
Serempak ibu-ibu yang berada di dalam warung, berlarian keluar.
"Astagfirulloh al'adziim ya Allah, kenapa lagi si Mira?" Tanya mereka hampir bersamaan seolah tak habis pikir.
"Ini Pak, ini rumahnya" Si Ibu menunjuk rumah di sebelah warungnya, "tolong Pak, tolong gotong ke sini aja.." lanjutnya lagi sambil membuka pagar rumah Mira yang tak dikunci.
Kemudian si Bapak dibantu temannya, mengangkat tubuh Mira dari motor dan menggotongnya ke teras rumah.
"Bentar Pak, " Kata si Ibu sambil membuka pegangan pintu. "Euh, rumahnya juga dikunci. Tidurin aja dulu di situ" si Ibu menunjuk kursi bambu yang ada di depan kaca jendela.
Bapak-bapa tadi di bantu ibu-ibu yang lain, segera mengangkat tubuh Mira dan menidurkannya di sana.
"Ini teh kenapa Pak? Kenapa bisa kayak gini?" Tanya si Ibu. Sementara Citra terlihat mengipas-ngipas wajah Mira dengan tangannya dan Neni menepuk-nepuk pipi Mira dengan lembut.
"Gak tau Bu, saya juga pas nemuin lagi pingsan di jalan. Ya dibawa dulu ke rumah warga. Tapi pas sadar, ditanya kenapa dianya malah nangis. Terus minta dianter ke sini." Jawab Bapak tersebut mengungali penjelasannya.
"Astagfirulloh al'adziim.." si ibu beristighfar sambil menatap prihatin ke arah Mira "Teh Neni, tolong dulu ambilin air di warung, mungkin si Bapak sama temen-temennya mau minum..." kata si Ibu lagi.
"Gak usah bu, gak usah repot-repot. Saya mau pamit aja, takut yang di rumah khawatir" jawabnya sambil berdiri dan menyalami si Ibu, lalu menangkupkan tangan di depan dada seraya mengangguk sopan pada ibu-ibu yang lain.
"Ya udah atuh Pak kalo gitu mah, makasih banget udah nganterin tetangga kami ke sini.."
"Iya Bu, sama-sama.. Mangga, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam.."
Sepeninggal orang asing tersebut, Citra dibantu Neni masih mencoba menyadarkan Mira.
"Teh.. Teh Mira, sadar Teh.." panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Mira dengan lembut.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Mira membuka mata. Namun kemudian menutupnya lagi dengan kedua tangan sambil menangis sesenggukan.
Ibu-ibu yang ada di sana tentu saja semakin heboh melihat reaksi Mira.
"Mira.. Mira.. kamu Teh kenapa?" Tanya si Ibu. Meskipun dalam hatinya masih ada rasa sebal, tapi demi melihat keadaan Mira, hatinya merasa terenyuh juga.
Bukannya menjawab, Mira malah semakin mengeraskan tangisnya hingga membuat ibu-ibu semakin heran sekaligus penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi menimpa tetangganya itu.
"Teh.. Teh Mira, ngomong ya, kenapa Teteh teh?" Tanya Citra. Mira menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah mau membuang jauh kenangan buruk yang telah menimpanya.
Melihat reaksinya yang seperti orang kesurupan, membuat ibu-ibu yang lain tak bertanya lagi.
Setelah agak tenang, Mira kemudian duduk menyandar pada kursi bambu.
"Saya gak apa-apa.. walau saya kenapa-kenapa juga kalian mah gak bakalan bisa nolong.." katanya pelan namun dengan nada angkuh yang terdengar.
"Astagfirulloh al'adziim, bener-bener kamu mah Mira yah. Ya udah kalo kamu gak mau dipeduliin mah, terserah kamu aja!" Rutuk si Ibu dengan kesal "lagi kena musibah kayak gini juga tetep aja kamu mah angkuh gitu!" lanjutnya lagi seraya berlalu pergi diikuti ibu-ibu yang lain kecuali Citra dan Neni yang tetap menunggu dengan sabar.
"Ya Allah, kenapa Teteh jadi su'udzon gitu sih? Orang mau niat nolong malah digituin!" Citra menatap Mira dengan kesal, sementara Mira malah membuang muka tidak menjawab.
"Hayu Cit ah, jangan dipeduliin lagi" kata Neni gemas sambil menarik tangan Citra untuk berdiri, "banyak masalah teh bukannya nyadar kamu mah Mira, malah jadi gini..." ucapnya lagi sambil menyilangkan telunjuk di depan keningnya.
Citra masih menatap Mira dengan rasa iba, tapi kemudian tangannya ditarik Neni untuk menjauh pergi.
Tak lama kemudian, Mirapun masuk ke dalam rumahnya setelah mengambil kunci yang disimpan di atas meteran listrik.
Di dalam, ia kembali menangis meratapi nasibnya yang sungguh tragis. Bukan hanya fisiknya yang sakit, hatinya juga. Dan yang lebih parah, dia takkan pernah bisa melapor pada polisi karena sadar sedang berhadapan dengan siapa sekarang.
Jika ia nekat melapor, itu sama saja dengan bunuh diri karena ia tahu persis orang macam apa Hendar itu. Ketika memikirkan itu, nyalinya langsung saja ciut. Ia masih menyayangi hidupnya itu, seraya berharap tak akan pernah lagi berurusan dengan orang macam Hendar.
__ADS_1
*****
Sementara di tempat lain..
Baru saja hendak keluar kelas seusai bel tanda pulang berbunyi, gawai yang Kiran simpan di dalam tasnya terdengar bergetar. Ketika diambil, tertera momor tidak dikenal pada layarnya.
"Halo, assalamu'alaikum.." sapanya dengan ragu.
Tak terdengar jawaban apapun di sana. Kiran melihat layarnya sekali lagi, memeriksa nomor yang mungkin pernah menghubunginya namun luput ia simpan di kontak.
"Halo, assalamu'alaikum.. Dengan siapa ini?" Sapanya lagi. Namun lagi-lagi, hanya sunyi yang ia dapati.
Baru saja hendak menutup sambungan telepon karena menganggap itu hanya orang iseng, kemudian seseorang berbicara.
"Nak, apa kabar?" Tanya suara di seberang sana setelah hanya hening yang menguasai. Suara itu terdengar berat, tercekat menahan tangis.
Sejenak Kiran menahan nafas ketika mengetahui milik siapa suara itu sebenarnya. Laki-laki yang selama ini amat ia rindukan.
"Bapak.." katanya lirih. Matanya berkaca-kaca, kemudian satu persatu bulir bening itu jatuh membasahi pipi.
"Nak, maafkan Bapak ya.. Selama ini Bapak banyak salah sama kamu, sama saudara-saudaramu juga, Nak... Bapak sungguh menyesal...." Suara berat di sana berubah jadi isak tangis tertahan "Kiran mau kan maafin Bapak, Nak?"
"Bapak... Bapak jangan ngomong gitu.. Kiran gak marah kok, Kiran kangen Bapak.." jawabnya tersendat-sendat.
"Udah Nak, udah... Jangan nangis lagi.. terimakasih Kiran mau maafin Bapak, padahal bapak banyak salah sama Kiran. Sekarang Kiran Mau gak tinggal lagi sama Bapak? Sama saudara-sudaramu seperti dulu?" Tanya Uda Irman.
Kiran tak menjawab, ia malah bersimpuh di lantai kelas dengan tangis yang semakin mengeras. Tak peduli dengan tatapan heran sekaligus khawatir teman-temannya.
Setelah telepon ditutup, Kiran pulang dengan perasaan berbunga-bunga, rasanya sungguh tak sabar ingin segera bertemu dengan Tita lalu mengabarkan kebahagiaan ini pada adiknya. Namun ketika pulang dan mendapati keadaan ibunya, seketika hatinya dirundung nestapa.
__ADS_1
Ia menjadi bimbang untuk memilih, antara ikut ajakan ayahnya atau bertahan hidup dengan ibunya meski tahu ia dan adiknya pasti terlantar lagi.