Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 13


__ADS_3

Citra masih saja disibukkan dengan pikirannya sendiri. Ia tak pernah menyangka sebelumnya bahwa masalah ini akan menjadi rumit. Masalah dengan Teh Mira belum selesai, kini datang lagi masalah baru.


Terbayang ketika Ia dan suaminya pertama kali pindah ke sini, diiringi dengan do'a-do'a ibu bapak juga sanak saudara, mereka berharap Citra dan Doni betah hingga bisa membangun rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah.


Bukan hanya Citra dan Doni, harapan itu tentu akan menjadi harapan setiap pasangan yang menempati tempat baru.


Namun bukan hidup namanya jika tanpa ujian, begitupun dengan Citra. Jika orang lain diuji dengan suami, orang tua, saudara, bahkan harta, Citra malah diuji dengan tetangga. Tetangga yang pada awalnya dianggap seperti saudara, namun lama-lama menampakkan sifat aslinya.


Citra memang sering kali berhadapan dengan benalu dalam hidupnya, namun ia tak pernah menemukan yang seperti Teh Mira. Seujung kukunyapun bahkan tidak. Teh Mira adalah perpaduan antara tak tahu malu yang akut juga rasa sadar diri yang sangat rendah. Parahnya bahkan ia tak pernah merasa bersalah sama sekali.


Namun, berkat Teh mira jugalah Citra bisa merasakan hal-hal lain dalam hidupnya yang cenderung monoton. Bahwa hidup ini tak melulu hanya berwarna hitam dan putih saja, namun ada berbagai macam warna lain seperti pelangi.


Bila dahulu ia hanyalah seorang tertindas tanpa bisa - lebih tepatnya - tanpa ada kemauan untuk melawan, karena ia lebih suka menghindari masalah tanpa menyelesaikannya. Namun dengan Teh Mira ia merasakan manisnya perlawanan meski berakhir tak sesuai dengan yang ia inginkan.


Lantas, apakah sekarang ia harus berterimakasih pada Teh Mira yang telah membangkitkan sisi lain dalam dirinya? Atau malah menyesal telah pindah ke sini?


*****


Sepulangnya Doni dari tempat kerja, Citra lebih banyak diam. Bukannya tak mau bercerita seperti biasa, hanya saja ia merasa bingung apa yang mau diucapkan. Jika harus bercerita, entah harus dimulai dari mana? Lagi pula Citra merasa iba dengan suaminya itu. Doni sudah capek bekerja, rasanya tak tega jika harus membebaninya lagi.


Namun lain lagi dengan Doni, ketika dirasa sikap istrinya lain dari biasa, ia segera tanggap akan perubahan istrinya itu. Maka setelah menunaikan sholat isya berjamaah, bergegas ia pulang. Tampak olehnya Citra sedang menonton televisi, tapi ketika dicermati lagi, ternyata istrinya malah sedang larut dalam lamunannya sendiri.


"Assalamualaykum, Neng." Sapa Doni dengan hangat.


"Ehh Akang, kapan Akang pulang dari mesjid?" Citra malah bertanya dengan senyum yang dipaksakan.


Segera Doni duduk di sebelahnya, lalu menatap istrinya itu dengan rasa sayang.


"Neng masih kepikiran Teh Dewi yah?" Tanyanya langsung ke inti permasalahan. Citra hanya menunduk, tak memberikan jawaban.


"Udah jangan dipikirin Neng, mungkin Teh Dewi punya alasan yang kita gak tau. Atau Neng mau samperin Teh Dewi ke rumahnya? Nanti Akang ganti baju dulu atuh.."


Baru saja Doni hendak bangun, Citra menahan tangannya.


"Gak usah Kang, Neng udah tau kok..." Citra menghela nafas panjang, lalu dihembuskannya pelan-pelan. Berharap beban yang sekarang menghimpitnya bisa sedikit berkurang.


Doni menyipitkan mata, lalu dengan sabar menunggu istrinya bercerita.


"Tadi pagi Kiran ke sini, katanya pas kejadian sebelum Teh Dewi itu, Kiran bilang kalo Teh Mira pulang tengah malam. Udah berhari-hari kayak gitu. Semalam juga sama.. Tapi, pulangnya sama Om Tisna, suaminya Teh Dewi.."

__ADS_1


"Astagfirulloh al'adziim, beneran itu teh Neng?" Tanya Doni tak percaya.


"Iya Kang.. Neng juga pertamanya mah gak percaya, tapi pas dipikir lagi, kejadian ini saling berurutan. Mungkin ini juga yang jadi alasan Teh Dewi. Teh Dewi mau balas Teh Mira, tapi pake tangan kita yang juga punya masalah sama Teh Mira. Dia cuma memanfaatkan keadaan supaya Teh Mira yang disalahin.." Citra menjelaskan dengan panjang lebar.


"Tapi tetep aja gak boleh gitu, harusnya Teh Dewi jangan pengecut lempar batu sembunyi tangan. Enak aja kita mau dimanfaatin!" Doni terdengar geram.


"Ya udah gimana lagi? Kan udah kejadian kayak gini kok. Untungnya ketauan, coba kalo enggak..." Citra menggantung kalimatnya, namun Doni sudah faham kemana maksudnya.


"Cuma Neng masih kepikiran, siapa orang yang melakukan sebelum Teh Dewi?" Cita melanjutkan lagi. "Tapi Neng mah tetep yakin Kang, kalo Teh Mira pelakunya. Memang Neng gak punya bukti langsung sih, tapi... Gimana yah? Yang paling masuk akal ya cuma Teh Mira.."


"Iya, Akang juga punya pikiran sama Neng. Tapi kita susah buat ngebuktiinnya.." Doni terdiam sejenak "Atau gini aja Neng, gimana kalo kita ke rumah Teh Dewi? Tanya langsung kan lebih enak, dari pada menduga-duga kan? Siapa tau dapet petunjuk" Usul Doni kemudian.


Citra terlihat berpikir sejenak, tapi kemudian ia menyetujui usul suaminya itu.


*****


Baru saja hendak menuju rumah Teh Dewi, Citra dan Doni justru berpapasan dengan Teh Dewi di jalan. Tapi kelihatannya dia sedang terburu-buru, hingga mengabaikan kehadiran Doni dan Citra yang berada di depannya. Baru saja hendak berlalu, terlihat Kang Tisna yang sama terburu-burunya menyusul di belakang Teh Dewi tanpa memakai sandal.


"Mah.. Mamah.. Tunggu..." Teriak Kang Tisna, namun istrinya itu tak memedulikannya.


Doni dan Citra saling berpandangan, firasat keduanya mengatakan bahwa sesuatu pasti akan terjadi setelah ini. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara pintu yang digedor-gedor dengan kerasnya.


Refleks Doni dan Citra berlari menuju sumber keributan, bersamaan dengan tetangga-tetangga terdekat yang keluar dari rumah masing-masing.


"Ada apa? Ada apa?" Tanya mereka kebingungan, namun tak satupun ada yang menjawab.


Kang Tisna berusaha menenangkan istrinya, dirangkulnya ia dari belakang agar kenan diajak pulang. Namun Teh Dewi berontak. Lalu dengan membabi buta ia menggedor lagi pintu rumah Teh Mira.


"Keluar kamu sundal, perempuan anji**.. Keluar..." Teriak Teh Dewi dengan frustasi. Air mata sudah berlelehan di pipinya, sementara rambutnya terlihat kusut masai.


"Udah Mah.. Udah.. Kita pulang yah.." Kang Tisna mencoba membujuk Teh Dewi lagi, namun tanpa diduga Teh Dewi malah mencakar-cakar wajah Kang Tisna dengan garangnya.


"Diem kamu baji**** laki-laki gatal tak tahu diuntung. Sudah punya anak istri malah nyeleweng sama ******* itu. Anji** kamu yah.." umpat Teh Dewi kesal.


Tetangga yang menyaksikan, terkejut tak percaya.


"Astagfirulloh al'adziim, si Mira itu kok seneng banget yah bikin ulah.." umpat Teh Neni kesal.


Terlihat seseorang mengintip dari balik jendela, tak lama kemudian pintu terbuka.

__ADS_1


"Apaan sih, tetangga di sini kok pada rese yah? Senengnya ganggu ketenangan orang. Heran.." kata Teh Mira begitu keluar.


Teh Dewi langsung merangsek maju, namun sebelum menjangkau Teh Mira, Kang Tisna terlebih dulu menghalangi. Tanpa ampun lagi pukulan Teh Dewi mendarat telak di kepala Kang Tisna.


"Udah Mahh.. udaaahhh" Teriak Kang Tisna meski masih meringis kesakitan.


Teh Dewi tak hilang akal, ditendangnya ******** suaminya yang membuat Kang Tisna jatuh berguling-guling di lantai. Lalu ia merangsek maju dan menjambak rambut Teh Mira dengan kuat kemudian mendorongnya hingga menimpa tubuh Kang Tisna.


Teh Mira yang terkejut, mengaduh kesakitan. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, Teh Dewi sudah menduduki perutnya lalu tanpa ampun memukuli wajah cantiknya. Sementara di bawah, Teh Mira tak tinggal diam. Dia mencakar dan memukul apa saja yang bisa dijangkau tangannya.


Tetangga yang tadinya hanya terdiam seperti tersihir, kemudian berlarian untuk memisahkan.


"Lepasin... Lepasiiiinnn.. biar saya kasih pelajaran perempuan sundal itu" Teh Dewi masih saja berontak dalam cengkraman beberapa laki-laki dewasa yang memeganginya. Terlihat beberapa bekas cakaran di pipi dan sudut matanya.


Sementara keadaan Teh Mira tak kalah mengenaskan. Sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah, pun kedua pipinya yang lebam-lebam terkena pukulan.


"Harusnya kamu mikir, kenapa suami kamu bisa selingkuh. Bukannya malah nyalahin orang. Cuuihhh.." Balas Teh Mira tak kalah pedas seraya meludah ke lantai.


"Apa kamu bilang? Dasar perempuan tak tahu malu, harusnya kamu yang mikir!"


"Tuh ambil aja suami kamu, ambiiill.. Saya sudah gak butuh lagi!" Jawab Teh Mira dengan sengit.


Tiba-tiba di antara kerumunan muncul seseorang yang mereka kenal. Seketika orang-orang seperti menyingkir memberi jalan.


"CUKUP MIRA, CUKUP!" Suara orang itu terdengar menggema di tengah keributan yang bahkan sanggup menghentikan perkelahian yang tadinya susah untuk dilerai.


"I.. Iwaan.." Teh Mira tergagap-gagap menyebut nama suaminya. Ia kaget bukan kepalang.


"Ternyata hobi selingkuh kamu tak pernah berubah!" Katanya lagi melanjutkan. Iwan begitu kecewa.


Terdengar orang-orang menggumam bersamaan, hingga menimbulkan suara seperti dengung. Lalu pintu rumah Teh Mira terbuka, disusul Diki dan Diva yang berlarian menyambut ayah mereka yang lama tak pulang.


"Mulai sekarang, kamu saya ceraikan!" A Iwan berkata dengan geram, kemudian menggendong Diki dan Diva sambil berlalu pergi.


Tinggal Teh Mira yang meratap-ratap sedih memanggil-manggil suaminya. Ia tak menyangka suaminya pulang di waktu yang tidak tepat lalu berniat menceraikannya. Bukan itu saja, dua anak merekapun turut dibawa serta. Terlihat Kiran dan Tita menangis memeluk ibunya di sisi kiri dan kanan.


Setelah itu, satu persatu orang-orang mulai membubarkan diri, menyisakan Kang Tisna yang juga merasa kecewa ketika Teh Mira yang dicintai lebih dari istrinya itu, tega mengatakan kalau Teh Mira sudah tak membutuhkannya lagi.


Padahal Kang Tisna merasa sudah banyak berkorban. Bukan saja dengan memberi uang dan menemani Teh Mira yang kesepian, tapi juga melakukan hal yang begitu menjijikan dan tak masuk akal yang diperintahkan Teh Mira padanya; membuang kotoran di warung si Ibu juga di teras rumah Citra tetangganya.

__ADS_1


Entah setelah ini, ia akan dimaafkan atau tidak.


__ADS_2