tadi dimasukkannya secara serampangan ke dalam tas, Doni bertanya
"Neng, kalo boleh tau, tadi sebenernya Neng teh mau kemana?"
"Kenapa atuh kalo gak ada tujuan, Neng nekad mau pergi?" Selidik Doni lagi.
"Atuh da sebel Neng teh, udah mah dari kemarin siang dibikin kesel, ehh ada WA gak penting masuk ke hape Akang.." Citra menjawab dengan suara tercekat, namun matanya berkilat marah.
"Kesel kenapa gituh?"
"Tuh si Mira marah-marahin Neng, bilang Neng orang yang gak tau diri gara-gara gak dikasih pinjem uang. Kopl*k pisan jelema teh.!" Makian itu meluncur begitu saja dari mulut Citra.
"Astagfirulloh, beneran itu teh Neng?" Suara Doni terdengar geram. "Padahal baru kemarinnya Teh Mira teh pinjem uang dari Akang." Kini Doni merasa tambah menyesal karena telah ditipu mentah-mentah.
Citra hanya bisa mendengkus kesal ketika suaminya kembali mengungkit luka yang berusaha ia lupakan.
"Issshh bener-bener ya Teh Mira itu. Kirain Akang teh bener dia lagi ada perlu mendesak makanya berani nyamperin ke kantor juga, taunya emang buaya.!"
"Kemarin sebenernya pas udah baca WA Akang, Neng teh ke rumah Teh Mira mau tanya apa maksudnya nge- WA kaya gitu ke suami orang. Tapi pas Neng gedor-gedor pintu rumahnya, orangnya malah gak ada" Citra merengut kesal "mau berantem, berantem lah sekalian, udah kagok.!"
"Ohh, pantesan pas Akang beres sholat, Neng gak ada." Doni mengangguk-angguk mengerti."Emang Neng berani gitu? Neng kan gak pernah marah ke orang?"
__ADS_1
"Ya gimana nanti aja, Neng mah udah bener-bener siap tempur. Soalnya udah kesel banget. Sebenernya Teh Mira teh suka pinjem duit, Kang. A Iwan nya juga. Belum lagi anak-anaknya minta makan, ngegeratakin kulkas, Neng cuma bisa diem. Tapi kalo udah berani ngusik rumah tangga mah, beda lagi ceritanya.!"
Doni cuma bisa melongo kaget mendengar penjelasan istrinya. Sebenarnya Ia tak masalah jika uang nafkah yang ia berikan digunakan apa saja oleh Citra, termasuk meminjamkan uang, toh selama ini Citra tak pernah berbohong juga. Tapi ketika mendengar kelakuan tetangganya seperti itu, tak urung Doni merasa tak ikhlas juga. Jadinya seperti menolong anjing terjepit, yang ketika bebas malah menggigit.
"Ya udah, kalo nanti Teh Mira bikin ulah lagi, Neng jangan ragu buat ngelawan. Soalnya orang kayak gitu mah sekali-kali harus diberi pelajaran. Nanti kalo suaminya marah, bagian Akang yang maju."
Citra mengangguk mantap. Mulai sekarang ia harus berani, supaya tidak disepelekan. Apalagi rumah mereka berdempetan, bukan tak mungkin akan terjadi gesekan cepat atau lambat.
*****
Besoknya ketika Citra pergi ke warung untuk berbelanja, tiba-tiba datang Teh Mira yang tanpa aba-aba menarik lengannya dengan kasar. Ketika mereka berhadapan, Teh Mira langsung saja marah-marah tak karuan.
"Heh Citra, dasar kamu yah tukang fitnah. Ngomong apa kamu sama suamimu sampe dia marah-marah ke saya.!"
Citra yang tak menyangka akan mendapat serangan secara tiba-tiba, hanya mampu terbengong-bengong pada awalnya. Namun ketika Teh Mira begitu lancangnya memaki dan menunjuk-nunjuk mukanya di depan banyak orang, tak urung membuat emosi Citra meledak juga.
"Apa maksudnya Teh? Kalo mau juga saya yang marah bukannya Teteh. Gak tau malu nyamperin ke kantor suami orang cuma buat pinjem uang. Udah mah ke istrinya, hutangnya belum juga dibayar-bayar.." Citra berteriak nyalang, langsung ke inti permasalahan. Ibu-ibu yang berada di sana tampak kaget mendengar kata-kata Citra, sebagian lagi berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya.
"Kamu takut gak dibayar Cit? Coba bilang berapa hutang saya ke kamu, nanti saya bayar sekalian sama hutang ke suami kamu. Duit segitu aja jadi masalah kamu Cit. Dasar udik, gak pernah pegang uang kali.." Teh Mira berkacak pinggang.
"Hey Mira, hutang ke saya mau dibayar sekalian gak?" Teriak si Ibu di balik meja dagangan. "Nunggak udah lama gak dibayar-bayar, kamu pikir isi warung saya ini dapet minta sama orang? Gak tau malu kamu yah, udah mah salah malah nyolot lagi.!"
"Iya, hutang ke saya juga cuma janji-janji aja. Gak tau dibayarnya kapan?" Teh Neni menimpali.
"Iihh dasar orang udik, nanti sekalian hutang saya sama kalian semua saya bayar. Tenang aja gak usah takut, buat si Mira ini hutang segitu mah kecil, gak ada apa-apanya.!" Kata Teh Mira sambil menjentikkan jempol ke arah kelingking agar saling beradu.
"Gak usah banyak omong Teh, kalo emang kecil cepet-cepet bayar. Dipikirnya saya gak butuh apa? Sekali gak tau malu tetep gak tau malu, dasar pelakor.!" Kata Cita lalu melotot ke arahnya.
"Apa kamu bilang? Dasar anak ingusan gak tau diri.." Teh Mira merangsek maju untuk menjangkau rambut Citra, namun Citra lebih sigap menendang perut Teh Mira lebih dulu. Tanpa ampun, Teh Mira terjengkang menimpa baskom berisi ayam dan ikan, disusul bunyi gedebuk yang keras. Saat hendak bangun, Bahu Teh Mira diinjak Citra yang membuat si empunya mengaduh kesakitan.
"Udah, udah Cit.. Istigfar" Teh Neni memeluk perut Citra dari belakang ketika dilihatnya Citra sudah berancang-ancang hendak menendang Teh Mira lagi. Sementara Teh Mira sendiri sedang terbaring memegangi bahu dan perut yang kena injakan dan tendangan dari Citra. Belum lagi bokong yang terasa linu akibat jatuh terduduk dan menimpa baskom.
Dengan susah payah Ia berdiri, karena tak seorangpun mengulurkan tangan untuk menolongnya.
"Awas yah kamu Cit, nanti saya balas kamu.!" Teriaknya sebelum pergi yang disambut oleh koor ibu-ibu yang menyorakinya.
"Huuuu...."
Sepeninggal Teh Mira, Citra langsung terduduk lemas sambil menangis. Tangan nya masih gemetar, tanda bahwa amarah di dadanya belum benar-benar pergi. Namun entah mengapa ia merasa sedikit lega karena rasa kesal yang ia pendam selama ini, sudah terlampiaskan meski harus jadi tontonan.
__ADS_1