
Doni terlihat geram, sementara Citra istrinya menutup mulut untuk menahan muntah akibat kotoran yang baunya sangat menyengat itu. Sesekali mereka bergidik, campuran antara marah dan jijik. Mereka berdua yakin ini adalah perbuatan Teh Mira yang dendam karena perkelahian dengan Citra kemarin.
Baru saja Doni hendak keluar untuk menghampiri Teh Mira, terdengar suara si Ibu marah-marah sambil memukul-mukulkan batu berkali-kali pada pagar rumah Teh Mira yang tertutup.
"Mira... Mira.. Keluar kamu. Kurang ajar kamu yah!"
Citra dan Doni saling berpandangan, lalu memutuskan keluar rumah melihat apa yang terjadi.
"Mira gelo, keluar kamu sebelum saya robohkan pagar kamu ini. Anji** kamu yah, bangs*t.." Si Ibu kembali memaki, sementara tangannya masih memukul-mukul pagar rumah Teh Mira dengan batu. Suaranya yang sangat keras itu terdengar menggema, memecahkan keheningan subuh hari yang membuat tetangga terdekat kompak keluar dari rumah masing-masing untuk mengetahui apa yang terjadi.
Dakkk.. Dakk.. Daak..
Tak lama kemudian, terdengar suara kunci diputar bersamaan dengan keluarnya Teh Mira. Dia terlihat menguap berkali-kali, sementara di belakangnya Kiran dan Tita mengikuti.
"Ada apa sih? Masih subuh udah bikin gaduh, gak ada kerjaan yah bu?" Tanyanya terlihat kesal.
"Kurang ajar kamu yah, apa maksud kamu lempar-lempar ta* ke rumah saya? Udah gila kamu yah!" Si Ibu kembali berteriak geram. Rasa marah yang sejak tadi diumbar, kini menemui sasaran.
"Helloowww, ngapain saya lempar-lempar ta* ke rumah orang, kaya yang gak ada kerjaan aja" Teh Mira melipat tangan
"Alaahh gak usah nyangkal kamu yah, emangnya saya gak tau kalo itu kamu? Cepet beresin ta* kamu, kalo gak saya laporin kamu ke polisi!" Teriak si Ibu mengancam.
"Apaan sih, gak penting. Punya bukti kalo saya pelakunya?" Teh Mira balik menantang.
"Mana ada maling ngaku? Kalo maling ngaku semua, penjara penuh!"
"Dengerin yah nenek gayung, rumah situ yang kena lempar ta* , kenapa saya yang disuruh beresin? Gak ada kerjaan banget, ganggu orang lagi tidur aja. Ayo Kiran, Tita, masuk. Gak usah dengerin orang gila ngoceh!" Teh Mira kembali masuk ke rumahnya dengan membanting pintu.
Si Ibu yang merasa dipermainkan, segera melempar batu yang ada di tangannya itu sekuat tenaga hingga mengenai pintu rumah Teh Mira. Baru saja hendak melemparkan batu lagi, tangannya ditahan Doni dari belakang.
"Udah bu, udah, istigfar ya.. Nanti kalo Ibu nekad lemparin batu lagi, si Mira malah kesenengan. Bisa-bisa Ibu dilaporin ke polisi, karena pengrusakan dan perbuatan tidak menyenangkan.." Doni berusaha membujuk si Ibu agar tidak keterusan.
"Biarin, biarin A Doni. Si tangkurak Mira itu emang harus dikasih pelajaran!" Si Ibu masih saja mencoba berontak. Tapi Doni lebih sigap.
"Iya bu, Doni juga ngerti. Nanti kita laporin ke RT aja, biar si Mira gak bisa ngelak lagi." Doni masih memberi pengertian. Akhirnya batu di tangan si ibu pun terlepas, bersamaan dengan melorotnya tubuh si empunya hingga bersimpuh di tanah.
"Astagfirulloh al'adziim... Astagfirulloh al'adziim... Astagfirulloh al'adziim..!" Si Ibu terus beristigfar berulang kali untuk menghilangkan rasa marah yang mendera.
Sementara tetangga-tetangga terdekat yang tadinya hanya melihat di depan rumahnya masing-masing, kini sudah berkerumun mendekati tempat kejadian perkara. Sebagian lagi menanyai Citra untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Ada apa sih Cit? Si Mira gelo buat ulah apa lagi?" Tanya Teh Neni penasaran.
"Itu Teh, ada yang sengaja buang kotoran di rumah saya. Tadinya saya kira, cuma saya aja yang kena. Taunya di warung si ibu juga ada" jelas Citra.
Teh Neni hanya bisa melongo, sedangkan yang lain mencoba memeriksa ke rumah Citra dan sebagian lagi ke warung si Ibu.
"Bener-bener geblek itu si Mira yah, udah gila beneran mungkin" Teh Dewi menimpali.
"Susah sih buat gak suudzon, tapi saya mah yakin kalo si Mira pelakunya." Kata Teh Neni lagi.
__ADS_1
Setelah mengantarkan si Ibu pulang, Donipun membereskan kotoran yang berserakan itu dibantu Ardi cucu si Ibu.
*****
Menjelang siang ketika Citra baru saja merebahkan diri di kasur seusai beres-beres rumah, terdengar seseorang mengetuk pintu. Bergegas ia bangun, lalu membuka pintu. Terlihat perempuan setengah baya berwajah teduh yang rupanya adalah Bu RT di kompleknya.
"Eh Bu RT, ada apa yah bu? Mari masuk.." ajak Citra mempersilakan tamunya.
"Gak usah Neng, di sini aja. Saya cuma disuruh Bapak nyusulin Neng, Teh Mira sama Bu Marni ke kantor RW. Katanya ada yang mau dimusyawarhkan." Bu RT memberi penjelasan, "Teh Mira mah barusan udah ke sana, tapi Bu Marni mah kayaknya gak ada yah? Warungnya tutup, terus saya ketuk-ketuk rolling door nya gak ada yang nyahut"
"Oh gitu yah bu.." kata Citra, sementara hatinya bergumam mungkin gara-gara masalah tadi pagi "Nanti si Ibu mah saya yang ngajak. Mungkin lagi tidur atau lagi di air jadi gak kedengeran ada yang datang"
"Oh ya udah atuh Neng, Ibu duluan yah. Assalamualaikum.."
"Iya bu, waalaikum salam.."
Setelah mengganti dasternya dengan baju yang lebih sopan, Citra pun keluar rumah tak lupa mengunci pintu dan menggembok pagar. Setelah itu, barulah Ia ke rumah si Ibu.
"Bu.. ibu.." panggil Citra sambil mengetuk-ngetuk rolling door si ibu berkali-kali. Rumah si Ibu memang menyatu dengan warung, jadi kalau mau masuk harus melewati rolling door dulu. Setelah mengetuk beberapa kali, terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Ehh, Teh Citra. Udah lama yah? Maaf ya Teh, tadi mah ibunya lagi khusyu sholat sunat" Kata si Ibu begitu rolling door terbuka dengan masih bermukena. "Ada apa Teh?"
"Itu Bu, tadi bu RT nyusulin, katanya suruh ke kantor RW. Teh Mira mah udah ke sana katanya.." jawab Citra.
"Oh ada yang laporin yah? Baguslah, biar si mangkeluk itu tau rasa!"
Sesampainya di sana, terlihat banyak orang sudah berkumpul termasuk Teh Mira. Sebagian tetangga dekat, sebagian lagi orang-orang yang penasaran ingin tau apa yang terjadi.
"Sini Bu, Neng, duduk.." Kata Pak RT ketika mereka datang.
"Assalamualaikum warohmatulohi wabarokatu.." Pak RT memberi salam yang langsung dijawab serempak.
"Waalaikum salam warohmatulohi wabarokatu.."
"Jadi gini, saya panggil ibu-ibu ke sini karena ada salah satu warga yang lapor kalau tadi subuh terjadi keributan antara Bu Marni sama Teh Mira, benar?" Tanya Pak RT lagi.
Si Ibu dan Citra kompak semua mengangguk.
"Kenapa Neng Citra juga dipanggil, karena saya dengar Neng Citra juga turut jadi korban, benar?" Tatapan Pak RT tertuju ke arah Citra yang langsung dijawab oleh anggukan.
"Saya sudah dengar sebagian dari Teh Neni, tapi saya mau dengar langsung dari pihak-pihak yang bersangkutan. Silakan jelaskan apa yang terjadi, dimulai dari Bu Marni" .
Setelah mengucap salam, si Ibu pun menjelaskan apa yang terjadi tanpa ada yang terlewat sedikitpun sementara Pak RT terlihat mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Jadi kesimpulannya, rumah Bu Marni sama rumah Neng Citra sama-sama dilempari kotoran manusia, benar?" Tanya Pak RT setelah si Ibu selasai memberi penjelasan, "yang mau saya tanyakan, kenapa Bu Marni sama Neng Citra berkesimpulan kalau Teh Mira pelakunya?"
"Tau tuh Pak RT, orang saya gak ngapa-ngapain ehh malah dituduh" Teh Mira mendelik kesal ke arah Citra dan si Ibu
"Teh Mira tunggu sebentar ya, nanti ada giliran Teh Mira yang bicara.." Pak RT memperingati Teh Mira, sementara si empunya hanya mendengkus kesal.
__ADS_1
"Mau gak nuduh gimana Pak, baru kemarin Teh Citra sama Teh Mira bertengkar di warung saya. Sebelumnya juga Teh Citra sama saya dimarah-marahin sama Teh Mira." Jelas si Ibu.
"Tapi bukan saya Paak.." Teh Mira menyela lagi.
"Kenapa Teh Mira bertengkar sama Neng Citra? Terus marah-marahin si ibu?" Tanya Pak RT.
"Saya mah sebel aja Pak, saya diomongin yang enggak-enggak, saya difitnah. Apalagi si Citra sampe nendang perut saya segala. Padahal saya gak tau salah saya apa" Teh Mira menjawab dengan tatapan yang memelas.
"Teh Mira, udah cukup ya. Gak usah playing victim!" Citra yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya angkat bicara. Dia menatap Teh Mira nyalang "Teteh teh udah saya anggap kayak kakak sendiri. Teteh pinjem uang saya kasih, anak-anak Teteh minta makan, geratakin kulkas saya, saya diem. Giliran saya gak ngasih pinjem, Teteh marah-marah, saya masih juga diem. Tapi kalo Teteh sampai berani ganggu suami saya, saya gak bisa diem lagi!" Orang-orang yang berkerumun terlihat kaget, sebagian lagi saling menggumam ketika mendengarkan penjelasan Citra.
"Siapa juga yang ganggu suami kamu? Jangan geer kamu yah, si Doni mah gak level!"
"Astagfirulloh al'adziim.." Citra benar-benar hilang kesabaran "Terus apa maksud Teteh datang ke kantor suami saya? Pinjem uang lagi. Udah gitu kirim WA minta jemput?"
"Ya wajar dong, minta tolong ke tetangga. Lagian kalo gak ridho mah ngapain si Doni ngasih pinjem saya uang? Satu juta aja jadi omong, hiihhh..." Teh Mira malah bersungut-sungut sambil memonyongkan bibirnya. Hampir saja Citra menerjang bibir Teh Mira dengan kaki andai suami Teh Neni tak menghalanginya.
"Udah.. Udah.. Tujuan saya memanggil kalian kesini itu supaya masalahnya beres, bukannya malah tambah besar. Udah sekarang mah untuk sementara kita belum tau siapa pelakunya. Tapi untuk masalah lain, saya mohon Bu Marni, Teh Mira dan Neng Citra saling memaafkan dan berjanji gak mengulanginya lagi." Kata Pak RT akhirnya.
Mendengar itu, Citra berdiri.
"Untuk pelaku pelemparan saya setuju kalo kita cuma menduga-duga. Tapi untuk masalah lain, saya belum mau maafin Teh Mira. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Pak RT saya duluan." Kata Citra kemudian berlalu meninggalkan kantor RW. Tak lama kemudian si Ibu menyusul.
Musyawarah itupun berakhir tanpa ada kesepakatan.
******
Berhari-hari berlalu seperti biasa tanpa ada kejadian yang aneh. Begitupun dengan Citra, Teh Mira atau si Ibu. Bila kebetulan mereka tak sengaja berpapasan di manapun, maka salah satu akan pura-pura mampir ke rumah terdekat untuk menghindar. Hingga pada suatu hari..
"Kang Doni, Kang Doni....." terdengar seseorang memukul-mukulkan gembok yang terpasang di pagar sambil memanggil-manggil Doni di luar.
Doni pun bangun diikuti oleh istrinya, sementara jam menunjukkan pukul setengah dua pagi.
"Ehh Pak Hasan, ada apa yah Pak?" Tanya Doni sambil mengucek-ngucek mata yang masih terasa berat.
"Maaf Kang malam-malam gini ngeganggu. Mau ada yang saya tunjukin di pos ronda." Katanya lagi.
"Oh gitu yah Pak, tunggu atuh, saya mau pake jaket dulu.." Doni bergegas ke dalam dan mengambil jaket. Setelah membawa kunci cadangan dan berpamitan pada istrinya, ia pun menyusul Pak Hasan yang telah berjalan di depan.
Sesampainya di pos ronda, mereka disambut dengan bau kotoran manusia yang menyengat. Rupanya bau itu berasal dari keresek hitam yang tergeletak di depan pintu. Doni pun terpaksa menutup hidung untuk menghalau bau, meski hanya sedikit membantu.
Sementara di sudut ruangan terlihat seseorang memakai jas hujan berwarna hitam sedang bersimpuh di lantai. Kepalanya tertunduk dalam, sekilas terlihat seperti orang yang ketiduran. Hanya saja bahunya terguncang pelan.
"Jadi gini Kang, pas kami berkeliling, kami melihat orang ini sedang celingak-celinguk di depan rumah Akang. Kami kira maling, namun setelah kami kejar ternyata orangnya bawa kotoran di keresek" Jelas Pak Ade sambil menunjuk ke tempat keresek itu berada. "Apalagi baru kemarin saya dengar, rumah Kang Doni sama rumah Bu Marni katanya dilempar kotoran. Mungkin ini orang yang sama. Kang Doni mau lihat orangnya?"
Tanpa menjawab, Donipun segera mendekat. Mati-matian dia menahan emosi. Terdengar suara tangis yang lirih, suara perempuan. Hatinya 100% yakin bahwa itu adalah Teh Mira. Siapa lagi?
Doni menahan nafas saat tangannya terulur untuk membuka tudung yang menutupi wajah si pelaku. Ketika tersingkap, si empunya langsung mendongak seraya meminta ampun dengan isak tertahan.
Seketika Doni terlonjak ke belakang, ia merasa kaget bukan kepalang. Karena ternyata, bukan Teh Mira pelakunya.
__ADS_1