
Sekeluarnya dari pengadilan, Iwan menuju parkiran dengan perasaan lega sekaligus bersalah di hatinya. Lega karena ia telah terlepas dari Mira, sedangkan rasa bersalah ia rasakan untuk Wati. Perempuan hebat yang telah mau menerima dia kembali, bahkan anak-anaknya dari Mira.
Sekarang, entah kenapa pikirannya tertuju pada Kiran dan Tita anak tirinya. Bila sekarang Diki dan Diva sudah 'terselamatkan' , bagaimana nasib Kiran dan Tita selanjutnya?
Memikirkan itu, timbul rasa iba pada keduanya. Bagaimanapun mereka pernah hidup satu atap, dan Iwan menyayangi keduanya sama seperti rasa sayangnya pada Diki dan Diva. Sekarang Iwan telah bercerai dengan istrinya, mungkin Kiran dan Tita akan lebih terlantar setelah ini. Mira akan lebih jarang berada di rumah karena telah merasa bebas, seperti penuturan Diki padanya.
Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan pergi ke salah satu pusat grosir baju dan kain untuk menemui Uda Irman, Ayah Kiran dan Tita. Setidaknya, ia harus bertanggung jawab karena telah memisahkan Ayah dan anak itu akibat pengkhiatan yang dilakukannya dengan Mira. Semoga saja hatinya luluh setelah mendengar penjelasan dari Iwan.
Sesampainya di sana, Iwan langsung saja menuju jongko tempat Ia dan Mira dahulu bertemu. Tak ada banyak perubahan, semua nyaris sama seperti enam tahun lalu. Ia juga melihat Uda Irman sedang menulis rekapan bon di atas etalase, sama seperti dulu ketika mencium Mira diam-diam di baik rak-rak baju.
Iwan berdiri mematung, kenangannya seperti tersedot ke masa lalu.
"Cari apa Pak?" Tanya seorang perempuan berjilbab yang keluar dari balik gantungan baju-baju. Mungkin karyawan Uda Irman. Seketika, lamunan Iwan langsung buyar.
Dengan canggung, Iwan menggeleng pelan. Ia terus saja masuk untuk menemui Uda Irman di dalam jongko.
"Uda.." sapanya dengan gugup.
"Iya.." Jawabnya sambil mendongakkan wajah. Kemudian matanya menyipit, menilik-nilik siapa yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Kamu...." Uda Irman berteriak marah setelah mengenali siapa yang datang. Wajahnya dipenuhi kebencian. "Kenapa kamu kesini? Belum puas kamu menghancurkan keluarga saya?" Teriaknya lagi sambil bergegas keluar melalui samping Etalase.
"Uda, dengar dulu penjelasan saya.." kata Iwan terbata-bata.
"Ahh, tak perlu!" Tanpa disangka, pukulan Uda Irman mendarat telak di wajah Iwan dan membuatnya terhuyung jatuh menimpa rak baju pajangan. Tak pelak, rak-rak baju itupun jatuh berserakan.
Keributan yang terjadi di toko Uda Irman, mengundang pengunjung dan sesama pedagang untuk berdatangan ke sana.
"Ada apa ini?" Tanya mereka serempak ketika dilihatnya Uda Irman masih saja memukuli Iwan dengan garang.
__ADS_1
"Cepat panggil security" teriak yang lain sambil mencoba memisahkan perkelahian tak seimbang ini karena Iwan tidak melawan.
Tak lama kemudian, datang dua security dengan tergopoh-gopoh menuju kesana.
"Ada apa ini? Ada maling?" Tanya mereka ketika melihat keributan itu. Sementara perkelahian itu telah berhasil dilerai.
"Bawa makhluk laknat ini keluar. Saya tak sudi melihatnya lagi.. Cuiihh!" Teriak Uda Irman kalap seraya meludah ke lantai dengan kebencian yang teramat sangat.
"Uda.. dengarkan saya dulu. Saya minta maaf telah menghancurkan rumah tangga Uda, tapi tolong bawa Kiran dan Tita. Mereka tak bersalah Uda.." kata Iwan sambil berlutut memegangi kaki Uda Irman yang langsung disepaknya dengan kuat hingga membuat Iwan jatuh terjerembab.
"Saya sudah bercerai dengan Mira, Uda. Saya bangkrut.."Iwan berkata dengan suara tercekat "Saya khawatir dengan nasib Kiran dan Tita ke depannya jika tetap diasuh oleh orang seperti Mira.." Iwan memohon dengan air mata berlinang.
"Uda boleh benci saya dan Mira, tapi Kiran dan Tita tidak bersalah apa-apa. Kasihanilah mereka Uda.." lanjutnya lagi.
"Pergi... Pergi kamu, dasar brengs*k tak tahu malu. Dulu kau rebut istri dan anak-anakku, sekarang kau dengan entengnya bilang seperti itu. Dasar pant*k, tak tahu diri! Pergi sana.. pergi...!" Teriak Uda Irman kalap, ia menyepak apapun yang ada di hadapannya tanpa ampun. Beberapa laki-laki dewasa yang memeganginya terlihat kewalahan.
"Uda.. tolong pertimbangkan kata-kata saya...!" Teriaknya sebelum menghilang dari kerumunan.
Sepeninggal Iwan, Uda Irman terduduk jatuh di lantai. Nafasnya masih memburu, tangannya masih gemetar menandakan bahwa amarah masih menguasai dirinya. Terlihat seorang bapak-bapak memberi Uda Irman sebotol air, namun ditolaknya dengan halus.
"Uda, udah gak apa-apa?" Tanyanya sambil mengusap-usap punggung Uda Irman. Uda Irman menggeleng lemah.
"Kalo begitu kami pergi dulu, ya?" Lelaki itupun pergi bersamaan dengan kerumunan dengan orang-orang yang membubarkan diri satu persatu.
"Sari.. Sari.. Tolong bantuin si Nita beresin jongko Uda" terdengar seseorang berteriak menyuruh pegaiwainya.
Orang yang dimaksud itupun datang dengan beberapa orang lain, lalu segera membantu Nita - pegawai Uda Irman - untuk membereskan kekacauan bekas perkelahian tadi.
Sementara Uda Irman yang telah berpindah ke tempat yang biasa ia duduki di belakang etalase, terlihat termenung. Sebenarnya ia telah berkali-kali berniat mengambil Kiran dan Tita dari pengasuhan Mira, bahkan sebelum Iwan datang ke sini. Namun entahlah, selalu ada sesuatu yang menghalanginya.
__ADS_1
Rasa sakit di hatinya belum benar-benar pulih. Berkali-kali Kiran dan Tita datang menemuinya di sini, selalu ia sambut dingin, bahkan tak pernah dihiraukannya sama sekali meski mereka telah berlinang air mata.
Hati kecilnya sebenarnya ingin memeluk mereka, membelai rambut mereka, atau bahkan sekedar menatap mereka dengan rasa sayang seperti dulu lagi. Namun ketika pikirannya teringat pada pengkhianatan Mira, seketika hatinya seperti membatu. Hanya rasa marah dan benci di sana.
Berkali-kali Uda Irman mengusap wajahnya sambil beristigfar. Kedatangan Iwan tadi membuatnya sedikit lebih lega karena setidaknya Ia telah menuntaskan rasa marah yang telah bertahun-tahun dipendamnya. Bersamaan dengan itu, perlahan-lahan rasa benci mulai terkikis dalam hatinya.
Benar kata Iwan, anak-anaknya tak tahu apa-apa. Mereka tetap suci dari dosa yang telah dilakukan kedua orang tuanya.
Setelah termenung cukup lama, ia akhirnya menimbang-nimbang untuk membawa Kiran dan Tita, bahkan Aril - anak pertama yang sekarang tinggal bersama nenek dari pihak Mira - pulang dan tinggal bersama di rumahnya seperti dulu lagi.
*****
Sementara Iwan, sekembalinya ia dari menemui Uda Irman, keadaannya sungguh memprihatinkan. Wajah tampannya terlihat lebam-lebam. Sudut bibirnya pecah, sedangkan kancing kemejanya terlihat lepas di beberapa bagian. Namun ia terlihat lega, telah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya pada Uda Irman, dan berharap Uda Irman terketuk hatinya.
Saat hendak mengambil motor di parkiran, terdengar gawainya berbunyi. Tadinya ia akan menaiki lift untuk sampai di lantai lima tempat motornya di parkir. Namun entah mengapa, ia memilih berjalan kaki menyusuri tempat parkir yang jalannya naik turun dan berkelok itu.
Sambil tetap berjalan ia merogoh saku jaket tempat gawai itu berada. Ketika hendak mengambilnya, gawai itu terlepas dari genggaman dan jatuh menggelusur di jalan tempat parkir yang menurun.
Bergegas Iwan berlari untuk mengambil gawai yang jatuh itu. Matanya terlalu fokus melihat ke sana, hingga ia tak sadar ada mobil yang naik dengan kecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya. Tak pelak lagi, ia tertabrak. Badannya terpelanting menghantam tembok sebelum jatuh dengan keras di jalan. Seketika, tubuhnya terlihat tak bergerak lagi.
Sementara di rumah, Wati terlihat begitu gelisah. Ia terus saja menempelkan gawai di telinganya, berharap suaminya segera mengangkat teleponnya itu. Berkali-kali ia memencet nomor suaminya, dengan tak sabar. Tak lama kemudian, teleponpun diangkat. Namun bukan suaminya yang menjawab.
"Siapa ini?" Tanyanya dengan rasa gelisah yang negitu kuat menguasai.
"Halo, ini istri dari pemilik hp ini? Tadi pemiliknya mengalami kecelakaan, sekarang sedang di bawa ambulance menuju rumah sakit..."
Seketika gawai di genggaman Wati terlepas, kakinya mulai goyah, pandangannya menggelap seketika. Tak lama kemudian tubuhnya merosot jatuh ke lantai.
"Ibu... Ibu..." anak-anaknya yang sedang menonton tv, segera berlarian merubungi tubuh ibunya yang pingsan.
__ADS_1