
'Kurang ajar si Citra itu, beraninya mempermalukanku di depan banyak orang. Awas aja ya, nanti ku balas. Belum tau dia, siapa si Mira ini.'
Teh Mira membatin dalam hati sembari mengusap-usap perutnya yang terasa linu bekas tendangan Citra tadi. Belum lagi bokong, bahu dan sikutnya. Tapi yang lebih menyakitkan dari itu adalah ketika ia menyadari bahwa Citra sudah tak bisa diatur lagi sesuka hatinya. Otomatis 'pemasukannya' dari hasil jadi benalu Citra, takkan ada lagi. Citra yang dulu bagaikan anak kucing yang tak berdaya, kini telah berubah menjadi singa betina. Ketika memikirkan itu, tak urung hatinya merasa agak gentar juga.
Apalagi sekarang, akal bulusnya untuk memperdaya Doni, sudah terbongkar juga. Semalaman Ia mencoba menghubungi Doni, tapi tak bisa karena memang Doni sudah memblokir nomornya terlebih dulu. Memikirkan itu saja, terselip rasa sedih di hatinya. Kini tak ada lagi yang peduli pada dirinya, apalagi setelah Iwan jarang pulang dan memilih tinggal di rumah istri pertamanya.
Sementara di sebelah, ibu-ibu yang berbelanja masih saja membahas perkelahian yang terjadi antara Citra dan Teh Mira. Warung si Ibu masih berantakan, sebagian sudah dibereskan oleh ibu-ibu di sana.
"Ini Teh, minum dulu.." tawar si Ibu sambil menyodorkan gelas berisi air putih. Citra menerimanya setelah berkata terima kasih. Tangannya masih gemetar menahan geram.
"Ibu mah gak nyangka Teh Citra seberani itu. Kirain mau saling jambak, ehh taunya malah langsung maen tendang. Emang belajar silat di mana Teh?" Si Ibu berseloroh mencoba mencairkan suasana yang tegang.
Citra hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Yehh si Ibu mah gak tau, gitu-gitu juga Citra ini mantan jawara. Yah Cit?" Teh Neni menambahkan sambil terkekeh pelan. "Tapi beneran ini mah Cit, marahnya orang pendiem itu ternyata lebih serem yah? Tadi juga waktu nahan Citra, ampir aja Teteh kewalahan." Air muka Teh Neni berubah serius.
"Ah Teh Neni mah padahal jangan ditahan tadi teh. Biarin aja si Mira babak belur biar tau rasa, tuman soalnya kalo didiemin terus. Apalagi tadi Citra bilang kalo si Mira itu berani-beraninya dateng nyamperin Doni ke kantornya. Isshh gak tau malu banget!" Teh Dewi menimpali.
"Beneran itu teh Cit?" Tanya Teh Neni lagi. Citra hanya mengangguk pelan tanpa menjawab.
"Bener-bener keterlaluan yah si Mira itu. Sekarang mah kita harus waspada, takutnya tempat kerja suami kita juga didatengin. Ih amit-amit." Teh Neni bergidik ngeri "Tapi si Mira tau dari mana tempat kerja A Doni?" Selidik Teh Neni.
"Dulu waktu pertama kenal, Teh Mira pernah tanya Kang Doni kerja di mana, ya udah saya kasih tau aja. Kirain gak bakal kaya gini" Jawab Citra terlihat menyesal.
"Pinjem duit berapa si Mira itu?"
"Satu juta"
"Terus si Doni ngasih?"
"Iya.." jawab Citra lemah.
"Astagfirulloh si Doni mah yah, ckckckckck satu juta itu gede banget. Kalo saya mah bisa buat biaya hidup setengah bulan" Teh Neni menggeleng-gelengkan kepala dengan gemas.
"Yah mungkin A Doni mah gak punya pikiran apa-apa waktu ngasih pinjem duit, iya kan Cit?" Tanya si Ibu, "A Doni mah sama kayak Teh Citra, orangnya gak tegaan. Mungkin dipikirnya si Mira itu lagi ada perlu mendesak mana belain nyamperin ke kantor juga. Si Mira itu mulutnya manis banget, jangankan Teh Citra sama A Doni yang masih polos, saya aja yang udah bangkotan sering ketipu kok kalo dia mau ngutang" Si Ibu terkekeh sekaligus geram menertawakan kebodohannya.
"Emang sih Bu, saya juga mengakui mulut si Mira itu manis. Pake susuk pengasihan kali ya? Tiap kali mau pinjem duit, ehh malah saya kasih lagi. Giliran dia udah pergi, nyeselnya minta ampun." Teh Neni menimpali tak kalah geram.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang mah harus jadi pelajaran ya Teh, kalo gak semua hal pribadi harus diceritain sama orang lain. Mending orangnya baik, kalo orang nya geblek kaya si Mira itu, kan kita juga nanti yang repot." Kata si ibu menasehati. "Sekarang mah Teh Citra jangan pulang dulu, tunggu di rumah ibu aja sampe A Doni pulang. Takutnya si Mira nekad. Nanti rumahnya biar dikunciin sama si Ardi"
Sekali lagi Citra hanya bisa mengangguk, lagi pula dia akan merasa tak enak hati kalau sekarang memaksakan pulang ke rumah. Bukan nya takut, tapi jaga-jaga saja dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah Citra masuk ke rumah si Ibu, ibu-ibu yang lainpun membubarkan diri.
****
Menjelang magrib ketika Doni melajukan motornya sepulang kerja, terlihat Teh Mira di jalan masuk ke komplek perumahan tempat kemarin mereka tak sengaja bertemu. Ketika melihat motor Doni mendekat, dia berdiri dan melambai-lambaikan tangannya. Namun ketika Doni tak kunjung berhenti, Teh Mira malah nekad berdiri dan merentangkan tangan untuk menghalangi jalan Doni.
Motor yang sedang melaju itu terpaksa di rem kuat-kuat hingga menimbulkan suara decit yang keras dan meninggalkan bekas menghitam di jalanan aspal.
"Astagfirulloh al'adziim... Teteh mau mati yah?" Teriak Doni kesal, campuran antara marah dan kaget.
Bukannya malu dan menyadari, Teh Mira malah berlari ke samping Doni lalu memegang lengan nya yang gemetar.
"A Doni tadi Citra mukulin saya di Warung, padahal saya gak tau salah saya apa?" Adunya.
"Apa?" Doni menyipitkan matanya keheranan, setahu dirinya Citra takkan berani berbuat sekasar itu. Apalagi kepada orang tak bersalah. Kecuali...... Doni kembali mengingat percakapannya dengan Citra kemarin malam.
"Lihat A, lihat perut saya sampai lebam-lebam gini" kata Teh Mira sambil menyingkapkan kaus yang dipakainya ke atas. Seketika, Doni langsung membuang muka dengan risih.
"Udah ya Teh, udah.. Saya mau pulang dulu" katanya seraya menyingkirkan tangan Teh Mira dari lengannya. Namun cengkraman Teh Mira ternyata begitu kuat, membuat Doni dengan terpaksa menghempaskannya dengan kasar.
"Apaan si A Doni, tangan Mira kan jadi sakit.." Mira mengusap-usap tangannya yang terasa kebas.
Doni tidak menjawab, dia malah menstarter motornya untuk bersiap pergi.
"Tunggu Aaa" Teh Mira merengek-rengek seperti anak kecil. "Harusnya kan A Doni tanggung jawab bawa saya ke dokter. Atau ngasih ganti rugi. Ini perbuatan istrinya A Doni lohh. Kalo saya lapor polisi, bisa dipenjara itu Citra.." Kata Teh Mira mengancam.
"Ya udah, laporin aja sana. Nanti saya tunggu di kantor polisi." Tantang Doni tidak gentar. Lalu ia melajukan motornya dan meninggalkan Teh Mira yang terbatuk-batuk sendirian.
"Kurang ajar itu si Doni. Awas aja ya nanti saya bakalan balas dendam sama suami istri gak tau diri itu" rutuknya geram seraya mengepalkan tangan.
****
Sesampainya di rumah, Doni disambut sepi. Apalagi lampu-lampu belum dinyalakan. Terlintas rasa tak enak dalam hatinya, takut terjadi hal-hal buruk pada istrinya.Apalagi tadi Teh Mira mengatakan hal-hal yang tak masuk akal.
__ADS_1
Bergegas Doni turun dari motor dan membuka pintu. Namun ternyata di kunci dari dalam. Ia pun menggedor-gedor pintu dengan tak sabar. Rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi, apalagi ketika dipanggil-panggil, istrinya tidak juga menyahut.
"Neng.. Neng.." Ia mengintip jendela, namun hanya sunyi yang menyambut.
"Neng.. Neng.." panggilnya lagi. Jantungnya berdetak cepat tak beraturan.
"Neng... Atuh Neng ihh.." Kali ini suaranya tercekat di tenggorokan, sementara pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang menakutkan. Segera saja ia mengeluarkan gawai dari saku jaketnya, untuk menelepon istrinya. Namun ternyata gawai istrinya terdengar berbunyi di dalam rumah.
Baru saja ia hendak mencongkel jendela rumahnya, datang Ardi, cucu si Ibu.
"Om, itu kata Nenek suruh ke sana"
Tanpa banyak tanya, Doni langsung saja mengikuti Ardi dari belakang. Dalam perjalanan, baru terpikir oleh Doni, kenapa tadi Ia tak bertanya saja pada tetangganya itu. Untung jendela rumahnya belum dibongkar. Doni terkekeh dalam hati. Namun walaupun begitu, masih terselip rasa khawatir di hatinya karena ia belum bertemu dengan istrinya.
Sesampainya di sana, terlihat istri yang di khawatirkannya itu sedang duduk di ruang tamu sedang mengobrol dengan si ibu.
"Neeengg mah ihh Akang khawatir, rumah dikunci Neng nya gak ada. Untung aja jendela gak Akang bongkar" kata Doni sambil menghembuskan nafas lega.
"Iya A maaf, tadi Teh Citra ibu suruh nunggu di sini sampai A Doni pulang. Soalnya....." Si Ibupun menceritakan semua yang terjadi tanpa terlewat.
"Astagfirulloh al'adziim.." Doni hanya mampu beristigfar mendengar cerita si Ibu. "Tadi juga saya ketemu sama Teh Mira di jalan.." kini giliran Doni yang bercerita.
"Ya Alloh, bener-bener yah si Mira itu!" Si ibu mengelus dada dengan prihatin.
"Neng, sementara mah tinggal di rumah si mamah dulu atuh. Soalnya Teh Mira udah nekad gitu." Kata Doni sambil mengelus tangan istrinya.
"Kalo kata ibu mah lebih baik jangan dulu A, nanti si Miranya tambah seneng kalo Teh Citra gak ada. Apalagi ibu denger kalo si Mira berani nyamperin ke kantor A Doni. Tenang aja, Teh Citra mah banyak yang jagain. Nanti kalo macem-macem lagi, laporin ke RT RW. Kalo masih gak mempan juga, laporin ke polisi sekalian." Si ibu menenangkan sekaligus memberi solusi.
Doni terlihat manggut-manggut tanda ia mengerti, tapi tetap saja kekhawatiran belum hilang dari wajah tampan nya. Setelah mengucapkan terimakasih pada si ibu, merekapun berpamitan.
****
Subuhnya ketika sedang menyapu di luar seperti biasa, Citra menjerit memanggil suaminya.
"Akang.. Akang.. sini..."
Doni yang sedang wiridanpun segera berlari ke arah Citra.
__ADS_1
"Apa Neng, kenapa?" Tanya Doni khawatir.
Citra tidak menjawab, ia malah menunjuk lantai. Terlihat di sana banyak sekali kotoran manusia berserakan.