Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 8 Doni


__ADS_3

"Ini Teh Mira? Bisa kita ketemu?" Tanyaku, yang langsung dijawab iya di seberang sana.


"Eh tapi Teh...." aku berpikir sejenak, menimbang baik buruknya, lalu... "jangan ketemu deh" putusku akhirnya, kalau nanti terpaksa harus bertemu pun akan ku ajak istriku supaya tak salah paham, "saya cuma minta, kalo gak terlalu penting, punten jangan WA saya lagi, apalagi kalo Teteh kirim pesan yang aneh-aneh, barusan istri saya salah paham baca WA Teteh. Saya gak mau istri saya nyangka yang engga-engga.."


"Aneh kenapa emang?" Teh Mira memotong pembicaraanku, nadanya terdengar emosi "orang saya cuma minta pulang bareng aja, gak macam-macam kok. Sekarang ini saya kerepotan bawa barang banyak, masa kamu sebagai tetangga gak bisa nolongin sih? Ini mah pasti si Citra udah ngomong yang engga-engga tentang saya kan? Iya kan?"


"Kalo bawa barang banyak, kenapa gak naik taksi aja Teh? Lagian Citra mah gak ngomong apa-apa kok, saya nya aja yang salah, apalagi kemarin pas Teteh pinjem uang saya gak bilang-bilang dulu ke istri, jadinya....." aku masih sabar menjelaskan.


"Loh, ngapain harus bilang segala?" Teh Mira memotong lagi pembicaraanku "Uang-uang kamu kok, kamu yang kerja. Lagian, takut banget sih sama si Citra. Apa hebatnya dia? Kalo kamu ditinggalin ya udah cari yang lain lagi, gitu aja kok repot.!"


"Astagfirulloh al'adziim.." kali ini aku benar-benar habis kesabaran "udah ya Teh, saya gak suka Teteh ngomong kaya gitu tentang istri saya. Saya ini suami orang, Teteh juga istri orang, hubungan kita cuma sebatas tetangga, jadi bersikap sewajarnya aja sebagai tetangga. Dan mulai sekarang, saya minta Teteh jangan hubungi saya lagi. Masalah uang yang kemarin, nanti saya bilang ke istri, biar istri saya aja yang nagih. Assalamualaikum.!" Kataku langsung menutup telepon. Terus terang aku emosi mendengar istriku dijelek-jelekan begitu.


Aku tak habis pikir, kenapa Teh Mira bisa bersikap demikian terhadapku? Apakah dengan bersikap ramah, ia menjadi salah paham lalu menaruh harapan padaku? Atau dari awal aku memang hanya dimanfaatkan? Berkali-kali aku mengucap istigfar dalam hati. Sekarang rumah tangga Teh Mira dan A Iwan sedang bermasalah, mendengar riwayatnya, bukan tidak mungkin ia mencari simpati untuk menjerat lagi laki-laki lain termasuk aku. Naudzubillahimindzalik.


Ternyata sangat sulit rasanya untuk tidak berpikiran buruk, apalagi ketika menyadari - walaupun terlambat - Teh Mira begitu berani mencariku di tempat kerja yang istriku pun tak pernah melakukannya. Wanita baik-baik takkan mungkin seperti itu. Aku memang terlalu polos, atau malah terlalu bodoh?


Tak lama kemudian, terdengar lagi bekali-kali gawaiku berbunyi, namun tak lagi ku hiraukan. Lalu terdengar nada suara yang menandakan pesan WA masuk. Aku baca, isinya...


[A Doni, maafin Mira ya, Mira gak bermaksud ngomong kaya gitu. Jemput Mira sekarang ya .....]

__ADS_1


Tanpa banyak pertimbangan lagi, segera ku pencet tombol blokir. Aku tak peduli lagi dengan isi pesan nya. Cukup sudah kesalahanku hanya sebatas mengantarnya Teh Mira pulang dan meminjaminya uang tanpa sepengetahuan istriku, aku tak ingin lagi membuat kesalahan lain yang mungkin akan lebih menyakiti hatinya.


***


Besoknya ketika aku bangun, suasana di rumah begitu sepi, namun di meja makan sudah terhidang nasi goreng lengkap dengan teh manis yang masih mengepulkan asap. Begitupun baju kerjaku, sudah rapi disetrika dan diletakan di atas meja di depan kamar tamu tempat aku tidur semalam. Istriku memang seperti itu, sebagaimanapun marahnya dia, dia takkan pernah melalaikan kewajibannya sebagai istri. Cuma bedanya, ia takkan mau keluar sebelum aku pergi bekerja.


Setelah mandi, aku pun memakan sarapan yang disediakan istriku. Jujur, aku merasa nasi goreng istriku ini adalah salah satu masakan terenak di dunia, namun entah mengapa kali ini aku benar-benar merasa sulit untuk menelannya. Rasa bersalah kembali hinggap dalam dada, menimbulkan nyeri yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata. Aku dan istriku hanya terpisah ruangan, tersekat oleh salah paham yang belum mampu ku jelaskan dengan benar. Aku mungkin masih bisa dimaafkan, bisa memeluknya lagi seperti sedia kala, namun sekarang tanpanya aku sudah merasa seperti sendirian di dunia ini. Tanpa ku sadari air mataku meleleh begitu saja membasahi pipi.


"Neng, Akang pergu kerja dulu ya.." kataku mengetuk pintu dengan pelan untuk berpamitan. Hanya sunyi yang ku dapati, karena istriku tidak menjawab.


Akupun bergegas keluar lalu melajukan motor menjauh dari rumah, bukannya pergi kerja, tapi untuk memarkirkan motor di tanah kosong sebelah rumah tetangga. Lalu aku mengeluarkan gawai dari saku jaket untuk menelepon atasan dan meminta izin karena hari ini aku tak bisa masuk. Setelah itu, aku berjalan kembali ke rumah, untuk menyelsaikan masalah dengan istriku saat ini juga.


Sesampainya di rumah, aku meloncati pagar agar tak ketahuan istriku. Karena jika ia tahu aku ada, sampai kapanpun ia takkan pernah mau keluar kamar. Rasanya lucu ketika aku harus mengendap-endap seperti maling di rumahku sendiri. Kemudian aku menuju jendela depan, mengintip lewat celah vitrase dan terlihat istriku sedang termenung di kursi ruang tamu.


"Astagfirulloh.." refleks aku menjerit. Sumpah mati, kaget bukan kepalang ketika mendengar seseeorang yang menyapaku dengan suara keras di luar. Aku merasa jantungku seperti berhenti berdetak saat itu juga.


"Lagi apa A Doni teh? Tadi ibu lihat teh bukannya pergi kerja yah?" Aku hanya menempelkan telunjuk yang bergetar di atas bibir, memberi isyarat agar si ibu diam. Namun ketika menengok, hampir saja aku menjerit lagi saat mendapati istriku berdiri di celah pintu yang terbuka.


"Astagfirulloh... eh Neng..." aku tersenyum canggung. Belum juga melanjutkan bicara, istriku itu langsung saja melengos ke dalam sambil menghentak-hentakkan kaki. Aku bergegas menyusulnya, meninggalkan si Ibu yang terbengong di luar tanpa pamit. Mungkin saat ini matanya mengernyit keheranan melihat tingkah kami berdua. Tepat sebelum istriku masuk kamar lagi, aku berhasil menahan lengannya.

__ADS_1


"Neng tunggu..." dia berontak, mencoba melepaskan peganganku yang begitu kuat.


"Tunggu Neng, biarkan Akang menjelaskan dulu." Kataku menghiba. Namun ia tetap saja mematung.


"Neng, Akang akui kemarin itu Akang memang bertemu Teh Mira, itu juga gak disengaja.."


............


"Akang pulang kerja, terus lihat Teh Mira di jalan komplek, ya udah Akang kasih boncengan. Terus diturunin di depan rumahnya. Sumpah Neng, Akang mah gak ngapa-ngapain lagi.." melihatnya tak bereaksi sama sekali, aku kembali melanjutkan "kalo Akang niat gak bener mah, gak bakalan Akang turunin di rumahnya, udah aja dibawa ke hotel sekalian"


Terlihat istriku melotot ke arahku. Lumayan, kataku dalam hati, dari pada didiemin. Dianggap tak ada sama sekali.


"Maafin Akang, Neng.. Akang gak bakalan kayak gitu lagi.. tuh lihat, nomornya udah Akang blokir." Kataku sambil menunjukkan layar gawai. Istriku cuma melirik sekilas dengan enggan, meski masih tak bersuara.


"Tapi Neng.... kemarin Teh Mira ke kantor Akang.." Aku meliriknya takut-takut, mata yang bulat itu memelototiku dengan lebih sadis "dia pinjem uang satu juta, sama Akang dikasih..." kali ini aku menunduk pasrah. Apapun yang akan terjadi setelah ini, maka terjadilah. Yang penting aku dimaafkan.


Istriku langsung saja melepaskan peganganku dari lengannya, lalu membanting pintu tepat di depan mukaku.


Belum juga hilang kagetku, istriku kembali ke luar kamar dengan menenteng tas besar.

__ADS_1


"Neng mau kemana?" Aku menahan jinjingan tas nya "Neng jangan pergi Neng...." aku menghiba-hiba, mataku berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi bulirnya akan jatuh membasahi pipi.


"Neng boleh marah, boleh tampar Akang, pukul Akang kalo mau. Asal Neng jangan tinggalin Akang..." suaraku tercekat di tenggorokan "Akang... Akang gak bisa hidup tanpa Neng.." dan air mata itupun mengalir dengan deras membasahi pipi tanpa bisa ku cegah lagi.


__ADS_2