Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 6


__ADS_3

Setelah pertengkaran itu, aku terbangun dengan kepala yang pusing seolah ada baling-baling yang terus berputar di sana. Dengan bertumpu pada siku, aku memaksa tubuh ini untuk duduk. Masih terasa sisa amarah di dada yang keberadaannya bagaikan api yang luput padam. Tinggal menunggu waktu saja hingga bara itu membesar lalu membakar si empunya gara-gara. Tinggal tunggu waktu, aku berbisik dalam hati.


Untuk menenangkan hati, segera aku bangun dan melangkahkan kaki ke kamar mandi meski dengan berpegangan ke dinding untuk mengambil wudhu. Sesudahnya, entah mengapa tiba-tiba aku merasa segar kembali walau kepala masih pusing dan tenggorokanku terasa kering. Jam masih menunjukkan pukul setengah sebelas siang, biarlah kali ini aku niatkan saja sholat sunat dua rakaat agar hatiku lapang.


Di atas sajadah aku menangis, mengadu pada Rabb ku. Di tanganNYA segala urusan aku serahkan, biarlah Alloh saja yang membalas ia yang dzolim padaku. Ingin aku mendo'akan yang baik-baik, namun ternyata aku tidak sebaik itu. Statusku masih manusia biasa, bukan malaikat, rasanya wajar jika aku meminta pembalasan yang setimpal atas rasa sakit di hatiku ini.


****


"Tehh.. Teh Citra..?"


Di luar, terdengar seperti orang yang memanggil namaku. Dengan masih bermukena aku bergegas keluar membuka pintu. Terlihat si Ibu di sana.


"Mari masuk bu.." Ajakku


"Engga Teh, di sini aja" Si ibu menolak dengan halus, lalu kemudian mendekat ke arahku "Tadi katanya Teh Mira marah-marah di sini ya?" Tanyanya sambil berbisik.


Aku menggigit bibir bawah, menekan nyeri di hati yang tiba-tiba saja menyeruak. Rupanya si Ibu tak butuh penjelasan, hanya melihat ekspresiku saja mungkin ia sudah paham.


"Udah, Teteh mah yang sabar aja ya.." si Ibu mengusap-usap punggungku untuk menenangkan. "Tadi juga Teh Mira habis marah-marah sama Ibu di warung. Malu ibu teh Cit, mana lagi banyak yang belanja. Katanya semenjak Teh Citra kenal sama ibu, Teh Citra jadi berubah. Seumur-umur, ibu mah baru ngalamin ditunjuk-tunjuk sama anak ingusan di depan banyak orang. Gak inget gitu yah dia teh masih punya banyak utang ke ibu?" Kata si Ibu lagi dengan nada geram.


Kalau tak ingat ghibah itu dosa, sudah ku ceritakan semua kelakuan Teh Mira yang juga merugikanku. Untung saja lidah ini masih bisa ku tahan. Hanya air mata yang tak berhenti mengalir, yang mewakili perasaanku saat ini.


"Gak tau tuh sekarang orangnya kemana? Tadi pergi sama si Diki si Diva naek ojek. Ibu mah inget sama Teh Citra, kasian bisi gak bisa ngelawan. Nanti mah jangan terlalu polos yah, harus berani biar si Mira gak ngelunjak lagi."


Si Ibu itu walaupun kadang menyebalkan, walaupun kadang kalau ngajak ngobrol gak tahu waktu, tapi sebenarnya orangnya baik. Cuma harus tahan kuping aja, soalnya kalau ngomong suka ceplas-ceplos gak pernah dipikir orang yang dengar sakit hati atau tidak.


Saat si Ibu sedang menghiburku, datang Kiran yang masih dengan memakai seragam sekolah menghampiri kami berdua.


"Ateu, si Mamah ada di sini engga?" Tanyanya.


"Gak ada, mamah kamu mah tadi pergi sama si Diki si Diva naik ojek." Jawab si Ibu dengan ketus.

__ADS_1


"Euuhh gimana atuh yah..." Kiran terlihat kebingungan.


"Emang kenapa gitu Kir?" Tanyaku, sebenarnya ingin ketus juga, tapi kasihan Kiran gak tahu apa-apa tentang masalahku dan ibunya. Lagian dibanding semua keluarganya, Kiran inilah yang menurutku paling sopan.


Obrolan kami terpotong karena si Ibu dipanggil-panggil cucu laki-lakinya, katanya ada yang beli di warung. Sebelum pergi, si Ibu berbisik - yang sebenarnya masih terdengar jelas - padaku; "awas Cit, kalo minta apa-apa jangan dikasih lagi, tuman.!" Katanya sambil mendelik ke arah Kiran yang kebingungan. Aku hanya tersenyum canggung tanpa mengiyakan.


"Kenapa Kir?" Tanyaku lagi.


Kiran tak menjawab, ia malah menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis.


"Kiran mau masuk?" Tawarku karena merasa iba. Kiran hanya memberi anggukan sebagai jawaban.


Setelah duduk, ku tanya lagi dia. Namun kini malah menangis sesenggukan dengan suara keras. Akhirnya ku tunggui dengan sabar hingga ia mau buka suara.


"Tadi Kiran pergi ke jongko Bapak.." katanya setelah tangis mereda "Tapi bapaknya malah marah-marah, padahal Kiran kangen banget sama bapak.." Airmatanya kembali meleleh membasahi pipi.


"Bapak nyangkanya Kiran mau minta duit, padahal Kiran cuma mau ketemu. Jangankan ngasih duit, tiap lihat Kiran, Bapak kayak lihat kotoran, jijik. Kata Bapak, Bang Aril, Kiran, sama Tita bukan anaknya lagi. Kami di mata bapak cuma aib, bikin malu keluarga.. huhuhu..."


"Ayah Iwan dulunya baik, tapi makin ke sini jadi makin acuh sama Kiran, sama Tita. Cuma Diki sama Diva yang disayang. Mamah juga sama, tiap ada apa-apa Kiran yang disalahin. Emang Kiran salah apa?"


"Kiran sebenarnya suka kasihan kalo lihat mamah, dulu waktu sama bapak disiksa terus, sekarang sama Ayah Iwan dicuekin. Tapi Mamah gak nyadar-nyadar, Kiran malu punya mamah kaya gitu. Tapi mau gimana lagi, gitu-gitu juga mamah itu mamahnya Kiran...." kali ini ia menelungkupkan wajahnya di meja. Ternyata apa yang dilakukan ibunya, meninggalkan luka menganga di hati Kiran. Mungkin menangis bisa membuatnya lebih lega.


Aku hanya bisa mendengarkan tanpa bisa berkata apa-apa. Mungkin Bapaknya Kiran terlanjur benci sama Teh Mira yang tega menusuknya dari belakang, tapi kalau sampai bilang Kiran dan saudaranya bukan anaknya, rasanya keterlaluan juga. Bukankah darah itu lebih kental daripada air? Kiran sekarang sudah besar, tentu sedikit banyak sudah mengerti apa yang terjadi dengan keluarganya.


"Udah, Kiran yang sabar aja ya. Kiran do'ain supaya bapak diberi hidayah supaya sayang lagi sama Kiran. Do'ain mamah juga, Ayah Iwan juga.." akhirnya hanya itu yang mampu ku ucapkan. Ketika melihat Kiran menangis, entah mengapa rasa marahku pada Teh Mira menguap begitu saja. Kiran dan adik-adiknya tak tahu apa-apa, juga tak salah apa-apa.


Aku tak sabar menunggu malam tiba, untuk menceritakan pada suamiku apa yang terjadi hari ini. Rasanya sesak juga jika semuanya harus ku pendam sendirian.


****


"Assalamualaykum.." Kang Doni membuka pintu sambil tersenyum manis. Terlihat ia membawa kresek putih berisi dua kotak. Mungkin ini makanan yang tadi ku pesan karena tak masak hari ini.

__ADS_1


"Waalaykumsalam" jawabku yang langsung menghampirinya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Neng, siapin dulu makanannya. Akang mau sholat magrib dulu. Neng udah sholat?" Tanyanya seraya menyimpan tas kresek di lantai dan membuka jaket.


"Udah.."


Dia tetlihat menyelidik ke arah mataku yang sembab. Dengan lembut Ia mengusap pipiku.


"Neng kenapa, sakit?" Nadanya terlihat khawatir.


"Engga..." jawabku pendek, "Akang Sholat dulu, nanti keburu akhir. Udah makan, Neng bakalan cerita, panjaaaaaanggg banget.." Lanjutku lagi.


"Ya udah kalo gitu, Akang sholat dulu ya.."


Aku hanya membalasnya dengan anggukan.


Saat tengah memindahkan makanan ke atas piring, gawai Kang Doni yang disimpannya di meja tv, berbunyi berkali-kali. Namun karena tidak sempat diangkat, akhirnya bunyi itu berhenti sendiri. Setelah makanan terhidang di atas meja makan, bergegas aku mengambil gawai itu untuk memeriksa panggilan masuk, siapa tahu telepon penting.


Gawainya berbunyi sekali lagi, tapi dengan nada yang berbeda. Kemudian layarnya berubah terang dan tertera nomor yang tidak dikenal dengan pesan yang isinya;


[Assalamualaikum A doni, ini Mira ]


Tepat ketika aku mengambilnya.


Mira?


Teh Mira kah?


Tahu dari mana no. WA suamiku?


Yang terpenting, mau apa?!

__ADS_1


__ADS_2