Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 3 MIRA


__ADS_3

Aku tidak menyangka statusku akhirnya terbongkar juga. Status yang mati-matian ku sembunyikan itu, akhirnya muncul ke permukaan karena pertengkaran yang terjadi dengan suamiku sendiri. Parahnya banyak orang pula yang menyaksikan pertengkaran kami.


Tak mudah memang menjadi aku, walaupun kini aku menjadi istri pertama, label pelakor tetap saja melekat dalam namaku. Iwan suamiku, sebenarnya sudah bercerai dengan Wati istri pertamanya dahulu. Namun sudah setahun terakhir ini mereka kembali rujuk, alasannya demi anak-anak. Suamiku mempunyai 4 orang anak dari Wati. Umurnya tak Jauh beda dengan anak-anakku dari suami yang pertama. Yang dua terakhir bahkan seumuran dengan Diki dan Diva, anakku dari Iwan. Dan kini giliran aku yang mempunyai madu.


***


Awalnya, aku adalah istri dari Uda Irman, lelaki asal Padang yang telah lama merantau di Bandung. Uda Irman memiliki beberapa jongko pakaian di pusat perbelanjaan dan grosir pakaian. Ia memiliki 10 karyawan yang bekerja menjaga jongko dan satu orang yang dipercaya sebagai tangan kanannya. Usahanya tergolong cukup maju, namun sayangnya tidak dengan pernikahan kami.


Uda Irman adalah orang yang berwatak keras, perangainya sangat kasar, juga sangat perhitungan dengan uang. Bukan hanya kata-katanya yang menyakitiku, fisiknya juga. Berkali-kali aku jadi sasaran amarahnya. Dipukul, ditampar, ditendang bahkan kepalaku pernah pula dibenturkan pada tembok. Bodohnya, aku tetap bertahan dan berharap dia akan berubah.

__ADS_1


Namun selalu saja harapan hanya tinggal harapan, kenyataannya dia tetap saja tak berubah. Di hadapannya aku hanyalah seonggok daging, mangsa tak berdaya saat Ia melampiaskan keinginannya. Bukan hanya padaku, pada anak-anak kami juga. Aril, anakku yang pertama bahkan pernah dimasukannya pada bak berisi air hanya karena dia rewel di tengah malam. Saat itu juga aku kabur ke rumah orangtuaku, aku meminta cerai. Besoknya Uda Irman menyusulku. Permintaanku untuk cerai tak dikabulkan, malah di hadapan orangtuaku dia bersujud menciumi kaki sambil meminta maaf dan berjanji takkan mengulanginya lagi. Akupun luluh dan bersedia dibawa pulang kembali.


Memang saat itu perlakuannya berubah, hingga kami memiliki lagi dua anak perempuan, Kiran dan Tita. Setelahnya usaha suamiku semakin maju, dan ia tak pernah lagi memukulku. Namun walaupun begitu, tetap saja aku tersiksa karena sifat pelit dan perhitungannya tak pernah berubah. Aku hanya bisa memandangi Ia yang setiap hari membawa pulang gepokan uang merah hasil berdagang tanpa bisa menyentuhnya. Hingga kemudian aku bertemu dengan Iwan yang melimpahiku bukan saja dengan uang, tapi juga kasih sayang yang selama ini tak pernah ku dapatkan.


Awal kami bertemu, sebenarnya bermula dari ketidak sengajaan. Aku yang lelah lahir bathin karena pernikahan dengan Uda Irman secara tidak sengaja dipertemukan dengan Iwan saat aku sedang menjaga jongko pakaian. Jongko itu kadang aku tunggui jika kebetulan Uda Irman belanja stok ke Tanah Abang . Seperti hari itu, saat aku sedang termenung sendiri di dalam jongko memikirkan nasibku, datang Iwan yang sedang mencari baju.


Pertemuan kami sebenarnya terbilang biasa, hanya antara penjual dan pembeli. Tak ada yang istimewa kecuali beberapa candaan yang entah kenapa langsung saja menancap di hatiku. Seperti ketika Iwan bertanya kenapa aku melamun hingga mengabaikan Ia yang berkali-kali memanggilku.


Aku hanya tersenyum menanggapi, tak terlalu serius apalagi sampai diambil hati. Hingga akhirnya dia pulang setelah membayar baju-bajunya.

__ADS_1


"Aslinya Teh, baju ini gak bakalan saya cuci. Habisnya bekas dipegang tangan cewek cantik sih. Siapa tau kangen kan, tinggal dicium-cium aja.." katanya lagi sebelum pulang. Dan anehnya aku malah tertawa senang, tidak merasa risih sama sekali.


"Nanti saya dateng lagi ya Teh.." ujarnya sebelum benar-benar berlalu. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


Ternyata apa yang diucapkannya benar-benar dilakukan. Berkali-kali Iwan datang membeli baju, tapi aku tahu yang dicarinya adalah aku. Hingga akhirnya ia nekat meminta nomor teleponku, padahal saat itu aku sedang bersama suamiku di Jongko. Perasaan cemas dan adrenalin yang naik tinggi karena takut ketahuan, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri dalam hatiku.


Diatara baju-baju kami berbisik-bisik, tapi tak lupa tetap pura-pura mengobrol dengan suara agak keras seolah sedang saling tawar menawar agar suamiku tak curiga. Berkali-kali Iwan memegang tanganku, berkali-kali pula kutepis karena takut ketahuan. Dan akhirnya Iwan nekat ******* bibirku tepat di depan suamiku yang sedang fokus merekap bon belanjaan. Andai saja tak ada rak-rak baju untuk berpegangan, mungkin saat itu aku sudah jatuh terduduk karena kaki yang goyah dan jantung yang berdetak cepat tak beraturan. Namun entah mengapa, aku malah menyukainya.


"Nuhun Uda, nanti saya datang lagi" katanya sambil melambaikan tangan ke arah suamiku, seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Selanjutnya bisa ditebak, kami saling intens memberi kabar lewat WA bahkan video call-an. Hingga puncaknya kami bertemu diam-diam dan Iwan membawaku ke penginapan di kawasan Bandung Utara. Sudah bisa ditebak apa yang kami lakukan. Aku dibuatnya mabuk kepayang dengan perlakuannya padaku. Padanya aku bisa bermanja, sesuatu yang tak penah ku lakukan pada Uda Irman suamiku. Aku diperlakukan bagai ratu, aku dipuaskannya. Batinku yang kering dilimpahinya dengan kasih sayang. Lahirkupun tak luput dari limpahan uang.


Iwan memang pria yang jantan, dengan gamblang ia mengakui sudah beristri dan mempunyai dua anak. Namun aku tak peduli, aku hanya menginginkannya. Menginginkan kasih sayang dan kepuasan yang membuatku semakin ketagihan. Dan juga tentu saja uang. Ia bukan hanya baik padaku, pada anak-anakku juga. Hingga akhirnya hubungan terlarang ini menghasilkan janin dalam perutku.


__ADS_2