Tetangga Tak Tahu Diri

Tetangga Tak Tahu Diri
Part 7 Doni


__ADS_3

Setelah selesai sholat, aku menuju ruang makan, namun tak terlihat istriku di sana. Sementara makanan yang tadi ku beli sebelum pulang, sudah terhidang di meja, lengkap dengan nasi dan buah-buahan.


"Neng.. Neng.." panggilku setelah tak menemukan istriku di manapun. Kamar tamu, kamar mandi, tempat jemuran di belakang, tapi tak ada tanda-tanda istriku berada di sana.


"Kemana si Neng teh yah?" Aku bergumam sendiri.


Baru saja hendak membuka pintu depan, istriku datang.


"Neng dari mana?" Tanyaku heran, biasanya setelah magrib istriku tak pernah keluar lagi kecuali jika ada keperluan. Itupun tak pernah jauh, paling ke warung si Ibu.


"Tadi Akang cari-cari.." namun istriku tetap membisu. Wajahnya terlihat kaku, lengkap dengan mata sembab yang dari tadi membuatku penasaran. Namun sebagai suaminya, aku sudah paham. Ekspresi seperti ini biasanya ditunjukkan istriku jika sedang benar-benar jengkel. Tapi kenapa?


"Makan dulu yuk Neng, Akang lapar. Katanya tadi mau cerita kalo udah makan?" Ajakku sambil hendak menggandeng tangannya dengan mesra. Namun sebelum sampai, tanganku segera ditepisnya dengan kasar.


"Akang aja makan sendiri. Saya gak lapar.!" Katanya sambil berlalu ke kamar, tak lupa membanting pintu.


Tinggal aku sendiri yang terbengong-bengong di depan pintu seraya bertanya-tanya apa salah aku?


"Neng... Neng teh kenapa? Coba bilang ke Akang, apa yang bikin Neng marah kaya gini?" Tanyaku lembut setelah menyusulnya ke kamar. Ia berbaring menghadap tembok, tak mengacuhkanku meski ku usap-usap punggungnya berkali-kali.


"Neng..."


.........


"Neng..."


.........


Ia pun berbalik dengan kasar, lalu menatapku tajam dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Akang ngerasa punya salah gak? Bisa-bisanya Akang gitu sama saya, emang saya kurang apa Kang?" Istriku menggeram marah, suaranya terdengar serak seperti tertahan di tenggorokan.


Biasanya jika istriku sudah membahasakan dirinya dengan kata saya, berarti ia memang sedang benar-benar marah. Tapi kenapa??


"Emang Akang salah apa? Coba Neng ngomong pelan-pelan biar Akang ngerti." Aku masih berusaha membujuknya.

__ADS_1


"Coba lihat, ada WA siapa di gawai kamu, kalo kamu masih ngerasa gak punya salah, berarti kamu emang gak punya hati.!" Katanya lagi.


Kamu? Oke.. Berarti sudah meningkat pada tahap 'awas' , level paling tinggi dalam sebuah bencana. Sebentar lagi istriku pasti akan 'erupsi' yang 'lahar' kemarahannya bahkan mampu membuatku 'mengungsi' ke kamar tamu berhari-hari lamanya.


Bergegas aku mengambil gawai di meja tv yang tadi ku letakan sepulang kerja. Ketika ku ketik kata sandi, muncullah beberapa tanda bintang yang tadinya berupa angka-angka tanggal pernikahan kami yang juga diketahui istriku. Begitu layar terbuka, betapa kagetnya aku karena langsung masuk ke percakapan aplikasi WA dengan pesan yang isinya..


[Assalamualaikum A Doni, ini Mira]


[Udah pulang kerja belum?]


[Kalo belum, bisa minta tolong jemput Mira di tempat kemarin kita ketemu?]


[Mira mau nebeng, soalnya..... ]


Pesan itu tak ku baca seluruhnya karena memang aku sudah tak berminat lagi. Kemudian gawai itu ku bawa kembali ke kamar. Terlihat istriku sedang duduk dengan lutut terlipat sampai dagu, dan wajahnya menelungkup di sana.


"Neng, Akang bisa jelasin.." kataku sambil mendekat, tiba-tiba aku merasa gugup entah untuk alasan apa. Sementara, rasa bersalah tiba-tiba saja datang menyergap.


"Udah, gak perlu ada yang di jelasin. Semua udah jelas.." jawab istriku dengan lirih


"Emang selama ini apa yang saya pikir?" Ia menatap nyalang ke arahku "saya pikir kamu setia... tapi ternyata... bener-bener tega kamu yah.."


Isaknya benar-benar menghatam dada tanpa aba-aba, ia yang tanpa wujud itu tiba-tiba saja membuat hati jadi nyeri. Sesak yang mencengkram di dalam sana tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.


"Neng..." hanya itu yang mampu ku ucap, aku tak lagi bisa menemukan padanan kata yang pas untuk menjelaskan situasi yang saat ini sedang kami alami.


"Udah Kang, Akang keluar aja, saya mau sendiri.." kata istriku lagi sambil berbaring menghadap tembok, memunggungi aku yang tak tahu harus berbuat apa lagi.


*****


4 hari lalu..


Saat aku tengah bekerja, tiba-tiba resepsionis menelponku, memberitahu jika ada yang ingin bertemu. Segera saja aku meninggalkan berkas-berkas lalu menuju lobi tempat tamu itu menunggu. Tak ku sangka, ternyata Teh Mira lah yang berada di sana, dengan mata yang sembab. Saat itu aku tak punya pikiran apa-apa, hanya sedikit heran dan kaget saja, kenapa ia malah menemuiku di tempat kerja?


"Eh Teteh, kirain siapa?" Sapaku sambil duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Jarak kami hanya terpisah meja. "Ada apa ya Teh?" Tanyaku lagi.

__ADS_1


"Maaf ya A kalo Mira ganggu.." katanya "sebenarnya Mira bela-belain datang kesini, mau minta tolong sama A Doni..." Ia terlihat menunduk, seperti sedang memilah-milah kata yang pas untuk disampaikan padaku. Sementara di dalam hati aku merasa heran, kenapa ia hanya menyebut nama? Bukannya umur kami terpaut cukup jauh?


"Minta tolong apa ya Teh?"


"Bisa gak A Doni pinjemin Mira uang, satu juta aja. Mira ada perlu yang mendesak. Tadi Mira udah telepon A Iwan minta transfer, tapi katanya sekarang mah belum ada. Nanti begitu A Iwan transfer, langsung Mira balikin duitnya.." ia menatapku penuh harap.


Terus terang, saat itu aku bingung. Bukannya kemarin lusa mereka bertengkar hebat? Tapi yang ku tahu, A Iwan memang langsung pergi membawa tas besar ketika rembugan yang disaksikan RT RW juga kakaknya itu beres dilakukan.


"Ada Teh" entah mengapa aku merasa iba, mungkin saja Teh Mira memang benar-benar butuh makanya sampai berani menemuiku di sini juga.. "Minta nomer rekeningnya atuh, sekarang saya transfer lewat E-banking."


Sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali, ia menyebutkan nomer rekening yang langsung saja ku ketik di gawaiku, tak lupa ku ketik juga nominal uang sebelum memencet tombol transfer.


"Udah Teh, sukses ya?" Kataku sambil menunjukkan layar gawai.


"Iya A, makasih banget yah udah mau nolongin Mira. Tapi A....." ia berhenti sejenak, "kalo bisa jangan sampai.Citra tau yah, takutnya nanti jadi salah faham. Nanti kalo udah ada uang buat bayar, Mira aja yang bilang" katanya lagi sebelum berpamitan.


Tanpa pikiran yang aneh-aneh, akupun mengiyakan.


Lalu ketika pulang, tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan Teh Mira di jalanan menuju komplek tempat tinggal kami. Sebenarnya dari kejauhan, Teh Mira terlihat seperti sedang menunggu seseorang, atau malah sedang menungguku? Karena ketika melihat motorku, ia langsung berdiri sambil tersenyum. Belum lagi ku tepikan motor, ia sudah melambaikan tangan memintaku untuk berhenti.


"A Doni..." katanya terdengar senang.


Akupun membiarkannya naik di jok belakang. Sekali lagi, tanpa pikiran apa-apa kecuali memberi tumpangan pada tetangga. Hanya itu saja. Setelah sampai, aku menurunkannya tepat di depan rumahnya yang bersebelahan dengan rumahku.


Malamnya sebelum tidur, istriku bersikap aneh. Tanpa ada angin tanpa ada hujan, tiba-tiba saja ia mencemburui Teh Mira tanpa alasan. Inikah yang dinamakan dengan instuisi tajam a la perempuan itu? Hanya bertemu dan pulang bareng tanpa niat apa-apa, sinyalnya sudah tertangkap radar istriku. Apalagi jika memang aku berniat buruk?


Bodohnya aku, kenapa aku tidak menceritakan yang terjadi saat istriku sedang merajuk kala itu juga? Walaupun memang aku tak bermaksud menyembunyikan sesuatu, minimalnya istriku tak kan salah paham seperti sekarang.


Aku sungguh menyesal. Apakah nanti ketika ku jelaskan semuanya, ia akan percaya? Entahlah...


Saat sedang merenung itulah, terdengar gawaiku berbunyi. Terlihat di layar, nomor tak dikenal.


"Halo?"


"Halo A Doni..."

__ADS_1


"Ini Teh Mira? Bisa kita ketemu?"


__ADS_2