Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 17


__ADS_3

Sementara di rumahnya, Kiran dan Tita menunggu dengan harap-harap cemas. Mira memang jarang pulang, tapi entah mengapa hari ini perasaannya begitu tidak enak seakan sesuatu yang buruk tengah terjadi. Hingga ia memutuskan untuk ke rumah Citra.


"Ateu.. Ateu..." panggilnya di luar.


Citra yang tengah menonton tv, bergegas membuka pintu.


"Eh Kiran, ada apa Kir?" Tanyanya "mau masuk?"


"Engga Ateu, di sini aja... Euh Ateu, kenapa yah Kiran gelisah terus dari tadi. Kiran terus aja kepikiran sama Mamah, sama Ayah Iwan. Kenapa yah Ateu?" Tanyanya lagi, sementara wajahnya diliputi kecemasan yang sangat.


"Emang Mamah kemana gitu Kir?"


"Kemarin mah pas pulang bilangnya mau ke pengadilan agama, katanya sekarang putusan cerai" Kiran menunduk sedih "tapi kok sampai sekarang gak pulang-pulang?"


"Kiran tenang aja yah, banyakin berdo'a. Mudah-mudahan Mamah sama Ayah Iwan gak apa-apa." Jawab Citra menghibur Kiran.


"Iya Ateu, Aamiin.." jawab Kiran "Ateu, makasih yah udah mau dengerin Kiran. Padahal Mamah Kiran sering buat masalah sama Ateu, tapi Ateu tetep baik sama Kiran sama Tita juga. Makasih yah Ateu, Kiran pulang dulu." Katanya sambil berlalu pergi.


Citra hanya tersenyum kemudian menutup pintu setelah punggung Kiran tak kelihatan lagi.


"Siapa Neng?" Tanya Doni yang baru keluar dari kamar mandi.


"Si Kiran Kang, katanya perasaan dia gak enak kepikiran Teh Mira sama A Iwan.." jawab Citra.


"Oh.. tapi Akang juga udah lama gak lihat Teh Mira lagi, kemana ya?" Tanya Doni lagi.


Citra hanya mengangkat bahu dengan perasaan sebal yang terlihat kentara di wajahnya.


Semenjak pertengkarannya dengan Teh Dewi, Mira memang sudah jarang kelihatan lagi. Terlebih ketika ibu-ibu di sini menuntut agar Mira diusir saja dari komplek ini karena takut suami mereka diganggu seperti yang Mira lakukan pada Tisna.


Teh Dewi memang sudah meminta maaf pada Citra, dan keadaan sudah biasa lagi. Tapi tidak dengan Tisna, kabarnya ia diusir istrinya dan sekarang entah berada di mana?


Saat kejadian, RT RW memang hanya memberi peringatan. Mereka masih melihat keberadaan Kiran dan Tita yang tidak tahu apa-apa tentang masalah ibunya. Tapi jika kejadian ini terulang lagi, maka mau tak mau Mira harus angkat kaki dari sini karena telah terbukti meresahkan kenyamanan warga.


"Neng bobo yuk, udah malam.." ajak Doni. Namun Cita malah melengos pergi sendiri ke kamarnya. Tak lupa membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

__ADS_1


*****


Di tempat lain..


Hari masih gelap ketika Mira terbangun karena merasakan dingin yang menusuk kulitnya. Rupanya semalam ia pingsan setelah kabur. Sementara Di kejauhan terdengar suara orang yang sedang membaca sholawatan di mesjid.


Bergegas Mira bangkit karena sekarang ia masih berada di pematang sawah tak jauh dari tempat di mana ia disekap kemarin.


Dengan langkah tertatih, Mira menyusuri jalan sambil menahan perih dan linu. Ia menggigil dibalik baju tipis yang dikenakannya.


Berkali-kali Mira menengok ke belakang, takut bila anak buah Hendar menemukannya dan berbuat jahat lagi padanya.


Setelah agak jauh, Mira merasakan kepalanya berkunang-kunang. Ia sedikit lega ketika menemukan rumah-rumah yang berderet, tanda ia sudah dekat dengan pemukiman warga.


Rasa lelah, lapar dan trauma yang dideritanya, membuat ia kembali pingsan lagi di pinggir jalan.


*****


"Bu, bangun... Bu.."


Bergegas Mira bangkit dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan wajah ketakutan. Pertanyaan-pertanyan yang diajukan orang-orang yang berada di sekelilingnya, tak dihiraukannya.


"Ibu kenapa bisa pingsan di jalan?" Tanya seorang perempuan dengan lembut yang sekarang sedang menatapnya lekat.


Mira hanya balik menatap perempuan tersebut tanpa menjawab sama sekali.


"Ibu dari mana, mau ke mana?" Tanyanya lagi.


Berkali-kali orang itu bertanya tapi Mira bingung hendak menjelaskan dari mana. Akhirnya ia memilih bungkam sambil menangis.


"Ya sudah, sekarang ibu tenangin diri dulu.." Perempuan tersebut mengusap-usap punggung Mira.


Setelah tangisnya mereda, Mira akhirnya bersuara.


"Saya di mana? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Mira dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Ini rumah saya, bu. Tadi bapak-bapak yang mau ke mesjid menemukan ibu pingsan di pinggir jalan." jawab perempuan tersebut.


"Sebenarnya, ibu dari mana mau ke mana?"


"Atau mau diantar ke kantor polisi?"


Tawar perempuan itu karena dilihatnya wajah Mira memar-memar seperti bekas penganiayaan.


Mira kembali mengingat apa yang terjadi padanya. Perlahan, air mata mulai membasahi pipinya. Kemudian ia menggeleng pelan.


"Saya mau pulang..." Katanya dengan pelan sambil menelungkupkan wajahnya. Menangis dengan suara keras


*****


"Punten.. Ibu, apa benar ini komplek Griya Sakinah?" Tanya seorang Bapak, dengan helm yang masih menempel di kepala.


Ibu-ibu yang saat itu sedang sibuk berbelanja, langsung menghentikan kegiatan dan serempak menoleh ke arah suara.


"Muhun Pak. Bapak lagi cari orang?" Si Ibu balik bertanya.


"Enggak juga sih, Bu. Tadi subuh pas mau berjamaah di mesjid, saya nemuin orang pingsan di jalan. Setelah sadar, orangnya minta dianter ke sini. Katanya rumahnya di sini" jelas Bapak itu lagi.


"Oh gitu, mana orangnya Pak? Kalo bener warga sini mah, pasti kami kenal.." Neni menimpali.


"Itu Teh, dibonceng teman saya." Katanya sambil menunjuk motor yang berhenti di depan warung si Ibu.


Di sana terlihat tiga orang berboncengan dalam satu motor. Sementara yang paling belakang tampak memegangi orang yang duduk di tengah yang sekilas seperti sedang tertidur. Sementara mukanya tak terlihat jelas karena tertutup tudung jaket.


"Itu kayaknya seperti bekas dianiaya Bu, tadinya mau dianterin ke kantor polisi, tapi orangnya keukeuh mau pulang ke rumahnya aja katanya" lanjutnya lagi.


"Coba Teh Neni, lihat sama kamu, mungkin bener orang sini..." Si Ibu berkata demikian sambil keluar dari balik meja dagangan.


Tanpa banyak bicara, Neni ditemani Citra menghampiri orang tersebut. Menilik-nilik wajah di balik tudung jaket yang membuatnya begitu penasaran.


Tangan Neni terulur untuk membuka tudung yang menutupi wajah itu, ketika terbuka, refleks ia menjerit.

__ADS_1


"Astagfirulloh.. Si Mira Ibu, ini si Mira kenapa?" Ia menilik-nilik wajah cantik Mira yang lebam-lebam, juga beberapa luka bakar seperti bekas sundutan rokok. Ia dan Citra terlihat terkejut.


__ADS_2