Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 12


__ADS_3

Sepeninggal Doni, Citra malah termenung di tengah ruang tamu yang temaram. Mau meneruskan tidur lagi, rasanya juga percuma, karena matanya pasti takkan mau terpejam. Ada apakah gerangan yang terjadi? Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kejadian seminggu yang lalu?


Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalanya tanpa bisa ia jawab sama sekali. Hatinya merasa gelisah tak menentu menunggu kepulangan Doni, untuk meminta penjelasan agar rasa penasarannya segera terjawab. Berkali-kali ia melihat jam, namun Doni belum juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang.


Tanpa disadarinya, ia malah tertidur sambil meringkuk di kursi ruang tamu.


"Astagfirulloh... Akang, kapan datang? Kok Neng gak tau?" Tanya Citra kaget sambil mengucek-ngucek mata saat melihat Doni tiba-tiba saja telah berdiri di hadapannya, entah sedari kapan. Setelah menguap beberapa kali, Citrapun memperbaiki posisi duduknya.


Doni tidak menjawab, ia malah menghempaskan tubuhnya ke atas kursi di sebelah Citra.


"Ternyata, bukan Teh Mira, Neng.." Ia berucap lirih lalu mengusap muka dengan kedua tangannya. Terdengar kemudian ia beristigfar beberapa kali.


"Maksudnya kang?" Tanya Citra kebingungan


"Yang ngelemparin rumah kita itu ternyata bukan Teh Mira..." Doni menjawab pelan.


Citra segera tanggap ke mana arah pembicaraan ini.


"Lalu, siapa Kang?" Tanyanya dengan dada berdebar menunggu jawaban.


"Istrinya Kang Tisna.." jawab Doni akhirnya.


Refleks Citra menutup mulut, "Teh Dewi?" Tanyanya setengah menjerit. Doni hanya mengangguk lemah. Citra kaget bukan kepalang, ternyata pelaku sebenarnya begitu jauh di luar dugaan.

__ADS_1


"Akang juga gak nyangka Neng, kirain... kirain..." Doni tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah mengadahkan kepala dan menatap langit-langit dengan nanar. Citra tentu sudah mafhum siapa yang suaminya itu maksud, karena pada awalnya ia pun sempat punya pikiran sama.


"Tapi kenapa?"


"Justru itu yang bikin Akang gak habis pikir, Neng. Pas Akang tanya, awalnya Teh Dewi gak mau ngomong kalo masih ada bapak-bapak ronda. Makanya Akang minta izin buat ngomong empat mata sama Teh Dewi, untungnya bapak-bapaknya ngerti.." Doni berhenti sejenak untuk menghela nafas yang dirasanya berat, kemudian iapun melanjutkan ceritanya.


"Katanya, Teh Dewi melakukan itu karena ada alasan yang tak bisa dijelaskan. Tadinya ia akan melimpahkan kesalahan pada Teh Mira entah untuk alasan apa, tapi ternyata Teh Dewi ketahuan bahkan sebelum melakukan perbuatannya. Yang bikin Akang lebih kaget, menurut pengakuan Teh Dewi lagi, dia baru kali ini melakukan hal itu"


Citra tambah melongo dengan penjelasan Doni, jika benar apa yang dikatakan Teh Dewi, maka siapa orang sebelumnya? Terus apa sebenarnya alasan yang disembunyikan Teh Dewi? Kenapa harus dirinya yang jadi korban? Ternyata masalah ini jauh lebih rumit dari dugaannya.


Hingga adzan subuh berkumandang, kedua suami istri itu masih saja tak beranjak dari ruang tamu. Keduanya masih sama-sama bingung untuk memutuskan langkah apa yang akan dilakukan. Apalagi ketika Doni berkata bahwa Teh Dewi memohon agar masalah ini jangan sampai dilaporkan dulu pada pengurus RT.


"Sekarang mah terserah Neng aja mau gimana selanjutnya. Yang tau masalah ini cuma kita berdua sama Bapak-bapak ronda, itupun Akang udah minta kalo masalah ini jangan sampai bocor, nunggu dulu keputusan Neng." Setelah itu, Doni berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian pergi ke mesjid untuk menunaikan shalat subuh.


Citra akhirnya memutuskan untuk segera menunaikan sholat subuh. Ia sangat berharap bila Alloh akan memberinya petunjuk.


*****


Paginya Citra pergi ke warung si Ibu untuk berbelanja. Ia mengatur detak jantungnya sendiri agar terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Walaupun yang tahu masalah ini hanya segelintir orang saja, namun tak urung ia merasa deg-degan juga.


"Eh Citra udah dateng. Lihat tuh Cit, ikannya seger-seger banget" sapa Teh Neni yang juga sedang memilih ikan. Citra hanya menjawab dengan senyuman. Namun kentara sekali terlihat dipaksakan.


Tapi sedikitnya ia merasa kecewa, karena Teh Dewi tak ada di sana. Terus terang Citra merasa berhak tahu apa yang menjadi alasan Teh Dewi melakukan ini agar ia tak gegabah membuat keputusan. Ia harus tetap bijaksana dengan menimbang baik buruknya, untung ruginya. Namun sisi baiknya, ternyata masalah tadi subuh tetap menjadi rahasia dan belum bocor ke permukaan. Tapi entah sampai kapan.

__ADS_1


Karena memang pada dasarnya pendiam, tak banyak yang curiga dengan perubahan sikap Citra. Hanya saja si Ibu sempat bertanya apakah ia sakit, karena mukanya terlihat pucat. Citra pun menjawab bahwa semalaman ia tak bisa tidur, tentu saja tanpa membagi tahu apa alasannya.


Sepulang dari warung dengan menenteng belanjaan, Kiran memanggilnya. Ternyata Ia memang sengaja sedang menunggu Citra di depan rumahnya.


Tadinya Citra akan terus abai, tapi ketika hendak benar-benar melakukannya, Citra merasa kasihan. Karena bagaimanapun juga, Kiran atau anak-anak Teh Mira yang lain, tak ada hubungannya dengan masalah antara ia dan ibunya.


"Ateu.." katanya menatap Citra takut-takut.


"Kiran kenapa kesini? Nanti kalo Mamah tau, Kiran kena marah loh" Citra memperingati Kiran namun yang sebenarnya terjadi, ia sedang mencoba menghindar.


"Ateu, ada yang mau Kiran omongin sama Ateu.." Kiran tertunduk namun wajahnya tampak menunjukkan keseriusan.


Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Citra pun mempersilakan Kiran masuk setelah memeriksa keadaan terlebih dulu.


"Ada apa Kir?" Tanya Citra lagi setelah menutup pintu dan mereka duduk di kursi ruang tamu.


"Euuh Ateu.. Euuhh.. Sebenernya.." Dengan tergagap-gapa Kiran menjawab pertanyaan Citra, tapi kemudian berhenti sejenak sambil memainkan jemarinya. Entah apa yang dipikirkannya. Sementara Citra menunggu dengan sabar, meski hati dilanda penasaran.


"Kiran mau minta maaf sama Ateu. Kiran gak tau yang ngelemparin kotoran ke rumah Ateu sama rumah si Ibu, pelakunya Mamah Kiran atau bukan. Tapi yang Kiran tau, sebenernya kemarin malam waktu kejadian Mamah baru pulang jam satu. Bahkan semalampun Mamah pulang di atas jam 12." Kiran berhenti lagi, mungkin apa yang akan dikatakannya sekarang, merupakan sesuatu yang begitu berat untuk diceritakan.


"Tapi.. Mamah gak pulang sendiri. Mamah pulang sama Om... sama Om Tisna suaminya Ateu Dewi ......"


Citra sangat terkejut mendengar penuturan Kiran. Dia tidak menyangka bahwa masalah pelemparan ini ternyata berawal dari sini. Sekarang semua terasa masuk akal bagi Citra. Mungkin Teh Dewi melakukan itu untuk membalaskan dendamnya dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi antara dia dan Teh Mira. Istilahnya 'nabok nyilih tangan' , dia yang melakukan tapi orang lain yang menanggung akibatnya.

__ADS_1


Tapi yang masih menjadi misteri, siapa orang yang melakukan pelemparan sebelum Teh Dewi?


__ADS_2